BLESSED RAIN

BLESSED RAIN
Delapan Puluh Dua


__ADS_3

Salam buat para pembaca terimakasih sudah mampir dan dukung Karya dengan like, komen dan Vote ya...


Dukunganmu sangat berarti .


😍😍😍😍


🌺🌺🌺Happy Reading🌺🌺🌺


Ica mulai mempersiapkan barang -barang untuk ke Jakarta.


Ica sudah meminta izin pada Mama dan Neneknya.


Mama Ica agak berat memberikan izin pada Ica, tapi Neneknya terus mendukungnya.


“Ini kesempatan yang jarang bisa didapatkan Ica, biarkan saja ia pergi ke Jakarta”ujar Nenek Ica saat Ica meminta izin.


“Baiklah Ma aku ikuti saja apa katamu”


“Disana kan bukan hanya Ica, banyak atlet lain yang akan bertanding juga”


“Iya Ma tapi aku khawatir kasih dia pergi sendirian takutnya dia liar”


“Mama kira aku hewan pakai bilang liar segala”


“Iya kamu kan spesies campuran “


“Anaknya cantik kayak gini dibilang spesies campuran “


“Terserah kamu deh Ca”


“Oiya nih makan melonnya, Mama beli diskonan”


“Masih aja suka barang diskon”


“Eh jangan salah lihat itu harganya”


“Emmmphhh”ujar Ica lalu pergi membawa sepiring melon.


Hari itu Ica sudah siap akan berbelanja di sebuah toserba yang tak jauh dari rumahnya.


Ica membuat list belanjaan agar tidak lupa.



“Saya tunggu atau tinggal Mba Ica ? “


“Tinggal aja Pak takutnya saya lama karna saya mau main sebentar ke time zone”


“Ya sudah kalau gitu jika sudah selesai, nanti hubungi saya ya”ujar Pak Rahmat.


“Iya Pak”


Petrikor sore itu begitu memanjakan hidung Ica yang memang suka suasana seperti ini.


Ica berjalan dengan riang dan mengambil keranjang belanjaan.


Ica memilih barang yang ia perlukan setelah itu ia langsung ke time zone yang juga ada di toserba itu.


Ica membeli koin sebanyak 50k.


Saking asyiknya bermain Ica tak melihat jika ada Kak Damar yang sedang bermain juga.


Cukup lama mereka bersliweran hingga saat membeli koin lagi, Ica dan Kak Damar akhirnya ketemu.


“Lohh Ica ? “


“Eh Kak Damar”ujar Ica langsung tersipu.


“Kamu dari tadi ya ? “


“Iya Kak”


“Kok aku nggak lihat ya, ya ampun”ujar Kak Damar sambil menggaruk kepalanya.


“Mungkin karna aku imut”


“Dihh amit kali ya”


“Akuin aja Kak, kenapa sih sekali aja”


“Oke kamu memang imut “ujar Kak Damar sambil menunduk dan mengacak rambut Ica.


Ica semakin tersipu, apa wajahnya terlihat jelas jik ia salting pada Kak Damar.


Ayolah sembunyikan face ku yang memalukan ini.


“Kamu masih mau main ? “tanya Kak Damar.


“Iyalah kan aku sudah beli koin, masak aku mau pakai belanja . “


“Emm sebenarnya pertanyaanku basi nggak sih ? “


“Jelaslah oiya kalau mau traktir aku, aku nggak akan sungkan”ujar Ica dengan pedenya.


“Bisa-bisanya bilang kayak gitu “


“Iyakan makanya tanya aku masih mau main apa nggak ? “


Ica memang mulai tak bisa mengontrol pembicaraannya pada Kak Damar, ia merasa jika Kak Damar sudah menunjukkan sikap terbuka pada dirinya.


Ia tak lagi tegang saat melihat atau berbicara dengan Kak Damar .


“Apa pertanyaan aku tadi terlalu mencolok ya”batin Damar.


“Ayo Kak, ayo”ajak Ica sambil melambaikan tangannya seperti anak kecil.


Ica dan Kak Damar sudah duduk saja di sebuah stand es krim.


