
Salam buat para pembaca terimakasih sudah mampir dan dukung Karya dengan like, komen dan Vote ya...
Dukunganmu sangat berarti .
😍😍😍😍
🌺🌺🌺Happy Reading🌺🌺🌺
Nesa hari ini duduk di bangku Ica dan ia tampaknya sedang menunggu Ica.
Ica yang baru datang melihat Nesa yang wajahnya ingin bertanya banyak hal pada Ica.
“Ada apa Nes kok wajahmu kayak gitu ? “
“Ca kamu kok gitu sih ? “
“Gitu apa ? “
“Kamu kemarin jatuh tapi nggak cerita sama aku” Nesa memeluk Ica.
“Kok kamu tahu Nes ? “
Ica merasa bingung dengan Nesa padahal saat itu hanya dia dan Dio yang ada disekitar sana.
“Klinik itu kan punya teman Papa aku dan saat aku cek kesehatan rutin ia bercerita jika ada temanku yang juga datang dan dia kasih foto kamu ke aku”
“Oh iya aku emang sempat foto untuk data katanya”Ica mencoba mengingat-ingat.
“Kamu sama siapa kesana ? Katanya kamu sama keluarga cowok tapi kan mana ada keluarga kamu yang samaan sekolah sama kamu Ca ? “
“Aku sama Dio”
“Haaaaaaa !!! “Nesa berteriak kencang sekali.
Ica segera menyuruh Nesa untuk diam.
“Ssstttt apaan sih Nesa itu kan karna nggak ada pilihan”Ica mencari alasan yang tepat.
“Kan ada supir kamu Ca , kenapa nggak telepon ? “tanya Nesa bingung.
“Masak iya aku harus nunggu Pak Rahmat datang “Ica menatap perban di kakinya.
“Aku kemarin mau tanya tapi lupa karna aku diajak bicara terus oleh Gilang, aku pikir sih luka biasa Ca “
“Iya tapi ini nggak apa-apa kok Nes”ujar Ica agar Nesa berhenti bertanya padanya.
“Syukur deh tapi bagaimana wajahmu saat dibonceng oleh Dio”selidik Nesa penasaran.
“Biasa aja emang wajahku mesti kayak gimana ? “
“Ya mana aku tahu mungkin aja berbunga-bunga”ejek Nesa.
“Dihhhhh”
Ica dan Nesa menghentikan pembicaraan saat Dio masuk kelas dan Nesa kembali ke tempat duduknya.
Ica memberikan senyuman kepada Dio dan Dio pun membalasnya.
Dirumah Montana
Ica sedang membantu Dev untuk makan siang ,dan tak lama setelah itu Nenek Ica datang untuk memberi tahu Ica jika teman arisan Nenek ingin nitip arisan hanya saja ia tak ada kendaraan dan saat ini posisinya lagi si GYM.
Ica yang awalnya malas akhirnya sumringah saat mendengar kata GYM dasar maniak otot.
Ica sampai ke GYM yang dimaksud oleh Nenek Ica dengan diantar oleh Pak Rahmat, seperti biasa Pak Rahmat menunggu diluar.
Ica menggunakan hoodie dan topi agar tidak terlalu mencolok karna dia cewek, tapi saat Ica sampai disana banyak juga cewek yang sedang nge gym.
Setelah selesai mengambil uang arisan, Ica ingin kembali namun saat ia berjalan ia melihat Dio.
Ica berulang kali menggosok matanya dan meyakinkan apakah benar itu Dio.
Benar itu adalah Dio tapi beda versi, ini adalah kedua kalinya Ica melihat Dio dengan tampilan seperti ini, Dio tak memakai kaca mata, gaya rambutnya berbeda dan kalau badan, Ica tahu memang badan Dio bagus, saat ia melihatnya dikolam renang . (Nggak bahaya tah Ica)
Ica tak percaya bagaimana satu orang yang sama bisa terlihat berbeda dan perbedaannya jauh sekali.
Ica bahkan sempat mematung saat melihat penampilan Dio, Dio bahkan lebih keren dari gengnya dan Kak Damar.
Tak lupa Ica mengeluarkan ponselnya dan memfoto Dio secara diam-diam.
“Mba ? “
“Mba lagi apa dibawah situ ? “tanya seseorang yang sedang ngeGYM dan Ica ada dibawah kakinya.
“Ehh maaf Kak, Om , Paman ,aku lagi lihat-lihat alat”ujar Ica bohong.
