Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta

Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta
Jangan menyesalinya


__ADS_3

Geffie sampai di rumahnya sekitar 15 menit kemudian, waktu yang cukup singkat di tempuh oleh Geffie mengingat jika berkendara dengan kecepatan sedang akan menghabiskan waktu 30 menitan.


Geffie memarkirkan mobilnya secara sembarangan di halaman, kemudian masuk ke dalam rumah dengan langkah setengah berlari sambil menggebrak pintu depan, membuat Sila yang sedang asyik memasak di dapur lantas terkejut dengan suara gaduh yang ditimbulkan oleh Geffie.


"Ada apa dengan mu? datang datang bukannya salam malah membuat kegaduhan." sindir Sila kepada Geffie.


"Di mana papa ma? ada yang ingin aku tanyakan padanya." ucap Geffie dengan nada yang datar.


"Ada di kamar baru datang, dia tidak akan berani keluar mungkin takut burungnya mama potong." ucap Sila dengan entengnya.


Mendengar hal itu Geffie yang semula ingin marah lantas malah di buat penasaran akan ucapan Sila barusan.


"Apa yang terjadi? bukankah kalian selama ini baik baik saja?" tanya Geffie kemudian.


"Baik baik aja apanya, gara gara istri eh maksud mama mantan istri kamu yang j*lang itu menggoda papa mu, membuat mama menjadi geram dan ingin memotong motong burung papa mu menjadi kecil kecil kemudian membuatnya menjadi sup." ucap Sila dengan nada yang datar, namun berhasil membuat Geffie terkejut kala mendengarnya.


"Mama jangan bercanda! Kinara bukanlah wanita yang seperti itu." ucap Geffie masih tidak percaya dengan perkataan Sila barusan.


"Kalau kamu tidak percaya juga terserah, yang jelas mama melihatnya sendiri dengan kedua mata mama bahwa papa dan juga mantan istri mu itu bercumbu di ruang tengah, gimana mama gak marah coba?" ucap Sila lagi.


Setelah mendengar hal tersebut, Geffie lantas langsung naik ke atas hendak menuju kamar papanya sekaligus memberikan perhitungan kepada Ardi.


"Kali ini papa benar benar kelewatan, pantas saja papa begitu membelanya di persidangan dan berbalik menyudutkan ku, ternyata ini alasannya. Kinara.. Kinara... ternyata lo sama saja ya? sama sama gampangan!" gerutu Geffie sambil terus melangkahkan kakinya menuju ke kamar Ardi.


Setelah sampai di depan pintu kamar Ardi, tanpa permisi dan basa basi lagi Geffie lantas kembali mendobrak pintu kamar dan langsung menyelonong masuk.

__ADS_1


"Apa apaan kamu Gef!" ucap Ardi yang kesal karena Geffie tiba saja masuk dan membuat keributan.


"Harusnya aku yang menanyakan hal itu, apa yang papa lakukan di persidangan ha?" ucap Geffie kembali bertanya kepada Ardi.


Mendapat pertanyaan tersebut Ardi lantas diam, ia bahkan sudah menduganya bahwa dengan datangnya Ardi di persidangan akan membuat Geffie marah besar padanya.


"Papa terpaksa melakukannya Gef, sungguh." ucap Ardi dengan memasang wajah memelas mencoba mencari rasa simpatik pada diri Geffie.


Namun sayangnya, Geffie yang melihat hal itu hanya tersenyum sinis. Geffie tahu betul bahwa papanya kini tengah berpura pura agar Geffie mau memaafkannya.


"Sudah lah pa, gak perlu terlalu banyak akting lagi. Sebaiknya papa jujur saja kali ini, papa benar benar terpaksa atau ini adalah bayaran dari menjamahi tubuh Kinara pa!" ucap Geffie namun kali ini dengan nada setengah berteriak, rasanya saat ini Geffie bahkan ingin sekali memukul wajah sok polos papanya setelah semua hal yang sudah ia lakukan, namun Ardi malah seakan bersembunyi dari kata kata "terpaksa".


"Kamu jangan memancing kesabaran papa ya Gef!" ucap Ardi tidak tahan lagi kala mendengar ucapan demi ucapan Geffie.


