BLESSED RAIN

BLESSED RAIN
Sembilan Puluh Delapan


__ADS_3

Salam buat para pembaca terimakasih sudah mampir dan dukung Karya dengan like, komen dan Vote ya...


Dukunganmu sangat berarti .


😍😍😍😍


đŸŒșđŸŒșđŸŒșHappy ReadingđŸŒșđŸŒșđŸŒș


Sebulan berlalu semenjak kejadian Dev ditembak oleh orang suruhan Ranti.


Sam tak lagi berani menampakkan wajahnya didepan Oliv ataupun keluarga Montana lagi.


Kabarnya Sam pindah keluar Kota bersama anaknya yang masih terbilang kecil.


Sesungguhnya tak ada dendam dari keluarga Montana kepada Sam tapi sepertinya Sam malu atas kejadian itu.


Disisi lain Sam pasti merindukan Ica dan Dev tapi ia sadar akan keadaannya saat ini.


“Kak “ Ujar Ica saat Dev bangun dari tidurnya.


“Aku capek Ca “


“Sabar ya Kak”


“Iya Ca “


Ica tak sanggup menahan rasa sedih didalam dadanya, ia sangat menderita dengan kejadian ini.


Oliv dan Nenek Ica juga meninggalkan kegiatannya selama satu bulan untuk merawat Dev dirumah sakit.


Peluru memang bisa dikeluarkan tetapi pemulihan Dev sangat lama.


Bahkan Hanum cuti selama sebulan untuk menemani Dev di Indonesia.


“Hallo Ica “ujar Hanum sambil menutup pintu kamar Dev.


“Kak Hanum”


“Aku buatin bubur ayam ayo makan”ujar Hanum tetap dengan wajah yang ceria


“Makasih Kak Hanum”ujar Ica.


Dev tersenyum melihat Hanum yang perhatian padanya.


Ia sangat mantap untuk menikahi nanti setelah Hanum selesai kuliah di Korea.


“Oh iya Ca aku hampir lupa, ini buat kamu”ujar Hanum memberikan tas tangan pada Ica.


“Ini apa Kak ? “


“Buka aja”ujar Hanum sambil menyuapi Dev.


“Aku bisa sendiri kok Num”


“Diamlah ! “ujar Hanum membuat Dev terdiam dan Ica tertawa.


Ica membuka perlahan dan ada album NCT terbaru.


“Ini kan belum ada di online shop Kak”Ica kagum melihat album itu.


“Iya dulu Dev pas ke Korea beli ini buat kamu, nah kebetulan pas aku lewat tokonya lagi aku lihat ada yang baru jadi aku beliin kamu, ini sudah lama aku beli tapi belum sempat aku kirim”ujar Hanum sambil menyuap bubur Dev.


“Num aku belum dapat “ujar Dev menganga.


Hanum tertawa lepas karna ia tak sadar jika malah ia yang lebih banyak makan bubur daripada Dev.


“Sorry “ujar Hanum menahan tawanya.


Dev tersenyum melihat tingkah Hanum yang polos itu.


Ia ingin segera pulang dari RS rasanya bosan sekali jika terus disini.


“Apa yang dikatakan Dokter Dev ? “tanya Hanum.


“Lagi tiga hari aku sudah bisa pulang Num”


“Syukur deh kalau kayak gitu tapi tentang masalah ini nggak ada yang tahu kan ? “


“Iya nggak ada yang tahu tentang hal ini, keluarga aku sudah bayar untuk tutup mulutnya”


“Bagus deh kalau kayak gitu Dev”


“Ya karna yang senang dan tidak senang dengan Keluarga Montana kan kita tidak tahu Num, Mama aku takut jika seperti ini keadaannya malah dijadikan peluang untuk mereka menjatuhkan Keluarga Montana”


“Benar juga Dev”


“Kamu kapan kembali ke Korea ? “


“Nanti setelah kamu dirumah Dev”


“Makasi ya Num, aku sudah transferin kamu untuk beli tiket “


“Aku ada uang kok Dev, kamu sukanya kayak gitu “ujar Hanum ngambek.

