
"Dia semakin cantik jika berkeringat seperti itu." ucap Fathan dalam hati sambil menatap Kinara dengan tatapan yang ingin.
Kinara yang acuh lantas terus melanjutkan penjelasannya tentang desain yang ia miliki. Sedangkan Fathan malah terlihat bangkit dan berjalan memutari mejanya lalu berhenti tepat di sebelah Kinara sambil menyandarkan tubuhnya pada meja. Kinara terdiam sejenak tidak meneruskan ucapannya ketika mengetahui Fathan berhenti tepat di sebelahnya.
"Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya Kinara dengan sopan sambil mendongak menatap ke arah Fathan yang sedang dalam posisi berdiri di sebelahnya.
"Saya hanya ingin membantu mu mengelap ini..." ucap Fathan dengan perlahan sambil mengarahkan rambut Kinara yang saat itu tengah tergerai ke belakang pundaknya, dan perlahan naik kemudian hendak menyentuh pelipisnya namun langsung di tepis oleh Kinara yang mulai tidak suka dengan gerak gerik dari Fathan yang terlalu berlebihan menurutnya.
"Bisakah bapak untuk fokus, jika tidak bisa kita bisa melanjutkannya besok saja setelah bapak lebih bersih pikirannya." ucap Kinara dengan nada yang sengaja seperti tengah menyindir Fathan secara tidak langsung.
"Cih aku tahu model model perempuan seperti mu, jangan sok jual mahal kau!" ucap Fathan dengan nada yang mengejek.
Kinara yang mendengar hal itu tentu saja kesal dan langsung bangkit dari tempat duduknya sambil menatap tajam ke arah Fathan.
"Sepertinya saya tidak menginginkan kontrak ini berlanjut, terima kasih atas tawarannya saya permisi!" ucap Kinara kemudian melenggang pergi dari sana.
Fathan yang melihat kepergian Kinara tentu saja merasa tertantang, sehingga langsung mengejar langkah kaki Kinara kemudian menarik tangan Kinara hingga membuat langkah kakinya terhenti.
"Lepaskan saya atau saya akan berteriak!" ancam Kinara kepada Fathan.
"Kalau kau mau teriak silahkan saja teriak sekencang mungkin, kalau perlu mend*s*hlah juga." ucap Fathan sambil tertawa membuat Kinara semakin di buat kesal dengan pria di hadapannya ini.
Kinara berusaha melepas cengkraman tangan Fathan, namun yang Fathan lakukan malah menarik tangan Kinara dengan kasar kemudian menggendongnya layaknya karung beras dan melemparnya ke sofa.
Tubuh Kinara yang kecil tentu saja kalah saing jika dibandingkan dengan Fathan yang bertubuh tinggi besar.
__ADS_1
"Sialan!" ucap Kinara dalam hati.
"Mau kemana kau manis? bermainlah sedikit dengan ku pasti akan terasa menyenangkan." ucap Fathan kemudian sambil tersenyum menyeringai menatap ke arah Kinara.
Kinara yang tidak ingin kejadian di rumah mertuanya kala itu kembali terulang, lantas langsung bangkit sambil melepas heels miliknya dan melemparkannya saru persatu ke arah Fathan.
"Jangan mendekat kau!" teriak Kinara sambil menunjuk ke arah Fathan.
Sedangkan Fathan yang melihat Kinara seperti itu malah semakin tertawa seakan menikmati setiap rasa ketakutan yang kini sedang di rasakan oleh Kinara.
"Ayolah buat sedikit mudah, kenapa kamu suka sekali mempersulitnya?" ucap Fathan sambil melangkah mendekat.
Kinara yang berhasil bangkit dari sofa lantas bersiap untuk lari, namun lagi lagi Fathan berhasil menangkap tubuhnya dan langsung memiting Kinara dengan erat.
Plak
"Baiklah kalau kamu memang suka kekerasan aku tidak akan sungkan lagi padamu." ucap Fathan dengan tatapan bengis menatap ke arah Kinara yang sedang memegangi pipinya.
Dengan kesetanan Fathan lantas melempar Kinara ke meja kerjanya hingga membuat beberapa barang milik Fathan berjatuhan dan menimbulkan semacam bunyi gaduh.
