BLESSED RAIN

BLESSED RAIN
Delapan Belas


__ADS_3

🌺🌺🌺Happy Reading🌺🌺🌺


“Cieee..... Yang tersaingi”


“Paling kebetulan aja”


“Kamu takut Ca”


“Sorry stroberi ya... Nggak akan, paling dia lagi beruntung aja”


“Siapa tahu emang dia pintar Ca” Ujar Alex


“Aku sih belum tahu tentang dia, jika dia pintar pasti aku juga tahu, sekolahnya juga aku tak pernah dengar”


“Kan dia dari luar Kota Ca”


“Mungkin pergaulan ku yang kurang luas”


Ica kemudian searching di google tentang sekolah Dio.


SMA Sentosa


SMA Sentosa itu ada di Kota Bima, jadi emang jauh sekali sih sama kita dan juga belum pernah selama aku ikut cerdas cermat, sekolah itu menjadi lawan tanding ku.


“Mungkin Sekolahnya nggak masuk kategori Ca”


“Iya... Tapi aku jadi penasaran sih, kita lihat Ujian akhir semester besok, jika nilainya masih bagus, aku harus hati-hati dengan dia”


“Ca.... Kamu nggak ganti baju “


“Emang mau apa ? “


“Olahragalah”


“Ya... Ampun aku sampai lupa karna ngomongin Dio”


“Dio cupu weekkkkk”ucap Ica sambil berlari”


“Rupanya dia mulai penasaran “ujar Dio dalam hati.


“Dia belum tahu aku siapa “


“Fabian ayo..... “


“Apa ? “


“Sembunyikan bajunya Dio”


“Ayo”


“Aku nggak ikut ya, kakiku masih belum sehat betul “ucap Gilang.


“Baiklah biar aku sama Alex aja”ujar Fabian.


“Baiklah”ujar Ica dan Nesa dengan mata penuh keisengan.


“Ica.... Dio mana ? “


“Nggak tahu Bu”


“Dio kembali dengan pakaian olahraga yang belum diganti”


“Dio, bajumu mana ? “


“Emm.... Jatuh di kloset Bu, jadi basah”


“Dio peraturan sekolah mengatakan kalau setelah olahraga, bajunya harus di ganti untuk mengikuti pelajaran berikutnya, tapi karna kau masih murid baru, Ibu bisa mentolerirnya”


“Terimakasih Bu”


“Lain kali lebih hati-hati ya”


“Baik Bu”


Geng Ica tertawa puas melihat Dio yang dimarahi.


“Aku puas banget deh”batin Ica.


“Ehehehehehe”Nesa tertawa.


đź’šđź’šđź’šđź’šđź’šđź’šđź’šđź’šđź’šđź’šđź’šđź’šđź’šđź’šđź’šđź’š


Nostalgia waktu.....


⏰⏰⏰


“Gimana mau temenan sama kamu, semua barang kamu mahal, aku takut temenan sama kamu”


“Dia itu terlalu kaya, nggak bisa kita main sama dia”


“Lihat dia, tasnya sepatunya semuanya mahal-mahal”


“Aku boleh gabung”


“Nggak bisa... Kelompok kita sudah pas”

__ADS_1


Ica mengingat memory nya saat masih duduk di bangku SD dan SMP.


Ica tak punya teman sama sekali karna ia kaya dan menurut mereka, Ica tak mau bersama mereka ,sebenarnya ada yang memprovokasi untuk menjauhi Ica.


Sebab itulah Ica tumbuh menjadi anak yang penuh dengan rasa dendam dan saat SMA Ica berteman dengan Nesa, Alex, Fabian dan Gilang yang sama sekali tak peduli status sosial Ica, bahkan saat sekolah Ica tak ingin di tahu bahwa dia adalah cucu dari pemilik sekolah SMA Sentosa.


Namun sebagaimanapun ditutupi, tetap saja Ica ketahuan sebagai cucu dari Emma Montana, Nenek Ica.


“Kalian mau jauhin aku silahkan, karna aku tak jujur bahwa aku adalah cucu dari Emma Montana”


“Kamu bicara apa Ica, kami nggak peduli kamu Ica Montana atau Ica biasa, bagi kami semua kamu adalah teman terbaik kami”


Emang agak lucu menyebut geng pembully dengan sebutan baik tapi itulah kenyataannya.


“Mama main hape terus dari tadi “ucap Ica saat menonton televisi bersama.


“Mama lagi sibuk urus kerjaan, emangnya kamu”


“Mama sudah baikan sama Kak Dev”


“Belum... Kutu itu bilang mau cari kerjaan... Silahkan “


“Ma.... Jangan gitu dong “


“Mama hanya bicara apa adanya Ica, kamu nggak akan paham “


“Yaaa.... Aku nggak paham deh”


“Ca...... Kupasin Mama kwaci itu”


“Enak aja, nggak ah aku aja bukanya penuh perjuangan “


“Pelit amaat”


“Biarin ..... “


Ica sengaja melangkah perlahan ke dapur, mengambil susu dikulkas kemudian melihat Mamanya sibuk chating.


