Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta

Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta
Terlalu tua untuk memulai kembali


__ADS_3

Pagi harinya


Kafeel terlihat sangat antusias menata letak dan juga desain untuk pernikahannya yang akan di langsungkan besok. Karena Kinara meminta untuk di adakan di taman dan dengan konsep yang sederhana, sehingga Kafeel dan Kinara memutuskan melangsungkan pernikahan mereka di taman salah satu hotel yang tak jauh dari apartment mereka.


"Mas itu nanti di taruh di sebelah sana ya, usahakan letaknya agak menyamping agar terlihat cantik ketika di potret." ucap Kafeel sambil menunjuk ke sudut panggung yang akan di isi dengan dekor.


Menatap Kafeel yang begitu sibuk menyusun dekor, lantas membuat Kinara tersenyum dan memeluk Kafeel dari belakang dengan erat.


"Ada apa Ra?" tanya Kafeel sambil mengelus pelan tangan Kinara yang melingkar di perutnya.


"Apakah calon suami ku ini tidak lelah? biarkan saja mereka yang mengaturnya Kaf, kamu tidak perlu turun langsung." ucap Kinara dengan lembut sambil menyandarkan kepalanya pada punggung Kafeel.


Mendengar ucapan Kinara barusan membuat Kafeel lantas melepas pelukan Kinara pelan, lalu berbalik menatap wanita yang kini telah resmi bertahta di hatinya.


Sebuah kecupan tanpa aba aba dari Kafeel mendarat di bibir ranum milik Kinara, membuat Kinara lantas menatap tajam ke arah Kafeel karena serangan yang mendadak itu.


"Kafeel, kamu benar benar ya jangan lakukan itu lagi!" ucap Kinara kemudian sambil memukul pelan lengan Kafeel.


"Besok kan kita resmi menjadi suami istri, jadi mencicipi sedikit bibir ranum istri ku bukankah itu tidak masalah?" ucap Kafeel dengan santainya sambil menggoda Kinara.


"Kafeel jangan bercanda itu tidak lucu, di sini banyak orang perhatikan sikap mu." ucap Kinara dengan tegas.


"Oh jadi kamu ingin di tempat yang sepi?" ucap Kafeel sambil menarik tangan Kinara. "Kalau begitu ayo" imbuhnya kemudian dengan mulut tersenyum lebar.


"Apanya yang ayo? ayo kemana?" tanya Kinara dengan bingung namun masih tetap mengikuti arah tarikan Kafeel.

__ADS_1


"Katamu ingin ke tempat yang sepi untuk melanjutkan yang tadi." ucap Kafeel sambil menoleh sebentar kemudian kembali menatap ke depan dan meneruskan langkahnya.


Kinara yang mendengar jawaban Kafeel barusan lantas langsung berhenti mendadak. "Tidak mau, jangan macam macam Kaf..." ucap Kinara memperingati.


Kafeel yang langkahnya terhenti karena Kinara berhenti mendadak, lantas langsung memiting Kinara sambil mengacak acak rambut Kinara dengan gemas.


"Aku hanya bercanda, kenapa muka mu tegang sekali?" ucap Kafeel di selingi dengan tawa yang lantas membuat Kinara cemberut karena Kafeel terus menggodanya sedari tadi. "Baiklah baiklah aku minta maaf, aku menarik mu tadi karena lapar. Apa kamu tidak lapar sekarang?" ucap Kafeel kemudian ketika melihat wajah cemberut Kinara.


"Lapar" ucapnya kemudian dengan polos membuat Kafeel lantas tersenyum menatap ke arah Kinara.


"Kalau begitu ayo kita makan." ajak Kafeel sambil menggandeng tangan Kinara.


*****


Perusahaan Damar


"Wih baru kali ini, wawancara di lakukan langsung oleh CEO pasti jabatan penting nih" batin Ardi dalam hati setelah mengambil duduk di ruang tunggu.


Tidak berapa lama terlihat Damar mulai berjalan masuk ke area ruang tunggu, keduanya saling bersalaman dan menebar senyum satu sama lain.


"Baik dengan pak Ardi ya?" ucap Damar dengan ramah.


"Iya pak" jawab Ardi dengan tersenyum.