“Aku mau yang moka , kakak mau yang rasa apa ? “

__ADS_1


“Aku coklat aja deh”


“Oke”


“Totalnya berapa Kak ? “tanya Ica.


“Totalnya jadi 50k mba”ujar kasir pada Ica.


“Okee “Ica kemudian membayar dengan hapenya.


“Kok malah kamu yang bayar”tanya Kak Damar pada Ica.


“Sesekali aku yang belanja Kak, masak Kakak terus “


“Tapi kan aku nggak enak Ca”


“Sudah kalau nggak enak nanti kita bicarakan diluar “


Ica mengedipkan matanya.


Jujur saja penampilan Ica ini terkesan sederhana dan jauh dari kata orang berpunya.


Kaos putih oblong dan celana pendek jeans, jaket abu dan sepatu yang sudah hilang elastisnya, jika salah sedikit pasti akan kepleset.


Sedangkan dia saja yang lebih miskin dari Ica malah berpenampilan dengan mentereng.


Kak Damar jadi malu pada dirinya, Ica adalah orkay (orang kaya) yang patut dicontoh.


“Ca aku boleh tanya sesuatu “ujar Kak Damar membuka percakapan.


“Boleh Kak tanya aja”


“Katanya kemarin kamu ribut ya sama Audi ? “


“Iya dikit sih tapi sudah aku lupain ? “


“Gara-gara Gilang ya , apa kamu suka sama Gilang ? “


Ica merubah raut wajahnya dengan cepat.


“Aku dan Gilang itu sudah temenan lama Kak, sayang sudah jelas tapi jika kearah yang lain mungkin tidak Kak”


“Apa kamu yakin Ca ? “


“Iya aku yakin kok Kak”


“Soalnya baru-baru ini gosip tentang kamu sangat heboh . “


“Aku sudah biasa digosipin kok Kak”ujar Ica berusaha tersenyum karna ia merasa lebih beruntung daripada Dev saat masih sekolah.


“Tapi Ca apapun gosip tentang kamu aku tak pernah peduli karna aku kan sudah kenal sama kamu”


“Makasi Kak soal itu tapi aku kan seorang pembully “


“Iya itu kaj urusan kamu Ca, aku nggak ada hak buat atur kamu tapi kamu kan semakin dewasa, tahu mana yang baik dan buruk. “


“Iya kadang aku juga mikir gitu Kak”


Ica segera menyedot esnya dengan cepat agar tidak jatuh.


Kak Damar sampai menganga melihatnya.


“Apa ! Ini alami kok Kak”


“Emang aku nggak boleh lihat kamu ? “


“Aku mau bilang apa sama Kakak toh juga sudah lihat”


Kak Damar tersenyum melihat gadis yang tak peduli pada penampilan ini.


Apa adanya dan tidak jaim atau berkamuflase didepan cowok.


“Oiya kemarin sakit nggak ? “


“Banget Kak aku sih lebih ke kagetnya itu Kak”


“Kasar juga si Naomi itu, aku nggak suka pada orang yang tiba-tiba marah tanpa alasan “(malu mendengarnya karna dia juga suka membully orang lain)


“Mungkin dia suka sama Kakak “


“Mana mungkin”


“Mungkin aja”


Damar mencari hapenya yang ada dikantongnya karna bergetar.


💬Naomi


Lagi dimana ?


Damar tak membalas pesan dari Naomi dan kembali berbincang dengan Ica.


Ica bercerita jika Neneknya ingin membuat tempat nge gym.


“Bagus dong jika punya tempat gym Ca”


“Iya aku mikirnya gitu dan aku mau kok jadi kasirnya, kapan lagi aku melihat roti sobek gratis”


“Dihhh dasar maniak otot”


“Aku kira bakal ngomongin bisnis, eh malah lihat roti sobek gratis.Kalau hanya roti sobek aku juga punya eight pack malahan“😒😒😒


“Enggak percaya”ujar Ica mencibir.


“Jelek amat wajah kamu sumpah “Kak Damar terus tertawa.


“Habisnya sampai eight pack, kan ngelebihin banget “


“Serius nanti aku bukain kalau mau disini”

__ADS_1


“Ehhhh ! Apaan sih “


Wajah Ica kembali bersemu merah.


