
Pagi harinya deringan ponsel milik Kinara membangunkannya dari tidurnya. Seluruh tubuhnya terasa agak sakit karena memang ia tertidur di sofa setelah meminum soda semalam. Terlihat Delisha dan juga Nining sudah bersiap hendak berangkat ke sekolah.
"Bunda tidur di sini?" tanya Delisha kala melihat Kinara baru bangun di sofa ruang tengah.
"Iya, bunda ketiduran. Delisha mau berangkat?" tanya Kinara yang di balas anggukan oleh Delisha.
"Bekal Delisha sudah di bawa Ning?" tanya Kinara kemudian yang di balas anggukan oleh Nining. "Hati hati di jalan ya, nanti pulangnya langsung mampir ke butik." ucap Kinara.
"Baik bu." jawab Nining.
Delisha kemudian bersalaman dengan Kinara dan berpamitan untuk berangkat ke sekolah. Setelah kepergian Delisha dan juga Nining, Kinara lantas mengecek ponselnya karena sepertinya ada yang menelponnya tadi.
"Halo pa, apa papa menelpon Kinara tadi?" ucap Kinara kala sambungan telponnya terhubung.
"Iya, apa kamu bisa datang ke rumah Ra? ada yang ingin papa dan mama bicarakan." ucap Ardi di seberang sana.
"Apa papa dan mama sudah mengetahui tentang gugatan perceraian itu?" batin Kinara dalam hati. "Nanti Kinara sempatkan untuk mampir ke sana ya pa." ucap Kinara kemudian.
"Iya nak, kalau bisa hari ini karena papa hendak dinas ke luar kota." ucap Ardi lagi.
"Iya pa Ara usahakan." ucap Kinara kemudian memutus sambungan teleponnya.
Setelah panggilan teleponnya berakhir, Kinara bangkit dan bergegas ke kamar mandi untuk bersiap ke butik dulu baru nanti agak siangan Kinara akan mampir ke rumah mertuanya.
__ADS_1
******
Siang harinya
Kinara menepati janjinya untuk pergi ke rumah mertuanya. Kinara memarkirkan mobilnya tepat di halaman rumah mertuanya. Dengan perasaan yang sedikit ragu Kinara mulai melangkahkan kakinya menuju ke pintu depan. Entah mengapa ada perasaan aneh yang menghinggapi hati Kinara kala kembali melangkahkan kakinya ke rumah mertuanya yang mungkin lebih tepat disebut neraka bagi Kinara.
Ting tong ting tong
Kinara mulai memencet bel pintu rumah, tak berapa lama pintu mulai terbuka dan memperlihatkan Ardi di sana. Kinara menyalami tangan Ardi dengan sopan dan di balas senyuman ramah oleh Ardi.
"Masuklah Ra kita bicara di ruang keluarga saja." ucap Ardi dengan singkat, sedangkan Kinara yang mendengar hal itu tentu saja bingung. Masalahnya semenjak Kinara menjadi isteri dari Geffie, Sila tak pernah mengijinkannya memasuki ruang keluarga dengan alasan Sila belum menganggapnya sebagai bagian penting dalam keluarganya. Hanya saja, mengapa kali ini tiba tiba Ardi mengatakan untuk berbicara di ruang keluarga? apa ibu mertuanya itu tak akan marah jika mengetahui hal tersebut?
"Mama kemana pa?" tanya Kinara mencoba mencari tahu keberadaan Sila, karena jujur ia sedikit malas jika harus bertengkar kembali dengan ibu mertuanya itu, apalagi ketika nanti melihat Kinara di ruang keluarga pasti akan malah tambah ribet jadinya.
"Mama sedang pergi arisan, kamu tenang saja tidak akan ada yang mengganggu." ucap Ardi dengan datar, namun bagi Kinara ini terasa sangat ambigu. Apa yang dimaksud dengan tidak akan ada yang menganggu? bukankah itu nampak aneh?
"Sekarang katakan pada papa, kamu dan Geffie ada masalah apa. Tidak bisakah kalian berdamai dan saling memaafkan?" ucap Ardi kemudian memulai pembicaraan.
