
..........................
...Aku tak pernah memiliki alasan untuk mencintaimu....
...Tapi aku butuh sejuta alasan hanya untuk melupakanmu....
.........................
Acara makan bersama untuk menyambut Bayu pun usai, dengan dibumbui cerita cerita seru Pak De Arip.
Bayu membawa piring kotor ke belakang dan akan mencucinya.
"Sini aja Bayu, biar Bu De aja" kata Bu De meminta piring kotor yang dibawa Bayu.
Jelas Bayu merasa sungkan.
"Iya Bu De trimakasi." Kata Bayu.
Setelah mencuci tangan, kemudian Bayu ke ruang tamu. Disana ada Uswah sedang mengerjakan PR.
"Uswah, lagi ngerjain PR ya?" Kata Bayu basa basi.
"Iya Mas Bayu." Kata Uswah.
Uswah anak umur 13 tahunan dan duduk di kelas 1 SMP
"Memang PR pelajaran apa ?" Kata Bayu.
"Geografi Mas." Jawab Uswah.
"Ooo. Yasudah dilanjut. Mas gak ganggu kan duduk di sini.?" Bayu bertanya sambil duduk di kursi seberang Uswah.
"Ngak Mas." Jawab Uswah singkat.
Di ruang tamu itu Bayu sedikit merenung. Rasanya baru sebentar Bayu meninggalkan Desa tapi dia sudah merasakan rindu suasana rumah.
"Apa keputusanku ini hanya emosi sesaat.? Apa yang ku putuskan ini benar.?" Kata Bayu dalam hati.
Bayu mengusap kening hingga ke rambutnya dengan kedua tangan. Terdapat gurat sedikit penyesalan dalam raut wajahnya.
"Ibu kota negara Mesir..........?" Suara Uswah mengeja pertanyaan dalam buku pelajaranya.
Uswah sepertinya sedikit kesulitan menjawab pertanyaan itu walau dibekali dengan peta di samping buku pelajarannya.
"Kairo." Celetuk Bayu.
"Tau dari mana Mas,?" Kata Uswah.
Kemudian Bayu mendekati anak perempuan Pak Arip itu dan menunjukan letak negara Mesir di dalam peta.
"Oooo iya bener.." kata Uswah.
Tak berapa lama.
"Uswahhhh Uswahhhh" teriak anak anak perempuan di depan rumah.
"Iyaaaa" jawab Uswah dan keluar rumah menemui teman temannya itu.
Kemudian Uswah masuk membereskan bukunya dan kembali keluar rumah
__ADS_1
Bayu tetap duduk di ruang tamu.
"Uswah kemana Bayu.?" Tanya Bu De tiba tiba datang.
"Tadi dipanggil temen temennya Bu De." Kata Bayu.
"Oooo paling ke rumah tetangga." Kata Bu De.
Kemudian Bu De ikut duduk di kursi sebelah Bayu.
"Ya gini Bayu suasana rumah Pak De Arip Kalau malem ada aja dagang lewat atau anak anak lari larian di depan" kata Bu De.
"Kalau di sebelah sana ada kos kosan biasanya yang kerja di Mall depan yang ngekos di sana" imbuh Bu De.
Rumah Pak De ada di perkampungan kota, jadi banyak gang gangnya. Keluar kampung sudah jalan kota ada Mall perkantoran dan taman kota juga.
"Sementara kamu bantu bantu Pak De mau ngak Bayu,? Sambil nanti Pak De cari cari info kerjaan.? " Kata Bu De tiba tiba.
"Iya Bu De ngak papa." Jawab Bayu.
"Nanti ada Adit juga yang nemenin kamu. Dia yang bantu bantu Pak De, biasnya dia dateng pas mau berangkat dagang." Kata Bu De.
"Iya Bu De." Jawab Bayu singkat.
"Yasudah Bu De masuk dulu. kalau kamu masih laper ada mie instan di atas kulkas, kalau minum ambil sendiri ya di dalam kulkas." Kata Bu De beranjak dari duduknya akan masuk kamar.
Bayu hanya mengangguk.
Kemudian Bayu keluar, dia hanya berdiri di depan rumah smbil mengamati gang depan rumah Pak Arip.