"Pengalaman kerja anda cukup memuaskan ya? saya sudah membaca profil anda dan baru mengetahui ternyata anda adalah mantan pemilik perusahaan yang tempo hari tiba tiba bangkrut ya..." ucap Damar dengan santainya tapi berhasil menampar Ardi dengan kata katanya.

__ADS_1


"Ya pak ada beberapa masalah yang tidak bisa di atasi sehingga membuat perusahaan bangkrut. Tapi bapak tidak perlu khawatir akan hal itu karena saya akan bekerja dengan giat untuk membangun kembali kepercayaan terhadap saya dan mengembangkan perusahaan bapak." ucap Ardi dengan semangat dan percaya diri.


"Menarik sekali aku suka dengan semangat kerja anda." ucap Damar sambil tersenyum. "Hanya saja bukankah usia anda sudah terlalu tua untuk memulai sebuah usaha kembali?" ucap Damar tiba tiba yang langsung membuat mimik wajah Ardi berubah.


"Tidak ada kata tua selagi itu untuk mencari nafkah, karena tua dan muda asalkan gigih dan bekerja keras, bukankah itu sama saja?" ucap Ardi kemudian.


"Ya anda benar, baiklah kalau begitu tanpa basa basi selamat karena anda sudah di terima menjadi bagian dari perusahaan kami. Saya harap anda akan mewujudkan harapan dan impian kami tentang perusahaan ini " ucap Damar sambil berdiri dengan menggantung tangannya menunggu Ardi menjabat tangannya.


Ardi yang tak menyangka akan semudah ini lantas dengan bahagianya bangkit dan menerima jabatan tangan Damar dengan senyum yang bahagia.


"Terima kasih pak Damar, hanya saja boleh saya bertanya satu hal?" ucap Ardi kemudian yang memang sudah di buat penasaran sejak tadi.


"Ya tentu saja" ucap Damar dengan singkat.


"Jabatan apa yang akan saya isi pak?" tanya Ardi kemudian yang lantas membuat Damar langsung tersenyum ketika mendengarnya.


"Office boy, kenapa pak? apakah ada masalah?" tanya Damar kemudian dengan pura pura tidak tahu, padahal hanya dengan melihatnya saja Damar sudah tahu kalau Ardi sangatlah tersinggung akan pemberian jabatan ini padanya.


"Anda jangan bercanda pak" ucap Ardi kemudian.


"Apakah wajah saya terlihat sedang bercanda? bapak ini bisa saja, bukankah asisten saya sudah memberitahu bapak sebelumnya tentang lowongan yang tersedia di perusahaan kami?" ucap Damar pura pura tidak tahu padahal sebenarnya dia memang sengaja menyuruh Lusi untuk tidak mengatakan jabatan yang sedang perusahaannya cari.


"Anda sedang mempermainkan saya rupanya, saya tidak bodoh pak! pertanyaan anda tadi tidak lah menjurus ke dalam pekerjaan ini. Bukankah seperti itu pak?" ucap Ardi dengan nada yang tertahan, sebisa mungkin Ardi mencoba untuk bersikap merendah karena ia tahu namanya sedang jelek sekarang setidaknya Ardi tidak ingin memperburuk imagenya dengan mengamuk di depan Damar walau ia tersinggung sekalipun.


"Saya tidak pernah memainkan anda? anda pikir anda siapa? masih untung perusahaan saya berbaik hati menerima anda. Asalkan anda tahu nama anda sudah menjadi daftar hitam di seluruh perusahaan di Indonesia, di manapun anda mencobanya tidak akan ada perusahaan yang mau menerima anda sebagai karyawannya, jika anda tidak percaya cobalah... saya yakin tak perlu saya katakan pun anda sudah menyadarinya bukan?" ucap Damar dengan nada menyindir Ardi.

__ADS_1


"Saya permisi, terima kasih atas tawarannya tapi saya benar benar tidak berminat sama sekali menjadi office boy di perusahaan bapak." ucap Ardi dengan nada penuh penekanan kemudian melenggang pergi dari sana, sedangkan Damar hanya menatap kepergian Ardi dengan senyum mengembang di wajahnya.


Bersambung


__ADS_2