
Kinara melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota untuk pulang ke rumahnya sebentar, bukan untuk bertemu Geffie atau bahkan kembali padanya, kepulangan Kinara hanya ingin mengambil laptop miliknya yang tertinggal di kamarnya. Sebenarnya Kinara enggan sekali untuk kembali dan bertemu Geffie, mengingat hari ini adalah weekend yang tentu saja dapat di pastikan bahwa Geffie akan ada di rumah kali ini, dan kemungkinan terbesarnya mereka akan bertemu.
Mobil Kinara berhenti tepat di halaman rumahnya. Tanpa basa basi dan ingin segera pergi dari sana, Kinara lantas langsung turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah. Hanya saja tepat di ambang pintu depan, langkahnya lantas terhenti kala melihat sesuatu hal yang tak di duga olehnya.
"Aku bilang hentikan! bagaimana kalau Kinara tiba tiba pulang?" tanya Geffie kala melihat Nabila terus gencar memberikan serangan.
"Kinara tidak akan datang Gef, aku tahu Kinara sudah tidak pulang tiga hari belakang ini bukan? jadi tidak ada alasan lagi bagi Kinara tiba tiba muncul di sini." ucap Nabila tak mau kalah.
Mendengar percakapan keduanya Kinara hanya terdiam di balik pintu, setetes air mata nampak turun dari matanya perlahan dan membasahi pipinya, namun Kinara dengan gerakan cepat langsung mengusapnya secara kasar.
"Kau harus kuat Kinara! demi Delisha." batin Kinara dalam hati.
Beberapa menit Kinara berdiam diri di sana, suasana di dalam nampak hening. Sedikit perasaan lega mulai timbul di hati Kinara kala mengira Geffie benar benar sudah berubah dan menolak Nabila. Namun semua angannya langsung dipatahkan oleh ekspetasi karena perlahan suara d*s*han dan hisapan dari keduanya mulai terdengar.
Bohong rasanya kalau Kinara bilang baik baik saja, perasaannya kembali hancur kala lagi lagi melihat Geffie tengah bercumbu dengan sahabatnya sendiri.
"Kenapa rasanya masih saja sakit? bukankah aku sudah merelakannya?" ucap Kinara dengan tangis tanpa suara sambil memukul mukul dadanya pelan yang terasa sesak di sana.
Kinara menutup kedua telinganya kala d*s*han demi d*s*han terdengar memenuhi kedua telinganya, membuat suara itu terus berulang dan membekas di pikiran Kinara.
"Dasar binatang!" ucap Kinara dengan bibir yang bergetar.
Kinara mengusap air matanya yang kini kembali turun dan membasahi pipinya. Ditatanya hati dan pikirannya untuk bisa tenang dan tidak terlihat hancur. Setelah itu dengan tekad yang bulat, Kinara mulai melangkah menerobos masuk tanpa memperdulikan dua insan yang tengah bercinta di ruang tengah.
Bruk
__ADS_1
Suara pintu di tutup cukup keras, lantas menghentikan gerakan Geffie yang sedang bermain di daerah intim milik Nabila.
"Kinara!" ucapnya lirih dan hendak bangkit namun Nabila malah menahannya dan kembali memberikan kecupan pada dada bidang milik Geffie, membuat Geffie kembali hanyut dan jatuh ke dalam permainan Nabila.
Sementara Kinara yang sudah berada di kamar, lantas langsung mencari keberadaan laptopnya lalu keluar dari sana secepat mungkin tanpa menatap ataupun melirik kelakuan suaminya.
Geffie yang memang sedang dalam posisi menc*mb* Nabila, lantas langsung terkejut kala melihat Kinara lewat begitu saja di belakang sofa ruang tengah.
"Kinara!" panggil Geffie dengan spontan dan langsung melompat hendak mencegah Kinara untuk pergi.
Kinara yang mendengar panggilan itu mencoba untuk terus melangkah dan enggan menatap suaminya.
"Berhenti Ra kumohon!" ucap Geffie sambil memegang tangan Kinara sehingga menghentikan langkah kakinya.
