BLESSED RAIN

BLESSED RAIN
Tujuh Puluh Tiga


__ADS_3

Salam buat para pembaca terimakasih sudah mampir dan dukung Karya dengan like, komen dan Vote ya...


Dukunganmu sangat berarti .


😍😍😍😍


🌺🌺🌺Happy Reading🌺🌺🌺


Tepat pukul 02.00 sini hari acara selesai.


Semua siswa dan siswi wajib pulang karna sekolah akan langsung ditutup untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.


Ica dan keluarga Montana juga sudah stay dimobil.


Mama Ica yang tadinya santai terbelalak saat melihat iPadnya.


“Ada apa sih” Ujar Dev saat melihat ekspresi Mamanya.


“Mama lupa ada jadwal ketemuan sama klien”


Semua menatap kearah Mama.


“Jadwal kapan Oliv ! “ Tanya Nenek Ica dengan marah.


“Besok pagi Ma”


“Mama pikir jadwal hari ini yang kamu lupakan. “Nenek Ica bernafas lega.


“Aku juga mikirnya gitu Nek, Mama hanya bisa bikin panik aja. “ujar Dev geram


“Iya nih Mama apaan sih”


“Ica ikut ya, kan besok libur”


“Lohhh kok gitu Ma, aku nggak mau”


“Klien ini Pamannya temanmu, yakin nggak mau ikut ? “


“Emang siapa Ma ? “


“Gilang “ujar Mama Ica dengan senyum tipis.


“Nggak ngaruh Ma, kan aku nggak kenal sama Pamannya.“ujar Ica


“Dia bilang mau ajak Gilang tapi Mama harus ajak kamu juga . “


“Lahhh eksploitasi anak dong”


“Bukan ini bisnis kecil doang “


Ica menghadap keluar jendela dengan malas, apalagi tadi dia sudah melihat Gilang dan Kak Audi.


“Please ya Ca “ujar Mama Ica setengah memohon.


“Nggak Ma aku mau istirahat, aku capek “


“Ca Mama sudah janji, katanya Gilang kan yang akan belajar lanjutin bisnisnya karna Pamannya itu single dan tidak mau menikah “


“Hemm aku tahu maksud Mama”


“Apa ? Mana ada Mama niatan gitu , kamu jangan mikir aneh-aneh dong. “


“Aku tahu apa, belum aja aku ngomong apapun dengan Mama, kok panik ? “


“Gilang tak pernah bercerita soal ini denganku apa ia memang sengaja agar aku ikut, sebenarnya apa yang sedang ia rencanakan”batin Ica.


Mama Ica yang sedang sibuk mengomel sama sekali tidak digubris oleh Ica.


Ica tak ingat apa yang terjadi dari tadi dan sekarang ini ia sudah ada dikamar hotel bersama dengan Mamanya.


“Ma sumpah aku tak nyaman tidur dengan Mama”ucap Ica.


“Diam dan tidurlah Ica, jangan banyak bicara waktu adalah uang. “


Ica merasa kesal pada Mamanya, bagaimana dia bisa tidur dengan nyenyak setelah Mamanya memberikan tugas padanya, ya padanya gadis yang masih berumur 16 tahun ini .


Sudah paling bagus ia dan Dev bisa pulang dengan selamat setiap bertemu klien.


Pukul 05.00


Terdengar Krasak krusuk dari kamar hotel Ica.


Ica membuka matanya dengan berat dan ia melihat Mamanya yang sudah mandi dan bersiap-siap.


Namun karna Mamanya bilang ketemunya jam delapan pagi jadi ia berinisiatif untuk kembali tidur.


Ica merasa baru tidur sebentar tetapi tangan yang halus dan lembut menyentuh pipinya.


“Ca ayo bersiap”ujar Mama Ica dengan suara yang kecil.


Ica mengusap matanya dengan susah payah, sumpah ia merasa Mama merampas waktu tidurnya dan pastinya teman-temannya masih tertidur pulas.


Ica bangun dari kasurnya dan bergegas untuk mandi.


Ica tak butuh waktu lama untuk mandi karna Mamanya terus memanggilnya untuk segera selesai.


