Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta

Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta
Aku akan mencoba menerimanya


__ADS_3

Kediaman Kinara


Pagi ini adalah hari pertama Delisha masuk ke sekolahan barunya. baik Delisha dan juga Nining sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah. Kinara memasukkan satu persatu bekal Delisha dan juga Nining pada sebuah tote bag agar mudah untuk di bawa.


"Delisha semangat ya sekolahnya." ucap Kinara menyemangati putrinya itu.


"Tentu saja bunda" ucap Delisha dengan tersenyum manis membuat Kinara langsung mengusap rambut putrinya itu dengan gemas..


"Kami berangkat dulu ya bu." ucap Nining kemudian pamit.


"Iya hati hati..." ucap Kinara sambil melambaikan tangannya melepas kepergian keduanya.


Setelah berpamitan dengan Kafeel baik Delisha dan juga Nining lantas mulai berjalan keluar dari rumah, ketika membuka pintu rumah betapa terkejutnya Nining dan juga Delisha ketika melihat Kafeel tengah tertidur di teras depan.


"Om Kafeel mbak" tunjuk Delisha ke arah Kafeel yang tengah tertidur.


"Stttt jangan berisik nanti om Kafeel nya bangun." ucap Nining memberikan isyarat kepada Delisha untuk diam dan melanjutkan langkahnya.


Delisha yang mendapat isyarat tersebut dari Nining lantas mengangguk sambil memberikan jempol kemudian melangkah dengan pelan dan melenggang pergi dari sana meninggalkan Kafeel yang masih tertidur di sana.


**


Sementara itu Kinara yang penasaran karena sudah tidak lagi mendengar suara cerewet putrinya, lantas mulai melangkah keluar untuk mengecek apakah Nining dan juga Delisha sudah benar benar berangkat atau belum.


"Tumben sepi..." ucap Kinara sambil melangkah keluar.


Kinara yang semula hanya ingin mengecek kepergian Delisha dan juga Nining, lantas menghentikan langkahnya ketika melihat Kafeel yang sedang tertidur di teras depan, dengan posisi yang tidak enak dan pastinya akan terasa sakit semua ketika ia bangun nantinya.

__ADS_1


"Kenapa aku jadi kasihan melihatnya seperti itu?" ucap Kinara kemudian sambil terus menatap ke arah Kafeel yang tengah tertidur saat ini. "Haruskah aku membangunkannya?" ucap Kinara dengan wajah seperti tengah menimbang keputusan apa yang akan ia buat.


Beberapa menit berpikir membuat Kinara kemudian lantas memutuskan untuk melangkah mendekat ke arah Kafeel dan membangunkannya. Kafeel yang sedang asyik tertidur walau di tempat yang tidak nyaman seperti itu, lantas di buat terkejut ketika tiba tiba merasa ada goncangan yang langsung membangunkannya dari tidurnya.


"Masuklah ke dalam cuci muka mu lalu sarapan!" perintah Kinara dengan nada yang datar kemudian melenggang pergi dari sana.


Kafeel yang mendengar seruan itu awalnya sedikit terkejut karena ia pikir ini hanyalah sebuah mimpinya. Namun setelah ia mengucek matanya berulang kali barulah sia sadar bahwa yang barusan bukanlah sebuah mimpinya. Seulas senyum lantas langsung terbit dari wajah tampannya itu ketika dirinya baru tersadar tentang situasi yang sedang terjadi saat ini.


"Tunggu aku Ra!" panggil Kafeel kemudian dengan nada yang riang gembira mengikuti langkah kaki Kinara masuk ke dalam rumah.


****


Kediaman Ratih


Baik Ratih, Rian dan juga Adhitama kini sedang berkumpul di meja makan menikmati sarapan mereka dalam keheningan. Tidak ada yang memulai pembicaraan di sana, ketiganya seakan hanyut dan menyelami pikirannya masing masing sambil terus menikmati sarapan mereka.


