BLESSED RAIN

BLESSED RAIN
Sembilan Puluh Tiga


__ADS_3

Salam buat para pembaca terimakasih sudah mampir dan dukung Karya dengan like, komen dan Vote ya...


Dukunganmu sangat berarti .


😍😍😍😍


🌺🌺🌺Happy Reading🌺🌺🌺


Pertandingan antar Provinsi yang menguras waktu dan tenaga itu selesai lebih cepat dari perkiraan.


Awalnya prediksi selesai sebulan tapi setengah Bulan acaranya telah rampung.


Ica pulang dengan medali perunggu kategori Putri, agak kecewa sih tapi no problem karna Ica juga baru kali ini ikut pertandingan antar Provinsi.


“Yes ada yang kita banggain nanti Ca ke Pak guru” Ujar Kak Damar.


“Iya sih tapi lebih keren Kak Alvian, dia dapat emas “


“Iya dong Alvian gitu looh”


“Kalau aku dah bosan dapat Emas “ Ujar Kak Damar sombong .


“Huuuuuuu..... “ Teriak semua atlet yang ada didekat mereka.


Kak Damar terkekeh karna tingkah laku teman-temannya itu.


Damar berharap bisa merasakan moment ini lagi karna sebentar lagi ujian dan ia sudah tak ada waktu untuk mengurus Perguruan lagi.


Damar pasti akan merindukan momen bersama teman-teman seangkatan dan adik-adik kelas terutama Ica Montana.


“Kok melamun Kak ? “


“Sebentar lagi aku ujian dan aku akan sibuk”


“Benar juga ya Kakak mau kuliah dimana ? “tanya Ica.


“Disini aja mau ambil ekonomi “


“Lohhh nggak olahraga ? “


“Aku mau lanjutin bisnis keluarga Ca”


“Ohh ekspor ikan itu ya”


“Iya Ca”


“Bagus deh aku juga sama Kak”


“Kalau kita jodoh kita bisa buat bisnis kita semakin berkembang ya “ujar Kak Damar dengan penuh keyakinan, meskipun saat ini saja mereka belum resmi pacaran entah hubungan apa ini namanya.


“Ca aku tak ingin terus kepikiran apa kita nggak coba pacaran aja ? “


“Gimana ya Kak ? “Ica berfikir dengan keras tapi dihati kecilnya ia belum bisa.


“Ayolah “


“Aku belum bisa Kak “


“Emang apa yang menganggu kamu ? “


“Aku sedang fokus dengan sekolah dan beasiswa Kak”


“Tapi kamu pintar aku yakin kamu bisa bagi waktu “


“Daripada nggak ada status kayak gini”


“Tapi kita kan sudah berkomitmen Kak untuk saling jaga perasaan “


“Iya tapi Ca aku ingin kamu seutuhnya “ucap Kak Damar memelas.


Ica menggeleng pelan tanda ia belum bisa dan akhirnya Damar bisa menerima itu .


Komitmen emang penting dan ia ingin coba menjalani dulu yang penting Ica merasa aman dan nyaman.


“Tapi kamu jangan nerima cowok lain ya”ujar Kak Damar.


“Bagaimana bisa aku terima cowok lain kalau aku sukanya dengan Kakak”ucap Ica lalu menutup mulutnya.


Damar tersenyum menang saat mendengar pernyataan jujur yang ceplos dari mulut Ica.


Damar mengelus rambut Ica dan ia melihat tangannya yang berminyak.


“Kamu nggak pernah keramas Ca ? “ucap Kak Damar.


Ica tertawa “Iya Kak dah tiga hari aku belum keramas.


“Iiisssshhh adakah cewek yang jorok kayak kamu Ca “Kak Damar menggosok tangannya di baju Alvian


“Ehhhh.... Apaan sih jorok amat ! “


Ica tertawa terbahak-bahak melihat tingkah laku si Damar dan Alvian.


