BAYU : Kemana Angin Membawa Rindu

BAYU : Kemana Angin Membawa Rindu
Duduk Melingkar


__ADS_3

"Berapa Bulan Kak.?" Tanya Putri dengan memandang perut Novi.


"Jalan 6 bulan Put." Jawab Novi.


Calon Ibu itu kemudian celingak celinguk seperti mencari sesuatu.


"Emmm Yu, Adit kemana ya.?" Tanya Novi pada Bayu.


"Paling ke stand sebelah cari kaos." Jawab Bayu sembari membolak balikkan tusukan pentol di atas bara api.


Adit kemudian datang dengan menenteng suatu keresekan.


"Dari mana.?" Tanya Novi pada suaminya.


"Hehe, beli ini." Ucap Adit dengan menunjukan keresekannya.


"Kaos item item.?" Novi bertanya dengan penasaran.


"Iya...." Ucap Adit dengan sedikit senyum merayu.


"Lemarimu itu lho isinya udah kaos item semua, masak mau nambah kaos item item lagi. Apa ngak ada warna ~~." Ucapan Novi terpotong karena gestur Adit yang meniup jari telunjuknya.


"Stttt.......... ngomelnya di rumah aja ya sayang, malu di lihatin orang orang." Kata Adit berusaha meredakan emosi Istrinya.


"Lagian kayak kamu baru kenal aku aja, dari jaman kita belum jadian sampai pacaran terus nikah kan aku suka kaos item." Imbuh Adit.


"Hmmm......" Kata Novi sedikit ketus.


"Kan kamu udah dapet pentol bakar sayang, jadi aku gak papa kan beli kaos." Ucap Adit merayu.


"Ya tapi ngak item lagi." Kata Novi masih dengan bibir manyunya.


"Sekali ini aja sayang, mumpung aku nemu kaos yang aku pengenin dari lama." Adit terus merayu Novi.


"Jangan ngambek mulu ah, kasian dedek bayinya kamu ajak ngambek ngambekan." Imbuh Adit yang tak kurang akal untuk meredam emosi Novi yang sedang tidak stabil.


"Iya...." Icap Novi singkat.


"Sudah ya kak, jangan ngambek lagi. Ini pentol bakar khusus buat kakak cantik dan dedek bayi di dalam perut." Ucap Putri juga ikut meredam emosi Novi.


Sedangkan Bayu mendekati Adit.


"Novi kok jadi galak Dit. Apa gara gara kehamilanya.?" Tanya Bayu dengan sedikit berbisik.


"Novi kan dasarnya emang galak Yu, juma mungkin juga gara gara kehamilanya emosinya kadang labil." Ucap Adit dengan suara yang pelan.


"Ya sabar, mau jadi bapak harus banyak banyak sabar." Bayu berkata sambil menepuk punggung Adit.


"Ayo Dit." Kata Novi sembari berdiri dari duduknya.


"Eh iya iya bentar, duluan ya Yu." Adit berkata sambil memberikan salam tos pada Bayu.

__ADS_1


"Sip, makasi udah mampir." Jawab Bayu.


"Oiya Put, kapan kapan main ya ke rumah." Ucap Novi sambil berjalan keluar stand.


"Iya Kak, kapan kapan aku mampir. Makasi juga Kak sudah berkunjung di lapak dagangan aku." Ucap Putri ramah.


"Daaahhh." Novi berkata sambil dadah dadah.


"Yok Yu, duluan." Ucap Adit.


Bayu hanya memberikan gestur jempol sedankan Putri hanya menganguk pelan.


Pasangan kekasih itu masuk ke stand mereka lagi dan duduk bersebelahan beralaskan rerumputan di belakang stand.


"Anu Yu, aku tadi ngak narik uang penjualan pentol dari kak Novi." Kata Putri sedikit gelisah, mungkin dia mengira Bayu akan marah.


Bayu mengusap ubun ubun Putri.


"Iya gak papa," Ucap Bayu dengan senyum.


Putri membalas dengan senyum manisnya.


"Kira kira kalau kita sudah nikah nanti, bakal seperti apa ya.?" Celetuk Putri.


"Seperti apa maksutnya.?" Tanya Bayu keheranan.


"Ya bagaimana kita menjalaninya." Putri berkata degan tatapan yang menyorot jauh kedepan.


"Gimana menurutmu Yu.?" Tanya Putri sembari memandang Bayu yang duduk di sebelahnya.


"Aku belum tau Put, tapi yang perlu kamu tau. Aku seperti ini adanya, pemuda desa yang merantau di Kota. Bukan anak orang kaya ataupun pejabat, tapi aku akan berusaha membahagiakan kamu nanti andai kita sudah menjalin suatu ikatan suci dalam pernikahan." Ungkap Bayu pada kekasih hatinya.


