BLESSED RAIN

BLESSED RAIN
Tujuh Puluh Tujuh


__ADS_3

Salam buat para pembaca terimakasih sudah mampir dan dukung Karya dengan like, komen dan Vote ya...


Dukunganmu sangat berarti .


😍😍😍😍


🌺🌺🌺Happy Reading🌺🌺🌺


Damar baru kali ini merasa jatuh hati dengan gadis yang berbeda, bukan berarti gadis aneh atau bisa membelah diri.


Lebih tepatnya gadis yang agak berbeda yaitu gadis barbar dan punya kepribadian yang bertolak belakang dari mantan-mantannya.


Ica yang cuek, tukang bully, tukang usil dan pokoknya tidak anggun sama sekali.


Sepertinya selera Damar sudah berubah apa baru mendapatkan yang sesuai.


Damar akhi-akhir ini hanya ingin cepat datang kesekolah untuk melihat wajah Ica saja.


Tanpa malu mengakui ia telah menyukai Riska Montana si pembully dan si usil.


Kamar Ica


19.00


“Ca lagi apa ? “


“Lagi buat desain “


“Untuk siapa ? “


“Teman-teman silat aku ada yang pesan 3 orang”


“Kamu masih marah sama aku ? “tanya Dev sambil duduk dikasur Ica yang beraroma bunga mawar itu.


“Kasurmu wangi mawar ya”tanya Dev lagi mencoba mencairkan suasana karna semenjak Dev melarang Ica keluar dengan Kakak Damarnya itu ,Ica menjadi cuek dengan Dev.


Ica masih diam dan fokus dengan laptopnya.


“Aku nggak marah hanya kasihan saja pada Kak Damar, dia jadi rugi tiket”


“Kan aku bilang akan aku ganti nanti”


“Akan ganti akan ganti tapi nggak kan , sudah jangan repot-repot dan urus saja urusanmu sendiri jika tak ada yang mau diomongin lagi, keluar dari kamarku”ucap Ica dengan tegas.


Dev sangat terkejut dengan sikap Ica.


Ica sering marah pada Dev tapi tidak pernah semarah ini.


Apa Ica serius dengan Kak Damar ?, tapi please Ca dengan cara ini bisakah kamu berterus terang saja pada Dev.


Dev pasti bingung karna Gilang juga suka dengan Ica.


Kalau Alex sudah tak menunjukkan dia perhatian lagi dengan Ica dan sekarang dua ketimun ini yang masih marathon mengejar adiknya yang suka berkamuflase ini.


Bayangkan akan seperti apa nantinya jika Ica jadian dengan Gilang atau Kak Damar, mereka pasti akan mengadu karna dipukulin oleh Ica.


Dev memberi ruang untuk Ica ia tahu pasti Ica jengkel padanya, hanya saja Dev ingin Ica mengerti dulu bahwa ia adalah pewaris keluarga Montana dan semua orang disekolah juga tahu hal itu.


Ica harus banyak belajar dan tahu mana yang boleh dan tidak.


“Aku tak paham apa yang ada dalam pikiran Dev itu,bisa-bisanya dia membuat aku malu”batin Ica.


Semenjak Dev melarang Ica keluar dengan Kak Damar, Ica jadi sensitif ketika melihat Dev.


Saat Dev terlihat di dapur ia tidak jadi kedapur dan ketika Dev ada di ruang Tivi ia tak jadi keruang tivi.


Pokoknya dia terus menghindari Dev.


Mama dan Nenek Ica benar-benar enek melihat Ica yang bersikap seperti itu.


Tapi jika lebih dari tiga hari ia seperti itu maka, ia memang sangat marah.


Toilet cewek...


“Segitu bencinya kamu sama aku Bela ? “


“Iya terus kamu mau apa ? “


Ica melirik kiri dan kanan untuk memastikan tidak ada kamera yang merekam mereka.


“Ca apapun yang kau lakukan kau sudah dicap sebagai pembully “ujar Bela padanya.


“Terus ? “


“Makanya lebih baik kamu diam saja dan lulus dengan baik-baik. “


“Oh gitu hufft jangan sampai temanmu kehilangan beasiswa karna kamu ya dan jangan harap keturunan kamu atau seluruh anggota keluarga kamu bisa sekolah disini lagi. Apakah kau tahu Bela bersiaplah dibenci semua keluargamu yang sedang sekolah di sekolah lain.


Karna jika aku mengatakan tak ingin kerja sama dengan sekolah mereka.


