BLESSED RAIN

BLESSED RAIN
Sembilan Puluh Lima


__ADS_3

Salam buat para pembaca terimakasih sudah mampir dan dukung Karya dengan like, komen dan Vote ya...


Dukunganmu sangat berarti .


😍😍😍😍


🌺🌺🌺Happy Reading🌺🌺🌺


Malam Hari dirumah keluarga Montana.


Nenek Ica menghampiri Ica yang sedang ada didalam kamar karna ingin membicarakan sesuatu hal yang penting terkait Jessi.


“Selamat malam Ica, apa Nenek ganggu kamu dan bagaimana keadaan kaki kamu Ca ? “tanya Nenek Ica.


“Nenek nggak ganggu kok, Ica lagi nonton video, kaki aku baik-baik aja kok Nek” Ujar Ica.


“Ca kamu satu kelas kan sama Jessi”Nenek Ica membuka percakapan.


“Iya Nek ada apa ? “


“Jessi kan lama tidak masuk apa kamu tahu ? “


“Iya katanya dia mau pindah sekolah”


“Hahhhh ! “ Ica terkejut dengan pernyataan Neneknya itu.


“Pindah ? Apa alasannya”


“Yah dia bilang ortunya mau keluar Kota”


“Ohh gitu tapi Nek ada gosip kalau dia hamil”


“Terserah Ca tapi kamu jangan ngomong sembarangan, nggak baik karna kamu juga perempuan” Ujar Nenek Ica menasehati.


“Maaf Nek mungkin karna aku ikut dengar dari teman-teman”Ica menyesal dengan ucapannya yang tidak ia saring terlebih dahulu.


“Iya tapi jangan kamu ulangi ya”


“Iya Nek”


“Nenek hanya ingin semua murid yang sekolah di SMA SEMESTA menjadi murid yang baik dan berguna bagi bangsa dan negara”


“Iya Nek”


“Ya sudah kalau begitu Nenek mau tidur dulu ya dan Ca ada undangan besok dan kamu yang gantiin Nenek ya”


“Kan ada Dev Nek”


“Dev juga ada undangan “


“Oke Nek”ucap Ica meskipun dalam hati ia merasa sangat berat dan malas.


“Malas banget”batin Ica.


Undangan dan pertemuan klien kini sudah menjadi tak asing lagi bagi Ica.


Dulu saat kecil ia hanya mengekor pada Mama dan Papanya, sekarang malah dia sendiri yang pergi.


Dalam sebulan pasti ada aja pertemuanlah, undanganlah rasanya ia tak sanggup jika besok jadi pengusaha, sepertinya ia harus punya asisten jadi saat dia malas langsung telepon asisten.


Khayalan Ica


“Halo asisten aku lagi nggak enak badan nih , kamu datang ya ke undangan klien, halo asisten aku ada keperluan mendesak ini kamu pergi ke undangan ya”


Ica tertawa sendiri membayangkannya, jika ia punya asisten ia akan memilih cowok yang maco dan berotot biar mirip dicerita fiksi judulnya asistenku adalah suamiku.


(Dasar Ica kebanyakan baca cerita fiksi) .


Ica membuka ponselnya dan Nenek mengirim denah lokasi serta apa saja yang harus Ica kerjakan saat undangan nanti.


“Dih hanya kulitku saja yang anak SMA tapi pikiranku adalah anak kantoran”ucap Ica sambil membaca pesan dari Neneknya.


“Jalani aja deh demi uang jajan”ujar Ica lagi saat menerima notifikasi transferan upah dari Neneknya.


Disekolah Ica pembicaraan tentang Jessi sedang hangat-hangatnya dan selalu diomongkan oleh setiap kelas.


Ica tak terlalu menggubris hal itu karna memang dia tak terlalu peduli.


Teman akrab Jessi juga tak terlalu banyak bicara dan jahatnya lagi ialah yang pertama kali membawa cerita kesekolah jika Jessi hamil, katanya besti tapi kok kayak tai.


Saat ini Ica juga mendengar ia sedang membicarakan sms dari Jessi yang mengatakan jika pacar Jessi belum ketemu karna ia kabur dari Mataram.


“Nes kok aku kasihan ya sama Jessi”


“Hahhhh apa aku nggak salah dengar Ca ? Dia itu kan benci sekali sama kamu”


“Ya tapi itu si bestinya malah cerita sana sini”


“Biarin aja Ca anggap saja itu karmanya, aku sih nggak peduli “


“Aku heran saja ada ya besti kayak begitu padahal Jessi itu baik sama dia”


“Itulah manusia Ca, nggak ada yang pernah tahu isi hatinya “


“Iya juga sih”


“Ca katanya pelajaran wirausaha kita disuruh untuk survei pasar”


“Mulai lagi deh kalau pelajaran wirausaha “Ica menanggapi dengan malas.


