
Kediaman Kinara
Setelah selesai sarapan Kafeel memutuskan untuk pergi membersihkan dirinya di kamar mandi yang terletak di kontrakan Kinara. Dari arah kamar mandi Kafeel keluar dengan perasaan yang geli sambil menatap ke arah baju yang saat ini ia kenakan.
"Ra apa gak ada baju ganti lain lagi untuk ku?" ucap Kafeel sambil berjalan keluar dari arah kamar mandi Kinara.
Kinara yang memang sedang sibuk membereskan rumah, mendengar teriakan Kafeel ia lantas berbalik badan untuk mengecek apa yang tengah dirisaukan laki laki itu.
Hahahaha
Sebuah tawa yang keras mulai terdengar dari Kinara ketika melihat baju yang ia berikan kepada Kafeel sungguh sungguh terlihat aneh jika di kenakan oleh Kafeel. Sebenarnya itu hanyalah pakaian biasa yang sehari harinya di kenakan Kinara ketika tengah bersantai, di mana atasan kaos berwarna pink dengan celana olahraga panjang sebagai bawahannya. Kinara sangat yakin bahwa tadi ia memberikan kaos dengan ukuran yang paling besar miliknya, hanya saja ketika baju itu di kenakan oleh Kafeel jadi seperti sangat menempel di tubuh Kafeel, dengan beberapa jahitan yang terlihat siap untuk lepas jika Kafeel terlalu banyak bergerak.
"Hentikan tawa mu itu, ini benar benar tidak lucu Ra!" ucap Kafeel dengan kesal ketika melihat Kinara menatapnya sambil tertawa terpingkal pingkal.
"Tidak bisa tidak bisa kau terlalu lucu Kaf sungguh hahahaha..." ucap Kinara lagi lagi dengan tawa yang menggema membuat Kafeel semakin berwajah masam ketika melihat reaksi dari Kinara barusan.
"Ayolah Ra beri aku baju yang baru..." ucap Kafeel dengan nada memohon.
"Tidak ada Kaf, jika kau menginginkan yang baru jangan kepada ku pergi saja sana ke mall atau butik langganan mu." ucap Kinara kemudian dengan nada yang datar membuat Kafeel lantas menatapnya dengan bingung karena perubahan mood Kinara yang sangat drastis itu.
"Cepat sekali moodnya berubah?" batin Kafeel dalam hati ketika melihat perubahan yang drastis dari Kinara.
"Apa kamu tersinggung saat ini?" goda Kafeel berharap akan kembali mencairkan suasana.
__ADS_1
"Tidak, lagi pula apa kamu sekarang adalah seseorang yang pengangguran? kenapa hobi sekali mengganggu ku!" ucap Kinara dengan ketus.
Kafeel yang mengetahui hal itu lantas berjalan mendekat ke arah Kinara mencoba kembali merayunya.
"Kenapa kamu harus marah, setidaknya hantarkan aku menuju toko baju di dekat sini, apa kamu tidak kasihan pada ku?" ucap Kafeel dengan nada yang memelas berusaha merayu Kinara.
"Kenapa harus aku? bukankah kamu punya mobil? atau jika tidak tinggal telpon saja si Rendy ia pasti akan langsung ke sini tanpa harus kamu repot repot seperti ini." ucap Kinara seakan acuh tak acuh sambil meneruskan pekerjaannya dalam membersihkan rumah.
"Ayolah Ra hanya sebentar... hantarkan aku ya? aku janji tidak akan lama." ucap Kafeel dengan nada yang memohon.
"Pergilah Kaf jangan mengganggu ku!" ucap Kinara dengan kesal.
"Ayolah Ra ku mohon, setelah kamu menemani ku membeli pakaian aku akan langsung pulang hari ini." ucap Kafeel memelas.
"Baiklah jika kamu tidak mau, maka aku juga tidak akan beranjak dari rumah mu sampai kapan pun!" ucap Kafeel kemudian.
Kinara yang mendapat ancaman tersebut lantas menghela nafasnya panjang. Jika menuruti egonya tentu saja Kinara tidak ingin pergi dari sana, namun mengingat tadi pagi pak Ridwan menelponnya memperingatkan tentang suara bising bising yang mengganggu ketenangan tetangga di sekitarnya. Membuat Kinara pada akhirnya mau tidak mau menuruti kemauan laki laki di hadapannya ini.
