BLESSED RAIN

BLESSED RAIN
Enam puluh


__ADS_3

Salam buat para pembaca terimakasih sudah mampir dan dukung Karya dengan like, komen dan Vote ya...


Dukunganmu sangat berarti .


😍😍😍😍


🌺🌺🌺Happy Reading🌺🌺🌺


Pagi ini suasana sekolah tampak meriah karna tiga hari lagi SMA SEMESTA akan merayakan ulang tahunnya yang ke 58.


OSIS mulai sibuk dengan tugasnya yang tidak habis-habis mengalahkan tugas pejuang gaji UMR.


Dagang kecilpun tak mau kalah, kantin akan diisi dengan jajanan dua kali lipat karna pasti anak-anak akan makan dengan banyak nantinya, apalagi sekolah itu adalah sekolah yang lumayan elit.


Damar juga sibuk menyiapkan anggotanya untuk nanti atraksi saat ulang tahun sekolah, hal ini biasa dilakukan sekolah SMA SEMESTA, jadi saat ulang tahun semua ekskul akan ditampilkan.


Nantinya juga akan ada bazar dan setiap kelas diwajibkan ikut, terserah mau jualan apa nantinya.


Kelas Ica juga tak mau ketinggalan tapi hari ini dikelas Nesa dan gengnya sibuk menelepon Ica karna dia belum datang.


“Nggak biasanya Ica setelah ini”gumam Nesa.


“Sakit deh dia kayaknya Nes”ujar Gilang sambil mengetik pesan yang ia kirim pada Ica.


Alex yang biasanya khawatir kali ini nampak berbeda, ia lebih tenang dan tidak sibuk chat Ica.


Apa Alex sudah menyerah ? dan membiarkan Gilang saja yang mengejar Ica.


“Hhhmmm “


Alex menghela nafas panjang.


“Kamu kenapa Lex ? “


“Tunggu info aja nanti, pasti dikasih tahu”ujar Alex kemudian kembali ke bangkunya.


“Tumben dia nggak sibuk”ujar Nesa pada Gilang.


“Entahlah, tapi malah bagus”Gilang tersenyum.


“Kok bagus ? “tanya Nesa bingung.


“Mungkin saingan aku berkurang “ucap Gilang.


“Dasar ego”ucap Nesa kemudian kembali ke bangkunya diiringi bel masuk.


Nesa melihat Dio yang baru saja datang.


Wajahnya datar sama persis dengan kacamatanya yang lumutan itu.


“Tak ada yang bisa dibanggakan dari dia, hanya prestasinya saja yang bagus”ujar Nesa dalam hati.


🐭🐭🐭🐭🐭🐭🐭🐭🐭🐭


Bu Guru datang dan menyatakan jika Ica sedang sakit.


Hal itu membuat kubu pembenci Ica senang dan kubu penyuka Ica merasa iba sementara sisanya netral, tidak terlalu senang atau iba.


Gilang mulai merasa gelisah saat tahu bahwa Ica sakit dan ia berencana akan kesana sepulang sekolah.


“Tolong ada yang bisa bantu jawab ? Soal nomor 3”tanya Bu guru.


Dio mengangkat tangannya lebih dulu dari Jessi dan membuat Jessi dongkol.


“Baik Dio silahkan maju ya”


Bu guru melihat jawaban Dio merasa puas.


“Kamu lumayan juga ya untuk anak pindahan “ujarnya.


“Terimakasih Bu “ucapnya sopan membuat Nesa semakin kesal.


Saat istirahat Nesa dan Gilang ingin mengerjai Dio tetapi belum tahu apa yang akan diperbuat untuk menganggu Dio.


“Menurut kamu kita apain dia Nes ? “


“Hampir semua sih sudah kita lakuin ke dia dan itu seru banget looh”


“Ya aku juga suka karna dia itu nggak kayak yang lain, suka update status terus nyindir “ucap Gilang.


“Bener”sahut Alex


“Btw semenjak punya pacar Fabian jarang kumpul lagi ya sama kita”


“Iya, setiap istirahat pasti si Fabian pergi jadi kurang seru gitu “


“Mending kita jailin Dio pas Ica masuk “ujar Gilang.


