
Salam buat para pembaca terimakasih sudah mampir dan dukung Karya dengan like, komen dan Vote ya...
Dukunganmu sangat berarti .
😍😍😍😍
🌺🌺🌺Happy Reading🌺🌺🌺
Di kamar Damar
Damar sedang sibuk stalk akun ig Ica. Tak ada yang istimewa disana, hanya beberapa foto dan itupun foto dengan teman-temannya.
Namun Damar berhenti karna melihat sebuah komen sejam yang lalu.
@Jessi
*dasar ****** ! *
@nadya5
*ini yang ngerusak hubungan Jessi sm Damar
@yyyyy
*sok cantik*
Bagaimana bisa wanita punya mulut sekasar itu, apa Jessi tak pernah berfikir jika komennya akan dibaca orang lain.
Damar hanya mengelus dadanya dan bersyukur dia telah putus dari Jessi.
Ternyata gosip itu memang benar, Jessi hanya cantik diluar tapi tidak didalam.
“Ca, aku kok pengen banget lihat wajah kamu. Kamu lagi apa sih sekarang ? “ujar Damar sambil melihat foto Ica.
Damar diam-diam mengambil foto Ica saat di pesta ultah Alvian dan ia menyimpannya sendiri.
Dan ada juga foto yang seseorang ambil saat ia berdansa dengan Ica.
Damar mengingat setiap inci tubuh Ica, bagaimana seorang atlet mempunyai tubuh yang begitu menarik dan membuat nafsu. Damar juga ingat dia menghirup wangi di leher Ica karna parfumnya yang membuat nafsu.
“Indah”ungkapnya kemudian masuk kedalam mimpi.
Hingga paginya terjadilah hal yang biasa terjadi pada laki-laki jika terlalu memikirkan gadis yang ia sukai.
Damar menatap dengan jengkel, mimpinya benar-benar di luar nurul(nalar). Tapi najisnya dia berharap itu semua jadi kenyataan.
“Ya ampun aku ini kenapa sih, aku nggak pernah kayak gini pas sama Jessi, kesempatan aku tinggal setahun buat deketin Ica”ujar Damar dan melanjutkan kekamar mandi untuk membersihkan sisa-sisa mimpinya semalam.
Sesampainya disekolah Damar senyum-senyum sendiri dan membuat Alvian bingung.
“Kamu kenapa sih ? Nggak biasanya kayak gini”tanya Alvian.
“Emmm lagi mikirin seseorang”
“Jessi ? “
“ba**”
“Lah... Kok ngamok”ujar Alvian karna Damar melesatkan tangannya siap memukul kepala Alvian.
🤞✌🤞✌🤞✌🤞✌🤞
“Maaf”ujar Alvian.
“Jangan sebut nama Jessi didepan aku lagi”ujar Damar dengan ekspresi kesal.
“Iya deh, ingat nanti siang kita ketempat pertandingan silat “
“Iya iya”
“Ica mau ikut nggak ? “tanya Alvian.
“Pastilah bulan depan kayaknya dia sudah bisa main lagi”
“Bagus kalau begitu team kita jadi kuat kalau ada Ica”
“Iya, pastinya”
“Aku mau ke kelas Ica”ujar Damar.
“Stop ! “Alvian mencegah Damar.
“Emang kenapa ? “
“Kamu nggak lihat semenjak kedekatan kamu dipesta ultah aku, Ica dibully”
__ADS_1
“Tau sih, terus aku harus gimana ? “
“Chat aja, biar Ica aman”
“Ica kan nggak mempan sama bully-an, yang ada dia sering ngebully orang”ujar Damar mengingat bahwa Ica sangat terkenal, apalagi tentang Dio yang paling sering ia bully.
“Tapi ini masalah hati Damar, aku sih lebih menjaga supaya tidak terjadi apapun, iya Ica emang kuat tapi Nesa ? “Alvian mengingatkan Damar bahwa pacarnya itu bisa berada dalam bahaya jika Damar gegabah.
“Mending aku aja yang ke kelas Ica ya, kamu nunggu diluar aja. Mumpung belum belum berbunyi”
“Oke”
Damar menunggu Alvian dengan gelisah padahal Alvian baru saja pergi lima menit yang lalu.
Setelah lima belas menit akhirnya Alvian kembali.
“Aku sudah bilang sama Ica dan Nesa, mereka akan nonton setelah pulang sekolah”
“Baiklah kalau begitu “
Dikelas Ica
“Kamu mau ikut Nes ? “tanya Ica pada Nesa yang moodnya kurang baik.
“Iya pastilah, mana mungkin aku lewatin momen Kak Alvian”
“Bagus deh kalau gitu, aku jadinya tidak sendirian “sambil memeluk Nesa.
Nesa tersenyum simpul karna pikiran Nesa sedang bercabang.
Isi pikiran Nesa adalah saat ia dan Kak Alvian memadu kasih dipesta.
Nikmat tapi ada rasa penyesalan dihati Nesa, ia takut jika Kak Alvian berpaling nantinya dan berfikir ia gadis murahan.
Kegelisahan Nesa bukan tanpa alasan karna akhir-akhir ini Kak Alvian agak jarang berkabar kepada Nesa.
Nesa berusaha positif thinking tapi ia tetap tak bisa mengubah prasangkanya kepada Kak Alvian.
Kak Alvian memang tidak populer tapi ia cukup digemari oleh siswi-siswi disekolah karna badannya yang bagus.
Terkadang Nesa cemburu jika ada yang mendekati Kak Alvian disekolah tapi , ia menekan semua perasaannya agar tidak dinilai berlebihan oleh Kak Alvian.
Apalagi kata Kak Alvian jika ia menang maka ia dan Kak Damar akan dikirim ke Bali.