Bus akhirnya tiba dibandara Soekarno-Hatta dan semuanya saling sayang good bye karna entah kapan lagi mereka bisa bertemu kembali.


Si lesung pipi yang berasal dari Jakarta itu ikut mengantar para atlet yang berasal dari luar Jakarta.


Ia tak menganggu Ica lagi karna ia sudah didudukan oleh Kak Damar dengan singkat, jelas dan padat.


Lagi-lagi Kak Damar memastikan jika Ica tak memberikan nomor whatsappnya pada Si lesung pipi itu.


“Kamu nggak bagi nomer whatsapp kamu kan ke dia “selidik Kak Damar saat Ica sedang check-in.


“Enggak “ucap Ica.


“Pokoknya awas aja ya, aku akan bikin dia jadi lesung geprek”


“Dih sok drama film”


Kak Damar memperhatikan tiket Ica dan ia mengambil tiket milik Alvian.


“Apaan sih ! “Alvian merasa kesal dengan tingkah Damar.


“Kalian sebelahan ? “


“Masak sih”Ica balik nanyak pada Kak Damar.


“Ini kan haaaa tukeran dong Al”


“Enak aja Hai Ica kita sebelahan”ujar Alvian memanas-manasi Damar.


“Iya Kak” jawab Ica sambil tersenyum menatap Kak Alvian yang membuat Kak Damar makin gusar.


“Nggak adilll”


Alvian tampak sangat senang saat menggoda Kka Damar, ia terus-terusan memainkan tiket di hadapan Kak Damar.


“Kayak anak kecil aja “batin Ica saat melihat Kak Damar dan Kak Alvian kejar-kejaran.


Rumah


Ica menggosok wajahnya ke kasur”Akhirnya aku kembali bersatu dengan kamar aku yang indah”ucapnya.


“Mandi dulu sana “ucap Kak Dev yang tadi menjemput Ica di bandara.


“Malas”


“Dari tadi pas di mobil rambutmu kecium bau “


“Mana ada “ucap Ica melengos dan pura-pura menutup matanya.


Dev masih diam dikamar Ica ia melihat jendela Ica.


“Dev ngapain sih lama-lama disini”


“Pelit amat”


“Keluar sana hush hush “usir Ica.


“Iya aku keluar kok”ujar Dev dengan kesal.


Sebelum keluar Dev mengacak wajah Ica dan mengecup dahinya.


“issshhh jijik banget tahu nggak sih !!! “teriak Ica sambil melempar bantal pada Dev.


Sekolah


Ica kembali mencium aroma rumput sekolah dan wangi-wangi siswa-siswi yang ada di SMA SEMESTA.


Tapi ada yang Ica tidak tahu selama ia di Jakarta yaitu tentang Jessi.


Jessi sudah tidak masuk selama seminggu tepat saat Ica akan kembali ke Mataram.

__ADS_1


Nesa sengaja tak bercerita agar seru katanya.


“Jadi Jessi kemana Nes ? “


“Langsung tanya Jessi sih bukannya nanyain kabar aku”ujar Nesa pura-pura ngambek.


“Aiss hhh mungkin yang SMS aku tiap hari itu hantu Nesa ya”


“itukan online aku mau yang offline “


“Iya deh gimana kabar Nesa yang cantik kayak ratu Mesir”


“Baik kok Ica Montana jadi disini aku akan mulai bercerita jangan lupa siapkan cemilan dan juga follow di akun aku Nesa_Cute”


“Norak banget sih nama Ig kamu”ujar Ica sambil tertawa.


“Biarin”


“Jadi Jessi kenapa nggak masuk seminggu ? “


“Katanya dia sakit sih tapi banyak yang bilang dia hamil”


“Hamil ? Yang benar saja, keluarga Jessi ketat looh terus disiplin, mana bisa dia hamil nggak ada cerita”


“Yang cerita itu temannya sendiri tau”


“Kok bisa ? “


“Dia dibilang sakit tapi kata Ibu temannya itu lebih tepatnya tetangganya, Jessi itu kayak hamil karna orang tua pasti tahu kan kalau hamil itu kayak gimana ? “


“Tapi aku nggak percaya “ucap Ica sambil memakan snack.