“Ca kamu pakai baju ini ya”ujar Mamanya sambil meletakkan sebuah baju yang cantik dan manis mirip baju kantoran tapi tidak terlalu dewasa.


“Kapan belinya Ma ? “


“Ini urusan Mama kamu pakaian saja”ujar Mama Ica sambil menyisir rambutnya.


“Tinggal jawab aja apa susahnya sih . “batin Ica


Ica melihat pantulan baju yang ia pakai dicermin.


“Hahh apa mimpiku semalam ya, saking singkatnya waktu tidurku mimpi saja tak ingin mampir di tidurku”ucap Ica.


“Kamu sudah selesai ? “tanya Mama Ica yang sedang melihat kembali wajahnya dicermin.


Wajah cantik yang kini memiliki garis halus itu adalah sosok wanita yang ditinggalkan oleh Papanya.


Papa telah berbuat kesalahan fatal yang menghancurkan keluarga impian Ica dan Dev.


Sebenarnya apa yang dicari oleh Papa Ica , Mama Ica adalah wanita sukses dan rajin, meskipun ia sangat sibuk saat masih menjadi istri Papanya, Mama Ica selalu menyiapkan makanan untuk keluarga dan selalu pulang tepat waktu.


Kurangnya itu dimana bahkan Mama itu terlalu sempurna dimata Ica.


Ica masih mengingat dengan jelas saat Mama memarahi Papa dan setengah berteriak. Saat itulah akhir dari keluarga harmonis Ica, Mama tak pernah semarah itu selama ini kepada Papa, Mama bahkan tak tega membentak Papa apalagi Ica dan Dev.


Dulu Ica masih tidak paham tapi semakin ia dewasa ia tahu , mungkin hanya sebatas itu saja jodoh Mama dan Papa.


Namun Ica tak akan pernah melupakan wanita yang telah ikut ambil bagian dalam rusaknya keluarga Ica.

__ADS_1


Tak akan pernah lupa


“Ayo Ca kita ketemunya diruang meeting yang sudah disiapkan oleh Klien kita”ujar Mama Ica sambil beberes.


“Ma kenapa sih pakai menginap di hotel ? “


“Jarak rumah kita jauh dan itu akan membuang waktu”


“Ohh gitu”


Ica mengikuti Mamanya seperti asisten Mama Kak Bara.


Banyak orang yang memperhatikan Mama Ica dan Ica , ya siapa yang tidak memperhatikan visual wanita cantik dan gadis cantik, rugi kan.


Saat masuk di ruang meeting Ica melihat Gilang dan orang dewasa seusia Mamanya pasti itu paman Gilang.


Lelaki itu mempersilahkan Ica dan Mamanya untuk duduk.


Dia menyapa Ica dengan santun. “Inikah yang namanya Ica ? “ujarnya sambil mengulurkan tangannya.


“Iya “jawabku kikuk.


“Cantik dan manis ya, ini Gilang kalian sudah saling kenal kan ? “tanyanya.


“Iya”ucap Gilang.


Ica berusaha tersenyum meski hatinya sedang tidak baik-baik saja dan matanya juga sedang menuntut haknya.


“Gilang ajak Ica makan ya dan Paman akan membicarakan bisnis dengan Mamanya Ica”


“Baik Paman, saya permisi Nyonya Montana”ujar Gilang sopan.


“Baiklah Gilang tolong titip Ica ya, dia suka hilang soalnya”


“Iya Tante saya akan jaga dengan baik kok”ucap Gilang hampir tertawa.


Ica merasa malu pada Paman Gilang, apa wajah laparnya terlihat jelas ya padahal lagi sebentar jam breakfast kenapa dia malah diusir untuk makan dengan Gilang.


Orang dewasa memang sulit untuk dipahami.


“Kita mau makan dimana ? “tanya Ica.


“Kata Paman aku, aku bisa makan di restoran hotel pakai ini”ujar Gilang sambil menunjukkan kartu yang biasa dipakai oleh Dev dan Mamanya.