"Kenapa papa marah? bukankah itu memang benar? jangan berlagak sok jadi korban deh pa!" ucap Geffie kemudian. "Atau jangan jangan papa memang sengaja melakukannya karena ingin merebut Kinara dari tangan ku?" tuduh Geffie secara blak blak.an kepada Ardi.


Geffie yang mengetahui hal tersebut, seakan tidak ada takut takutnya malah sedikit mendorong Ardi sambil mencengkram kerah baju milik Ardi.


"Asal papa tau ya pa... kelakuan papa itu benar benar menjijikkan! bahkan sebejat bejatnya seorang penjahat ia tidak akan menjamahi tubuh menantunya sendiri!" ucap Geffie dengan nada penuh penekanan kemudian menghempaskan Ardi begitu saja.


Geffie sebisa mungkin masih berusaha menahan amarahnya kepada Ardi, padahal rasanya ingin sekali Geffie melampiaskannya dan menghajar wajah Ardi, namun ia bukanlah seorang anak yang durhaka dan tega melakukan itu pada Ardi.


Geffie melangkahkan kakinya sedikit menjauh dari Ardi, kemudian dengan kesal membuang semua yang ada di meja rias dengan sekali sapuan tangan.


"Arg aku benar benar kecewa dengan papa! asal papa tau... hancurnya keluarga kecil Geffie itu adalah ulah dari papa dan mama. Kalian berdua benar benar bukan orang tua yang bisa di andalkan! jika Geffie bisa memilih... Geffie tidak akan mau terlahir di keluarga ini!" ucap Geffie dengan nada yang meninggi.

__ADS_1


Setelah mengatakan hal tersebut Geffie lantas pergi begitu saja dari sana. Sedangkan Ardi yang mendengar ucapan Geffie barusan lantas terdiam. Sebagai seorang ayah ia tentu tersinggung dengan ucapan Geffie barusan. Ditatapnya kepergian Geffie dengan perasaan yang berkecamuk di dadanya, hingga Geffie menghilang dari pandangannya.


"Maafkan papa Gef... maafkan papa..." ucap Ardi dengan lirih.


******


Sementara itu di kediaman Geffie, Nabila sudah menunggu di depan rumah dengan membawa sebuket bunga, menanti ke datangan Geffie di sana.


Cukup lama Nabila menunggu, mungkin hampir sekitar satu jaman baru kemudian mobil Geffie datang dan berhenti di halaman.


Dengan langkah perlahan Geffie mulai menuruni mobilnya dan melangkah menuju rumahnya. Tidak ada reaksi apapun yang tampak pada raut wajah Geffie kala melihat kehadiran Nabila di depan rumahnya, sungguh berbanding terbalik dengan Nabila yang tak henti hentinya mengumbar senyuman tepat ketika kedatangan Geffie di sana.


"Kenapa kau lama sekali? aku bahkan menunggu mu sedari tadi." ucap Nabila dengan nada yang sedikit cemberut.


"Ada apa kau ke sini?" tanya Geffie dengan nada yang datar dan dingin.


"Bukankah hari ini harusnya ada sebuah perayaan? kekasih gelap ku kini sudah resmi bercerai, jadi sudah sepatutnya aku memberikannya sebuah ucapan selamat." ucap Nabila dengan tersenyum genit menatap ke arah Kafeel.


"Kebetulan kau datang! aku butuh pelampiasan untuk hasrat ku!" ucap Geffie sambil tersenyum menyeringai.


"Wah bukan kan itu sebuah kebetulan yang tepat?" ucap Nabila dengan tersenyum.


Tanpa basa basi lagi, keduanya kemudian lantas masuk ke dalam rumah. Setelah itu Geffie menggendong Nabila ala ala bayi koala lalu membawanya masuk ke dalam kamar. Geffie menghempaskan Nabila dengan kasar ke ranjang, lalu melepas kemejanya dengan brutal kemudian membuangnya ke segala arah.


"Kau yang datang dengan sendirinya padaku, jangan pernah menyesali apa yang akan terjadi!" ucap Geffie tiba tiba dengan nada yang serak dan juga terasa aneh bagi Nabila.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2