
Salam buat para pembaca terimakasih sudah mampir dan dukung Karya dengan like, komen dan Vote ya...
Dukunganmu sangat berarti .
😍😍😍😍
🌺🌺🌺Happy Reading🌺🌺🌺
Saat pulang Ica harus menunggu hingga hingga sekolah sepi, barulah ia menelepon Pak Rahmat.
“Ca aku biasa seginian sudah dirumah Loo” Kak Damar mengeluh pada Ica.
“Diam”
Kak Damar merasa Ica semakin berbuat hal yang tak jelas sama sekali.
Emang kenapa jika dia dan Ica satu mobil , apakah itu hal yang harus diributkan.
Sesampainya dirumah Ica langsung menuju kamar , setelah selesai makan siangpun ia kembali kekamarnya.
Sesungguhnya Ica ingin bersama Kak Damar tapi ia akan tetap menjaga imagenya didepan Kak Damar.
📩 Kak Damar
*Dikamar terus nggak pengen ngobrol gitu ? *
💬 Ica
*Aku takut banyak yg curiga Kak*
Ica melirik jam dan sekarang waktunya ia untuk menyiram tanamannya.
Ica keluar kamar , begitu terdengar decitan pintu kamar Ica, Kak Damar segera menengok.
Ia melihat Ica yang berada di halaman belakang rumahnya.
Kak Damar memperhatikan dengan seksama.
Ica memakai kaos oblong polos dan celana pendek sobek-sobek pasti ia lupa menggantinya.
Kak Damar juga memperhatikan sekelilingnya, dijam segini rumah Ica tampak sepi, apa keluarga Ica memang sesibuk ini.
“Sssttt Ca “Panggil Kak Damar dari dalam rumah.
“Apaa ? “Ica menimpali Kak Damar sambil tetap menyiram.
“Aku bantuin ya”Kak Damar menghampiri Ica.
“Nggak usah Kak”Ica menolak dengan halus.
Wajah Ica agak basah dan bajunya juga agak basah, penampilan natural Ica memang nomor satu dibandingkan saat ia bermake up.
Kak Damar meskipun dilarang ia tetap mendatangi Ica yang sedang menyiram.
“Aku bantu potongan daun yang sudah layu ya”ujar Kak Damar kemudian mengambil gunting.
“Iya terserah deh”ujar Ica dengan malas.
Kak Damar sebenarnya tak fokus pada tanaman tapi ia fokus pada belahan jiwanya, yang menurutnya penampilan Ica kali ini sangat langka jadi ia tak bosan-bosannya untuk melihat Ica.
“Kak aku bukan tanaman ya”ujar Ica mencibir Kak Damar karna Ica sadar Kak Damar sebentar-sebentar melihatnya.
“Hehe cantik banget dengan penampilan apa adanya”ujar Kak Damar.
“Terserah Kakak deh”Ucap Ica tak terlalu menggubris Kak Damar .
“Ca acara undangan pertandingan itu kan sebentar lagi”
“Aku nggak ikut”
“Ica kok gitu sih”Kak Damar gemas dengan Ica.
“Biarin”
“Aku sayang kamu”ucap Kak Damar tiba-tiba dan Ica reflek menutup mulut Kak Damar.
“Nanti ada yang dengar Kak”ucap Ica dengan wajah yang panik.
“Kamu dari tadi nggak tanggapin aku”Kak Damar merasa jika seru ia menganggu Ica di rumahnya
“Aku takut Kak”
“Apa yang kamu takutkan Ca, nanti juga kita serumah”ujar Kak Damar mencolek Ica.
Ica akhirnya berhenti menyiram tanaman dan masuk kedalam rumah.
“Ca aku hanya bercanda”
Ica terus melangkah tanpa memperdulikan Kak Damar ia takut jika ART atau Pak Rahmat nanti mengadu pada Mama atau Neneknya.
Mana tahu jika mereka menjadi mata-mata Montana CS.
Meskipun kondisi sepi tapi ia yakin Mamanya tak akan tinggal diam saat ia dan cowok tinggal dalam satu rumah.
Pada sore hari Ica membantu ART nya menyiapkan makan malam.
Ica membantu memotong sayur dan ikan sedangkan perbumbuan duniawi dilakukan ART Ica.
“Mba Ica ,Damar itu ganteng ya, apa Mba Ica nggak tertarik gitu ? “tanya ART Ica secara tiba-tiba.
__ADS_1
“Emm bagiku biasa aja kok “Ica mulai kikuk saat ART nya menyinggung Kak Damar.
“Ganteng gitu dibilang biasa aja, mungkin Mba Ica dah sering banget ya lihat cowok ganteng makanya Damar yang ganteng itu jadi biasa aja dimata Mba Ica”
“Hehehe enggak juga Mba, kan ganteng itu relatif mungkin beda selera aja”
Ica tak tahu harus menjawab apa karna wajahnya mulai bersemu merah.
Ica segera menyelesaikan kerjaannya didapur dan pergi dari sana agar ia tak ditanya lagi.
Hari kedua Kak Damar dirumah Ica.