“Ohh gitu”


Ica mengikuti Gilang dan Ica seolah melupakan kejadian kemarin.


Sejauh ini Gilang tak membicarakannya, jadi mungkin saja Ica yang terlalu berfikiran berlebihan.


“Nah sudah sampai”ujar Gilang lalu menyerahkan kartu pada penerima tamu.


Gilang dan Ica diarahkan kesebuah restoran private yang biasanya dipakai oleh orang penting.


Ica melirik ruangan yang ia rasa terlalu tertutup itu, timbul rasa tidak nyaman dalam diri Ica.


Apa para pegawai itu tak merasa jika Ica dan Gilang terlalu kecil untuk hal itu.


“Kamu kenapa Ca , apa nggak nyaman ? “


“Aku nggak apa-apa kok Gilang “


“Kalau kamu nggak nyaman kita pindah aja tapi pemandangan disini bagus loo”ucap Gilang sambil membuka jendela dan terlihat pemandangan yang luar biasa indah.


Ica tak menyangka jika pemandangan dari atas sini begitu indah.


“Jangan terlalu tegang ya Ca dan aku minta maaf jika akhir-akhir ini membuat kamu kesal”


“Aku nggak pernah kesal kok”


“Ca aku tahu kamu pasti mikir aku ini hanya omong sana sini dan suka rayu cewek-cewek, tapi aku bukan tipe seperti itu Ca”


“Maksud kamu apa ? “ucap Ica bingung.


“Tentang perasaanku ke kamu itu “


“Permisi Mba Mas ini pesanannya ya”ucap seorang waiter pada Gilang dan Ica membuat percakapan Gilang terhenti.


“Silahkan dinikmati jika butih sesuatu bisa hubungi saya lagi “ucapnya sambil mengedipkan mata pada Gilang hingga membuat Gilang bergidik.


“Tadi kamu bilang apa ? “tanya Ica karna bingung.


“Aku dan Kak Audi nggak punya hubungan apapun “ujarnya dengan perlahan namun jelas.


“Emmm aku nggak pernah tanya soal itu lagipula kenapa kamu harus menjelaskan kepadaku ? “ujar Ica meski didalam hatinya ia merasa senang.


“Iya aku hanya ingin meluruskan saja waktu kita ketemu di gudang itu, aku dan Kak Audi sedang mencari alat musik cadangan. “


“Oh gitu ya tapi kamu nggak perlu jelasin apapun padaku. “


“Iya Ca tapi kamu jangan marah ya dan tentang perasaanku padamu, aku itu serius. “


“Gilang jujur saja ya, aku lebih suka kita seperti ini kau tahu kan jika kita pacaran semua pasti nggak akan berjalan dengan baik, jika putus kita akan tidak bicara atau berjauhan.


Hal itu sudah pasti akan terjadi Gilang. “


“Iya aku tahu itu tapi seperti yang pernah aku katakan, aku tulus ke kamu Ca. “


“Aku hargai perasaan kamu Gilang. “


Gilang hanya tersenyum kecut mendengar jawaban dari Ica karna ia sudah memprediksi jawaban dari Ica.


Jujur saja ia menyesal mengungkapkan perasaan pada Ica tapi jika ia tak ungkapkan rasanya benar-benar merusak pikiran.


“Ayo makan dulu Ca”ujar Gilang dengan lapang dada.


Ia tak mungkin membenci Ica karna ia sangat sayang pada Ica.


“Iya”ucap Ica dengan senyum diwajahnya.


Angin sejuk mulai masuk dari jendela dan membelai pipi Ica yang ranum.


“Drrrtttt”


Mama 💬


Hape Ica bergetar dan sebuah pesan masuk.


*Kalau Mama lama kamu dan Galang bisa jalan-jalan kemana kek gitu.


Ca ini klien besar looo


Mama nggak nyangka

__ADS_1


😊😊😊*


Ica 📩


Ogeyyyy...


Galang namanya itu Gilang, Oliv Montana.


Ica meneguk es kopi yang aromanya agak beda.


“Gilang aroma kopi ini kok beda ya apa expired ? “Ica memberikan gelasnya pada Gilang.