Dalam hitungan detik semua keluarga kamu akan kehilangan beasiswanya, karna aku tak pernah memulai duluan”ujar Ica mantap.


“Aku tak takut dengan ancaman kamu”


“Emm gitu ya sebenarnya aku kurang tertarik mencari info tentang kamu tapi ya karna kamu yang mulai duluan, okelah ya. “


Bela memandang Ica dengan wajah penuh kebencian.


Ica keluar dari toilet dan Nesa menunggu di luar toilet.


“Gimana Ca ? “


“Keras kayak batu”

__ADS_1


“Ya ampun sudahlah biarin aja deh, ntar juga lama-lama bosen, eh itu Gilang Ca “


“Mana ? “tanya Ica.


“Itu kan dia lagi sama siluman gendang telinga ”


Ica menoleh pada Nesa yang seenak jidat memberi panggilan tanpa konfirmasi ke dia.


“Jijik sekali aku lihatnya”ujar Nesa.


“Biarin aja Gilang kan emang suka nyanyi jadi mungkin cocok gitu”


“Gilang yang kajuman kalau Fabian aku nggak heran tapi kalau Gilang aku belum lihat dia seperti ini . “


“Sekarang sudah lihat kan”


“Emang aku ngeliat tapi tetap aja ngeselin. “


(Dia lupa bahwa dia juga seperti itu jika sudah bersama dengan Kak Alvian emang ya paling mudah melihat pagar orang lain).


“Dio”sapa Ica pada Dio


Dio yang melihat berusaha menghindar namun diikuti oleh Ica.


“Kok putar balik sih, emang aku seram ya ? “


“Jangan ganggu aku”


“Duh duh jangan ganggu aku ! “ucap Ica menirukan suara Dio.


“Pinjam kaca matamu dong “


“Jangan ini kacamata minus Ca”


Ica mengambil kaca mata Dio dan memasukkannya di tong sampah.


“Ca aku mohon”


“Tinggal ambil aja kok”


Dio menatap Ica sendu, ia pikir Ica hanya bercanda akan membuang kacamatanya.


Sampai dikelas Dio melihat kursinya yang sudah tidak ada.


Dengan sabar Dio mengambil kursi digudang.


“Dia benar-benar keterlaluan “batin Dio.


Saat pelajaran dimulai Pak Guru matematika memberi soal dan tentunya Ica tak mau kalah dari Dio, ia tak Terima si jendela dunia itu unggul darinya.


Ica merasa puas ketika dia mengumpulkan duluan dari Dio namun tak beberapa lama Dio juga mengumpulkan soal yang diberikan tadi.


“Ica”


Panggil Pak Guru pada Ica”Bapak bisa minta tolong kegudang untuk mengambil peralatan yang akan kita pakai untuk belajar geometri.


“Iya Pak “


“Oiya karna hanya kamu dan Dio yang sudah selesai, Dio kamu temenin Ica ya dia nggak bisa sendirian “ujar Pak Guru tanpa beban, dia pikir ini semudah khayalan para jomblo.


Gilang mendelik ke arah Pak Guru.


“Aku sendiri saja Pak”ujar Ica namun Ica menutup mulutnya ia lupa jika Guru matematika ini sama sekali tak suka dibantah.


“Baiklah “ujar Ica dengan pasrah.


Dio hanya mengekor pada Ica.


“Jaga jarakmu ! “ujar Ica setengah berteriak pada Dio yang langsung terkejut.


“Iya”jawab Dio lemah.


Dio bukan salah pilih sekolah tapi Dio salah pilih kelas.


“Idiot “gumam Ica namun pasti terdengar oleh Dio.


Dio adalah tipe cowok yang mulutnya tidak rame tapi dia tetap saingan Ica.


Saat perjalanan menuju gudang Ica melihat sesuatu yang menarik perhatian.


“Jessi dan Kak Alvian ? Mereka ngomongin apa sih , tadi Jessi emang izin ke toilet apa hanya demi bertemu dengan Kak Alvian “batin Ica.


Ia ingin sekali mendekati Kak Alvian dan Jessi tapi dia ada titah yang harus dilaksanakan.


Ica sampai di gudang lebih dulu dan ia ingin mengerjai Dio.


Jadi dia menyiapkan dus yang berisi penghapus papan agar jatuh ke arah Dio.


Dio masuk dan memanggil Ica, untung saja gudang matematika itu memiliki rak yang tinggi.


“Ca kamu dimana ? “


Ica masih cekikikan dari tempat persembunyiannya.


