Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta

Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta
Dosa apa?


__ADS_3

"Ren aku ingin bertanya sesuatu padamu, kemana kamu waktu kejadian itu berlangsung? kenapa kamu tidak kembali juga? apa kamu sempat bertemu dengannya sebelum aku sampai di sana?" tanya Kinara dengan to the point karena waktu yang ia miliki tidaklah banyak.


Mendengar pertanyaan demi pertanyaan dari Kinara membuat Irene lantas menjadi gugup seketika. Irene benar benar bingung harus menjawab apa pertanyaan dari Kinara barusan.


"Saya... saya..." ucap Irene dengan tergagap membuat Kinara lantas di buat semakin bingung ketika mendengar ucapan Irene yang terus mengulang kata saya.


"Waktu ku tidak banyak Ren, saya harap kamu bisa mengatakannya dengan jujur sebelum terlambat. Saya harus segera pulang Delisha membutuhkan saya di rumah, jika kamu tahu sesuatu katakanlah pada saya sekarang." ucap Kinara yang kali ini dengan nada yang lebih rendah dan memohon.


Nampak hening seketika, suara Irene benar benar menghilang dari sana namun dengan panggilan telpon yang masih tersambung.


"Hei kau saatnya kembali ke sel mu!" teriak seorang polisi laki laki sambil bangkit berdiri mendekat ke arah Kinara.


"Ren ku mohon katakanlah sesuatu..." ucap Kinara lagi dengan lembut, Kinara tahu ada sesuatu yang Irene tutupi darinya sehingga ia terus berusaha membujuk Irene sedari tadi untuk berbicara, Kinara tahu Irene bukanlah orang jahat maupun seseorang yang akan mempermainkannya.


"Saya yang melakukannya bu!" ucap Irene pada akhirnya dengan nada yang setengah terisak.


"Apa?" ucap Kinara terkejut seakan tidak percaya dengan pendengarannya barusan.


"Saya terpaksa melakukannya bu... saya benar benar terpaksa.... saya juga tidak tahu kalau akhirnya akan begini... saya benar benar minta maaf hiks hiks..." ucap Irene yang tak kuat lagi menahan tangisannya.


"Bagaimana bisa kamu..." ucap Kinara namun terputus karena salah seorang polisi lantas menarik kasar dirinya, hingga membuat telpon yang semula ia pegang jatuh begitu saja membentur meja.


"Sudah cukup! masuk ke sel mu sekarang!" sentak Lila yang mengetahui bahwa Kinara malah sedang asyik menelpon di sana.


"Tunggu sebentar bu... saya belum selesai..." ucap Kinara hendak menolak namun gagal karena tubuhnya langsung di dorong keras oleh Lila agar pergi dari sana.


Dengan perlakuan yang kasar Lila lantas memasukkan kembali Kinara ke dalam sel lalu menguncinya.


"Buka pintunya bu... saya belum selesai berbicara... bu" panggil Kinara dengan nada yang menggema hingga memenuhi ruangan tersebut.

__ADS_1


"Diam kamu!" sentak Lila kemudian yang lantas membuat Kinara langsung terdiam ketika mendengar sentakan dari Lila barusan.


Kinara menjambak rambutnya frustasi sambil berjalan ke kanan dan ke kiri secara bolak balik, sambil memikirkan cara agar Kafeel atau Rian dapat mengetahui fakta ini.


Buk


Suara sesuatu di pukul dengan keras lantas membuat Kinara menoleh ke arah sumber suara, sepertinya dua orang polisi yang sedari tadi menjaganya kini tengah di berikan teguran keras oleh Lila. Membuat Kinara yang menyaksikan semua itu lantas merasa kasihan pada nasib dua orang polisi tersebut yang kini sedang terlihat menerima hukuman dari Lila.


Lila menendang kaki salah seorang polisi tersebut dengan keras, namun polisi tetap berusaha berdiri dengan tegak dan tidak limbung ke bawah. Lila menatap keduanya dengan tatapan yang tajam.


"Kau kira di sini adalah wartel ha? apa yang kau pikirkan?" ucap Lila dengan berteriak membuat suaranya menggema di ruangan tersebut.


