
"Sekali lagi ku peringatkan pada mu jangan sentuh Kinara dengan tangan kotor mu itu!" teriak Kafeel kemudian dengan nada yang menggelegar dan memenuhi ruangan tersebut.
Ardi yang tersungkur ke lantai, lantas langsung terdiam kala nama Kinara terucap dari mulut pria yang memukulinya itu.
"Kinara?" ucap Ardi dengan nada yang terkejut.
Kafeel yang mendengar hal itu lantas tersenyum sambil mengangkat sedikit dagu Ardi lalu menepuknya berulang kali.
"Kenapa kau nampak sangat terkejut? bukankah pesona Kinara sangatlah luar biasa sampai kau saja yang bangkotan ingin menjamahnya juga? hanya saja aku dan kau adalah dua hal yang berbeda! bahkan perbedaanya sangatlah jauh. Aku mencintainya tulus tapi kau mencintainya karena nafsu, bukankah begitu?" ucap Kafeel sambil menepuk dagu Ardi berulang kali kemudian menghempaskannya ke lantai.
Di tendangnya tubuh Ardi yang masih terikat di kursi berulang kali hingga memuntahkan darah segar dari mulutnya.
"Ampun... maafkan aku..." ucap Ardi kemudian dengan terbata.
Mendengar hal itu Kafeel lantas menghentikan gerakannya dan berjongkok menatap ke arah Ardi.
"Memaafkan mu? tentu tidak semudah itu pak tua. Kau pikir kau siapa bisa mengaturku ha?" teriak Kafeel tepat di telinga Ardi.
"Jika kau... tidak ingin melepaskan ku... dengan semudah itu... bunuh saja aku langsung jangan menyiksa ku seperti ini..." ucapnya lagi dengan merintih kesakitan.
Mendengarnya saja membuat Kafeel menjadi enek apalagi mengingat tingkahnya yang menyakiti Kinara membuat Kafeel seribu kali lipat membencinya. Kafeel yang teringat bagaimana luka Kinara, lantas kembali menendang kursi yang terikat kuat di tubuh Ardi, hingga membuatnya terombang ambing dan kesakitan.
"Ada satu hal yang harus kau lakukan untukku." ucap Kafeel kemudian dengan tersenyum menyeringai.
Mendengar ucapan Kafeel barusan, Ardi seperti mendapat oase di gurun pasir yang tandus. Ardi kemudian lantas langsung bringsut dan mendekat ke arah kaki Kafeel.
__ADS_1
"Sa..ya akan mela..kukannya tuan.." ucapnya dengan terbata.
"Tentu saja harus!" ucap Kafeel sambil tersenyum menyeringai ke arah Ardi.
******
Malam harinya
Kinara tidak bisa tidur karena merasakan sedikit nyeri di sekujur tubuhnya. Kinara kemudian lantas bangkit dan menuju ke arah dapur untuk meminum obat pereda nyeri di sana.
Setelah meminum obat, Kinara lantas mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu. Hening dan kesunyian malam menemaninya malam itu. Pikiran Kinara kemudian lantas melayang membayangkan kejadian demi kejadian yang di alaminya tadi siang. Kinara benar benar tidak menyangka bahwa Ardi tega melakukan hal itu padanya.
Bagi Kinara, Ardi merupakan sosok ayah mertua yang ramah dan juga baik hati, ia bahkan belum pernah menemui sosok ayah mertua seperti Ardi. Memang Kinara dan Geffie jarang sekali berkunjung ke rumah mertuanya karena kesibukan keduanya membuat mereka jarang berkunjung. Namun sejauh ingatan Kinara yang menelisik kembali memorinya, tidak ada tanda tanda apapun yang membuat dirinya mencurigai Ardi akan melakukan hal semacam itu.
Kinara menghela nafasnya berkali kali, semakin ia menggali memorinya dan mencari letak mencurigakan mertuanya, semakin membuat kepalanya menjadi pusing. Mungkin Kinara selama ini terlalu acuh hingga tak menyadari perhatian kecil yang di berikan ayah mertuanya hanyalah sebuah kedok untuk dekat dengannya.
