
Kinara yang terlihat frustasi di ruangan interogasi lantas langsung mendongak menatap ke arah pintu begitu terdengar suara pintu di buka dari luar. Manik mata Kinara nampak berkaca kaca ketika melihat kedatangan Rian di sana, perasaan takut yang semula memenuhi hatinya perlahan sedikit terangkat ketika melihat setidaknya seseorang yang ia kenal.
"Mereka memperlakukan mu dengan baik kan Ra?" tanya Rian ketika mendudukkan bokongnya pada kursi di depan Kinara.
Kinara yang mendapat pertanyaan tersebut ingin sekali berteriak dan mengatakan ia tidak sanggup menahan tekanan yang diberikan oleh mereka, hanya saja Kinara tidak bisa mengatakan hal itu. Pada akhirnya Kinara hanya bisa mengangguk namun dengan manik mata yang berkaca kaca, membuat Rian yang melihat hal itu lantas menghela nafasnya panjang. Hanya dengan melihat manik mata Kinara saja, Rian tahu bahwa Kinara di perlakukan tidak manusiawi oleh beberapa oknum kepolisian yang selalu menginginkan hasil dan jawaban, tanpa melihat apakah seseorang yang di berikan tekanan besar oleh mereka pelaku sebenarnya atau bukan.
Rian lantas meraba bagian bawah meja lalu menekan tombol di sana untuk mematikan rekaman yang terdapat di ruangan tersebut, kemudian menatap ke arah Kinara dengan tatapan yang serius.
"Tahanlah sebentar lagi Ra, aku tahu kamu tidak bersalah. Aku dan Kafeel akan segera mendapatkan buktinya, yang perlu kamu lakukan hanya bertahan sampai masa itu tiba." ucap Rian dengan raut wajah yang serius sambil menggenggam tangan Kinara dengan erat berusaha memberikan dorongan mental pada wanita di hadapannya itu.
"Apa yang harus aku lakukan jika mereka mendesak ku Yan?" tanya Kinara dengan putus asa.
"Tetaplah diam, apapun yang mereka tanyakan tetaplah diam. Jawablah seperlunya namun jangan sampai memancing spekulasi baru yang akan membuat mereka mencurigai mu." ucap Rian dengan nada yang mengingatkan.
"Apa kau yakin aku bisa melakukannya?" tanya Kinara dengan manik mata yang berkaca kaca karena Kinara merasa cobaan ini begitu berat untuk ia lalui.
"Kamu pasti bisa Ra, percayalah..." ucap Rian kemudian menyemangati Kinara.
"Terima kasih banyak" ucap Kinara sambil tersenyum ke arah Rian.
Hening sesaat, keduanya nampak sedang menyelami pikiran mereka masing masing. Sampai kemudian Rian kembali membuka pembicaraan antara keduanya.
"Ada satu hal yang membuat ku penasaran dan ingin sekali ku tanyakan padamu Ra." ucap Rian yang lantas membuat Kinara menatap dengan serius ke arah Rian. "Bukankah waktu itu kamu mengatakan bahwa asisten mu Irene sedang menunggu mu di lobi? namun mengapa di TKP hanya ada dirimu saja, kemana asisten mu itu pergi Ra?" tanya Rian dengan raut wajah yang penasaran.
__ADS_1
"Aku tidak tahu pastinya, hanya saja ketika aku menelponnya Irene hanya mengatakan di suruh mengambil sampel kain terbaru oleh pihak perusahaan. Namun sampai kejadian itu berlangsung aku sama sekali tidak melihat Irene lagi." ucap Kinara sambil mengingat ingat kejadian waktu itu karena jujur saja ia hampir melupakan Irene jika Rian tidak mengingatkannya.
Rian terdiam sejenak ketika mendengar ucapan Kinara barusan, bagi Rian tingkah laku Irene sangatlah mencurigakan. Bagaimana bisa Irene tidak kembali lagi setelah beberapa jam kemudian?
bukankah itu sedikit aneh?
