
Mobil yang di kendarai oleh Kafeel berhenti tepat di parkiran kantor polisi, tanpa menunggu waktu lama lagi keduanya kemudian lantas turun dari mobil kemudian mulai melangkah masuk ke dalam kantor polisi tersebut. Kafeel yang mulai melangkahkan kakinya masuk lantas menghentikan langkahnya sejenak, membuat Irene langsung menatap Kafeel dengan tatapan yang bingung karena ia tiba tiba berhenti secara mendadak.
"Ada apa pak?" tanya Irene dengan raut wajah yang penasaran.
"Entahlah, saking excited nya aku ketika mengetahui Kinara akan bebas aku sampai melupakan mu, biarkan aku tanya sekali lagi, apa kamu yakin dengan keputusan mu? jika kamu tidak yakin kita bisa mencari jalan lain, lagi pula polisi juga tidak menemukan bukti sampai ke arah sana bukan? anggap saja ini sebagai kompensasi dari rasa trauma mu selama ini." ucap Kafeel memberikan pilihan kepada Irene karena Kafeel yakin Irene juga tidak bersalah dalam hal ini terlepas dari fakta bahwa ia telah membunuh Fathan.
Mendengar ucapan Kafeel barusan Irene nampak terdiam sejenak sepertinya tawaran dari Kafeel adalah pilihan yang bagus, hanya saja jika Irene mengambil pilihan itu, bukankah artinya dirinya tidak ada bedanya dengan Fathan? Irene tahu dirinya begitu malang namun ia juga harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Kemalangan yang terjadi padanya bukanlah alasan untuknya melakukan sebuah pembunuhan walau pada orang yang jahat sekalipun.
"Tenang saja aku sudah memikirkan semuanya semalaman, kematian Fathan adalah tanggung jawab ku. Aku tidak bisa menyalahkan takdir dan lari dari masalah yang aku perbuat sendiri. Anda tidak perlu khawatir, aku bahkan sudah sampai di sini lagi pula butuh usaha bukan untuk sampai ke sini? kenapa sekarang malah anda yang mundur?" ucap Irene sambil tersenyum menatap ke arah Kafeel yang terlihat tengah bimbang.
"Terima kasih" ucap Kafeel kemudian yang di balas Irene dengan anggukan kepala.
Ya tidak ada kata kata lagi yang dapat Kafeel ungkapkan selain rasa terima kasih yang sebesar besarnya kepada Irene. Kafeel sungguh tahu kejadian ini juga berat bagi Irene, namun Irene masih saja mengatakan hal barusan dengan santainya seakan tanpa beban yang berat.
"Ayo kita masuk" ucap Irene kemudian mengajak Kafeel masuk ke dalam, sedangkan Kafeel yang mendengar ajakan tersebut lantas tersenyum kemudian melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki Irene yang masuk ke dalam kantor polisi.
***
Sementara itu di balik jeruji besi yang dingin dan seorang diri, Kinara nampak terdiam dengan perasaan yang frustasi. Harapannya untuk melihat tumbuh kembang putrinya itu haruskah berakhir begitu saja? Kinara bahkan tidak bisa tidur sama sekali dan terus saja terpikir akan hal itu.
Helaan nafas terdengar dari Kinara berulang kali, Kinara bingung harus berbuat apa di saat saat seperti ini. Sampai kemudian terlihat Lila tengah membuka gembok sel dengan wajah yang tegang membuat Kinara lantas bingung menerka nerka arti dari raut wajah tersebut.
__ADS_1
"Saudara Kinara anda sekarang sudah bebas dari segala tuduhan, anda boleh pergi." ucapnya dengan nada yang datar.
Sedangkan Kinara yang mendengar hal itu lantas bangkit dari posisinya dan menatap tak percaya ke arah Lila.
"Apakah itu benar?" tanya Kinara lagi dengan nada yang penasaran sekaligus memastikan bahwa apa yang di dengarnya barusan bukanlah hanya sebuah halusinasi saja.