“Iya itu kan versi temannya”


“Aku harus cari tahu “ujar Ica.


“Penting banget emang Ca kamu harus cari tahu ? “


“Pentingkah kan itu masih ada hubungannya sama sekolah”


“Iya juga sih”


“Tapi semoga aja nggak bener “


“Seharusnya kamu seneng dong Ca, berarti Jessi itu hanya besar mulut dan tak sesuai dengan apa yang ia katakan”


“Yang kamu katakan itu benar Nes tapi kenapa disini aku malah prihatin “


“Kamu aneh Ca kalau aku sih malas prihatin sama orang kayak dia”


“Entahlah Nes apa mungkin karna sama-sama cewek ya”


“Mungkin aja”


Saat sedang berbicara dengan Nesa tiba-tiba Gilang sudah ada dibelakang Ica.


“Ca “


Ica hafal dengan pemilik suara itu.


“Iya “


“Bisa kita bicara berdua aja”pinta Gilang.


“Bisa kok”jawab Nesa lalu pergi dengan seenaknya.


“Eh Nesa ! “


“Selesaikan masalah kalian ya “


Gilang langsung duduk disamping Ica.


“Apa kita cari tempat lain aja Ca ? “tanya Gilang.


“Disini aja “ujar Ica dengan wajah agak bete.


“Maaf ya tentang aku bentak kamu didepan Kak Audi itu “


“Iya aku maafin kamu tapi jangan gitu lagi”


“Iya dan makasih ya Ca kamu sudhs rekomendasiim aku ke Rumah Produksi Music Love Orbit”


“Love bird apa ? “


“Itu apaan sih kok aku nggak tahu ya”


“Aku tahu mungkin kamu nggak mau aku tahu tentang itu tapi apa kamu mau lihat kontraknya kebetulan aku sudah foto “ujar Gilang menyodorkan sebuah foto kontrak kerja dan Ica pernah melihat ini saat menemani Dev tanda tangan.


“Oh ini ya tapi jujur aja aku nggak tahu tapi ini ada namaku Riska Montana, apa ini kerjaannya Dev “batin Ica .


“Iya aku hanya bantu sedikit kok “ujar Ica padahal ia tak tahu menau masalah ini.


“Aku berharap hubungan kita tetap baik ya Ca “


“Iya Gilang “


Jadi semenjak Gilang dikontrak ia tak lagi berhubungan dengan Kak Audi.


Memang dari awal ia tak ingin bersama dengan Kak Audi tapi bagaimana ia juga butuh dukungan untuk grup bandnya yang ada disekolah dan hanya Kak Audi yang bisa saat itu.


Sekarang bandnya sudah memiliki panggung sendiri dan itu berkat keluarga Montana.


Gilang emang nggak nyaman dengan Kak Audi karna Kak Audilah ketua dari ekskul musik Sekolah dan sekarang Kak Audi sudah diganti karna Kak Audi menolak tentang pembaruan yang sering diajukan oleh anggota lain.


Pada intinya ia ingin sendiri dalam hal apapun.


“Eh sudah waktunya masuk ayo”ajak Ica pada Gilang.


“Ohh oke”


Semua berjalan dengan baik sejauh ini tapi yang masih terbayang dalam benak Ica adalah Jessi, apa benar dia hamil ?


Jika ia hamil Siapakah yang menghamili karna terakhir kali Jessi pacaran dengan Kak Damar dan juga sempat dekat dengan Dev.


Ica duduk di samping Dio sambil menjulurkan lidah pada Dio.


Seperti biasanya Dio tak berekspresi tapi Ica juga sadar bahwa selama ini Dio sering curi-curi pandang kebawah meja Ica, yaitu jika Ica memakai rok yang lebih pendek.