Apa Nesa sanggup ? Pasti disana Kak Alvian akan bertemu dengan banyak atlet wanita yang pastinya diatas rata-rata Nesa.
“HHuffttt “Nesa menarik nafas panjang dan menutup wajahnya dengan buku.
Ica membiarkan Ness hanyut dalam pikirannya.
Ia tak ingin menganggu Nesa untuk saat ini, ia tahu jika Ness sedang berkata hufff berarti pikirannya sedang tidak bagus.
Hari ini pelajaran meneliti proses kupu-kupu dan kekesalan Ica adalah satu kelompok dengan Dio.
Guru yang malas akan membuat kelompok berdasarkan kursi dan jika itu terjadi ia akan terus bersama Dio hingga tamat kelas 11.
Itu bencana bagi Ica bagaimana ia bisa bertahan dengan musuhnya itu.
“Kamu yang nulis ya Dio”ujar Ica.
“Iya”
Datar dan tanpa basi basi Dio mengiyakan suruhan Ica.
“Dasar patung hidup”umpat Ica.
“Aku akan bertahan kelompok dengan Dio hingga tamat dan ini sangat menyakitkan “ujar Ica dengan lemas.
Gilang dari kejauhan menghampiri Ica dan menanyakan apa dia sudah selesai dengan tugasnya.
Ica mengiyakan dan pergi dengan Gilang menuju kantin.
“Aku risih sama si cupu itu “
“Sabar Ca, lagipula ia itu kuat banget bertahan di sekolah ini”
“Aku juga heran, hanya dia yang punya penampilan seperti itu bisa sekolah disini”ujar Ica.
“Apa kau tahu Gilang, aku suruh dia yang nulis semuanya “
“Serius kamu ? “
“Iya”
“Astaga kamu ini tega banget tapi aku suka sih ! “ucap Gilang.
__ADS_1
“Ehhh berdua mulu deh”ucap Fabian yang datang entah darimana.
“Iya nih bosen lihat wajah guru itu”
“Kamu sudah selesai ? “
“Sudah dong makanya aku kesini”ujar Fabian.
“Nesa mana ? “
“Kelompoknya lola semua termasuk dia, jadi kayaknya agak lama selesainya “ujar Fabian tertawa mengejek.
“Siapa yang kamu bilang Lola ! (Loading lambat) “
“Ehhh Nesa, sorry deh “Fabian mohon ampun karna telinganya dijewer oleh Nesa.
“Ca, Dio lagi dikelas nulis banyak amat, emangnya kamu teliti kupu-kupu Amazon, aku aja hanya sedikit”ujar Nesa.
“Biarin aja supaya dia rasain kapok kalau sekelompok sama aku, aku suruh dia buat nulisin semua anggota kelompok aku”ujar Ica dengan nada yang sombong.
“Emang dia mau ? “tanya Nesa.
“Mau dong, kalau nggak silahkan angkat kaki dari kelompok aku”.
“Wah sadis juga tapi aku suka”ujar Gilang lagi.
“Itulah aku jika tidak suka pada orang lain, dia nggak akan bebas dari cengkraman aku”.
“Sippp”
Setelah balik dari kantin, Ica melihat Dio yang masih sibuk menulis dan sepertinya ia tak makan siang.
Dio meringis menahan laparnya dan dia juga memiliki riwayat asam lambung yang lumayan parah.
“Ca aku dah selesai dan aku mau ke kantin”ujar Dio.
Bel berbunyi saat Dio akan ke kantin dan Ica menyeringai karna merasa menang.
Namun Dio tetap melangkah menuju kantin tanpa peduli jika bel istirahat telah usai.
Tak lama Dio kembali dengan sepotong roti dan nafasnya mulai terengah-engah.
Dio merasakan panas didadanya karna telat makan dan terlihat Dio terus mengeluarkan keringat dingin.
Ica masih saja tak peduli dan akhirnya dimenit pelajaran kelima enam Dio akhirnya izin.
Terlihat Dio yang sangat lemas dan PMR jaga yang akan mengantar Dio untuk pulang.
Disitu Ica merasa tak enak pada Dio, apa dia terlalu kejam pikirnya.
Ica melanjutkan pelajaran dengan hati yang tak enak, bagaimana jika Dio sakit dan bercerita buruk tentangnya kesemua orang.
😳😳😳😳😳😳😳😳😳😳
Bek tanda akhir pelajaran akhirnya berbunyi dan Ica masih belum sadar dari pikiran yang ia buat sendiri itu.
“Ca, kamu mau nginap disini ? “tanya Nesa.
“Ca ! “
“Riska Montana ! “Nesa menghardik Ica.
“Ehh maaf Nes aku lagi pikirin hal lain”ujar Ica sambil merapikan bukunya.
“Mikirin apa ? Kak Damar ya”
“Hushh “ucap Ica memberi kode agar tidak didengar oleh Jessi yang masih asyik dikelas.
“Biarin aja dia dengar kan sudah putus”
“Putus sih putus tapi aku nggak mau jadi bahan hujatan lagi, aku yang pantas hujat orang , bukan aku yang dihujat”
“Sabar, kaku pikir aku nggak pernah diteror saat jadian dengan Alvian”
“Yah itu aku nggak heran sih”ujar Ica sembari berjalan menuju luar ruang kelas.
“Ya aku tahu kok, kalau Kak Alvian itu nggak terlalu populer tapi ia masuklah standar ciwi-ciwi “ujar Nesa.
Ica melihat mobil jemputannya sudah ada diluar.
“Tumben ontime , aku duluan ya Nes”
“Iya Ca hati-hati ya nanti kita ketemu diGOR TURIDE”
“Oke Nes”
__ADS_1