"Ada apa?" ucap Kinara datar sambil menatap ke arah yang lain, seperti tidak mau menatap manik mata suaminya itu.
"Bisa mengatur jadwal terlebih dahulu, ketika aku belum datang kau bersamanya dan nanti ketika aku datang kau bersama ku. Wah hebat sekali suami ku ini!" sindir Kinara dengan tawa kecil pada ucapannya.
"Bu.. bukan begitu. Maksud ku aku bisa menyediakan segalanya, ini weekend bukan? Delisha pasti senang jika kita pergi jalan jalan." ucap Geffie sambil tersenyum.
"Cukup, hentikan mas! kau tidak lihat penampilan mu sekarang? kau bahkan tidak bisa menjaga milik mu tapi kemarin kau malah dengan lantangnya menuduh ku bercinta dengan Kafeel. Apakah kemarin kata katamu adalah sebuah cermin yang kau tunjukkan untuk dirimu sendiri?" ucap Kinara dengan lantang membuat Nabila yang tadinya diam menikmati pertengkaran keduanya, lantas cukup terkejut kala mendengar nama Kafeel di sebut dalam pertengkaran mereka.
"Apa hubungannya Kafeel dengan Kinara?" batin Nabila bertanya tanya.
"Ini salah paham Ra!" ucap Geffie lagi masih tidak mau mengalah.
__ADS_1
"Dari pada kamu terus mengatakan salah paham, sebaiknya pakai celana mu dulu. Tidak ada orang yang akan percaya bahwa ini adalah kesalahpahaman, ketika kau bahkan saat ini berdiri tanpa sehelai benangpun!" ucap Kinara dengan nada yang datar.
Geffie yang mendengar hal itu lantas langsung melihat dirinya, Geffie cukup terkejut kala mendapati dirinya tidak memakai apapun saat ini. Geffie kemudian lantas berlari ke sofa ruang tengah dan mengambil pakaiannya.
Kinara yang melihat Geffie buru buru memakai pakaiannya, lantas langsung melengos dan pergi dari sana. Sedangkan Geffie yang melihat kepergian Kinara lantas hendak mengejarnya namun keburu di cegah oleh Nabila.
"Katakan ada hubungan apa Kinara dengan Kafeel!" ucap Nabila kemudian sambil memegang tangan Geffie.
"Lepaskan Bi, aku harus mengejar Kinara." ucap Geffie dengan nada tegas.
"Tidak akan sebelum kamu menjelaskannya." ucap Nabila dengan kekeh.
"Aku tidak tahu hubungan Kinara dan Kafeel apa, yang jelas mereka berdua kini tengah dekat. Apa kamu puas? kalau begitu sekarang lepaskan tangan mu!" ucap Geffie kali ini dengan gerakan sedikit menghempas Nabila agar melepaskan tangannya, kemudian melenggang pergi dari sana mencoba mengejar Kinara.
Nabila yang melihat kepergian Geffie lantas hanya diam mematung mencerna semua ucapan Geffie barusan. Bayang bayang sikap dingin Kafeel sebelum perceraian mereka resmi mulai berputar di kepalanya. Seakan menjawab rasa penasaran Nabila akan sikap Kafeel yang berubah dingin kepadanya.
"Jadi kalian semua ingin membalas ku? kita lihat saja siapa yang akan terluka kali ini karena aku tak akan diam dan menanggung kekalahan ku sendiri!" ucap Nabila dengan nada penuh penekanan.
**
Mobil Kinara
Kinara melajukan mobilnya dengan wajah yang datar, beberapa kali air matanya nampak turun namun langsung diusap kasar oleh Kinara. Tidak ada lagi isak tangis yang menyertai kala melihat Geffie bercumbu dengan Nabila, mungkin kini hatinya sudah kebal melihat semua itu. Meski belum sepenuhnya sembuh, tapi perlahan hati Kinara mulai menerima perlakuan Geffie padanya.
"Delisha lebih membutuhkan ku dan akan selalu menjadi prioritas ku, semangat Kinara kamu pasti bisa." ucap Kinara pada diri sendiri sambil terus melajukan mobilnya kembali ke butik.
__ADS_1
Bersambung