
Dimalam hari, pesta resepsi Adit dan Novi pun selesai, tapi masih ada beberapa warga yang sekedar ngongkrong di tenda resepsi.
Esoknya. tenda tenda dan dekorasi di bongkar, Bayu bangun kesiangan kali ini.
"Capeknya gusti, rasanya badanku kayak di giles kereta." Kata Bayu dalam hati sambil masih rebahan di kasurnya.
Kemudian Bayu mandi, ganti baju dan bersiap membantu beres beres sisa resepsi pernikahan Adit dan Novi kemarin.
Bayu keluar rumah, dan semua tenda sudah di bongkar termasuk dekorasi dekorasi juga. Tinggal membersihkan sampah sampah yang berserakan.
Bayi duduk di depan rumah. Menikmati pagi yang telah terlewat.
"Woe Yu, nglamun aja." Kata Adit yang membersihan sampah samapah itu di bantu beberapa keluarganya.
"Rajinya pengantin baru." Kata Bayu sambil menghampiri Adit.
Bayu merasa tidak enak bila tidak membantu juga.
"Sumringahnya yang abis malam pertama." Canda Bayu melihat wajah Adit yang berseri seri.
"Halah kamu. Mana sempet, orang di rumah masih ramai keluarga." Jawab Adit sambil menyapu.
"Oya.? Tak pikir langsung gass Dit." Celetuk Bayu.
"Ya ngak lah Yu. Oiya Makasi ya udah bantu bantu kemaren." Kata Adit sambil membuang sampah.
Bersih bersih pun selesai Adit dan Bayu menuju depan rumah Novi untuk sekedar ngopi.
"Iya santai aja Dit," kata Bayu sambil duduk di depan rumah Novi.
"Eh ada Bayu, mau dibikinin kopi juga." Kata Novi yang membawakan kopi untuk Adit.
"Ngak Nov, udah kebanyakan kopi dari kemaren" kata Bayu.
"Kalau gitu sarapan disini aja ya, sama Adit. Bentar lagi nasinya matang." Kata Novi.
"Yaaa boleh lah, Bu De Nur ada di dalem Nov.?" Tanya Bayu.
"Iya lagi bantu beres beres dapur. Kenapa.?" Jawab Novi.
"Ngak papa. nanya aja." Jawab Bayu singkat.
"Yawes bentar ya." Kata Novi kemudian masuk rumah.
Adit dan Bayu mengobrol ringan setelah itu sambil sarapan. Mulai dari sekarang Adit mempunyai tanggung jawab besar, dan akan belajar untuk mengesampingkan kepentingan pribadinya.
Beberapa minggu setelah hari pernikahan Adit dan Novi.
Di malam hari di stand PKL Pak Arip. Kondisi pelanggan sangat ramai, padahal Pak Arip tidak terlalu banyak menyiapkan bahan dagangan.
Siapa sangka juga, karena cuaca kadang sering hujan, Pak Arip tidak terlalu berani mengambil resiko juga bila dagangannya tidak habis dan mubazir.
Tapi di malam ini cuaca cerah dan pengunujng Pasar Rakyat membeludak.
"Bayu, tolong ambil nasi ke rumah sama mie juga. Tanggung kalau jam segini tutup sedangkan pelanggan masih banyak." Kata Pak De Arip.
"Bu De sudah tak telfon tadi, udah di siapin di rumah, kmau tinggal ambil aja, ini kunci motornya." Imbuh Pak De sedikit panik karena pelanggan yang tak kunjung habis.
"Tak tinggal bentar Dit." Kata Bayu pada Adit.
"Ya, ati ati yu. Cepetan tapi." Jawab Adit.
Kemudian bayu segera pergi ke parkiran dan menaiki motor, melaju kencang menuju rumah Pak De.
__ADS_1
Jalanan juga sangat ramai. Karena jarang jarang saat malam minggu seperti sekarang cuaca cerah tanpa turun hujan.
