Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta

Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta
Pabrik uang?


__ADS_3

Mall


Rencana awal Kinara menyuruh Delisha dan juga Nining mampir ke butik harus gagal karena Kafeel yang tiba tiba menjemputnya, Delisha dan juga Nining untuk pergi berbelanja ke mall membeli perlengkapan yang di butuhkan untuk pesta pernikahan.


Walau Kinara meminta yang sederhana namun bukan Kafeel namanya jika tidak memberikan yang terbaik untuk Kinara. Hampir seharian penuh mereka berempat berkeliling dan membeli beberapa pernak pernik yang menurut Kafeel cantik untuk di pakai Delisha dan juga Kinara, membuat Kinara hanya bisa pasrah sekaligus menurut semua pilihan Kafeel mengingat sifat Kafeel yang tidak ingin di bantah sama sekali.


"Ayo kita mampir ke sini untuk membeli gaun dan juga setelan jas couple pasti akan sangat lucu jika kita memakai baju yang seragam bukan?" ucap Kafeel dengan gembira sementara Delisha dan Nining hanya mengikuti langkah kaki Kafeel saja sedari tadi.


Kinara mendongak melihat papan reklame besar di atas pintu masuk, stand yang mereka masuki adalah salah satu brand ternama yang tentu saja baju baju yang ada di dalam harganya sangatlah fantastis. Entah mengapa Kinara lebih merasa ini sebagai pemborosan bukan berbelanja perlengkapan untuk pernikahan.


"Lihatlah sini Delisha, bukankah bajunya cantik seperti princess? apa kamu suka?" ucap Kafeel sambil menunjuk sebuah gaun dengan rok yang terdapat semburan mutiara mengelilingi gaunnya begitu berkilauan ketika terkena cahaya lampu.


"Suka om cantik" ucap Delisha dengan polosnya.


Kinara yang memperhatikan harga yang tertera dalam gaun tersebut lantas melangkah mendekat ke arah Kafeel untuk membisikkan sesuatu.


"Kaf ini berlebihan, sebaiknya kita pulang saja oke? mobil mu pasti sudah penuh dengan barang barang kami." ucap Kinara dengan nada yang berbisik.


"Tenanglah ini hanya sebagian kecil Ra, bukankah Delisha sangat menyukainya?" ucap Kafeel dengan nada yang santai.


"Permisi ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang karyawan yang datang mendekat ke arah mereka.


"Mbak tolong carikan gaun ini yang seukuran putri saya mbak." ucap Kafeel dengan tersenyum.

__ADS_1


"Baik, mari ikut saya dek." ucap karyawan tersebut dengan ramah sambil menuntun Delisha dan Nining untuk mengikutinya.


"Kaf kita pulang saja ya? lagi pula ini sudah sore dan aku lelah hem..." bujuk Kinara sepertinya hanya itu jalan satu satunya untuk menghentikan Kafeel menghamburkan uangnya.


"Kalau kamu lelah baiklah." ucap Kafeel pada akhirnya yang lantas membuat Kinara bernafas lega ketika mendengarnya." Mbak..." panggil Kafeel kemudian kepada salah satu karyawan di sana.


"Iya pak" ucapnya dengan sopan.


"Tolong bungkus baju untuk istri saya dari sini ke sini ya mbak, sekalian tolong carikan ukurannya." ucap Kafeel dengan nada yang datar.


Kinara yang mendengar hal itu tentu saja terkejut bukan main dan hanya menatap dengan tercengang ke arah Kafeel. Sedangkan karyawan tersebut yang mendapat perintah dari Kafeel lantas mulai mengajak Kinara untuk bertanya ukuran dan segera membungkusnya.


"Bu... bukan ini yang ku maksud Kaf! ini mah namanya pemborosan uang..." ucap Kinara dalam hati yang tentu saja tidak akan bisa di dengar oleh Kafeel. "Haruskah aku bersyukur atau malah tersungkur? jika Kafeel terus terusan melakukan pemborosan, bagaimana nanti aku mengatur keuangan keluarga?" ucap Kinara dengan raut wajah bingung namun masih tetap mengikuti langkah karyawan toko tersebut.