"Dan aku akan berada di sampingmu, baik susah ataupun senang." Imbuh Putri.


Bayu memandang gadis manis di sampingnya, dalam benaknya seakan tak percaya bahwa semesta telah memasangaknnya dengan salah satu bidadari utusannya.


Putri bersandar di bahu Bayu dengan berpayung cahaya purnama yang terang.


Begitulah sepantasnya cinta bila berada di tempat yang tepat, karena dapat melukis senyum dengan keikhlasan sempurna.


"Kayak ada yang aneh Yu.?" Tanya Putri tiba tiba.


"Apanya.?" Sahut Bayu.


"Ini Astri, Nanang, Ita pada kemana.?" Tanya Putri heran sembari masih bersandar di bahu Bayu.


"Auk ah, aku sampai lupa sama mereka gara gara terlalu nyaman berada di sampingmu." Gombal Bayu pada kekasih hatinya.


Putri tersenyum tersipu.


"Aaaa Bayu mulai....., jangan gombal pas kayak gini. Ilang suasana romantisnya." Ucap Putri memandang Bayu sambil mengelitiki pemuda gondrong itu.

__ADS_1


"Haaahahahaaa. Aku gak gombal kok. Haaahaahaaaa." Tawa Bayu terpingkal.


Bila ditarik dalam rentang waktu ke belakang, sudah sangat lama sekali Bayu tidak sebahagia dan tertawa lepas seperti saat ini. Karena pemuda Desa itu hanya mendapat pedih karena luka yang ditinggalkan Laras dalam waktu 4 tahunan belakangan.


"Cie romantis sekali pasangan muda mudi ini, ngak sekalian nyewa kamar hotel aja sana." Ucap Ita yang Baru datang diikuti Petruk.


"Wowwww ide bagus, ayok Yu gassss." Canda Putri.


"Ngawor aja. Kamu dari mana Ta. Ngilang gitu aja.?" Tanya Bayu.


"Cari minum terus duduk duduk di standnya Petruk." Ucap Ita singkat


"Liat Astri sama pacarnya ngak kamu Ta.?" Putri bertanya.


"Bentar lagi dateng." Jawab Ita singkat.


Petruk datang dan akan duduk di samping Ita.


"Gimana Truk, laris.?" Putri bertanya ketika petruk akan duduk.


"Ya lumayan Put. Bisa buat tabungan nikah." Kata Petruk menyandarkan bokongnya sembari melirik Ita.


"Apa liat liat, mau tonjok.?" Ucap Ita ketus.


Bayu hanya tertawa melihat mereka berdua.


"Udah kumpul ya, maaf lama." Ucap Astri baru datang sambil membawa minuman.


"Iya gak papa Astri, Duduk wes aku mau ngobrol sama kalian." Kata Putri.


Astri dan Nanang ikut duduk.


"Langsung aja ya, keburu tutup bazaarnya. Jadi trimakasi untuk temen temen yang sudah ikut partisipasi dalam lapak pentol bakar ini, dan Alhamdulillah dagangan habis. Tapi keuntungan kita juga ngak seberapa, karena kita emang bikin pentolnya ngak terlalu banyak cukup untuk jualan satu hari saja." Kata Putri sembari memperhatikan teman temannya satu per satu.


"Nah, keuntungannya ngak kita bagi, tapi aku Ita dan Astri kemaren udah ada rencana. Keuntungannya kita gunakan buat traveling, ya tapi tentu juga perlu tambahan biaya nanti. Dan tempat travelingnya kita putuskan di Ranu Kumbolo. Jadi gimana pendapat mu Yu Bayu, dan Nanang. Kita juga ngajak Petruk pastinya, karena dia sudah biasa mendaki gunung, kamu pernah ke puncak semeru kan Truk.?" Tanya Putri pada laki laki berkaos hitam itu.


"Iya dulu pernah. beres wes Put, juma Ranu Kumbolo, medanya ngak terlalu berat kayak mau ke puncak Semeru. Tapi kita juga harus mempersiapkan fisik masing masing." Ucap Petruk.


"Sip, jadi gimana sudah sepakat kah kita.?" Tanya Putri pada semua teman teman di sana yang duduk membentuk lingkaran.


Semua kompak menganguk.


"Sip, jadi untuk waktu nanti kita pikirkan dan sharing dulu. Untuk sementara itu aja yang mau aku sampaikan. Trimakasi teman teman, mari kita siap siap tutup stand." Ucap Putri.


Bayu sedikit terbengong.


"Kemana perginya Putri yang kekanak kanakan.? Tiba tiba dia bisa berbicara layaknya CEO perusahaan. Sampai sampai aku begitu serius memperhatikan perkataanya." Kata Bayu dalam hati.


Ya, ahirnya rencana di tetapkan. Putri dan geng akan rekreasi sebelum hari kelulusan kuliah.


__ADS_1


__ADS_2