Mendengar hal itu Kinara nampak menghela nafasnya panjang. "Sebelumnya Kinara ingin minta maaf kepada papa, Kinara sama sekali gak ada niatan untuk menjelekkan mas Geffie di depan keluarganya. Hanya saja Kinara sudah lelah pa, ada beberapa hal dalam rumah tangga kami yang tidak akan bisa diperbaiki walau kami kembali bersama." ucap Kinara pada akhirnya.
Mendengar hal itu Ardi nampak bangkit dan berpindah tempat duduk ke sebelah Kinara, lalu memegang pundaknya mencoba menenangkan Kinara.
"Papa mengerti, kamu tahu Geffie bukan? papa yakin Geffie melakukannya tidak sengaja. Papa tidak mau kamu menyesal nantinya." ucap Ardi sambil mengusap pundak Kinara.
__ADS_1
Kinara yang mendapat perlakuan tersebut cukup terkejut, memang masih wajar seseorang menenangkan dengan cara mengusap pundak. Hanya saja, apa yang dilakukan Ardi mulai terasa aneh. Tangan Ardi mulai mengusap yang tidak seharusnya, lebih terkesan ke arah meraba. Kinara yang masih menjaga sopan santunnya karena mengingat Ardi adalah mertuanya lantas sedikit bergeser ke sebelah, duduk sedikit menjauh dari Ardi.
"Ada apa nak? apa kamu sedang sakit?" ucap Ardi kembali mendekat sambil mengulurkan tangannya di leher Kinara seperti hendak mengukur suhu tubuh Kinara, namun bukan pada tempat sepatutnya.
Kinara yang merasa semakin aneh, lantas langsung bangkit dan berniat untuk pamit pulang. Hanya saja, Ardi yang menyadari Kinara hendak melarikan diri lantas langsung menarik tangan Kinara kemudian menghempaskannya hingga terjerembap jatuh ke sofa dengan posisi terlentang.
"Apa yang papa lakukan?" ucap Kinara dengan nada yang meninggi.
Sorot mata Ardi terlihat sangat menginginkan Kinara, membuat Kinara yang dalam posisi terlentang lantas buru buru bangkit namun keburu di tahan oleh Ardi.
"Lepaskan Ara pa! lepaskan." ucap Kinara mencoba memberontak dari cengkraman Ardi.
"Sudah lama papa menginginkan mu. Bagus sekali kamu memutuskan bercerai dengan Geffie jadi kamu bisa menjadi sugar baby papa." ucap Ardi dengan tertawa.
Ardi yang sudah gelap mata lantas mulai berusaha menjamah leher Kinara walau Kinara terus saja memberontak. Ardi bahkan tak segan menarik baju bagian depan Kinara, hingga dua kancing bagian atasnya terlepas dan terlempar entah ke mana.
Dalam hati Kinara benar benar merutuki kebodohannya yang tidak menyadari niat kotor mertuanya itu sejak awal. Kinara yang tak ingin di setubuhi ayah mertuanya, lantas membenturkan kepalanya sendiri pada kepala Ardi. Ardi yang tak siap dengan serangan Kinara lantas sedikit terpelanting ke belakang hingga membuka sedikit celah untuk Kinara kabur.
Kinara yang melihat ada celah lantas segera turun dari sofa dan kabur, namun sayangnya lagi lagi ia kalah cepat dengan Ardi yang langsung menarik kaki Kinara, hingga ia terjatuh dan terseret mendekat ke arah Ardi.
Kinara benar benar dalam posisi sulit kali ini, sekuat tenaga ia berusaha menahan wajah Ardi yang terus berusaha mendekat dan mencumbu dirinya dengan brutal.
"Lepas...kan Kinara pa...!" ucap Kinara dengan nada yang tertahan karena ia mulai kehabisan tenaga karena meladeni keberingasan Ardi yang terus mencoba menjamah tubuhnya tanpa ampun.
__ADS_1
"Sudah menyerahlah saja, papa akan memperlakukan mu dengan sangat lembut, papa janji." ucap Ardi sambil menelan salivanya dengan kasar karena semakin melihat Kinara melawan, semakin besar pula keinginannya untuk mencicipi tubuh menantunya itu.
Bersambung