"Ada yang mencurigakan dari asisten Kinara." ucap Rian dalam hati setelah mendengar penjelasan Kinara tentang asistennya Irene.
****
Perusahaan W Food
Setelah berita penangkapan tentang Kinara menyebar dengan luas, perusahaan W Food langsung mendapat pukulan telak tepat ketika perusahaan mereka mendapat berita berita jelek sekaligus rumor tentang bobroknya perusahaan W Food.
Warga net berbondong bondong membuat hastag di Twitter tentang #SaveKinara yang menjadi trending detik itu juga. Secepat itu pandangan masyarakat berubah hanya karena sebuah opini yang di giring ke kanan dan ke kiri oleh beberapa oknum tertentu. Bukankah warga net terlalu mudah berubah hanya dengan melihat satu sisi saja tanpa mengetahui kebenarannya?
Devan yang melihat serta mendapat berita bahwa sahamnya terus turun dan anjlok ke bawah menjadi sangat gelagapan mengatasinya. Kafeel benar benar terlalu cepat membalas pukulannya dengan telak, membuat Devan yang belum bersiap lantas langsung menerima pukulan itu tanpa persiapan apapun untuk mengatasinya.
Devan membanting semua yang ada di meja kerjanya dengan kesal, ia benar benar terlalu meremehkan Kafeel begitu saja. Baru saja ia bahagia karena berhasil memukul telak wanita yang Kafeel sayangi, namun nyatanya malah berakhir dengan dia yang mendapat serangan balik secara mendadak tanpa bisa ia tangkis sebelumnya.
"Kurang ajar kau Kaf!" teriak Devan dengan kesal yang membuat Rafi lantas mundur beberapa langkah karena takut terkena amukan Devan yang saat ini sedang tidak terkontrol.
"Jika aku keluar tuan Devan pasti akan marah tapi jika aku tetap ada di sini maka aku yang akan terkena pelampiasan kemarahannya." batin Rafi dalam hati.
__ADS_1
Suara deringan telpon duduk yang sudah menggantung di antara kursi dan meja membuat Devan dan juga Rafi langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Kuat amat tuh telpon sudah di banting masih bunyi aja..." batin Rafi dalam hati ketika mendengar suara telpon duduk tersebut.
Dengan kesal dan juga penuh amarah Devan mengangkat panggilan telpon tersebut dengan kasar.
"Halo!" ucapnya setengah berteriak tepat setelah ia menaruh telpon tersebut di telinganya.
"Kenapa suaramu terdengar sangat kencang begitu Dev? apa kau sedang bersenang senang saat ini?" ucap sebuah suara di seberang sana dengan nada yang meremehkan membuat raut wajah Devan yang semula sudah kesal menjadi merah padam ketika mendapat panggilan tersebut.
"Diam kau Kaf! jangan mengatakan apapun atau aku akan..." ucap Devan namun terpotong karena mendengar tawa Kafeel yang tiba tiba menggema di seberang sana.
"Atau apa? bukankah saat ini kita satu sama? kau kira aku tidak bisa membalas pukulan mu ha? jangan lakukan apapun atau aku akan membuatnya berakhir dengan skor lima dua. Kau pikir kau siapa bisa melakukan hal ini pada orang orang di sekitarku!" ucap Kafeel penuh dengan penekanan lalu menutup panggilan teleponnya begitu saja.
"Kau... halo... halo..." ucap Devan namun urung karena terdengar sambungan telpon terputus dari sana.
Setelah panggilan teleponnya mati Devan lantas menarik telepon duduk tersebut, lalu membantingnya dengan keras hingga menjadi beberapa kepingan yang hancur dan berserakan di lantai.
Rafi benar benar tidak bisa mencegah Devan kali ini, ia sama sekali tidak berani beranjak dari tempatnya.
"Habislah aku..." batinnya dalam hati ketika melihat kemarahan Devan tepat di depan matanya.
Bersambung
__ADS_1