Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta

Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta
Permainan baru


__ADS_3

Suasana di dalam mobil yang dikendarai oleh Kafeel.


Kinara dan juga Kafeel akhirnya memutuskan untuk pulang setelah persidangan selesai. Suasana berubah menjadi canggung antara keduanya, tidak ada pembicaraan apapun antara Kafeel dan Kinara sehingga membuat suasana kian canggung dan hening.


"Em kamu..." ucap Kinara dan juga Kafeel secara bersamaan hingga membuat keduanya langsung tersenyum kala tanpa sengaja mengatakan hal yang sama.


"Kamu bisa memulainya lebih dulu..." ucap Kafeel kemudian.


"Tak perlu kamu saja..." ucap Kinara.


"Jangan kamu saja." ucap Kafeel lagi.


"Baiklah, em apa kamu tidak lapar? kalau kamu lapar aku berniat..." ucap Kinara terpotong karena ucapan Kafeel yang tiba tiba.


"Aku setuju." ucap Kafeel singkat, dalam benaknya Kafeel sudah menduga bahwa Kinara akan mengajaknya pergi makan ke suatu tempat. "Tapi ijinkan aku yang memilihnya." imbuh Kafeel kemudian.


"Baiklah terserah padamu." ucap Kinara pada akhirnya.


**


Beberapa menit kemudian mobil yang di kendarai Kafeel berhenti di parkiran salah satu resto yang sedang tren belakangan ini. Kinara yang melihat mobil Kafeel parkir lantas mulai mengerutkan kening bingung sambil bertanya tanya apa yang akan di lakukan Kafeel di sini.


"Ayo kita turun." ajak Kafeel dengan senyum yang sumringah.


"Turun? ngapain?" tanya Kinara sambil menatap bingung ke arah Kafeel.


"Ya buat makan lah, bukannya kamu tadi ingin mengajak makan kan?" ucap Kafeel kemudian sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal bingung dengan reaksi yang di berikan oleh Kinara.

__ADS_1


"Astaga! bukan begitu kamu salah paham, memang benar aku ingin mengajak mu makan tapi aku menawari mu untuk makan di rumah sekalian bersama Delisha dan juga Nining. Delisha pasti senang kalau melihat kamu ikut makan bersama kami." ucap Kinara kemudian.


"Oooo jadi begitu..." ucap Kafeel sambil tersenyum garing karena salah tingkah. "Tapi tadi kenapa kamu mengiyakan ketika aku bilang aku yang akan memilih?" ucap Kafeel kemudian masih tidak mengerti.


"Ku kira kamu ingin memilih menunya makanya aku bilang iya, tapi kalau kamu sudah lapar, kita bisa makan di sini saja gak papa." ucap Kinara kemudian hendak membuka pintu mobil.


Kafeel yang melihat Kinara akan turun lantas langsung mencegahnya. "Tak perlu kita ke rumah mu saja, Delisha pasti sudah menunggu bukan?" ucap Kafeel kemudian sambil menahan Kinara yang hendak turun dari mobil.


"Kamu yakin? bukankah kamu sudah lapar?" tanya Kinara sekali lagi.


"Tak perlu, kita pulang saja." ucap Kafeel lagi, sedangkan Kinara yang mendengar jawaban Kafeel barusan hanya mengangguk.


Setelah itu Kafeel melajukan mobilnya menuju ke apartment. Rasanya Kafeel kali ini benar benar malu dan ingin bersembunyi dari Kinara, harusnya tadi ia tanyakan dulu lebih jelas dan tidak langsung memutuskan begitu saja, kalau sudah begini bukankah akan terasa sangat memalukan?


"Dasar bodoh kau Kaf!" gerutu Kafeel dengan pelan merutuki kebodohannya sendiri.


"Ha? tidak.." ucap Kafeel kemudian dengan senyum garing di wajahnya.


"Ooo... baiklah." ucap Kinara pada akhirnya.


**********


Kembali kepada Nabila dan juga Geffie.