Bayu sampai di rumah Pak De arip dan masuk dari pintu samping.
"Ini Bu De ya,?" Tanya Bayu sambil menunjuk bakul tempat nasi yang akan dibawa.
"Iya Yu itu di bakul nasinya sama mie udah Bu De rebusin sekalian. Emang lagi ramai ya Yu.?" Tanya Bu De.
"Iya Bu De Alhamdulillah." Jawab Bayu.
"Alhamdulillah. Yawes ati ati di jalan Bayu." Kata Bu De sambil merapikan dapurnya.
"Iya Bu De, aku duluan. Assalamualaikum." Kata Bayu sambil keluar rumah.
"Waalaikumsalam, ati ati Yu." Bu De menjawab salam Bayu.
Setelah manaiki motor dan menata barang bawaanya Bayu pun melaju menuju Pasar Rakyat lagi.
Bayu jelas sangat terburu buru, dan bayu sudah sangat terbiasa dengan kemacetan kota hingga bayu bisa selip sana selip sini di antara kendaraan kendaraan lainya.
Karena kemacetan yang begitu parah, ahirnya bayu memilih jalan memutar.
Tiba di suatu jalan tepatnya di depan sebuah hotel, Bayu hampir saja menabrak sepeda motor yang baru keluar dari hotel itu.
"Ciiiiiittttt" suara ban motor Bayu ketika mendadak mengerem.
"Woe liat liat di jalan, punya mata gak kamu dasar tolol.!!!!!" Kata pengendara motor moge merah dengan helem fullface yang baru keluar dari hotel itu.
Wanita yang ada di boncengan motor merah itu juga sempat kaget dan melihat ke arah Bayu, Wanita itu belum sempat memakai helemnya dan Bayu sekilas melihat wajahnya.
Bayu memperhatikan wanita itu, Bayu sedikit heran karna dia mirip Laras. Dan wanita itu seketika buru buru memakai helemnya.
Moge merah itupun melaju kembali. Dan Bayu melaju kemudian. Ke arah yang sama.
Di perjalanan Bayu sempat berfikir.
Tak berapa lama.
Bayu sampai di stand Pak Arip dengan membawa nasi dan mie untuk bahan dagangan.
Sepertinya Bayu datang tepat waktu karena penunjung masih banyak yang baru datang.
Malam yang panjang di stand jualan Pak Arip.
Saat pelanggan sudah mulai pulang dan sudah waktunya jam tutup stand.
Terdapat sepasang pelanggan yang duduk di ujung, Bayu tak pernah memperhatikan wajah pelanggan itu karena dia sibuk dari tadi.
Saat Bayu akan mengangkat piring piring kotor di meja, pemuda itu tanpa sengaja memperhatikan pasangan yang telah selesai makan itu.
"Laras.?" Dalam hati Bayu melihat pasangan muda mudi itu.
Wanita itupun juga menatap Bayu.
"Yank, Aku ke toilet sebentar ya.?." Kata Wanita itu pada pacarnya dan kemudian beranjak ke toilet.
Pacarnya hanya mengangguk sambil memainkan HPnya.
Bayu yang mendengar kata kata wanita itu langsung menaruh piring dan gelas kotor ke tempat cucian.
"Dit, aku ketoilet bentar." Kata Bayu pada Adit yang sedang merapikan meja.
Kemudian Bayu menuju toilet juga.
__ADS_1
Sesampainya di depan toilet Bayu menunggu wanita itu keluar.
"Aku yakin, itu Laras. Tapi ~~~~" Belum sempat Bayu menyelesikan kata kata dalam hatinya, wanita itu terlihat keluar dari toilet.
Bayu sejenak memandangi wanita itu yang perlahan jalan melewatinya.
"Laras, kamu Laras kan.?" Kata Bayu.
Wanita itu sejenak berhenti dan berbalik memandang Bayu.