Ia tak bisa lagu mengontrol semua emosinya.


Kenapa juga Kak Damar ingin memamerkan badannya didepan Ica


Apa dia nggk punya malu lagi hingga ingin semuanya dilihat oleh Ica.


“Wajahmu merah Ca “ujar Kak Damar dan hal itu sontak membuat Ica terkejut.


“Emm iya agak panas”ujar Ica berbohong.


Damar bingung karna ruangan itu kan ber-AC, jadi dia berasumsi jika AC dirumah Ica beda karna Ica kaya.


“Kamu sudah selesai Ca aku mau balik nih”ujar Kak Damar sambil melihat jam tangannya.


“Ayo deh “


“Kamu pakai apa tadi kesini ? “


“Aku diantar Pak Rahmat”


“Ohh gitu, mau pulang sama aku aja ? “(Ica menunggu kalimat ini daritadi) .


“Boleh tapi bawaanku banyak”


“Enggak apa-apa cukup kok motor aku”


“Oke kalau gitu maaf ngerepotin “


“Demi tuan putri keMars pun aku mau “


“Iya Mars yang Kakak maksud toko olahraga itu kan”


“Iyalah Mars yang mana lagi aku sebut”


“Aku malas menanggapinya”


“iya iya”


Ica melihat punggung Kak Damar masih mengganggap ini adalah sebuah mimpi yang jadi kenyataan.


Kak Damar yang dulunya ia takuti kini malah membonceng dia.


Ica yakin ini karna dari Kak Damar karna dulu ia sering sekali marah pada Ica.


Malah Ica sempat berfikir jika Kak Damar itu sengaja sering marahin dia karna dia anak dari keluarga Montana.


Sedangkan Ica berfikir buruk berbeda dengan Kak Damar yang merasa seneng bisa bertemu dengan Ica.


Ia semakin yakin dan mantap tentang perasaannya pada Ica, tetapi sumpah ia belum berani untuk bilang pada Ica.


Ia takut semuanya akan merusak hal seperti saat ini.


“Ca mana tanganmu ? “


“Hahh”Ica tak mendengar karna angin dijalan.


“Tanganmu mana ? “


“Ini “


Kak Damar mengambil tangan Ica dan melingkarkan dipinggangnya.


Ica bereaksi ingin melepaskan tetapi dicegah oleh Kak Damar.


“Sekali aja”


“Tapi kita kan “


“Hanya berboncengan biasa kok”


“Tapi tanganku jadi luar biasa”


“Enggak apa-apa Ca ini nyaman kok”


“Isshhh apaan sih “


Dengan sengaja Kak Damar ngerem mendadak agar Ica mau merangkulnya.


“Awas ya kau Kak Damar”batin Ica.


Saat Ica dan Damar sibuk bahagia mereka lupa jika akan ada paparazi yang siap mengabadikan momen itu, dan akan menjualnya dengan harga mahal.


Dirumah


Ica meletakkan semua barang belanjaannya.


Ica melihat ponselnya karna terus bergetar dari tadi.


Sebuah foto masuk digrup gosip sekolah.


Perasaan Ica tak enak dan benar saja, foto dia dan Kak Damar.


“Aku bahkan tak punya sedikit saja privasi “batin Ica. Ia tahu hal ini akan terjadi dan itulah sebabnya Ica belum mau pacaran di sekolah.


Disekolah


“Eh Sasimo”ujar Naomi saat Ica sampai dikelas.


Ica tak menanggapi dan Naomi langsung memukul kepala Ica.


Ica yang tadinya sabar kemudian membalasnya, seisi kelas sangat ketakutan karna mereka tahu Naomi dan Ica adalah atlet silat.


“Hentikan ! “teriak Gilang yang kemudian memisahkan keduanya.


Alex memegangi tangan Naomi agar tak lagi memukul Ica.

__ADS_1


Wajah Ica masih panas karna marah , ia kemudian menepis tangan Gilang agar tak menyentuhnya.


Gilang hanya diam karna ia tahu jika Ica masih marah padanya.


__ADS_2