"Maaf bu" ucap polisi itu dengan tegas sambil menatap lurus ke depan.


"Katakan sekali lagi!" ucap Lila dengan tegas.


"Maaf" teriak polisi tersebut.


"Jangan berulah di sini, ini kantor polisi bukan kerajaan tuan putri!" ucapnya dengan nada yang menyindir Kinara kemudian melenggang pergi dari sana.


Mendengar hal itu Kinara benar benar terdiam, ia tidak mengerti kenapa Lila sangat sinis kepadanya. Apa semua pelaku pembunuhan selalu di perlakukan seperti ini? Kinara menatap kepergian lila dengan tatapan yang sendu hingga menghilang dari pandangannya.


"Dosa apa yang pernah aku lakukan padanya? kenapa dia seperti itu?" batin Kinara dalam hati sambil terus menatap kepergian Lila dari sana hingga menghilang dari pandangannya.


*****


Sementara itu Kafeel dan juga Rian sampai di sebuah rumah kontrakan tepat malam harinya, bukan karena daerahnya yang jauh atau apa. Hanya saja kepergian keduanya berbarengan dengan jam kerja berakhir atau kepulangan karyawan, jadilah keduanya harus terjebak macet selama berjam jam.


Tidak hanya itu bahkan keduanya sempat ke sasar beberapa kali karena letak rumah Irene yang masuk ke dalam gang, membuat Kafeel harus memutar balik berkali kali untuk mencari keberadaan rumah Irene.

__ADS_1


"Harusnya aku saja tadi yang menyetir, lihatlah hari sudah gelap karena kau terlalu lama dan terus menerus kesasar." gerutu Rian setelah Kafeel memarkirkan mobilnya dan keluar dari sana.


"Diam lah, kau itu berisik sekali!" ucap Kafeel dengan kesal sambil terus melangkah mendekat ke arah pintu rumah kontrakan tersebut.


"Cih dasar" ucap Rian dengan tatapan yang sinis namun masih tetap mengikuti langkah kaki Kafeel yang mendekat ke arah rumah kontrakan itu.


Tok tok tok


Ketuk Kafeel secara perlahan pada sebuah pintu rumah kontrakan.


Tok tok tok


"Apa ada orang?" ucap Kafeel dengan nada setengah berteriak karena tidak kunjung ada jawaban dari dalam rumah tersebut.


Ketika Kafeel sedang sibuk mengetuk pintu rumah, Rian lantas sedikit melipir dan mencoba melihat ke arah dalam rumah kontrakan tersebut dari kaca jendela rumah.


Dari kaca jendela samar samar Rian seperti melihat lampu bagian tengah yang menyala, membuat dirinya curiga Irene tengah bersembunyi di dalam sana. Rian yang mengetahui hal itu lantas menarik tangan Kafeel agar menghentikan aksinya sambil menunjuk ke arah jendela pintu rumah kontrakan tersebut dengan bahasa isyarat.


Kafeel yang melihat hal itu langsung terdiam seketika, seakan mengerti bahasa isyarat yang di berikan oleh Rian. Keduanya lantas langsung pergi dari rumah kontrakan itu sedikit menjauh dari sana.


"Bagaimana menurut mu?" tanya Kafeel kemudian menatap ke arah Rian.


"Dia tidak akan mau keluar jika kita terus mengetuk pintu rumahnya seperti itu, sepertinya dia tahu maksud kedatangan kita kesini." ucap Rian sambil menatap ke arah rumah kontrakan tersebut.


"Jika begitu kita harus lakukan sesuatu." ucap Kafeel kemudian dengan tersenyum smirk membuat Rian lantas langsung menatap ke arahnya dengan tatapan yang bingung sekaligus penasaran.


"Kau tidak akan menyuruh ku untuk membobol rumah orang bukan?" ucap Rian dengan tatapan yang curiga ke arah Kafeel.


"Tergantung" ucapnya dengan singkat membuat Rian lantas menatapnya dengan tajam.

__ADS_1


"Wah sakit lo!" ucap Rian kepada Kafeel sambil menggeleng gelengkan kepalanya dengan heran.


Bersambung


__ADS_2