"Oke tapi hanya sebentar setelah itu kau harus langsung pergi dari sini." ucap Kinara dengan tegas karena ia tahu Kafeel sangatlah pandai berkelit.
"Oke janji" ucap Kafeel dengan bahagia.
Pada akhirnya Kinara dan juga Kafeel lantas bersiap untuk keluar dan pergi menuju toko pakaian yang tidak jauh dari rumah kontrakannya.
__ADS_1
***
Sementara itu setelah pergi dari supermarket, Rian langsung bergegas ke rumah dengan membawa beberapa kantong kresek yang berisi perlengkapan dan juga keperluan selama satu bulan ke depan untuk Ratih. Di tatapnya satu paper bag berisi kue tiramisu kesukaan Kinara dengan ceria membuat senyuman lebar nampak terlihat dari wajahnya.
"Kinara pasti menyukainya" ucap Rian dalam hati sambil memarkirkan mobilnya.
Setelah memastikan mobilnya sudah terparkir di halaman rumahnya, Rian lantas langsung turun dan melangkah hendak menuju ke arah kediaman Kinara. Hanya saja tepat ketika dirinya menuju ke arah Kinara, Rian lantas tanpa sengaja berpapasan dengan Kafeel dan juga Kinara di sana. Rian yang sadar keduanya berjalan mendekat ke arahnya, lantas langsung menyembunyikan paper bag yang berisi cake tiramisu ke belakang tubuhnya agar tidak terlihat oleh keduanya.
"Mau kemana Ra?" tanya Rian kemudian basa basi.
"Mau mengantar Kafeel pergi ke toko pakaian di dekat sini, kamu baru pulang dari supermarket?" ucap Kinara kemudian ketika melhat paper bag yang di sembunyikan Rian di belakang tubuhnya.
"Ah ini... iya tadi aku mampir untuk membeli kebutuhan untuk mama sebentar." ucap Rian dengan manik mata yang nampak terlihat kecewa.
"Ayo Ra" ajak Kafeel yang sudah tak sabar karena Kinara malah meladeni Rian sedari tadi.
"Iya iya sebentar" ucap Kinara dengan kesal. "Aku pergi dulu Yan..." ucap Kinara kemudian dan langsung kembali melangkahkan kakinya menuju ke arah mobil Kafeel.
Setelah kepergian Kinara dan juga Kafeel dari sana, Rian menatap kepergian keduanya hingga tidak lagi terlihat di pandangannya. Rian menatap dengan tatapan sendu paper bag berisi kue tiramisu itu. Helaan nafas mulai terdengar di sana, entah mengapa rasanya ia seperti sedang terbuang saat ini. Hanya dengan melihat ekspresi wajah Kinara saja Rian sudah dapat menebaknya bahwa Kinara sangat bahagia ketika berada di dekat Kafeel.
"Sepertinya tidak ada celah untuk ku masuk ke dalam ruang hati Kinara, walau aku mencobanya seribu kali pun, di dalam hati Kinara tetap saja hanya ada Kafeel Kafeel dan Kafeel." ucapnya dengan nada sendu sambil masih menatap ke arah paper bag yang di bawanya sedari tadi. "Ingin rasanya aku menyerah ketika melihat Kinara sudah bahagia bersama dengan Kafeel, tapi mengapa rasanya aku masih tidak rela melepas Kinara begitu saja pada Kafeel?" imbuhnya lagi dengan nada yang bimbang dan bingung akan apa yang harus ia perbuat.
Setelah Kinara dan juga Kafeel tidak lagi terlihat di sana, dengan langkah gontai Rian kembali melangkahkan kakinya ke arah mobil untuk mulai menurunkan kantong kresek tadi lalu melanjutkan kembali aktifitasnya. Sepertinya Rian tampak sangat kecewa setelah melihat kepergian Kinara bersama dengan Kafeel barusan. Rasanya seperti segala perjuangannya selama ini terasa sia sia ketika pada akhirnya Kafeel lah yang akan memenangkan hati Kinara.
__ADS_1
Bersambung