“Ayo Damar jangan malu-malu Mama kamu sudah bayar kok untuk makan kamu disini, jadi jangan sungkan-sungkan”ujar Mama Ica.
“Iya Tante aku makannya nggak banyak kok”
“Ahh masak sih”gumam IcaIca sambil berwajah seakan mengolok-olok Kak Damar.
Saat sampai disekolah seperti hari kemarin Ica menunggu sepi dan berlarian agar tak dilihat oleh teman-temannya.
Tapi setelah Ica hampir masuk kelas Kak Damar belum juga terlihat memasuki kelasnya.
“Tumben dia belum masuk, apa yang membuat dia lama”Ica mulai khawatir dengan Kak Damar tapi jika ditanya ia akan gengsi .
Ica melihat Dio yang juga sudah datang dan ia diiringi oleh para dayang-dayang, Ica merasa jijik melihat para ciwi-ciwi itu.
Bahkan ada Kak Audi juga yang ikut-ikutan disana, wah sekte Gilang Vokalis sudah berhenti dan sekarang sekte Dio oppa.
Ica memang suka seenaknya memberi nama panggilan pada orang lain.
Ica melihat Dio sepertinya tak nyaman dengan mereka semua terlihat dari air wajah Dio yang bete dan ingin segera masuk kelas.
Jika aku jadi Dio pun rasanya pasti sama, mana ada orang yang betah diikuti sana sini.
“Ca kamu lihatin Dio ya”
Bulu kuduk Ica terasa berdiri saat suara itu dekat dengan telinganya dan terdengar menyebalkan.
“Apaan sih semua orang juga lagi lihat dia kok” Ica merasa kesal pada Nesa karna suka mengaitkan dia dengan Dio.
“Yang benar, oiya Ca tadi aku lihat Kak Damar sama adik kelas 10IPA “ujar Nesa.
“Terus kenapa laporan sama aku, emang ada hubungannya sama aku”ujar Ica lagi dengan suara nyolot.
“Yahhh siapa tahu kamu mau dengerin aku kan”ujar Nesa takut-takut.
“Masih pagi sudah membuat aku jengkel saja si Damar itu, aku berusaha mati-matian buat jagain aku biar nggak sama cowok lain, dan dia malah seenaknya”
Ica melupakan kemarahannya saat hapenya bergetar.
Pesan grup
💬 Silat SMA SEMESTA
*Kumpul saat jam istirahat*
“Menyebalkan, waktu istirahat kita yang hanya sebentar itu dipakai untuk kumpul, apa nggak bisa pas pulang sekolah”batin Ica.
Dikelas
“Jadi semua membawa bahan-bahan yang Pak guru suruh kemarin ? “
“Iya Pak “jawab siswa-siswi kelas 11IPS.
“Bagus jadi seperti biasa diskusi dengan teman sebangku ya”
“Iya Pak”
“Ceritanya tentang apa Dio ? “
“Aku ambil yang gampang saja yaitu Dende Winangsia “
“Gampang kamu bilang ? “
“Iya ini gampang kok”Ujar Dio sambil menunduk kebawah kolong meja karna lembaran origami yang jatuh.
“Kakimu mundur dikit Ca “ujar Dio karna Ica kakinya terlalu serakah, tempat injakan kaki Diopun , kakinya Ica yang mendominasi.
“Ohh Sorry”ujar Ica lalu merapatkan kakinya.
Dio sengaja berlama-lama mengambil origami agar ia bisa melihat kaki Ica yang putih dan mulus.
(Sisi lain Dio yang juga suka dengan yang mulus-mulus, jangan tertipu penampilan yang kalem,cowok tetaplah cowok)
Ica dan Dio tertawa cekikikan saat membahas hal yang lucu sambil membuat prakaryanya.
Gilang dan Alex saling berbalik dan menatap Ica bersama Dio.
“Sepertinya Ica mulai tertarik pada Dio”batin Gilang.
“Aku tak percaya jika Ica dan Dio bisa tertawa bersama, bukankah Ica yang dari awal membully Dio, apa yang dipikirkan oleh Ica sekarang , apa ia juga tertarik pada Dio”batin Alex .
Dio dan Ica memang terlihat asyik dan sangat akrab, Gilang dan Alex tak pernah tahu jika Dio sudah membantu Ica dua kali.
Tanpa Alex dan Gilang ketahui Ica memang sudah berniat untuk berhenti menganggu Dio, tapi bukan berarti ia suka juga pada Dio.
Sesuai undangan grup Silat tadi saat istirahat Ica menuju aula silat, namun nampaknya belum ada siapa-siapa disana.
Ica menuju toilet karna daritadi ia kebelet pipis.
__ADS_1
Saat Ica selesai dengan panggilan alamnya ia hampir bertabrakan dengan Kak Damar yang mau keluar dari ruang ganti.
“Hati-hati Ca”ujar Kak Damar, Kak Damar terlihat sedang membawa bungkusan.
“Yang lain belum pada datang”tanya Ica pada Kak Damar yang fokus dengan hapenya.
“Kamu bisa lihat kan “
“Aku kan basa basi”
Kak Damar hanya diam dan terus melihat hapenya.
“Apaan sih cuek Bebek gitu”batin Ica.