“Tapi berkelompok”


“Aman dong “


“Kelompok dengan teman sebangku”ujar Nesa sambil melirik Dio.


“Anj***”umpat Ica dan membuat Nesa tertawa kecil.


“Nih dah bibit-bibit bestinya Jessi”


“Lohh aku kan hanya ketawa minimalis”


“Minimalis, ngejek yang ada itu “


“Sabar Ca”


“Aku heran Pak guru itu malas sekali bagi kelompok, pasti teman sebangku, mana teman sebangku aku modelnya kayak gitu”


“Sabar Ca”

__ADS_1


Ica tak sadar jika dari tadi cowok-cowok yang ada dikelasnya sedang memperhatikannya terutama Dio,karna duduk diatas meja dan ia terlihat seksi .


“Ca btw kamu pendekin lagi ya rok kamu”


“Kok tahu sih Nes “


“Iyalah orang kelihatan banget”


“Macak cieh”


“Ehhh iya serius”


“Wihhh Ica duduk diatas meja ! “ujar Alex sambil duduk di kursi tepat didepan kaki Ica.


“Minggir Lex ! Kamu mau ditendang ya” ucap Ica karna menyadari maksud dan tujuan Alex duduk disana.


“Apaan sih kan aku duduk aja ! “


“Emangnya aku nggak paham apa tentang maksud dan tujuanmu cepat pindah, cepat !!! “Ica mengancam Alex agar pindah.


“Lex pindah gih “ujar Gilang yang dari tadi anteng disamping Alex.


“Gilang kamu juga ! “


“Lohh kok aku, aku kan jauh



“ Sama aja cepat hussshhhh ! “


“Yang salah siapa yang diusir siapa ! “ujar Gilang tapi tetap pindah padahal yang diduduki Ica adalah meja Gilang.


Saat Ica sedang sibuk mengusir Gilang dan Alex, Kak Damar datang dari arah luar.


Kak Damar begitu cepat menarik respon ciwi-ciwi dikelas Ica hingga saat ia datang para ciwi-ciwi itu langsung menoleh.


Kak Damar menghampiri Ica dan ingin dibantu saat pulang sekolah merapikan berkas yang ada diruang silat.


Ica awalnya protes karna ia malas harus menggunakan waktunya saat pulang sekolah.


Tapi si Kak Damar tak peduli katanya bukan hanya Ica yang ia mintai tolong tapisemuanya dan akhirnya Ica menurut juga.


“Yaaa kasihan banget sih Ca”ejek Nesa.


“Diam kau Nesa ! “


Di ruang silat nampak lengang karna banyak yang izin dengan alasan gono gini, dah mirip alasan perebutan harta keluarga.


“Padahal aku paling benci bersih-bersih disekolah”ucap Ica dengan kesal sambil melihat Kak Damar.


“Ca beli minum yuk”ajak Kak Damar.


“Iyaa ! “


“Marah-marah terus “ujar Kak Damar sambil mentoel pipi Ica, mata Ica langsung melotot karna saat itu masih ada beberapa atlet yang sedang bantu bersih-bersih.


“Yuk deh Ca kasihan yang lain, sekalian kita beli air mineral satu dus karna stok air sudah menipis “


“Tuhkan asal mau keluar dengan aku banyak banget embel-embelnya beli ini beli itu kek sengaja nyusahin aku ! “


“Ayo aja jangan banyak bicara, syukur-syukur aku ajak beli air daripada aku ajak ke rumah aku”ujar Kak Damar sambil berbisik pada Ica.


“Sok berani “


“Iyalah”


Saat sampai di minimarket Ica bergumam. “Ini bukan kerjaan cewek sebenarnya Kak”sambil mengangkat air mineral.


“Kamu cewek ? Yakin “Kak Damar mengejek.


“Emm sekarang aja ngomong gitu coba aja kalian lagi berdua, pokoknya nanti kalau lagi berdua aku mau cekik sampai mampus”ujar Ica.


“Cekik apa cekik sih ! “ Damar menyenggol Ica hingga nyaris terjatuh karna masih memegang air mineral.


“Awas loo nanti jatuh ! “


“Hehehehe”Kak Damar meletakkan air dus di depan motornya.


“Sudah semua kan Kak”


“Iya”


Ica mengeluarkan ponselnya dan batreiny sudah low.


“Hapeku low Kak”ujar Ica melapor.


“Cas dong Ca “ujar Kak Damar sambil naik ke motornya.


“Iya nanti di sekolah aja deh”


“Iya, ayo naik dulu Ca ntar yang lain nungguin dikiranya kita kencan lagi “


“Iya”


Ica dan Kak Damar akhirnya kembali kesekolah dan hari ini Ica tak minta dijemput ia ingin pulang bersama Kak Damar.


Setelah kerjaan beres Ica dan Kak Damar masih disana.


“Setahun lagi aku sudah nggak aktif disini Ca “


“Iya terus siapa ya yang jadi Ketua nantinya”


“Kamu nggak mau “tanya Kak Damar.