__ADS_1


“Nggak apa-apa kok Num”


“Aku minta pikirin tentang kesehatan kamu”


“Iya aku pikirin kok”mengelus kepala Hanum dan mengecup bibir Hanum.


“Apa kalian lupa kalau ada anak di bawah umur ? “ujar Ica sambil menunjuk dirinya.


“Hehhehe sorry ya Ca”ujar Dev malu.


“Aku mau beli teh kotak dulu ya “ujar Ica beranjak dari tempat duduknya.


“Oke hati-hati Ca”


Ica mengangguk dan pergi menuju kantin RS, ia membiarkan Dev dan Hanum memiliki waktu untuk berdua saja.


Setiap Hanum datang Ica selalu beralasan membeli sesuatu padahal ia lagi nggak pengen belanja.


Tapi ia menghargai waktunya Hanum karna ia rela cuti untuk datang menjenguk Dev.


Saat Ica selesai membayar teh kotak Ica mendengar namanya dipanggil.


“Ica Ica “


Ica menoleh saat melihat matanya ingin basah namun ia tahan.


“Papa “Ica langsung berhamburan kepelukan Papanya.


“Papa kemana aja ? Ica rindu Pa”


“Iya sayangku Papa juga rindu”


“Katanya Papa pindah keluar Kota ? “


“Iya sayang mau bagaimana lagi, Papa malu dan merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Dev”


“Tapi Pa Dev nggak nyalahin Papa”


“Benarkah Ca ? “Papa Ica tak percaya mendengar ucapan Ica.


“Iya Pa”


“Ayo kita cari tempat duduk yang enak”ujar Papa Ica.


“Oke Pa”


Dikantor


“Ya aku sedang kerjalah”


“Jutek amat sih sayangku ini”mentoel pipi Oliv.


“Jangan kayak gitu Marcel ini di tempat kerjaku”


“Tok... Tok... Tok”


Pintu ruang kerja Oliv diketuk. “Masuk “Perintah Oliv dan Bara asisten Oliv datang membawakan surat kontrak.


Mataku menyoroti Marcel yang sedang menatap keluar Jendela.


“Nyonya Montana ini surat kontrak yang harus anda tanda tangani “ujar Bara pada Oliv.


“Iya Bar makasih letakan saja disini, jika sudah akan aku telepon kamu aku masih ada tamu”ujar Oliv.


“Baiklah Nyonya Montana”ujar Bara lalu pamit.


Bara yakin Marcel ini bukan sekedar tamu tapi ia adalah teman dekat Oliv karna tak ada tamu yang berkunjung dijam yang bukan jam kunjungan.


Bara terus memperhatikan Marcel hingga ia keluar dari ruang kerja Oliv.


Bara merasa tersaingi ketika melihat Marcel yang seumuran dengan Oliv sedangkan dia jauh lebih muda dari Oliv.


“Aku harus bisa membuat Oliv tetap sayang padaku”batin Bara.


Sementara itu Ica merasa kasihan pada anak Ranti yang masih kecil.


Ia harus tumbuh dengan baby sitter karna Papa Ica tak mungkin menunggu dia dan tidak bekerja.


Apa yang ia pikirkan oleh Ranti hingga ia senekat itu menyakiti Dev secara barbar pikirannya pasti sudah gila oleh cinta dari Papa Ica.


“Bagaimana kabar anak Papa “tanya Ica karna ia masih sulit menyebutkan nama anak itu ya mau bagaimana lagi, Ica memang tak terlalu mengingat nama anak dari Ranti.


“Baik kok Ca”


“Oh baguslah Pa”


“Ica Mama kamu bagaimana, apa dia nggak benci sama Papa ? “


“Mama dan Nenek nggak benci Papa karna ini bukan kemauan Papa kan dan keluarga Montana juga nggak marah atau kesal dengan Papa , meskipun Ranti tidak kerumah tapi dimanapun ia melihat Dev pasti dia akan berusaha untuk menyakiti Dev”


“Papa juga nggak nyangka ia punya pikiran pendek seperti itu, ia benar-benar menyiksa Papa, Papa menyesal karna telah melakukan dosa ini Ca”Papa Ica mulai terisak.


