
Nabila yang baru saja keluar dari rumah Geffie lantas langsung mendial nomer Luis di sana.
"Halo Bi." ucap sebuah suara di seberang sana.
"Apa kau sudah tahu di mana tempat tinggal Kafeel berada?" tanya Nabila langsung pada intinya.
"Aku belum menemukannya, tapi aku dapat informasi kalau Kafeel kini tengah berada di salah satu klub ternama di Jakarta." ucap Luis kemudian.
"Apa kau yakin? mencari tempat tinggalnya saja kau tidak tahu sampai detik ini, apalagi keberadaannya sekarang!" sindir Nabila yang tidak percaya dengan informasi yang di berikan oleh Luis.
"Aku tidak memaksa mu untuk percaya, semua tergantung padamu." ucap Luis dengan nada kesal.
"Baiklah baiklah aku akan ke sana!" ucap Nabila kemudian sambil mematikan panggilan teleponnya.
Setelah mendapatkan informasi dari Luis, Nabila kemudian lantas menyetop taksi dan bergegas langsung menuju ke tempat tersebut untuk bertemu dengan Kafeel.
**
Beberapa menit kemudian taksi yang ditumpangi Nabila berhenti di sebuah klub yang cukup di minati belakangan ini oleh kalangan muda maupun atas. Nabila kemudian lantas mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam, suasana klub benar benar pecah, meski kini termasuk masih siang hari, namun tempat tersebut sudah ramai diisi oleh kalangan muda yang haus akan hasratnya. Terdapat juga beberapa wanita yang berpakaian s*xy di sepanjang koridor siap melayani siapapun tamu yang menginginkan mereka.
Nabila menatap sekeliling mencari keberadaan Kafeel, namun tak kunjung menemukannya di manapun. Sampai kemudian langkahnya terhenti kala seorang pria dengan umur kira kira setengah abad, berperawakan pendek dan berperut buncit menghentikan langkah kakinya.
"Kau sudah datang rupanya sayang, abang sudah menunggu mu sangat lama. Meski harga mu sangat mahal, tapi aku cukup puas kala melihat penampilan mu yang sangat panas ini!" ucap pria tersebut sambil mencubit dagu Nabila.
Nabila yang mendengar hal itu tentu saja tidak mengerti dan berusaha pergi menjauh dari pria itu. Hanya saja, semakin Nabila berusaha pergi dari sana, pria itu lantas langsung menariknya ke arah lorong dan membawanya masuk semakin dalam.
"Apa yang kau lakukan? lepaskan aku lepaskan!" teriak Nabila meronta ronta, namun laki laki itu malah tertawa mendengar Nabila yang terus meronta.
__ADS_1
Nabila terus di seret pria tersebut masuk ke dalam, sepertinya pria itu akan membawa Nabila menuju kamar yang di sediakan klub ini untuk beberapa pelanggannya. Nabila yang mengetahui hal itu lantas terus memberontak, meskipun ia memiliki kelainan hiperseks tapi tentu bukan seperti ini cara penyalurannya.
"Kurang ajar kau Luis! lihat saja kalau aku menemukan mu." ucap Nabila dalam hati terus memaki Luis yang tega melakukan ini padanya, bukan berprasangka buruk atau apa? hanya saja Luis lah satu satunya orang yang saat ini jadi tersangka, apalagi mengingat Luis lah yang menunjukkan alamat klub ini padanya.
Nabila terus di seret hingga ke ambang pintu kamar dengan tawa menguar dari mulut pria itu, sampai kemudian sebuah suara yang di kenal oleh Nabila terdengar memenuhi lorong tersebut.
"Hentikan!" ucap Kafeel yang berjalan mendekat dari arah ujung lorong.
"Kafeel!" ucap Nabila dengan senyum mengembang karena ia tahu Kafeel pasti menolongnya.
"Siapa kau? jangan mengganggu kesenangan ku!" ucap pria tersebut.
"Aku menginginkan wanita itu!" ucap Kafeel datar pada pria tersebut.
"Aku membelinya mahal dan kau seenak jidat meminta wanita ini, tentu saja jawabannya tidak!" ucap pria tersebut.