********
Keesokan paginya
Ardi di lepaskan begitu saja, Ardi terbangun di salah satu kamar villa yang Ardi sendiri tidak tahu di mana keberadaannya. Ia kemudian lantas bergegas bangkit dan mencari jalan keluar dari sana. Kondisi villa saat itu kebetulan sedang kosong, hingga Ardi bisa dengan mudahnya kabur dari sana.
"Aku harus segera pergi dari sini!" ucap Ardi kemudian sambil melenggang pergi dari sana.
Ketika sampai di depan, Ardi cukup dibuat terkejut kala melihat mobil miliknya sudah terparkir di luar, seakan akan memang di sediakan untuknya pulang. Melihat hal itu Ardi tak ingin menerka nerka lagi dan langsung masuk ke dalam mobil kemudian melajukannya pergi dari sana.
__ADS_1
Ardi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan perhutanan yang sepi tanpa ada mobil yang berlalu lalang di sana, jika dilihat dari tempatnya Ardi seperti di bawah ke villa yang ada di puncak. Hingga kemudian, setelah mobilnya melaju beberapa meter meninggalkan villa tadi, Ardi baru teringat sesuatu dan langsung menepikan mobilnya.
"Bukankah mobil ini di lengkapi dengan ERD dan juga kamera pengawas?" ucap Ardi seperti menemukan solusi untuk bisa kabur dari jeratan Kafeel.
Ardi kemudian lantas mengotak atik mobilnya dan mengecek EDR atau black box yang terpasang di mobilnya. Ardi berharap dengan adanya hal itu ia bisa membuat laporan kepada kepolisian dan menjadikannya sebagai barang bukti. Hanya saja setelah Ardi mengecek berulang kali EDR mobilnya dengan waktu tepat ketika kejadian itu berlangsung namun semua datanya sama sekali tidak ada di sana. Tak putus harapan Ardi kemudian lantas memeriksa kamera pengawas yang di pasang di area depan mobilnya namun tetap saja hasilnya nihil, sama seperti ERD di mobilnya semua data pada kamera pengawas juga menghilang atau gangguan pada waktu waktu tertentu, membuat Ardi yang mengetahui hal itu lantas frustasi di buatnya.
"Ah benar benar sial!" teriak Ardi dengan kesalnya.
Disaat Ardi tengah kesal karena sebagian data pada ERD mobilnya hilang deringan ponsel miliknya mendadak terdengar dan membuyarkan segalanya, Ardi yang mendengar deringan itu dan melihat nomer yang tertera di layar ponselnya adalah nomer pribadi, lantas langsung menggeser ikon berwarna hijau pada ponselnya.
"Sudah ku katakan bukan? jika aku dan kau adalah dua hal yang berbeda?" ucap sebuah suara di seberang sana, yang tentu saja Ardi sangat mengenal suara ini karena hanya suaranya lah yang terekam jelas dibenak Ardi sejak kejadian penyekapannya kemarin.
"Apa maksud anda?" ucap Ardi pura pura tidak tahu dengan apa yang diucapkan oleh Kafeel barusan..
"Jangan berlagak bodoh seperti itu! kau pikir aku akan membiarkan semua bukti penting tertinggal begitu saja? tentu jawabannya adalah tidak! jangan bermain main lagi dengan ku atau kau tak akan ku biarkan melihat matahari terbit esok hari." ucap Kafeel kemudian lalu memutus sambungan telponnya secara sepihak tanpa menunggu jawaban dari Ardi terlebih dahulu.
"Aaaaaaaaa benar benar kurang ajar! kenapa aku bisa terjebak dengan orang seperti dia?" ucap Ardi dengan kesal sambil beberapa kali memukul setir mobilnya berulang kali.
Bersambung
...----------------...
Catatan
Seperti di pesawat, mobil juga memiliki perangkat yang serupa dengan black box atau kotak hitam. Perangkat perekam data yang memiliki kinerja mirip dengan kotak hitam pada pesawat ini disebut Event Data Recorder (EDR) hanya saja di Indonesia tidak semua jenis mobil memiliki ERD, hanya beberapa saja.
__ADS_1