Memang sangat sulit memahami isi hati Ica, diperhatikan ia kesal dicuekin dikit ia juga kesal.
Satu persatu anggota Silat mulai berdatangan dan semuanya sudah berkumpul.
Kak Damar membuka percakapan dengan Doa .
“Jadi aku mengumpulkan kalian disini untuk undangan dari Ekskul Pencak Silat Andromeda yaitu pertandingan persahabatan,aku harap kalian semua berpartisipasi tanpa terkecuali “ujar Kak Damar.
“Baik”jawab semuanya serempak .
“Baiklah karna waktu istirahat kita sedikit kalian bisa kembali”ujar Kak Damar.
Ica ingin berbicara sebentar dengan Kak Damar tapi sepertinya Kak Damar menghindar.
“Lohhh ada apa dengan Kak Damar tadi pagi ia baik-baik saja”batin Ica.
Ica membiarkan Kak Damar seperti itu, mungkin ia lagi ada masalah dikelas.
Belum habis masalah Kak Damar yang mendiamkannya Ica membaca pesan grup kelas yang mendapat tugas Seni teater pada bulan depan.
“Kelas kita ya yang bulan depan ? “tanya Ica pada Nesa.
“Iya Ca aku juga lupa”jawab Nesa.
Jadi dikelas 11 setiap bulan, pelajaran Seni akan diadakan untuk pengambilan nilai Seni dan semua wajib menampilkan drama teater, dramanya bebas boleh drama luar ataupun dalam Negri.
Kali ini giliran kelas Ica yang akan tampil.
Dari kesepakatan mereka mengambil cerita Snow White karna drama itu menggunakan banyak orang sedangkan yang tidak mendapat peran akan kembali tampil pada drama berikutnya.
Ini memang bagus tapi sebagian siswa-siswi ada yang tidak suka karna malu di tonton oleh kelas lain, namun ada juga kelas yang totalitasnya luar biasa.
Saat masuk kelas Ica melihat Ketua Kelas sedang sibuk membuat lotre untuk peran.
Ica berharap ia menjadi peran sampingan saja yang dialognya sedikit saja.
“Baiklah hari ini kita akan mengundi untuk peran di drama Snow White ya”ucap Ketua Kelas dimulai dari yang cewek ya.
Semua mengambil lotre dan banyak yang bersorak karna kosong, padahal pada intinya mereka tetap tampil pada waktu berikutnya.
Ica tidak antusias mengambil lotre karna tadi ia dicuekin oleh Kak Damar.
Ica membuka lotre dan ia terkejut saat ia mendapat peran Snow White.
Mata Ica terbelalak saat membacanya.
“Bisa tukar nggak ? “tawarnya pada Ketua Kelas.
“Nggak bisalah Ca itu kan dah kesepakatannya”
“Baiklah”ujar Ica dengan wajah yang penuh kesedihan.
Saat nama Ica dituliskan sebagai pemeran utamanya para cowok-cowok antusias untuk mengambil lotre.
Apalagi Alex dan Gilang ia berharap jika bisa menjadi Pangeran.
Dio mengambil lotre paling terakhir karna cowok-cowok yang lain berebutan,Dio membuka lotre dan ia terbelalak karna yang menjadi pangeran adalah dia.
Semua cowok-cowok merasa patah hati karna tak mendapat peran Pangeran.
Saat nama Dio ditulis sebagai Pangeran, Ica ingin membenturkan kepalanya ke dinding.
“Aku memang berniat tak membully dia lagi tapi apa mesti Tuhan harus pasangin aku dengan Dio”batin Ica.
“Baiklah semua sudah selesai ya dan itu tak boleh dirubah lagi ya” ucap Ketua Kelas .
Dio tak menyangka ia akan mendapat peran itu.
Semua orang yang tahu tentang cerita Snow White pasti paham adegan terakhir yang akan dilakukan oleh Dio dan Ica.
“Apa nggak bisa ganti drama lain aja ? “tanya Ica pada Ketua Kelasnya.
“Ca kelas lain bagus-bagus looh dan ini simpel tapi menarik, kenapa kamu protes terus ? “ujar Ketua Kelas Ica karna dari awal Ica protes terus.
“Aku tahu maksud aku apa aku harus itu ? “Ica menyensor ucapannya tapi si Ketua Kelas cukup paham tentang apa yang ingin Ica sampaikan.
“ Nggak perlu Ca nanti saat adegan itu tirainya ditutup aja ya, emangnya kenapa sih ? Kamu ada cowok ya “
“ Enggak ada sih tapi tetap saja aku nggak bisa “
“Oke aku juga paham kok, nanti saat adegan itu aku akan suruh Nesa untuk tutup tirainya ya”
“Iya deh janji ya”ujar Ica meyakinkan.
“Iya slow aja Ca tapi btw Dio kan udah keren sekarang, masak kamu nggak mau ? “sang Ketua Kelas mengernyitkan alisnya pada Ica.
__ADS_1
Ica tak menjawab pertanyaan dari Ketua Kelasnya ia memilih untuk pergi.
“Memang si Montana itu nggak punya selera humor”batin Ketua Kelas.