“Iya deh, aku belum ada ide juga nih , yang paling kreatif kan si Ica”.


Saat sedang asyik berbicara lewatlah Emma Montana atau Nenek Ica.


Nesa dan Gilang memberi hormat pada Emma Montana selalu pemilik sekolah dan pemimpin satu-satunya disana.


Emma Montana membalas dengan tersenyum kemudian berjalan diiringi bodyguardnya yang berbadan roti sobek itu.

__ADS_1


“Nenek Ica keren ya “


“Iya”sahut Nesa terpukau dengan bodyguard itu.


“Nes sadar diri dong, kamu itu sudah punya Kak Alvian”


“Lihat sedikit aja nggak boleh”


“Kamu bukan lihat sedikit tolol”ujar Gilang mentoyor kepala Nesa.


“Hehhhhh Gilang ! Makanya aku bodoh kamu pukul kepala aku terus “


“Dih biar aku nggk pukul kepala kamu, kamu tetap saja bodoh”


“Sirik! “


“Weee nilaiku itu masih lebih baik dari nilai kamu ya Nes”Gilang tertawa.



Dirumah Ica


“Apa tidak sebaiknya kita ke RS Ca ? “


“Enggak perlu Nek, nanti juga baikan”


“Fisikmu akhir-akhir ini tidak bagus, tolong jangan main terus ya”ujar Nenek Ica yang sudah pulang dari Sekolah Ica.


“Iya Nek, tadi Nenek ngapain aja disekolah, pasti sudah ramai ya persiapan buat nyambut ultahnya ? “


“Iya Nenek bangga sama anak-anak SMA SEMESTA”


“Iya dong siapa dulu pemimpinnya”


“Ca apa kamu nggak mau jadi pewaris ? “


“Kan aku sudah bilang sama Nenek kalau aku itu mau buka tempat latihan silat”


“Itu kan sampingan Ca, yang utama juga harus ada, apa kamu mau Mama kamu nikah lagi dan adik tiriku yang urusin ini semua ? “


“Amit-amit ya Nek jangan sampai si hati baru itu nikah Nek, emang ada yang mau sama dia ? “


“Mamamu itu cantiknya menurun dari Nenek, dia cantik dan pasti banyak yang naksir”


“Dihhhhhhh, uhuk... Uhuk.... “


“Makanya jangan meremehkan Nenek “


“Siapa juga yang remehin Nenek, aku cuma ngomong apa adanya kok”


Nenek Ica tersenyum melihat Ica yang selalu antusias jika bicara dengannya, Nenek Ica sangat rindu saat keluarga Ica utuh dah suasana itu hangat sekali.


Disaat orang tua bercerai, anaklah korban yang sesungguhnya.


Benar-benar tak bisa dibayangkan perasaan Ica dan Dev saat itu.


Diposisi sekarang ini mampu dilewati oleh Dev dah Ica adalah suatu hal yang luar biasa .


Siapa bilang harta bisa menutupi kesedihan ?


Nyatanya kasih sayanglah yang dibutuhkan saat kita sedang terpuruk.


“Krieetttt”


Pintu kamar Ica terbuka dan terlihatlah Dev dengan gayanya yang klasik.


“Ngapain berdiri disana, mirip scene drakor aja “Ica malah ngomel.


“Kamu sudah sehat ya”


“Masih mual aja, emang ada rupa aku sehat ? “


“Buktinya kamu dah bisa ngomel “


“Jahat banget”


“Aku sengaja pulang bawain kamu sup jagung”


“Tumben pengertian “


“Aku selalu pengertian, kamunya aja yang buta “


“Iya aku yang buta, aku ngomong sesuai fakta”


“Terserah kamu aja deh, aku lagi malas ribut dah aku balik dulu, masih banyak kerjaan”


“Oke makasih Dev”


“Ggrrrr”


Dev agak kesal karna panggilan Kakak sangat langka keluar dari mulut Ica.