“Iya Bara aku tunggu kamu”ucap Ica mereply isi chat Mamanya, membuat Mamanya menyembunyikan hapenya.


“Ica.... “


“Kak Bara itu masih muda Ma, jangan cari berondong deh”


“Ica Aaaaa.....!!! “


“Kaburrrrrr !!! “


“Jangan ngintip chat Mama”


“Heeyyyyy !!! “


“Huffttttt”


Ica berlari hingga kedapur dan membuat ART2 dan tukang kebun yang sedang bergosip sangat terkejut, bisa dibayangkan bagaimana wajah mereka, melihat Ica lari dengan suara yang seakan diluar sedang hujan meteor.


“Hossh......


Hosshhhhhhh.....


Hosssshhhhhhhhh......... “


“ Mba Ica kenapa ? “


“Hahhhhh... Biasa aku sedang menghindari salah paham”


“Salah paham apanya ? Paling ganggu Mas Dev atau Bu Oliv”ucap ART Ica karna dia hafal dengan sifat Ica yang usil.


“Ya kurang lebih kayak gitu deh”Ucap Ica kemudian mengambil susu dikulkas.


“Hahahahaha..... “ Ica kembali tertawa melihat Mamanya itu, apalagi ekspresinya yang mirip anak-anak itu.


Namun ketawa Ica yang tiba-tiba itu malah menakuti ARTnya.


“Mba Ica.... Mba Ica nggak apa kan ? “


“Iya... Kok tiba-tiba ketawa gitu ? “


“Aku Ok kok”


“Syukurlah... Kita pikir kerasukan “


“Setan nggak mau sama aku”


“Kok gitu”


“Dia pasti kewalahan ngeliat sifat aku yang random”


“Ihhh... Ada-ada saja”


Ica kembali ke ruang TV dan Mamanya tidak main hape lagi, apa dia takut di ulti .


“Ma.... “


“Apa ? “

__ADS_1


“Kak Dev.... nggak datang ke kantor ? “


“Iya.. Kan dia yang mau begitu”


“Apa Mama nggak khawatir ? “


“Nggak.... Dev itu sudah dewasa, apa yang perlu dikhawatirkan ? “


“Mama jangan keras kepala dong “


“Mama ingin tahu sebagaimana dia bisa bertahan tanpa aku Ca”


“Atur aja deh Ma, yang penting Mama jangan marah sama Dev”


“Kak Dev Ica”


“Kepleset sedikit aja”


Ica kembali kekamar, baru saja ia rebahan, Nenek Ica ke kamarnya.


Tak biasanya Nenek seginian kekamarnya, pasti Nenek mau kasi wejangan perkara siang tadi.


“Ca... Boleh Nenek duduk disini ? “


“Iya Nek.... “


“Maaf ya Nenek langsung saja, tak baik sikapmu seperti itu pada temanmu”


“Tapi aku nggak suka sama dia Nek”


“Atas dasar apa kamu tak suka sama dia”


“Dia anak baru di kelas aku Nek, tapi dia belagu”ujar Ica berbohong.


“Apa benar dia belagu, kayaknya dari tampangnya nggak mungkin anak itu belagu”


“Bagaimanapun dia sudah bantu kamu dan jika ia berfikir sama , bagaimana nasib dompet kamu ? “


“Iya... Aku salah Nek”


“Lain kali jangan begitu ya”


“Iya”


“Kalau gitu Nenek istirahat dulu dan Dev belum juga pulang Ca, coba kamu chat dia ya”


“Iya Nek”


Karna lelah Ica malah tertidur dan ia terbangun karna suara dengkuran yang cukup keras.


Ica sangat terkejut saat membuka matanya.


“Devvvvv !!! “


“Apa yang kau lakukan di kamarku”


“Dev... Bangun Dev... Bisa-bisa Mama cambuk kita berdua”


“Devvvv.... Astaga !!! “


Ica mengguncang tubuh Dev dengan sekuat tenaga, tapi tidur Dev seperti orang mati.


“David Montana !!! “


Ica akhirnya menyiram wajah Kakaknya.


Dev terkejut dan membersihkan wajahnya.


“Kenapa kau di kamarku !!! “


“Kenapa ya ? “


“Balik tanya lagi “


“Aku ingat dulu ya”


Dev malah menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 02.00.


“Ahhh... Aku ingat, aku bawain kamu gorengan, terus aku dichat sama Sonya “


“Sonya siapa ? “


“Kamu lupa ? “


“Memory aku terbatas “


“Sonya anaknya investor itu”


“Terserah deh langsung aja ke intinya “


“Ya karna aku sibuk chating jadi aku ketiduran disini”


“Kalau ingatanmu sudah jelas, tolong keluar dengan tidak hormat”


“Baiklah aku ketiduran sampai segitunya”

__ADS_1


__ADS_2