Setelah dari toko gaun, baik Kafeel maupun Delisha keduanya berwajah bahagia dan berseri kecuali Kinara yang sedari tadi sibuk berhitung. Pengeluaran Kafeel kali ini benar benar terlalu besar, dulu ketika ia jadi istrinya Geffie pun Kinara belum pernah di ajak jalan jalan atau menghamburkan uang seperti yang di lakukan Kafeel kali ini. Tapi tunggu, bukan itu yang harusnya jadi ke khawatiran Kinara. Kinara memikirkan kehidupannya ke depan, mampukah Kinara mengikuti arus kehidupan Kafeel yang bergelimang. Sejak awal Kinara sudah curiga Kafeel bukanlah orang biasa di tambah lagi dengan hari ini, yang jelas seorang pemilik gedung apartment pun tidak akan menghamburkan uangnya seperti yang di lakukan Kafeel, sebenarnya siapa Kafeel? rasanya seakan Kafeel mempunyai pabrik uang yang tidak akan habis walau ia menghamburkannya sebanyak apapun.


"Om boleh Delisha main itu." ucap Delisha kemudian yang langsung membuyarkan imajinasi Kinara yang sudah berkeliaran ke mana mana.


Kafeel yang mendengar permintaan Delisha barusan lantas menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Delisha, Kafeel tersenyum kala melihat Delisha meminta bermain di arena play ground.


"Pergilah, ingat jangan nakal dan dengarkan kata mbak. Bunda dan om akan menunggu kamu di bangku sana." ucap Kafeel kemudian sambil mengelus pelan rambut Delisha.


Delisha yang mendapat persetujuan lantas dengan bahagia langsung berlarian sambil menarik tangan Nining untuk mengikutinya ke arah yang ia mau.

__ADS_1


Setelah melihat Delisha memasuki arena play ground Kafeel mengajak Kinara duduk di bangku yang ditunjuknya tadi, sedangkan Kinara ia hanya pasrah mengikuti langkah kaki Kafeel tanpa bertanya ataupun menolak.


"Sudah tidak perlu di pikirkan, apa yang membuat mu gelisah sedari tadi?" tanya Kafeel sambil menatap ke arah Kinara yang berwajah aneh ketika menatapnya.


"Aku hanya berpikir..." ucap Kinara namun terpotong karena ia tiba tiba mendengar sebuah suara yang sangat tidak ingin ia dengar saat ini.


"Eh Kinara kebetulan sekali ya..." ucap sebuah suara yang lantas membuat Kinara langsung memutar bola matanya jengah dan berbalik menatap ke arah belakangnya.


"Oh hai kebetulan sekali ya" ucap Kinara dengan senyuman yang di buat buat.


"Ini Kafeel ya? mantan suaminya Nabila." ucap Fara dengan nada di buat buat seakan akan seperti tengah terkejut, sedangkan Kafeel hanya tersenyum sekilas nampak enggan untuk menanggapi karena ia tahu bahwa Fara adalah teman dari Nabila dan juga Kinara. "Aku tidak menyangka ya kalian berdua sungguh sungguh bersama, ku kira saat itu ucapan mu hanyalah tipuan Ra ternyata kau benar benar melakukannya. Aku bahkan benar benar terkejut loh Ra, ternyata kamu tidak sepolos yang ku kira ya?" imbuhnya lagi.


Kafeel menatap bingung ketika mendengar ucapan Fara. "Apa maksud sebenarnya ucapan Fara?" batin Kafeel bertanya tanya sambil terus memperhatikan interaksi keduanya.


Kinara nampak terdiam sejenak ia seperti berpikir namun juga bingung harus menanggapi bagaimana sindiran Fara barusan. Sampai kemudian sebuah ide nakal mulai terlintas di benaknya membuat Kinara lantas tersenyum ketika hendak melakukan aksinya.


"Mana mungkin aku main main, bukankah aku sudah mengatakannya? lagi pula aku lelah terus di tuduh baik oleh Geffie dan juga Nabila. Setelah ku pikir pikir Kafeel jauh lebih baik di banding dengan Geffie, kau pasti juga menyadarinya bukan tanpa perlu ku jelaskan?" ucap Kinara dengan nada yang di buat buat sambil merangkul tangan Kafeel dengan manja lalu mengelus pelan wajah Kafeel dan mengedipkan mata sebentar di sana, membuat Kafeel yang semula bingung lantas mulai ikut beraksi mesra setelah mendapat isyarat dari Kinara barusan.


"Oh seperti itu... iya juga sih ya hahaha, selamat untuk kalian ya... jangan lupa untuk mengundang ku jika kalian married itupun kalau kalian married hahaha." ucap Fara dengan nada yang mengejek.


"Oh tentu nantikan saja undangan dari ku." ucap Kinara lagi tak mau kalah.


Mendengar hal tersebut membuat Fara terdiam seribu bahasa tidak bisa lagi membalas Kinara. "Aku ke sana dulu ya, selamat berkencan untuk kalian berdua." ucap Fara kemudian yang di balas senyuman oleh Kinara, setelah itu Kinara melenggang pergi dari sana meninggalkan keduanya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2