“Enggak deh Kak aku maunya santai aja”


“Emang kamu kayak gitu nggak mau ribet “


“Aku maunya fokus Kak, fokus hanya satu aja kalau jadi Ketua sibuk ngurus harta gono gini”


“Dihh harta gono gini apanya “Kak Damar tertawa.


“Sudah sore yuk kita pulang ajak Ica”


“Oke “


Kak Damar menoleh pada Ica dan merangkulnya.


“Kak apaan sih! “Ica melepas rangkulan Kak Damar.

__ADS_1


“Serba nggak boleh”


“Bukan waktu dan tempatnya”


“Kalau aku cariin tempat “


“Dalam mimpimu Kak dalam mimpimu yang terlalu banyak fantasinya”


Hari Survei Pasar


“Pak Rahmat nanti aku telepon ya”ujar Ica saat sampai diPasar tradisional.


“Iya “


“Dio kamu yang tanya-tanya ya”


“Iya Ca”


“Eh Dio kamu nggak pakai kaca mata ? “Ica baru sadar setelah sekian abad.


“Iya aku coba pakai kontak lens”


“Ohh lebih keren sih aku lihat “


Dio tersipu mendengar pujian dari Ica.


Coba saja Ica tetap baik padanya, detik ini ia bicara baik nanti dimenit berikutnya sudah lain.


“Apa saja yang kita kerjakan “tanya Ica pada Dio.


Tugas Wirausaha



Jumlah pedagang yang sama


Pendapatan


Modal


Kendala



Keuntungan


“Banyak amat kita ngarang aja nggak sih Dio”


“Mana bisa Ca kan nanti pasti ada yang sama dengan kita terus kok beda jumlahnya”


“Kan Pak Guru juga nggak kesini survei”


“Tapi kalau ngarang bedanya pasti jauh Ca nanti pasti ketahuan lah mending bedanya sedikit, kalau banyak gimana ? “


“Ya deh dasar cerewet ! “


Dio menghela nafas panjang karna tingkah Ica yang aneh-aneh.


Semua acara survei pasar berjalan dengan lancar namun ketika lewat sebuah gang kecil yang menuju luar pasar, Dio dan Ica dihadang oleh preman.


Sepertinya mereka memang menunggu Ica dan Dio.


Ica merasa kesal dan ingin memukul mereka tapi dicegah oleh Dio.


“Jangan Ca mereka paling hanya ganggu aja, takutnya nanti kamu diapa-apain”ujar Dio mirip pahlawan kesiangan padahal Ica itu pesilat.




“Ini sih kecil Dio”


“Sudah biar aku aja yang nego” mendorong Ics kebelakangnya.


“Wiiii ada Montana disini, ngapain kepasar ? “uajr salah seorang preman pada Ica yang sepertinya tahu tentang keluarga Ica.


“Maaf Pak kita mau pulang soalnya sopir kita sudah nunggu “ujar Dio dengan pelan.


“Ehhhh aku nggak minat ya sama kamu ! Aku maunya sama Nona Montana yang cantik itu, Nona ada berapa banyak di kantongmu”


Ica merogoh sakunya dan mencari sesuatu, Preman itu tersenyum karna Ica akan memberi tanpa perlawanan.


Tapi Ica malah mengeluarkan jari tengah pada mereka dan berhasil membuat mereka mengamuk serta mengejar Ica dan Dio.


Dio panik dan kalang kabur tapi Ica malah tertawa terbahak-bahak.


“Tunggu kamu Montana !!! “Teriak para Preman itu.


Dio merasa kakinya seakan lepas, Preman itu terus mengejar mereka namun akhirnya Ica dan Dio berhasil sembunyi di sebuah rumah yang tau jauh dari sana.


“Jantungku copot “ujar Dio sambil ngos-ngosan.


“Seru kan “ucap Ica pada Dio.


“Seru apanya, aku baru pertama kali kayak gini, rasanya mau mampus”


Dio berusaha mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.


“Kayaknya sudah aman deh Dio, ayo kita keluar ajak Ica.


Dio melihat kiri dan kanan untuk memastikan keadaan, Ica masih saja tertawa.


“Oiya Dio ini mau dilanjut kerjain dimana ? “


“Diperpus aja yuk, kan nggak jauh dari sini”


“Iya deh “ujar Ica setuju , saat akan bangun dari posisinya yang tadi mereka berjongkok karna sedang sembunyi, kaki Ica kram dan hampir terjatuh namun Dio sempat memegang Ica.


“Ca kamu nggak apa-apa ? “tanya Dio khawatir.


“Iya kayaknya hanya kram saja “


Ica berjalan perlahan dan Dio membantunya agar tidak terjatuh lagi.


“Kamu kuat jalan ke perpus Ca ? “


“Iya kuat kok” Ica mengibaskan kakinya.


__ADS_1


__ADS_2