Mendengar hal itu pria berperut buncit itu lantas tersenyum, seakan tak ingin membuang kesempatan pria itu lantas langsung membuka harga.
"800 juta!" ucap pria tersebut sambil tersenyum. "Dia tidak akan tahu kalau aku menambahkannya 2 kali lipat. Lumayan kan aku jadi untung." batinnya dalam hati.
Mendengar hal itu Kafeel tidak menjawab namun malah merogoh ponselnya menghubungi seseorang di sana.
"Ren kemarilah dan bawakan aku cek kosong, secepatnya!" ucap Kafeel kemudian mengakhiri panggilan teleponnya.
Tak perlu menunggu waktu lama, beberapa menit kemudian Rendy nampak datang dan berjalan mendekat ke arah Kafeel berada. Kafeel membubuhkan tanda tangan dalam cek tersebut yang tertulis nominal 800 juta di sana lalu memberikannya kepada pria itu.
"Begini lebih baik." ucap pria tersebut kemudian melenggang pergi dari sana.
__ADS_1
Mendapat perlakuan yang heroik dari Kafeel membuat kepalanya semakin besar dan berbunga. Seulas senyum tak henti hentinya surut dari wajah Nabila, hanya saja Nabila yang tadinya mengira Kafeel akan datang kepadanya lalu menggendongnya ala ala pahlawan di novel novel. Harus menelan pil pahit kala melihat Kafeel malah pergi dan meninggalkannya sendiri di sana.
Melihat kepergian Kafeel tentu saja Nabila langsung bangkit dan mengejar Kafeel, karena tujuannya kesini memang hendak bertemu dengan Kafeel.
"Berhenti dulu Kaf!" teriak Nabila sambil terus mengejar Kafeel, namun Kafeel terus melangkah dan tak menghiraukan Nabila sama sekali.
Nabila yang tak pantang menyerah lantas terus mengejar langkah kaki Kafeel hingga ke parkiran.
"Berhenti ku bilang Kaf!" ucap Nabila kemudian sambil memegang lengan Kafeel agar berhenti.
"Ada apa lagi?" tanya Kafeel kemudian.
"Aku sudah tahu semuanya Kaf, harusnya kamu bilang sedari awal, jadi masalahnya tidak akan serumit ini." ucap Nabila sambil menggerakkan jari tangannya dari kancing baju bagian atas Kafeel hingga bawah.
"Apa apaan kau ini!" ucap Kafeel sambil menghempaskan tangan Nabila dari kemejanya. "Lagipula apa yang kau tahu?" tanya Kafeel kemudian.
"Tak perlu malu Kaf, aku tahu kamu mendekati Kinara agar aku cemburu bukan? cara itu sangat klasik Kaf tapi aku suka. Untung saja Geffie mengatakannya kalau tidak... mungkin aku akan salah paham terhadap mu." ucap Nabila dengan senyum seperti orang bodoh.
Kafeel yang mendengar hal itu hanya tersenyum tipis, Kafeel benar benar tidak menyangka Nabila akan senarsis ini. Kini hanya satu pertanyaan yang terus berputar di benaknya. Apakah dia benar benar wanita yang kucintai segenap raga ku dulu?
"Jangan mimpi kamu! hubungan kita sudah berakhir dan sekali berakhir tidak ada kata dua kali atau tiga kali bagi seorang Kafeel." ucap Kafeel dengan nada yang sinis.
"Sudahlah Kaf jangan terus bermain, kamu kira aku akan percaya setelah apa yang kamu lakukan pada ku barusan." goda Nabila kemudian.
"Jangan salah paham, aku menolong mu hanya karena rasa kemanusiaan tidak lebih. Jangan berpikir berlebihan karena antara aku dan dirimu semuanya sudah berakhir." ucap Kafeel kemudian. "Oh satu hal lagi yang perlu kau tahu, aku mendekati Kinara bukan karena dirimu. Dilihat dari sudut pandang manapun Kinara bahkan jauh lebih baik daripada dirimu!" imbuhnya kemudian melenggang pergi dari sana dan masuk ke dalam mobilnya.
Bersambung
__ADS_1