
Setelah mengucapkan kata kata mutiaranya, Kafeel lantas terus melangkahkan kakinya lurus entah kemana sampai kemudian sebuah mobil dengan keluaran terbaru di susul dengan mobil van di belakangnya berhenti tepat di sebelahnya.
Kafeel yang melihat hal tersebut lantas tersenyum. "Untung dia datang tepat waktu, jika tidak aku bahkan sudah berniat menggantinya karena terlalu sering kecolongan." ucapnya dengan lirih sambil menatap ke arah Rendy yang terlihat turun dari mobil dan mendekat ke arahnya.
"Bos" panggil Rendy dengan nada yang sopan.
"Apa kau sudah membawa apa yang aku minta?" tanya Kafeel kemudian sambil menatap ke arah Rendy.
"Sudah bos mereka semua ada di dalam dan siap untuk beroperasi." jawab Rendy dengan tegas sambil menunjuk ke arah mobil van yang berhenti di belakang mobilnya, membuat Kafeel lagi lagi tersenyum puas akan hal itu.
"Bagus ayo jalan sekarang." ucap Kafeel sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil.
Setelah Kafeel masuk ke dalam mobil, Rendy lantas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan ibu kota untuk menyusul Rian dan juga Irene.
**
Beberapa menit mengendara dengan kecepatan full, tak jauh dari posisinya dari dalam mobil Kafeel melihat Rian tengah di keroyok beberapa orang, sedangkan Irene terlihat di seret paksa menuju ke arah mobil van yang tak jauh dari sana.
"Cih omong aja besar, lawan beberapa orang aja tepar." ucap Kafeel dengan nada yang meremehkan ketika melihat Rian kewalahan menangani beberapa orang sekaligus.
Ckit
Rendy sengaja menginjak rem mobilnya dengan sedikit tajam, hingga menimbulkan suara decitan yang cukup nyaring di telinga, membuat beberapa orang di luar yang tadinya ricuh menjadi diam seketika dengan tatapan yang bertanya tanya menatap ke arah mobil yang baru saja datang. Dengan perlahan Kafeel lantas turun dari mobilnya dan berjalan ke arah depan mobil sambil bersendekap dada.
__ADS_1
"Jauhkan tangan kotor kalian dari mereka berdua!" ucap sebuah suara dengan lantang yang langsung membuat beberapa pria berkemeja hitam tersebut saling pandang satu sama lain.
Hening beberapa saat setelah Kafeel mengatakan hal tersebut, sampai kemudian beberapa orang pria bertubuh kekar dengan menggenakan stelan jas yang rapi terlihat turun dari mobil van kemudian berjajar rapi di belakang Kafeel.
"Wow" ucap Rian tanpa sadar ketika melihat Kafeel yang terlihat keren di sana (berasa nonton bos mafia ya Yan?ðŸ¤)
"Black shadow!" ucap salah seorang yang sedari tadi menyeret dengan kasar Irene menuju ke dalam mobil.
Pria tersebut lantas melepaskan cengkraman tangannya pada Irene dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah Kafeel ketika mengenali beberapa pria dengan stelan jas tersebut.
"Akhirnya aku bisa melihat pemimpin dari Black Shadow, sungguh satu kehormatan aku bisa melihatnya. Hanya saja bukankah tampang mu dengan rumor yang beredar sangatlah berbeda jauh?" ucap pria tersebut sambil menatap meremehkan kepada Kafeel.
"Memang apa yang salah? apa aku terlihat lebih tampan?" ucap Kafeel dengan percaya dirinya, membuat Rian yang mendengar hal itu lantas memutar bola matanya jengah.
"Cih benar benar bermulut besar!" ucap pria tersebut dengan kesal ke arah Kafeel. "Kemari kau! pasti akan jadi sejarah yang besar jika aku bisa mengalahkan Black Shadow saat ini!" ucapnya lagi sambil menunjuk ke arah Kafeel yang tengah berdiri dengan gagahnya.