“Iya maaf tapi bisa permisi ya Dek, aku mau pakai soalnya”ujarnya dengan sopan.
“Ohh iya maaf”Ica tak fokus dengan otot-otot lain yang tadinya ingin ia lihat, ia malah fokus dengan Dio.
Dio memang berbeda saat itu, dari penampilannya Dio sedang upgrade namun kenapa perbedaannya cukup jauh, sebegitu pengaruhkah rambut cowok dan kacamata hingga seseorang terlihat begitu keren ketika merubahnya.
Apa besok Dio akan kesekolah dengan tampilan seperti ini, Ica yakin pasti seketika Dio akan populer.
Dirumah Ica tak bisa melupakan saat melihat Dio di GYM.
“Kok bisa sih”batin Ica masih tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Sesampainya dirumah Ica melihat ada mobil . “Pasti tamunya Mama atau Nenek”batin Ica lalu masuk.
Saat masuk Ica terkejut saat melihat Kak Damar yang terlihat kalem bersama dengan Mama dan Papanya seakan Kak Damar mau ngelamar dia.
“Ca pas banget kamu pulang, kamu kenal kan sama Damar”
__ADS_1
Ica mengangguk karna Mamanya memang belum pernah ketemu Kak Damar saat Kak Damar kerumah.
“Ayo duduk dulu Ca”ujar Mama Ica.
“Jadi gini Ca Ortu Damar mau keluar Negri selama tiga hari dan mereka mau titip Damar disini “
“Ohh gitu ya “ujar Ica tak percaya dengan apa yang ia dengar ingin sekali ia berlari kekamrnya untuk mengambil cotton bud.
“Mama dan Mamanya Damar sudah berteman lama tapi karna kesibukan jadi jarang komunikasi “ujar Mama Ica.
“Iya Ca Tante nggak percaya sama Damar kalau dia sendirian dirumah jadi mau titip disini aja karna Tante nggak ada keluarga disini”
“Iya Tante”Ica masih mengumpulkan nyawanya karna tak percaya jika Kak Damar yang sedang duduk sambil terus senyum padanya.
“Ayo kita lanjut mengobrol dan Ica kamu ajak Damar mengobrol dibelakang sana “Mama Ica memerintah Ica.
“Iya Ma”
Lutut Ica terasa lemas saat mendengar Kak Damar akan tinggal disini selama tiga hari. “Kenapa dari sekian teman harus Mama Ica yang didatangi oleh Mama Kak Damar.
Damar mengikuti Ica keteras belakang rumah untuk mengobrol dengan Ica.
Ica masih mematung karna hal ini.
“Ca kok kamu kayak nggak senang aku disini ? “
“Aku bukannya nggak senang tapi heran aja”
“Ini bukan mau aku loo aku juga nggak tahu Mama kamu dan aku sahabatan”ujar Kak Damar.
“Emmm... “Ica hanya mendehem karna ia sadar jika Kak Damar menginap disini ,sifat aslinya akan diketahui oleh Kak Damar.
“Ca kamu bisa bantu aku nunjukkin kamar aku ? “tanya Kak Damar pada Ica.
“Iya Kak”
Malam hari
Kak Damar sepertinya baru selesai mandi dan Ica juga baru selesai mandi.
Kak Damar terlihat sedang menggosok rambutnya dan Kak Damar memakai baju tanpa lengan jadi ototnya yang baru dibentuk itu bisa terlihat jelas oleh si maniak otot. (Ica)
Ica langsung menganga saat melihat Kak Damar tapi ia pura-pura tak melihat dan langsung menuju ruang tivi.
Bagaimana bisa ada makhluk Tuhan yang tampan dan menggoda dirumah Ica apalagi Ica dan Kak Damar sudah sering melakukan kemesraan dan sekarang ia sudah ada didepan mata Ica, serasa ia sedang belajar berumah tangga dengan Ica.
“Ca boleh aku duduk disini”tanya Kak Damar saat melihat Ica yanh menonton tivi.
“Silahkan Kak”ujar Ica, sebenarnya Ica ingin mengajak Kak Damar untuk menonton di bioskop kecil milik keluarganya tapi ia takut jika Kak Damar bukannya menonton, malah ahe ahe dengan dia. 😅😅😅
“Kak Dev kok nggak ada kelihatan Ca ? “tanya Kak Damar karna ia tak melihat Kak Dev dari awal dia datang.
“Ohh Kak Dev lagi pemulihan Kak”ujar Ica .