Ica pikir Dio tak pernah memperhatikan hal itu tapi Dio sama saja dengan cowok-cowok lainnya.


Saat guru sedang sibuk memberi penjelasan Ica malah ingin merencanakan sesuatu.


Ia dengan sengaja menaik turunkan kakinya diatas penyangga meja hingga membuat kaki jenjangnya lebih terlihat.


Awalnya Dio tak memperhatikan tapi lama kelamaan dia juga akhirnya memperhatikannya karna tak mungkin cowok bisa menahannya.


Dev selaku kakaknya aja malah bisa tergoda apalagi cowok lain.


Ica tersenyum karna targetnya sudah masuk perangkap.


“Sama aja ! Jika aku tak bisa membully kamu dengan fisik maka aku akan coba dengan cara ini”ujar Ica lalu menghentikan gerakan kakinya dan mata Dio kembali fokus ke papan tulis .


Ica tak berhenti disitu ia menyilangkan kakinya dan Dio kembali memperhatikan Ica.


“Emm Dio kapan lagi jadwal kita bersih-bersih diApotek hidup”tanya Ica pura-pura dan Dio tersentak karna kaget.


“Tetap seperti biasanya kok Ca”


“Aku mohon ya nanti kamu infoin aku”ujar Ica dengan manja.


“Tapi kamu sering marah jika aku chat”


“Kali ini aku nggak marah kok”ujar Ica sambil mengelus tangan Dio dan Dio segera memindahkan tangannya karna terkejut.


“Iya nanti aku chat kamu Ca”


“Oke makasih”


Sepulang sekolah Ica menceritakan rencananya pada Nesa.


“Apa kamu nggak takut Ca ? “


“Enggak sih Nes kan hanya memancing aja, aku mau lihat wajah lugunya itu, aku malah mau pura-pura suka sama dia”


“Tapi apa itu nggak terlalu jahat Ca , ini tentang perasaan looh”


“Iya aku tahu Nes tapi ini sensasi baru looh”


“Tapi apa yang lain setuju tentang hal ini ? “


“Jangan ceritakan “ujar Ica.

__ADS_1


“Ca ini bukannya tempat kita biasa main itu ? “menunjukkan tempat yang akan dibangun minimarket.


“Mana ? “Ica melihat postingan di ig.


“Iya, emang ada apa ? “


“Mau dirusak buat bikin minimarket “


“Lohh ini kan bagus banyak anak-anak main disana”


“Kita nggak bisa kalahin pemerintah Ca “


“Tapi ini kawasan hijau “


“Kalau uang sudah berbicara tetap saja nggak bisa “ujar Nesa.


“Banyak kenangan aku dan Dev disini, apa Dev nggak bisa ya bikin sesuatu supaya tempatnya nggak dirusak”


Nesa hanya diam mendengar ucapan Ica karna ia tak tahu apa yang harus ia katakan.


Tempat yang dimaksud oleh Ica dan Nesa adalah sebuah padang rumput liar yang berada agak didalam perumahan dekat taman bermain komplek.


Disana sore hari biasanya banyak dagang kaki lima dan anak-anak yang bermain bola, bulutangkis dan masih banyak lagi.


Sungguh sayang jika dirusak tapi mau bagaimana lagi, itu bukan tanah milik Ica, ia juga tak bisa berbuat apapun bahkan jika ia bercerita pada Dev, Dev pun tak bisa membantu.


“Kenapa kawasan hijau seperti ini harus dirusak padahal bagus “


Setelah makan siang dan mengerjakan tugas Ica menuju lokasi tadi.


Ia belum sanggup jika nanti tempat itu sudah tidak ada lagi.


Ica menggunakan sepeda yang sudah berdebu karna ia lupa kapan terakhir kali ia menggunakannya untuk olahraga.


Sesampainya disana benar saja, sudah banyak alat kontruksi dsn material bangunan.


