BLESSED RAIN

BLESSED RAIN
Dua puluh empat


__ADS_3

🌺🌺🌺Happy Reading🌺🌺🌺


“Kalian sedang apa ? “


“Kamu mau apa, ikut campur saja “


“Jangan bikin onar ya”


“Bukannya geng kamu yang suka bikin onar”


“Itu urusanku, tapi aku nggak suka jika ada jongos yang suka ikutan apalagi menindas perempuan sampai segitunya”


“Kita pergi aja yuk” Ajak temannya yang satuan.


“Oke.... Kali ini kamu selamat ya, lain kali nggak akan”


“Tunggu dulu, kalian terlalu cepat seribu tahun”


Ica merebuy hapenya dan membantingnya hingga tinggal puing saja.


Nesa dan cewek itu sangat terkejut.


“Laporin aku jika kau berani dan kita lihat siapa yang akan dikeluarkan”


“Awas loo ya Ica”


“Aku nggak takut”


Kedua siswa itu berlari ketakutan.


“Makasih ya Ca”


Ica kemudian melihat cewek itu sambil berbisik.


“Jangan mempermalukan nama sekolah dengan perbuatanmu”


“Aku memang nakal tapi aku tak akan mencoreng nama Sekolah “


Cewek itu tertegun mendengar ucapan Ica yang begitu menusuk.


Sore harinya


“Aku pikir kamu tidak akan datang”


“Cepatlah !!! “


“Ehh tunggu.... Kita nggak bawa mobil looh, soalnya gangnya nggak cukup”


“Terus ? “


“Pakai motor ? “


“Aku pakai motor ? Aman nggak ? “


“Aman kok, aku ada SIM tempatnya juga nggak jauh”


“Ishhh... Baiklah”


“Pak... Anda bisa pulang dulu nanti kalau saya sudah dapat kelincinya saya telpon lagi “


Tempat membeli kelinci agak jauh didalam perdesaan.


Suasananya masih asri dan jauh dari polusi.


Ica diam saat berboncengan dengan Dio.


“Aku nggak akan cerita sama Nesa”


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mereka sampai di peternakan kelinci.


“Kita bisa saja beli ditoko hewan tapi jika kesini akan lebih luas milihnya”ujar Dio.


“Terserah kamu aja”


🐇🐇🐇🐇🐇🐇🐇🐇🐇🐇🐇🐇🐇🐇


“Kamu mau yang biasa atau Angora ? “


“Terserah “


“Pilihlah Ica”


“Iya... Iya”


Mata Ica tertumpu pada seekor kelinci putih dengan bulu yang tebal.


“Cantik sekali”batin Ica


“Kamu mau yang ini ? “


“Iya... Kayaknya cocok deh”


“Pak saya mau yang ini satu ya”


“Baiklah”


Setelah membayar, Ica ingin cepat balik ke rumah karna saat itu cuaca mulai mendung.


Bulan April memang sudah memasuki musim penghujan.


“Cepatlah Dio” ujar Ica.


Tetesan air hujan mulai jatuh satu persatu dan membasahi kedua anak itu.


“Dio kamu bawa jas hujan nggak ? “


“Ada kok Ca”


“Ayo kita pakai”


“Baik”


Dio membuka jok motor dan memakai jas hujan.


Ica menggigil kedinginan karna ia alergi dingin.


Dio merasa bersalah pada Ica.


“Aku minta maaf Ca”


“Untuk apa ! “


“Kamu jadi basah kayak gini”


“Iya ini emang salahmu ! “


“Kita berteduh dulu yuk”


Ica tidak menyahut.


Ica menggosok kedua tangannya agar hangat.

__ADS_1


“Aku bisa flu kalau kayak gini”batin Ica.


Bukannya tambah reda, hujan malah semakin besar.


Ica bersandar di tiang berugak tempatnya berteduh bersama dengan Dio.