“Ya kayak demam gitu tapi sudah baikan”
“Oh gitu ya”
Kak Damar menghargai privasi Kak Dev dan ia tak bertanya lebih lanjut lagi, ia ikut fokus menonton tivi yang acaranya kartun.
Sesekali Kak Damar memperhatikan Ica, Ica sangat manis jika tampil polos seperti ini dan ia sangat bahagia bisa serumah dengan Ica meski hanya tiga hari.
Waktu menunjukkan pukul 22.00 dan Ica akan masuk tidur demikian juga dengan Kak Damar.
Suasana sudah sepi karna semua anggota keluarga Ica sudah otw tidur.
Saat akan berjalan Kak Damar memiliki Ica “Ca mana kiss selamat malamnya.
Ica mendelik kearah Kak Damar dan membuat Kak Damar takut hingga ia langsung masuk kamarnya.
“Besok baru satu hari si Damar disini, rasanya seperti satu tahun saja aku jadi tidak bebas hura-hura dan menunjukkan tingkah bodohku saat aku sendiri “batin Ica.
Ica yang sering konser saat menyiram tanaman, Ica yang akan menganggu Dev, Ica yang buang angin sembarangan, Ica yang pakai baju robek dan celana kurang bahan. “aaaaaaargggghh !!!” Ingin rasanya Ica berteriak ditelinga Kak Damar.
Semua itu tidak ada dalam waktu tiga hari ini dan semua ini karna Kak Damar yang tinggal dirumahnya.
🐊🐊🐊🐊🐊🐊🐊🐊🐊🐊🐊
Pagi itu pemandangan tak seperti biasanya dan Kak Damar ikut sarapan pagi.
Jika di film pasti bakal bahagia karna cowok yang disuka menginap di rumahnya cewek tapi Ica berbeda, ia malah tak suka jika ada Kak Damar disini.
Ia merasakan Kak Damar merenggut kebebasannya untuk menggila di rumahnya sendiri.
Ica terus menatap Kak Damar dengan tatapan yang tajam hingga ia ditegur oleh Dev.
“Ca kamu apaan sih kok lihat Damar kayak gitu, nggak sopan tau”Dev memperingatkan Ica.
“Aku nggak lihat dia kok”Ica berkilah.
“Kamu pikir aku buta daritadi nggak lihat kamu”
Dev menggelengkan kepalanya karna ia tak habis pikir pada maling yang sudah tertangkap lengkap dengan buktinya tapi masih mengelak.
Ica berfikir bagaimana nanti jika ia berangkat sekolah dan ia ingin ikut dengan Mamanya saja agar tak satu mobil dengan Kak Damar.
“Oke ayo Ica kamu segera berangkat samaan sama Damar“ujar Mama Ica.
“Percuma aku mikir begini dan begitu tetap saja aku akan satu mobil dengan dia”batin Ica sambil terus menggerutu .
Ica berangkat dengan malas ia takut jika banyak siswa-siswi lain membicarakan Kak Damar, karna berulang kali Ica katakan Kak Damar adalah siswa teladan berbeda dengan dia yang urakan meskipun ia adalah cucu dari pemilik sekolah nilai plusnya hanyalah pintar tapi itupun akan patah oleh adanya Dio yang lebih pintar darinya.
Jika berbicara tentang Dio apakah yang kemarin itu adalah Dio yang ia kenal atau hanya mirip Dio.
__ADS_1
“Mba Ica sudah sampai”ujar Pak Rahmat pada Ica.
“Iya Pak” Ica bersiap membuka gagang mobil dan ia melihat kiri kanan.
“Masih sepi, Kak Damar aku duluan turun ya nanti jika aku masuk kelas baru keluar “ujar Ica kemudian segera berlari sedangkan Kak Damar hanya menurut pada aturan Ica yang diproklamasikan secara sepihak itu.
Di kelas Ica tidak bersemangat tapi memang ia hampir tidak semangat setiap hari.
“Jelek amat muka kamu Ca”Nesa menghampiri Ica yang sedang menopang dagunya.
“Bad mood aku Nes”
“Bad mood kenapa ? “
“Ya apa harus aku jelasin alasannya “
“Terserah kamu deh Ca” Nesa menoleh keluar kelas karna suara yang ribut sekali.
“Ada apa sih !!! “ujar Nesa penasaran.
Tak lama Dio masuk ke kelas dengan penampilan yang berbeda.
“Nah looo”Ica nyaris terperanjat dengan yang ia lihat, aku nggak salah lihat yang kemarin itu memang dia.