"Ini sungguh di luar nalar, apa sekretarisnya sama sekali tidak mendengar bunyi gaduh ini? mengapa tidak ada yang datang sama sekali?" ucap Kinara dalam hati bertanya tanya.
Fathan yang mulai berhasil menguras tenaga Kinara dan membuatnya tidak bisa berkutik lagi, lantas tersenyum dan perlahan mendekat ke arah telinga Kinara.
"Mau tahu satu rahasia? ruangan ku ini di desain kedap suara jadi tidak akan ada yang datang membantu mu kecuali aku!" bisik Fathan tepat di telinga Kinara, membuat Kinara yang mendengar hal itu tentu saja terkejut bukan main.
__ADS_1
"Tidak! aku tidak bisa berakhir dengan seperti ini!" ucapnya kemudian dalam hati.
Dengan mengumpulkan sisa sisa tenaganya Kinara lantas membenturkan kepalanya ke arah kepala Fathan, hingga membuat Fathan yang tidak siap akan hal itu langsung mundur beberapa langkah kebelakang sambil memegangi keningnya.
"Kau j*lang rendahan... akan ku buat kau menyesal telah menolak diriku!" teriak Fathan kemudian, sedangkan Kinara yang melihat ada celah, lantas langsung melompat bangkit namun ia kalah cepat karena tangan Fathan langsung dengan sigap menangkap kakinya kemudian menarik dengan brutal baju kemeja milik Kinara hingga kancing miliknya berhamburan ke mana mana.
Fathan yang sudah kesetanan lantas berusaha melucuti pakaian Kinara dengan brutal, sambil berusaha membuka rok Kinara dengan kasar hingga bagian sampingnya nampak sobek, namun belum sepenuhnya terbuka karena Kinara yang terus berusaha memberontak walau ia sudah kehabisan tenaga.
Tenaga Kinara benar benar sudah terkuras habis menghadapi tenaga Fathan yang besar, Kinara yang tidak ingin berakhir dengan menjadi pemuas laki laki di depannya ini, lantas mulai mencari sesuatu barang disekitar dan langsung memukulkan secara sembarangan ke arah Fathan.
Fathan yang mendapat pukulan tepat di kepalanya lantas oleng ke kanan membuat Kinara lantas bisa menggelinding dan bersiap untuk kabur.
"Kau pikir bisa kabur hanya dengan membuat ku seperti ini ha? kau kira kau siapa ha!" teriak Fathan sambil memegangi kaki Kinara dan menariknya lalu menghempaskan begitu saja.
Kinara berusaha melawan apa yang di lakukan oleh Fathan padanya, hingga kemudian ia mencoba menendang sekuat tenaga pusaka milik Fathan dengan keras lalu mengambil sesuatu apapun itu dan memukulkannya secara sembarangan ke arah Fathan kembali.
Bruk
Tubuh Fathan nampak terjatuh tak lama setelah itu terlihat darah segar mulai mengalir di sekitar tubuh Fathan, membuat Kinara lantas terkejut bukan main melihat pemandangan di depannya ini.
"Tidak mungkin dia mati bukan?" ucap Kinara dengan nada yang gemetaran.
Kinara terdiam sejenak tanpa melakukan apapun karena shock melihat Fathan bersimbah darah. Dengan tubuh yang gemetaran hebat Kinara lantas mulai mendekatkan dirinya ke arah tubuh Fathan dan mulai memeriksa denyut nadinya.
Kinara mencoba meraba denyut nadi Fathan namun tidak terasa apapun di sana, ia kemudian lantas sedikit menggeser tangannya siapa tahu karena saking terkejutnya ia salah tempat. Hanya saja meski ia telah menggeser tangannya dan mencari denyut nadi Fathan tetap saja tidak terasa.
__ADS_1
"Bukan aku yang membunuhnya..." ucapnya dengan lirih sambil terduduk lemas di sebelah tubuh Fathan yang tak bergerak sama sekali. "Aku tidak membunuhnya, bukan aku..." ucap Kinara lagi sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.
Bersambung