“Kamu masih dingin Ca, kalau masih pakai jaket aku aja”


“nggak... Ini cukup kok”


“baiklah”


Kelinci yang dibawa Ica ikutan menggigil karna memang tempat Ica berteduh hanya sebuah berugak yang air hujannya masih bisa masuk kena angin.


Ica melepas syal yang ia pakai dan mengalami kelinci tersebut.


Dio memperhatikan Ica sambil tersenyum kecil.


Tidak ada tanda-tanda bahwa hujan akan reda, sementara waktu semakin sore.


Ica ingin menelepon supirnya, tapi ia tak tega pada Dio.


Kenapa disaat begini, aku bisa mikirin orang lain.


“Ca... Kamu telepon aja ya supirmu, nanti aku nerobos aja kayaknya ngga ada tanda bahwa hujan ini akan reda”


“Baiklah”ujar Ica sok tidak peduli padahal hatinya peduli pada Dio.


Setengah jam kemudian supir Ica datang.


Dio tidak say good bye, karna ia tahu seperti apa respon Ica.


Ica memandang Dio dari balik kaca mobil dan terlihat ia menerobos hujan yang semakin deras.


“Mba Ica temannya nerobos hujan tuh “


“Iya... Itu dia yang mau Pak”


“Ohhh begitu tapi kasihan juga ya”


“Salahnya nggak mau pakai mobil Pak”


“Iya Mba”


Ucap sopir Ica karna tak ingin membahas sesuatu yang tidak disuka oleh Ica.


Sampai rumah Ica segera mandi dan berganti baju , kemudian dia membawa kelinci itu ke gudang dan memberinya makanan.


“Kamu suka ? “


“Aku beri kamu nama Ciayo ya, biar kamu selalu semangat”ucap Ica pada kelinci itu.


💬*Dio*


Kamu jangan cerita kalau kita pergi berdua.


Awas aja !!!


📩


Baik. .. .


“Aku mau balik tidur dulu ya”


Hujan semakin deras dan Ica mulai masuk kedalam lembah mimpi.


“Emmm.... Ca kamu cantik banget.... “


“Serius, kamu manis sekali”


“Mmuuacchhhh”


Ica segera bangun ...


“Hosh..... Hosh..... Hosh.... “


“Astaga... Aku mimpi”


“Kenapa harus sama dia sihh !!! “


Ica kemudian minum air dan kembali tidur.


“Arrrgghhhhh”


Pagi hari


“Lemes amat kayak kerupuk “


“Diam !!! “


“Dahh... Baby.... “


“Emmmm”


“Ada apa sih sama dia ? “


Ica melihat kursi Dio dan jam tangannya.


“Apa dia terlambat ? “


“Ihhh... Kenapa aku jadi mikirin dia sih “


“Ca... Jadi kamu pelihara apa ? “


“Kelinci kalau kamu ? “


“ Burung... Biar simpel “


“Kenapa kita harus sibuk pelihara kayak gini sih ? “


“Mana aku tahu, katanya setelah ini hewan ini mau dibawa ke panti asuhan”


“Ohh gitu, emang apa gunanya ? “


“Aku kurang paham juga”


“Mungkin biar ada dipelihara gitu ya”


“Benar sekali “


“Nama burung ku Agus nama kelincimu siapa ? “


“Kenapa kamu kasih nama manusia sih Nes ? “


“Biarin aja”


“Nama kelinci aku Ciayo, lihat nih “


“Cantik sekali”


“Cantik kan”

__ADS_1


“Kalau gitu dari awal aku pelihara kelinci aja “


“Emm... Kamu sih demen banget ikutan “


“Ehh... Ehhhh Bu guru datang “


Ica kembali menoleh pada kursi Dio.


“Selamat pagi anak-anak “


“Selamat Pagi Bu”(semua murid)


“Hari ini Dio tidak masuk, karna ia sedang sakit”


“Iya Bu”


“Astaga pasti karna hujan kemarin itu,,, issshhh peduli amat aku sama dia”batin Ica.


Ica kini ada kesibukan, ia memberi makan Ciayo dengan baik dan mencatat pertumbuhan Ciayo dibuku IPA.