"Setelah ini mandilah mas, di dalam ada baju milik Rian dan kamu bisa memakainya" ucap Ratih yang lantas membuat Adhitama langsung menatap ke arah putra yang baru ia ketahui keberadaannya itu dengan seksama, Adhitama memperhatikan gerak gerik Rian karena ia penasaran ekspresi apa yang akan Rian tunjukan saat ini.


"Apa dia sudah berubah pikiran? kenapa tenang sekali?" ucap Adhitama dalam hati sambil sesekali melirik ke arah Rian.


"Anda bisa menggunakan pakaian ku yang ada di lemari, terima kasih ma atas makanannya aku pergi dulu." ucap Rian menyudahi sarapannya kemudian bangkit berdiri membuat Ratih dan juga Adhitama menatap dengan bingung ke arahnya.


"Mau kemana kamu?" tanya Ratih dengan penasaran.


"Aku mau ke supermarket sebentar ada barang yang harus aku beli, kalian berdua lanjutkan saja sarapannya." ucap Rian lagi kemudian melangkah pergi dari sana.


Setelah kepergian Rian dari meja makan suasana hening kembali tercipta di sana, sepertinya Adhitama tengah merangkai kata kata saat ini.

__ADS_1


"Maafkan aku bu... aku benar benar tidak tahu tentang apa yang terjadi selama ini padamu termasuk dengan Rian." ucapnya dengan nada yang lirih namun masih bisa terdengar oleh Ratih.


"Sudahlah lagi pula itu hanya masa lalu, kamu tidak bersalah dalam keretakan rumah tangga kita di masa lalu, jadi jangan terus mengucap kata maaf seakan akan kamu yang menanggung segala kesalahannya." ucap Ratih dengan lembut.


"Tapi aku juga bersalah bu karena tidak mencoba mencari tahu tentang yang sebenarnya dan hanya hanyut pada kehancuran kala itu." ucap Adhitama lagi.


"Jangan lagi mengatakan kata maaf karena aku tidak ingin mendengarnya, sekarang kita sudah tidak lagi muda mas... anak anak sudah besar, jadi tidak perlu lagi membahas masa lalu terus menerus seperti ini karena itu akan melukai Rian nantinya." ucap Ratih lagi.


"Ya kau benar, aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidup kalian selama ini. Aku paham mengapa Rian sangat membenci ku, tapi aku tidak akan pernah menyalahkannya akan rasa itu karena akulah yang bersalah di sini, aku tidak bisa tegas sebagai pemimpin dalam rumah tangga." ucap Adhitama dengan nada yang sendu.


"Mas sudah ku bilang jangan terus terusan menyalahkan dirimu sendiri karena aku tidak menyukai hal itu." ucap Ratih lagi.


"Jadi apa kamu sudah memaafkan ku sekarang?" tanya Adhitama kemudian dengan raut wajah yang penasaran menanti jawaban dari Ratih.


"Aku tidak pernah bilang tidak memaafkan mu, bukankah tadi aku sudah bilang ini semua bukanlah kesalahan mu?" ucap Ratih dengan nada yang datar. "Hanya saja jangan lagi lagi membuat keributan seperti semalam, kau tahu karena mu dan juga Kafeel aku bahkan sampai di hubungi oleh ketua Rt yang mengira kalian berdua adalah pengganggu." ucap Ratih dengan nada yang kesal.


Mendengar hal itu seulas senyum terlihat terbit dari wajah Adhitama, ternyata selama ini Ratih tidaklah membencinya seperti yang ada di pikirannya.


"Terima kasih banyak bu... terima kasih... aku janji tidak akan seperti itu lagi." ucap Adhitama dengan raut wajah yang bahagia.


***


Sementara itu tanpa keduanya sadari sebenarnya Rian belum benar benar pergi dari sana. Rian yang memang menghentikan langkahnya dan bersandar di balik tembok depan rumahnya lantas tersenyum ketika mendengar percakapan kedua orang tuanya itu.


"Aku akan mencoba menerimanya, lagi pula ini bukanlah kesalahan Adhitama sepenuhnya. Jadi aku tidak punya hak jika menghakiminya seperti itu." ucap Rian kemudian melenggang pergi dari sana.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2