“Ya ampun “batin Ica, ia ingin menangis karna dulu ketika belum bercerai Mama dan Papanya sering mengajak dia untuk main kesana setiap hari Minggu.


Ica menghela nafas panjang karna ia juga tak bisa berbuat apapun.


Saat akan kembali Ica hampir bertabrakan dengan Dev.


Ica heran di jam kerja Dev sudah ada disini.


“Ini kerjaan kamu Dev ? “tanya Ica dengan hati-hati.


“Bukan, aku kesini karna dengar beritanya”ujar Dev.


“Kau tahu juga ya”


“Hal sebesar ini mana mungkin aku tidak tahu Ca”


“Jadi bagaimana Dev ? “Tanya Ica.


Dev hanya menggeleng dengan pelan.


“Aku juga tak tahu Ca”


“Tempat ini penuh dengan kenangan dan anak-anak tak akan punya tempat bermain lagi “


“Benar”


Dev dan Ica cukup lama melihat tempat bermain mereka dulu saat masih kecil.


“Ca jika tempat ini tidak jadi minimarket , Kira-kira bisa dibuat apa ya ? “


“ Taman bunga Kak”


“Emang bisa “


“Tentu ada kolam didepannya dan bunga yang banyak “


“Emang bisa tumbuh bunga ? “


“Bisa kok”


“Yakin “tanya Dev.


“Yakinlah bunga itu bisa tumbuh dimana saja dan aku yakin tanah ini pasti subur”


Ica mengelus rumput yang lagi sebentar akan berubah menjadi minimarket.


“Benar”ucap Dev


Ica dan Dev kembali bersamaan sekitar pukul enam sore.


Ica segera mandi sedangkan Dev malah nonton film.


Ica merasa tak bergairah melakukan aktivitas karna masalah padang rumput itu.


Bagaimanapun ia masih tak Terima jika padang rumput itu dijadikan minimarket.


Keesokan harinya


“Ca”


“Emmm”


“Bangun nggak atau aku cium”


“Ehhhh !!! “Ica mendorong bibir monyong Dev.


“Apaan sih pagi-pagi dah bikin gara-gara”ujar Ica.


“Kamu mau ikut nggak ? “


“ Ini hari libur Kak tanggal merah “


“Makanya kamu mau ikut nggak ? “


“Kemana ? “


“Ayo aja tapi mandi dulu”


“Iya “ucap Ica dengan malas, Ica paling malas jika tanggal merah diajak keluar.


Di mobil Ica masih mengantuk dan Ica melihat jika Dev mengajaknya kearah padang rumput kemarin.


“Kenapa kesini Dev”


Dev tidak menyahut dan hanya terus menyetir.


Saat sampai Ica tak percaya dengan apa yang ia lihat.


“Lohhh alat kontruksi sama materialnya kemana Dev ? “


“Bilang makasih sama Mama”ujar Dev.


“Tunggu dulu dalam semalam ? “


“Yuppp ini berkat Mama”


“Mama ? Tapi kenapa “


“Sebenarnya Mama sudah tahu masalah ini dan semenjak berita ini keluar Nenek tak henti-hentinya menangis “


“Nenek ? “


“Iya, ini adalah tempat masa kecil Nenek Ca”


“Benarkah Dev ? “tanya Ica tak percaya.


“Iya “


Dev dan Ica turun ke padang rumput dan melihat keindahan padang rumput .


“Itu ada Petani Bunga yang akan menanam bunga krisan dan bunga matahari. “


Ica merasa semua ini adalah mimpi, tapi ia bersyukur karna keluarganya begitu peduli padanya.


“Makasih ya Dev”


“Makasihnya sama Mama dan Nenek ya Ca”


“Iya nanti aku bilang sama Mama”


Ica melihat petani bunga yang akan menanam bunga krisan dan bunga Matahari.


“Senyum terus kissnya mana ? “


“Mau tangan kanan atau kiri yang melayang duluan ? “

__ADS_1


“Gitu aja marah”



__ADS_2