"Bayu....." Ucap Wanita itu.
Ternyata yang dihadapan Bayu memang Laras.
Bayu sejenak merasa bahagia. Tapi dia seketika ingat Laras bukan miliknya Lagi.
"Laras.? Apa yang sudah terjadi dengan kamu.?. Laki Laki itu, apakah benar pacarmu.?" Tanya Bayu dengan suara bergetar.
"Iya Bayu, Boy pacar aku. Jadi untuk sekarang dan selamanya, aku mohon jangan masuk ke dalam kehidupanku lagi." Kata kata Laras yang benar benar menusuk hati Bayu.
Bayu sontak terdiam sejenak. Dia masih tidak percaya dengan ucapan yang dilontarkan Laras.
"Tapi..... mengapa kamu tega ~~~~" Belum sempat Bayu menyelesaikan kata katanya.
"Tega..?? Aku tega.? Justru kamu yang tega Bayu. Aku juga wanita, aku butuh disayangi, aku butuh diperhatikan. Bukan hanya dibunuh rindu secara perlahan." Ucap Laras dengan menahan amarah.
"Tapi aku juga merasakanya, Lalu kamu mau aku melakukan apa.?" Kata Bayu.
"Ngak Bayu, Kamu memang ngak akan bisa melakukan apa apa. Kamu bukan Boy, dia bisa membuat aku bahagia, saat aku butuh, dia ada. Saat aku menginginkan sesuatu dia selalu menuruti. Sedangkan kamu.?" Kata Laras dengan menatap Bayu tajam.
"Laras,? Ngak mungkin kamu bisa bicara seperti ini. Aku mohon Laras. Aku mohon jangan seperti ini, ini bukan kamu Laras.!!!!" Ucap Bayu dengan menatap tajam Laras.
"Cukup Bayu, kita sudah berahir. Lebih baik kamu lupain aku, lupain tentang kita." Kata Laras laras kemudian berbalik dan akan pergi meninggalkan bayu.
Seketika Bayu memegang tangan laras. Bayu sadar, Laras bukan wanita pujaanya yang dulu.
"Baik, bila itu permintaan kamu. Tapi aku ingin tanya satu hal. Apa benar kamu tadi yang keluar dari hotel dengan Boy dan hampir menabrak aku.?" Tanya Bayu dengan kata kata yang tenang.
Laras sejenak terdiam. Dia terlihat seperti menangis dan kemudian mengusap air matanya.
"Iya itu aku. Dan asal kamu tau, itu bukan pertama kali aku keluar dari hotel dengan Boy." Ucap Laras.
Kata kata yang sungguh menghancurkan hati Bayu. Dia benar benar tidak menyangka, Laras memang benar benar sudah berubah.
Seketika Bayu melepaskan tangan Laras.
Dan laras terlihat pergi meninggalkan Bayu.
Pemuda yang hatinya hancur itu terus menatap Laras.
"Berbaliklah dan pandang aku Laras, aku tau kamu masih **mencintai**ku." Kata Bayu dalam hati.
Tapi hingga laras akan menghilang di balik taman dia tak juga memandang Bayu lagi.
Bayu tertunduk. Dan berbalik menuju toilet.
"Dukkk dukkk dukkkk dukkk." Suara dentuman tembok yang dipukul.
"GRRRAAAAAAAAAAAAA" Bayu mengerang sambil memukul mukul tembok.
Pemuda itu benar benar hancur, dia ingin menangis tapi entah mengapa air matanya tak ingin meluapkan kesedihanya, mungkin karena amarah terlalu kejam membelenggunya.
Membanyangkan kenyataan bahwa wanita yang selama ini bersama dia, berbagi kasih berbagi cinta canda maupun tawa tega menghianati dia dengan cara kejam seperti ini.
__ADS_1
Setelah puas meluapkan amarahnya, bayu terdiam menunduk dengan tatapan kosong.