"Cepatlah keluar pekerjaan ku masih banyak!" ucap Lila dengan ketus karena melihat Kinara yang sedari tadi hanya plonga plongo saja dan tidak langsung bergerak.
"Iya baiklah..." ucap Kinara kemudian dengan langkah yang bergegas ketika mendengar ucapan Lila yang tidak enak di pendengarannya.
Kinara yang mengetahui dirinya sudah bebas lantas tersenyum dengan bahagia, perlahan tapi pasti Kinara melangkahkan kakinya ke luar dari kantor polisi untuk menghirup udara yang segar.
"Alhamdulillah aku benar benar bisa menghirup udara segar lagi." ucap Kinara lirih dengan raut wajah yang bahagia.
Kinara yang melihat Kafeel tersenyum ke arahnya, lantas berlari dan langsung memeluk Kafeel dengan erat meluapkan segala perasaannya yang sudah benar benar terkuras dua hari ini.
"Hei hei hei apa kamu sekarang sedang terharu?" ucap Kafeel sambil mengelus rambut Kinara dengan lembut.
"Biarkan aku begini selama lima menit saja." ucap Kinara sambil memeluk tubuh Kafeel dengan erat.
"Em baiklah, tapi Ra kapan terakhir kali kamu keramas?" ucap Kafeel tiba tiba yang lantas membuat Kinara langsung mendongak menatap ke arah Kafeel.
__ADS_1
"Apa rambut ku bau?" tanya Kinara kemudian sambil melepaskan pelukannya dari tubuh Kafeel lalu mencium rambutnya. "Tidak terlalu kok." ucap Kinara lagi, sedangkan Kafeel yang melihat tingkah Kinara yang kocak lantas tertawa kecil.
"Aku hanya bercanda" ucap Kafeel masih dengan tertawa yang lantas membuat Kinara cemberut ketika mendengarnya.
"Kafeel kau benar benar menyebalkan!" pekik Kinara sambil memukul pelan dada bidang milik Kafeel secara berulang kali.
"Baiklah aku minta maaf ok..." ucapnya kemudian sambil menghentikan aksi Kinara yang sedang memukulinya. "Sekarang kemarilah" ucap Kafeel kemudian sambil membuka kembali kedua tangannya, Kinara yang melihat hal itu lantas tersenyum kemudian kembali masuk ke dalam pelukan laki laki itu.
****
Sementara itu Rian yang tadinya ingin menunggu Rendy, lantas memutuskan untuk pergi mengendarai taksi menuju ke kantor polisi. Rian menuruni taksi dan memberikan supir taksi tersebut beberapa lembar uang kemudian berlarian menuju ke arah kantor polisi untuk melihat perkembangan kasus Kinara.
Langkah kaki Rian yang semula ringan mendadak menjadi berat dan terhenti ketika melihat Kinara dengan bahagianya jatuh ke dalam pelukan Kafeel. Keduanya nampak sangat bahagia di sana seakan akan dunia ini milik mereka berdua.
Rian mengatur nafasnya yang terrengah engah karena berlari barusan kemudian tertawa kecil sambil mengusap rambutnya perlahan.
"Aku sudah terlambat rupanya, sebanyak apapun aku berjuang Kinara tidak akan pernah memilih ku." ucap Rian dengan lirih sambil tersenyum seakan menertawai dirinya sendiri.
Dengan langkah yang perlahan Rian nampak mulai mundur dan semakin mundur, Rian melangkahkan kakinya pergi meninggalkan kantor polisi begitu saja tanpa bertemu dengan Kinara terlebih dahulu.
"Semoga kamu bahagia Ra... aku yakin kamu akan bahagia setelah ini." ucapnya sambil melirik kembali sekilas ke arah belakang kemudian melanjutkan langkahnya kembali pergi dari sana.
__ADS_1
Bersambung