“Pa setiap manusia itu punya kesalahan tapi kembali lagi apakah orang itu terus melakukannya atau akan memperbaikinya Pa, itu saja “ujar Ica.

__ADS_1


“Itulah Papa Ca, Papa hanya memikirkan kesenangan sesaat tapi tidak pernah memikirkan kedepannya akan seperti apa”


“Sudahlah Pa do’akan saja Dev segera sembuh dan pulang”


“Iya Ca”


“Terus kamu tinggal Dev belanja, siapa yang ada disana ? “


“Ada Kak Hanum disana Pa, aku biarin mereka berdua”ujar Ica.


“Ohh Hanum ya “


“Iya Pa”


“Kapan Dev akan menikah ? “


“Setelah Kak Hanum selesai kuliah Pa”


“Semoga mereka langgeng ya”


“Iya Pa, Papa sudah makan ? “


“Sudah kok Ca, kamu sendiri gimana ? “


“Sudah sarapan roti aja Pa lagi nggak mood makan nasi”


“Takut gemuk kamu ya ? “ledek Papa Ica.


“Nggak kok lambungku lagi nggak bagus Pa”


“Kamu jaga kesehatan ya, Papa mau kembali lagi nanti kamu info perkembangan Dev ya dan salam untuk Dev”


“Baiklah Pa, Papa juga jaga kesehatan ya dan kalau bisa Papa mampir juga kesini lagi”ujar Ica.


“Iya Ca”


Saat akan pulang Papa Ica dipanggil oleh Mama Ica.


“Sam “


“Oliv”


“Kamu disini ? Terus anakmu siapa yang jagain “


“Ada baby sitternya Liv”


“Bisa kita bicara berdua saja ada yang ingin aku tanyakan “ujar Oliv pada Sam.


“Baiklah Liv”


“Kalau gitu aku kembali dulu ya “ujar Ica pada Mama dan Papanya.


“Iya Ca”


Oliv mengajak Sam untuk keluar dari RS, ia ingin mengajak Sam berbicara empat mata.


Sam merasa kikuk karna satu mobil dengan Oliv, ia bahkan lupa kapan terakhir kali ia bersama Oliv naik mobil bersama.


Oliv berhenti di sebuah cafe privat yang hanya member black card yang bisa masuk kesini.


Saat masuk identitas kita dirahasiakan dan tidak boleh ada yang tahu tentang data asli kita.


“Apa yang ingin kamu katakan Liv “tanya Sam saat dia dan Oliv sudah duduk dan memesan makanan.


“Ranti bagaimana dia ? “


“Aku dan dia sedang mengurus surat cerai “


“Dih saat susah seperti ini kamu malah ninggalin dia”


“Bukan aku yang gugat tapi dia”


“Ohh banyak uang ya dia “ujar Oliv sambil meneguk cappucino yang ia pesan tadi.


“Entahlah Liv aku tak tahu terlalu banyak tentang hal ini”


“Jujur saja Sam aku masih cinta padamu tapi aku tak bisa memaafkanmu”


“Iya aku yakin kamu memang tak bisa memaafkanku”


“Tapi ketahuilah Sam bagaimanapun anakmu harus kau jaga dengan baik dan jika kamu kembali kesini lagi, kamu bisa sekolahkan gratis anak kamu “


“Terimakasih tawaranmu Oliv kamu memang wanita yang baik dan aku adalah laki-laki yang bodoh “


“Semua sudah berlalu Sam dan sekarang aku lebih memilih berteman dengan kamu saja”


“Iya Liv Terimakasih, kamu memang orang yang lapang dada”


“Sam semua ini adalah takdir dan kita tak bisa menghindarinya, semua sudah ditulis oleh Sang Pencipta”


Sam hanya manggut-manggut karna ia tak tahu harus berkata apa lagi pada Oliv.


Karna ia merasa tak pantas jika harus berbicara lebih pada Oliv.

__ADS_1


__ADS_2