Kafeel yang mendengar ucapan pria tersebut hanya tersenyum kemudian memberikan perintah kepada anak buah yang kini sedang berdiri di belakangnya. "Urus dia!" ucap Kafeel dengan singkat yang langsung di balas anggukan oleh mereka.
Sesuai perintah dari Kafeel, beberapa anak buahnya lantas melangkah dengan bergegas menuju ke arah depan, perkelahian tak lagi bisa di hindari oleh kedua kelompok tersebut. Black Kobra melawan Black Shadow, benar benar pertarungan yang luar biasa di mana Black Shadow yang notabennya adalah kelompok geng bawah tanah yang terkenal harus berhadapan dengan curut curut kecil yang ingin menyamai kekuatan Black Shadow.
Di saat kedua kelompok tersebut sedang terlibat perkelahian yang imbang, Kafeel lantas melangkahkan kakinya ke arah mobil miliknya yang menabrak sebuah dahan pohon yang rindang.
"Oh Jerry nasib mu sungguh malang..." ucapnya sambil menghela nafas panjang mengelus mobil miliknya yang terlihat masih mengepulkan asap walau tidak banyak.
__ADS_1
Sedangkan Rian yang melihat kelakuan absurd dari Kafeel lantas berjalan dengan kesal lalu menarik tangan Kafeel.
"Harusnya yang kau tanya itu aku dan juga Irene bukan malah mobil mu!" ucap Rian dengan kesal sambil menatap tajam ke arah Kafeel yang saat ini masih menatapi mobilnya.
"Kenapa kau marah, nyatanya kau masih bisa berdiri bukan itu artinya no problem, lalu apa lagi yang ingin aku tanyakan padamu?" ucap Kafeel dengan santainya membuat Rian lantas melongo tepat ketika mendengar ucapan dari Kafeel barusan.
"Sudahlah bicara dengan mu tidak pernah ada habisnya." ucap Rian dengan kesal menyudahi perselisihan ini. "Benar benar menyebalkan!" imbuhnya lagi sambil memalingkan muka.
"Terserah apa katamu!" ucap Kafeel dengan ketus sambil melangkahkan kakinya ke arah Irene dan langsung mengajaknya masuk ke dalam mobil bersiap untuk menuju ke kantor polisi.
"Hei tunggu Kaf! lalu aku bagaimana?" teriak Rian ketika melihat Kafeel hendak melajukan mobilnya meninggalkan Rian di sana bersama dengan kedua kelompok yang masih beradu jotos itu.
Mendengar suara teriakan Rian barusan Kafeel lantas menurunkan kaca mobilnya dan menatap ke arah Rian. "Kau ikutlah dengan Rendy menyusul ke kantor polisi setelah Rendy mengurus mereka semua." ucapnya kemudian setelah itu langsung melesat meninggalkan Rian dengan tatapan yang masih tidak percaya ia benar benar di tinggal oleh Kafeel saat ini.
"Apa dia sedang balas dendam dengan ku karena tadi aku meninggalkannya? bukankah dia sendiri yang menyuruh ku untuk pergi? dasar kampret!" ucap Rian dengan kesal sambil masih menatapi laju mobil Kafeel hingga menghilang dari pandangannya.
Rian nampak menghela nafasnya panjang, ketika melihat kedua kelompok tersebut masih bertarung dengan imbang, tanpa menunggu pun Rian juga sudah tahu bahwa kedua kelompok tersebut tidak akan berhenti sebelum pemimpin mereka menyuruh untuk berhenti atau salah satu dari mereka terkapar.
"Benar benar anak buah yang rela maju demi bosnya!" ucapnya sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Kapan kita akan pergi Ren?" tanya Rian kemudian yang melangkah mendekat ke arah Rendy.
"Nanti jika sudah selesai." jawab Rendy dengan singkat.
"Sudahlah aku pergi sendiri saja kalau begitu!" ucap Rian pada akhirnya sambil melenggang pergi.
__ADS_1
Bersambung