Terlihat dari kejauhan ada orang orang yang nongkrong di pos kamling. Warung klontong tak jauh dari rumah. Serta ada anak anak yang berlarain dan dagang bakso dengan gerobak dorongnya.
"Mungkin karena aku belum terbiasa saja." Sangkal Bayu dalam hati.
Setelah itu saat akan tidur.
Bayu terbaring di kamarnya, hanya terdengar suara denting jam dan dagang nasi goreng keliling yang memukul mukul wajanya sebagai isyarat.
"Sudah jam sebelas malam. Hhuuuhhh kenapa kota Surabaya sangat gerah seperti ini." Kata Bayu dalam hati.
Kemudian Bayu keluar kamar dan mengambil air minum dalam kulkas.
Bayu merasa sangat kegerahan, karena Bayu memang belum terbiasa dengan hawa malam perkotaan.
Bayu mengambil bantal di kamar dan tidur di ruang mereka makan tadi, ruangan itu menghadap langsung ke dapur dan terdapat sebuah TV menghadap dapur juga.
Di ruangan gelap itu Bayu berusaha untuk tidur, Pemuda Desa itu berharap mimpi segera menghampirinya. tak berapa lama Bayu pun terlelap.
Di pagi hari saat fajar belum menampakan suryanya.
Terdengar suara gaduh di dapur, tapi dengan lampu yang sudah menyala.
Bayu membuka matanya dan terbangun.
"Udah bangun Bayu. Maaf Bu De nganggu tidurmu ya.?" Kata Bu De.
"Ngak Bu De, aku biasa bangun jam segini kok" Kata Bayu sedikit berbohong sambil mengusap matanya.
"Baru jam setengah 5" kata Bayu dalam hati.
__ADS_1
Kemudian Bayu mengembalikan bantalnya ke kamar dan menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya.
Saat bayu keluar kamar mandi.
"Bu De mau kemana.?" Tanya Bayu melihat Bu De membawa tas belanjaan besar.
"Mau ke pasar Yu." Kata Bu De.
"Emmm kamu mau anter Bu De ke pasar Yu.?" Tanya Bu De.
"Boleh Bu De." Kata Bayu.
Biasanya Pak De yang mengantar Bu De atau biasanya Bu De naik ojek untuk ke pasar bila belanjaan tidak terlalu banyak.
Tapi kali ini kebetulan ada Bayu yang sudah bangun.
Bayu mengambil jaketnya dan bersiap mengantar Bu De ke pasar.
"Brummmmmmm"
Suara mesin motor matik yang dinyalakan bayu.
Bu De memasang tas belanjaan motor berukuran kecil.
Setelah Bu De dan Bayu naik, mereka berangkat.
Ternyata kota juga punya hawa dingin saat matahari belum terbit.
Bayu melaju dengan mengikuti petujuk Bu De menuju ke pasar.
Jalanan masih lumayan sepi, bahkan jalur utama juga sangat lengang.
Beberapa menit kemudain mereka sampai di pasar.
Terlihat pasar yang sudah sangat ramai. Dan Bayu baru pertama kali melihat pasar seramai itu.
Setelah motor diparkir, Bayu mengikuti Bu De ke dalam pasar.
Karena dagangan Pak De libur kemarin, Bu De belanja lumayan banyak kali ini.
Bu De belanja telur, bumbu bumbu. ayam kampung hidup dan bahan bahan lainya.
Saat Bu De di pedagang sayur.
"Siapa Bu Nur.? Tumben bawa pengawal." Kata Pedagang sambil melihat ke arah Bayu.
"Ponakannya Pak Arip bu.." Kata Bu De.
"Ealah, ngak nyangka Bu Nur punya ponakan nganteng." Kata Pedagang itu membuat Bayu tersipu.
"Sudah punya calon belum, kalau belum jodohin sama anakku aja Bu Nur." Imbuh Pedagang.
"Ya gak mungkin lah bu. Anakmu udah punya 3 anak. Bayu masih perjaka ting ting, kok mau di kasi janda." Canda Bu De.
"Ya siapa tau mau Bu, namanya juga usaha." Kata Pedagang kemudian tertawa.
Bayu hanya terdiam malu mendengar percakapn Pedagang dan Bu De.
hampir semua pedagang langganan Bu De memperhatikan Bayu. sehingga membuat Bayu masih sangat canggung.
__ADS_1