Saat Dio melangkah Ica mendorongnya tapi sayangnya dus itu malah menggeliat dan jatuh kearahnya.


“Brukkk”


Dio terkejut dan segera mencari sumber suara.


“Senjata makan tuan”batin Ica malu.


Dio melihat Ica yang kejatuhan dus itu, dia sangat khawatir dan menolong Ica.

__ADS_1


Kepala Ica sangat sakit tapi lebih sakit rasa malu yang ia rasakan karna Dio yang menolongnya.


“Kamu nggak apa-apa Ca ? “tanya Dio sambil merapikan penghapus papan itu.


Ica hanya diam, Dio membersihkan sarang Laba-laba dikepala Ica.


Ica terdiam sejenak iya tertegun karna di balik bohlam yang berwarna kuning itu, tercetak jelas badan Dio yang sixpack.


“Ca ? “


“Ehh anu”


Ica merasa dia bodoh berkali-kali lipat hingga ia merasa harus cuci rambut dan potong rambut karna kesialan ini.


“Sudah aku nggak apa-apa kok”ujar Ica berusaha menepis tangan Dio.


Dio deg degan karna ia sangat dekat dengan Ica.


Ica sama sekali tidak deg degan tuh (bohong).


Saat akan kembali lagi ke kelas, Ica pikir Kak Alvian dan Jessi masih ditempat tadi, tetapi nampaknya mereka sudah balik.


Ica sangat penasaran tapi demi menjaga perasaaan Nesa, ia tak menceritakannya biarlah nanti Nesa yang tahu jika ada apa-apa.


Ica meletakkan alat-alat itu dimeja Pak Guru.


Sorot mata Gilang tajam melihat kearah Dio seakan ingin membunuh Dio.


Ica tak menceritakan apa yang terjadi tadi digudang karna pasti Nesa akan mentertawainya dan mengulang cerita itu hingga setahun kemudian.


Ica melirik Nesa yang warna wajahnya berubah.


“Nes”


“Iya Ca”


“Kok wajahmu muram “


“Ah nggak ada kok”


“Cerita aja sama aku, kayak aku orang lain aja”


“Aku nggak apa-apa kok Ca”ucap Nesa.


Ica yakin ada sesuatu yang terjadi pada Nesa.


Cuaca di bulan September ini memang sangat dingin, namun belum ada tanda-tanda akan turun hujan.


Ica agak bergidik saat meminum es teh dikantin.


“Eh Ca kamu tahu nggak si Reni kelas 11 IPA,katanya bapaknya masuk penjara”


“Reni anak yang kalem, pendiem terus alim itu ? “Ucap Ica seakan dia tinggal bersama dengan Reni.


“Komplit banget kayak es campur”ucap Alex


“Iya emang aku bilang Reni yang mana lagi ? “ucap Gilang yang biang gosip.


“Kasihan banget sih dia “


“Ngapain kasihan Bapaknya korup uang perusahaan”


“Perusahaan yang mana ? “


“Perusahaan Elang “


“Perusahaan Elang “Ica mencoba berfikir karna ia takut jika Montana juga menanam saham disana.


“Kamu kenapa Ca ? “


“Nggak ada sih aku Cuma takut jika Montana ada taruh modal disana pasti Kak Dev bisa ngamuk”


“Tumben kamu mikirin perusahaan kamu”tanya Gilang bingung.


“Iya mungkin efek aku sering ikut undangan pengusaha sama Dev “


“ Ohh gitu bagus deh Ca”


“Iya sih”


Ica melihat Nesa yang tidak menanggapi gosip, biasanya Nesa yang paling antusias.


“Nes kamu baik-baik saja”


“Iya, aku hanya lagi nggak enak badan aja”


“Ke UKS yuk Nes”ajak Fabian.


“Jangan sok perhatian Ian kamu kumpul sama kita karna kamu sudah putus ! “ucap Nesa dengan judes.


Semua geng Ica terkejut Nesa tidak seperti itu.


Nesa walaupun otaknya sedikit dia baik dan tak pernah bicara seperti itu.


Air mata Nesa mulai jatuh karna tidak kuat menahan apa yang ia rasakan dari tadi.


“Nes”


“Ayo kita ketempat lain ya”ajak Ica.


“Kalian duluan aja ya aku mau ajak Nesa ke UKS “tutur Ica pada gengnya.


“Oke dah Ca”

__ADS_1


Ica mengajak Nesa untuk ke UKS agar ia bisa curhat disana.



__ADS_2