“Iya ya kok aromanya kayak gini, coba aku cicipin ?. “


Gilang meneguk es kopi dan merasakan lidahnya tak nyaman.


“Minum air putih aja Ca”ujar Gilang karna takut Ica kenapa-napa.


“Iya”


Selesai makan Ica dan Gilang masih duduk menikmati pemandangan yang menyejukkan mata itu.


“Mau balik nggak Ca ? “tanya Gilang saat melihat Ica yang mengantuk.


“Iya, aku mau ke kamar deh kayaknya Mama masih lama. “


“Baiklah ayo aku antar”ujar Gilang sambil merapikan bajunya.


Ica akhirnya sampai dikamarnya dan benar saja Mamanya belum juga balik.


“Aku masuk bentar boleh nggak ? “Tanya Gilang pada Ica yang memandang sinis padanya.


“Jangan ihh ntar kamu dia macam. “


“Enggak mungkin Ca , aku mana ada kayak gitu. “


“Sssssstttt diam deh diam mending kamu pergi segera. “


Gilang tak peduli dengan omongan Ica, ia cukup menahan diri dari tadi.


Dengan berani Gilang mencium kening Ica.


Ica melotot tak Terima tetapi Gilang tak peduli dan malah ingin menambah.


Rasanya


Panas, kesal tapi nyaman astaga aku ini cewek apaan.


Gilang menutup pintu kamar Ica dan membuat Ica takut.


“Ca lagi sekali dong”


“Dihhh Gilang jangan kayak gitu dong, aku takut tahu. “


“Aku bukan cewek kayak gitu. “


“Iya aku tahu tapi kamu benar-benar membuat aku tak bisa berfikir dengan jernih. “


“Stop Gilang ini salah “


Ica masih memberikan ketenangan pada Gilang yang matanya mulai memerah.


“Aku ini temanmu tenang ya kita ini masih sekolah. “


Gilang benar-benar tidak terkendali.


Ia mendorong Ica keatas kasur.


Ica yang memiliki tenaga cukup besar itu tetap saja kalah dengan Gilang.


“Aku ingin kamu Ca, kau tahu betapa susahnya tidur setiap mikirin kamu, aku bisa gila. “


“Tapi Gilang “


“Aku mohon hanya sekali ini saja “ucapnya membelai rambut Ica.


Posisi Gilang sudah ada diatas Ica.


Ica memejamkan matanya karna ketakutan.


Ica tak mengerti mengapa ia kehilangan kekuatannya saat di hadapkan dengan situasi ini.


“Aku tahu kamu laki-laki baik Gilang. ”


“Tapi kamu nggak cinta sama aku. “


“Aku akan berusaha untuk melakukan itu tapi apakah kamu memberikan aku waktu ? “ujar Ica agar bisa menyelamatkan diri.


“Kamu serius Ca ? “Gilang mulai sadar dengan kelakuannya.


Gilang akhirnya sadar dan ia meminta maaf pada Ica.


“Terkadang nafsu itu bisa mengalahkan akal sehat Gilang “ujar Ica.


“Maafkan aku Ica seharusnya aku melindungi kamu, bukan seperti ini”


“Iya aku nggak marah kok”


(Aku benar-benar ingin menghancurkan semua isi otakmu)


“Makasi Ica sayang “ujar Gilang lalu duduk disamping Ica dan Ica juga bangun dari kasurnya.


Ica memeluk Gilang agar Gilang merasakan betapa Ica tulus sebagai sahabatnya.


“Aku kayak binatang Ca maafkan aku. “


“No problem Gilang “


Ica mengecup kening Gilang dan Gilang sangat terkejut.


“Ca terlalu cepat bisa replay nggak sih . “


“Anjing ! “


“ Hehe”


Gilang kembali kekamar hotelnya juga ia menyadari perbuatannya itu dan kembali mengutuk dirinya.


Ica menenangkan dirinya yang hampir saja dalam bahaya tadi.


“Kenapa aku nyaris tak melawan Gilang, apa aku juga suka padanya ? “batin Ica.


__ADS_1


__ADS_2