“Itu Dio kita ? “ujar Nesa tak percaya dengan matanya.
“Iya “ucap Ica sambil menarik nafas, tak bisa ia bohongi lagi Dio memang sangat berbeda seakan ia melihat anak baru dikelasnya.
Naomi yang sedang mengobrolpun jadi lupa apa topik yang ia bahas dan melihat Dio.
“Wohhh Dio kamu oplas dimana ? “tanya Gilang dengan kasar.
“Oplas apaan aku hanya potong rambut saja “ujar Dio dengan pelan dan duduk disamping Ica sambil tersenyum.
“Nah gitu dong aku suka penampilan kamu yang sekarang “ujar Alex sambil menepuk bahu Dio.
“Sudah aku bilang aku hanya potong rambut saja”
“Coba dari awal kamu kayak gini kan enak”Gilang menimpali.
Dio tak banyak membalas omongan dari Gilang dan Alex, ia fokus pada ponselnya.
Disini Ica bukannya kagum tapi ia heran demi apa Dio berubah 180°, karna tak mungkin orang bisa berubah secepat ini, Ica takut jika ada maksud lain dari Dio, apakah Dio masuk sekolah ini hanya sekedar masuk atau apa.
Ica menyimpan semua pertanyaannya untuk dirinya sendiri , mungkin semua ini akan terjawab nanti dan untuk kali ini ia ingin menghabiskan waktunya untuk melihat ketampanan Dio. (Semua cewek sama saja suka mandang fisik)
Ica merasa tak fokus saat pelajaran karna sebentar-sebentar ia melirik kearah Dio.
“Ca sadar dong kamu sudah punya Kak Damar” Ica terus mengetuk kepalanya.
Ica dari awal hanya berniat untuk tidak membully Dio lagi tapi kenapa penampilannya ikut berubah, Ica merasa bimbang dan merasa seakan dia dikerjain oleh Dio.
Tapi meskipun Ica baik pada Dio, Ica yakin Dio akan berubah karna pasti banyak cewek yang bakalan naksir dia.
Memang tak butuh waktu lama untuk pembuktian omongan Ica.
Seperti saat istirahat ini, Dio yang anteng dikelas didatangi oleh siswi-siswi dari kelas lain, ada yang minta nomor whatsapp, ada yang bawain minuman dan jajanan.
“Lahhh aku malah seperti nyamuk”ujar Ica pada Nesa yang sedang bersantai didepan kelas sambil minum es.
“Aku juga nggak nyangka Dio berubah sekali Ca emang dia dapat konsep darimana sih ? “
“Mana aku tahu Nes tapi aku nggk suka jadinya sekarang aku nggk bebas dibangku aku, tuh lihat “ujar Ica sambil menunjukkan jika bangkunya akan terisi saat ia pergi.
“Kamu kan tinggal usir aja mereka”
“Dan jika aku tetap disana aku hanya akan seperti tamu tak diundang”
“Cewek emang gitu ya suka mandang fisik”
“Dihh emang kamu enggak”ucap Ica mencibir Nesa.
“Emang kamu ndak ? “Nesa tak mau kalah dari Ica.
“Nggak tuh”
“Eh tuh Kak Damar “
“Mana ? “Ica menengok kearah yang ditunjuk oleh Nesa.
“Tapi bohong”Nesa merasa puas menganggu Ica
“Nggak mandang fisik nggak mandang fisik, aku akan awasi kamu Ica lihat saja jika kamu memperhatikan Dio, aku akan melempar kamu dengan penghapus papan tulis”
“Ohh jadi jika aku duduk dengan Dio aku harus hadap depan terus gitu, kamu pikir aku kuda ? Sekalian aja pakein aku kacamata kuda”
“Kan bukan aku yang bilang “Nesa masih saja membuat darah Ica mendidih.
Bel tanda istirahat selesai berbunyi, tapi siswi-siswi baik dari kelas Ica dan kelas lain masih disana.
Dari kejauhan Ica melempar bukunya yang tebal dan akhirnya siswi-siswi itu buyar.
Dio tak bisa lagi menahan tawanya saat melihat Ica yang sudah bertingkah.
“Sudah waktunya masuk apa kamu nggak bisa usir mereka “
“Kenapa nggak langsung duduk aja disini”ujar Dio sambil menepuk bangku Ica.
Ica tak menjawab dan hanya langsung duduk.
“Dia mulai menyebalkan “batin Ica.
__ADS_1