“Nek aku kerja dulu, jangan tungguin Ica Nek dia itu cucu durhaka”ucap Dev lalu memberi hormat dan kiss jauh.


“Ueekkkkk”ucap Ica

__ADS_1


Setelah Dev pergi Ica tersenyum, dia tak menyangka Dev akan datang disaat masih jam sibuknya, padahal biasanya pasti Dev gofood aja.


Namun kali ini tidak, kehangatan Dev baru kembali dirasakan oleh Ica beberapa tahun ini.


Dulu saat orang tuanya bercerai, jangankan melihat Ica pas sakit, menyapa pun dia enggan, sarapan tidak pernah dirumah dan makan malam saat semua sudah tertidur.


Ica merasa beruntung Dev sudah kembali lagi, semoga saja setelah menikah Kakaknya masih peduli padanya.


14.00


“Permisi Mba Ica, ini ada temannya”


Ica melongo karna melihat Nesa dan gengnya disana, hanya kurang Fabian saja.


“Ayo masuk “ujar Nenek Ica


“Terimakasih “ujar ketiganya dengan sopan.


“Kalian datang, aku baru sakit sehari looh”ujar Ica seakan harus tiga hari dulu baru temannya datang.


“Emang mau tunggu kapal Nabi Nuh datang jemput kamu baru kita kesini ? “jawab Gilang.


“Hushh Gilang “ujar Nesa mentoyor kepala Gilang.


“Duduk deh”ujar Ica pada Nesa dan gengnya.


Alex meletakkan buah tangan yang ia bawa hasil patungan dengan Nesa dan Gilang.


“Kamu sakit apa Ca ? “tanya Nesa.


“Aku tiba-tiba panas”


“Tapi sudah periksa kan”


“Sudah Nes”


“Bagus deh “


Nenek Ica yang masih dikamar akhirnya pamit agar Ica memiliki waktu untuk berbicara dengan temannya.


“Wah makasi ya temannya Ica ya sudah jenguk Ica, Nenek keluar dulu ya”ucap Nenek Ica


“Baik Nek”ujar Nesa.


“Husshhhh itu yang punya sekolah “ujar Gilang.


“Lupa”ujar Nesa sambil menutup mulutnya.


“Nggak apa kok Nes”Ica tertawa melihat gelagat Nesa yang bingung.


“Seharusnya kita panggil Ibu Montana”ujar Gilang lagi.


“Besok ingetin aku ya”


“Sippp”


Ica memperbaiki posisi duduknya agar bisa nyaman berbicara dengan Nesa.


Gilang sibuk bertanya pada Ica sementara Alex anteng dengan ponselnya.


Ica melirik Alex yang tidak biasa itu tetapi ia tak mengungkapkannya.


Tak lama kemudian IRT Ica membawakan beberapa minuman dan cemilan .


“Silahkan ya”


“Terimakasih “


“Ayo sambilan “


“ Iya Ca tanpa kamu kasih tahu pasti aku makan”ujar Gilang tak tahu malu.


“Nyesel aku tawarin kamu “Ica tertawa kecil seakan melupakan sakitnya.


“Lex ayo minum”ujar Ica karna ia melihat Alex yang masih asyik dengan ponselnya.


“Biarin aja dia Ca, dia lagi pdkt sama adik kelas”


Alex menoleh dan kesal pada Nesa.


“Apa lihat-lihat benar kan, ada adik kelas baru pindahan dari SMA 4”


“Sok tahu”


“Ihh nggak apa lagi Lex, kita kan temenan dah lama”ujar Ica, namun kata-kata Ica itu membuat Alex tak nyaman lagi.


“Ya asal jangan kayak Fabian aja”ujar Nesa.


“Biarin aja Nes orang lagi bucin”


“Aku bucin tapi nggak segitunya Ca, aku ingat teman kok.


“Iya kamu paling the best deh Nes saranghaeyo”ucap Ica sambil memberikan tangannya pada Nesa.


“Ahhhh saranghaeyo Ica”

__ADS_1


“Dihhh”ujar Gilang melihat tingkah Ica dan Nesa.



__ADS_2