“Waktuku tinggal empat hari Ciayo, besok aku akan bawakan kamu ke Dio , jujur saja aku malas sebut namanya walaupun tanpa alasan “


“gummmm !!! “Seakan mengerti maksud dari Ica, kelinci itu garuk-garuk.


“Ihh... Kamu nggak sabar ya, sama aku juga”


Pada hari keempat Dio masuk, bawaannya terlihat lebih kurus dan wajahnya masih pucat.


Tidak ada yang menanyakan mengenai keadaan Dio karna semenjak masuk ke kelas Ica, tidak ada yang begitu akrab dengannya.


“Kelincinya sehat ? “


“Iya”


“Nanti sore aku ambil ya”


“Nggak perlu nanti supir aku yang bawain kesinj sambil jemput aku”


“Baiklah”


“Sudah jangan ngomong sama aku lagi”


“Ehhh... Emangnya aku ada ngomong apa “batin Dio.


Istirahat....


“Ca... Ini dia”


“Kok pas gitu ya ketemu sama kamu”


“Ca... Aku tahu aku salah”


“Kok beraninya keroyokan sama Gilang “


“Kalau kau dendam dengan keluargaku, langsung aja ke aku bukan ke teman aku”


“Ampun Ca.... “


“Pukul “perintah Ica pada siswa yang memukul Gilang hingga Gilang sakit.


“Lain kali cerita kalau kamu dikeroyok Gilang”


“Aku nggak mau Ca, tapi ujung-ujungnya kamu juga tetap tahu”


“Nggak mungkin aku nggak tahu”


“Emmm... Bu tambah lagi esnya”


“Kamu nambah es teh lagi”


“Iya... Emangnya kenapa ? “


“Ngga ada, tumben maruk”


“Aku kesal sih jadinya haus”


“Sorry..... “Dio tak sengaja menabrak meja Ica


“Matamu !!! “ujar Ica


“Aku ganti”


“Hemm.... Nggak perlu”


“Ayo kita balik, selera makanku jadi hilang”


“Issshhhhh....!!! “tangan Alex ingin memukul Dio.


Dio berfikir kenapa Ica begitu kasar padanya, apa karna dia anak baru atau itu emang karakter Ica, hanya saja kemarin saat bersama Dio mencari kelinci Ica lebih sabar.


“Nih kelincinya bye “


“Iya”


Seperti biasa Ica menunggu Pak supir didepan gerai es krim tak lupa es krim matcha kesukaan Ica selalu ditangannya.


“Wihhh... Enak ya”


“Emm... Tante Ranti ada apa ya ? “Ica menengok mengira Papanya juga ikut bersama mahkluk immortal ini.


“Akhir-akhir ini Papa kamu sering kasih kamu uang jajan ya”


“Emmm... Apa ? “


“Papa kamu sering kasih kamu uang jajan”


“Buat apa Papa aku kasih yang jajan ? Dari Nenek dan Mama aja nggak bakal habis ? “


“ Kan kamu nge mall diajak sama Papa kamu”


“Ya ampun itu sudah hampir sebulan Tante”


“Tetap saja, aku mau kamu ganti uang itu, kamu nggak pantas !!! “


“Tante ngomong aja sama Papa aku, jangan sama aku !!! “Dasar !!! Harusnya kamu nggak hubungin dia lagi, Mama kamu sudah cerai, tahu diri dong”


Suara Ranti besar dan membuat Ica malu karna ada orang yang lalu lalang.


“Nihh... “ucap Ica memberikan beberapa ratus ribu pada Ranti.


“Mba Ica.... “panggil sopir Ica yang baru sampai disana.


“Iya Pak”


“Mba Ica ngomong sama siapa itu ? “


“Ohhh... Ada orang nanyak jalan Pak”


“Ohh gitu “


Pak Sopir menghela nafas panjang ia tahu itu siapa namun ia memilih diam saat Ica tak mengakui keberadaan istri Papanya.

__ADS_1


“Pelakor itu membuat aku kesal saja “


__ADS_2