Tanpa basa basi lagi, keduanya kemudian lantas masuk ke dalam rumah. Setelah itu Geffie menggendong Nabila ala ala bayi koala besar lalu membawanya masuk ke dalam kamar. Geffie menghempaskan Nabila dengan kasar ke ranjang begitu saja, lalu melepas kemejanya dengan brutal kemudian membuangnya ke segala arah.


"Kau yang datang dengan sendirinya padaku, jangan pernah menyesali apa yang akan terjadi!" ucap Geffie tiba tiba dengan nada yang serak dan juga terasa aneh bagi Nabila.

__ADS_1


"Ada apa ini Gef? apa kamu mempunyai permainan baru yang menyenangkan?" tanya Nabila dengan penasaran.


"Ya, permainan baru yang sangat menyenangkan!" ucap Geffie dengan senyum menyeringai.


"Really? kalau begitu mari kita coba." ucap Nabila dengan senyum mengembang di wajahnya.


Nabila yang sudah bersemangat dengan permainan baru yang di maksud oleh Kafeel lantas mulai menyilakan rambutnya ke samping, kemudian mengkode Geffie untuk membuka resleting bajunya dengan pose yang di buat buat. Geffie yang memang sedang ingin melampiaskan kekesalannya, lantas mulai mendekat ke arah Nabila lalu membuka resleting baju Nabila dengan gerakan yang perlahan. Dirabanya halus punggung Nabila yang sudah mulai terbuka ketika resleting tersebut terus turun ke bawah.


Melihat punggung putih bersih milik Nabila lantas membuat Geffie gemas dan dengan spontan menggigit pundak Nabila.


Aw


Teriak Nabila cukup kencang namun entah mengapa rasanya Nabila sangat menyukainya, bukankah itu terdengar sangat gila?


Geffie tersenyum melihat reaksi dari Nabila, tanpa aba aba lagi Geffie kemudian lantas melempar tubuh Nabila dan melanjutkan aksinya. Geffie mulai menjelajahi tubuh Nabila dengan brutal dan tanpa ampun, tak ada satu inci pun yang terlewat dari jangkauan Geffie membuat Nabila mulai mengeluarkan d*sah*n yang tak henti hentinya menggema terdengar di seluruh kamar, rasanya Nabila benar benar puas dengan permainan Geffie kali ini. Hingga tepat pada puncaknya Geffie mulai memasukkan pusaka miliknya ke area milik Nabila. Perlahan tapi pasti Geffie mulai mengatur ritmenya membuat peluh keduanya mulai berjatuhan meski AC ruangan tersebut sangat dingin.


Geffie melakukannya selama berkali kali dan terus meningkatkan ritmenya, lama kelamaan permainan Geffie mulai memanas dan terus menambah kecepatan ritmenya membuat Nabila meringis karena mulai merasakan sakit di area k*w**itaanya. Benar benar sakit hingga Nabila meneteskan air mata di sudut matanya.


"Ah Gef... sa..kit.. uh.." ucap Nabila sambil terbata namun Geffie yang melihat hal itu malah tertawa dengan puas.


"Aku sudah bilang padamu jangan pernah menyesalinya atau berkata cukup. Aku tidak akan berhenti jika belum terasa puas bagi ku hahaha" ucap Geffie sambil tertawa, seakan bahagia melihat ekspresi Nabila yang seakan kesakitan namun juga nikmat bercampur menjadi satu.


"Hen..tikan Ge... sa..kit.." ulanya lagi namun dengan mend*s*h membuat Geffie semakin memacu ritmenya.


Siang itu Geffie benar benar menggila, ia tidak lagi memperdulikan jeritan dan juga erangan yang keluar dari mulut kecil Nabila. Dengan perasaan yang menggebu gebu Geffie benar benar melampiaskan segalanya pada Nabila kali ini. Benar benar gila! mungkin kata kata itu yang tepat untuk menggambarkan sikap Geffie kali ini. Geffie yang sekarang dan Geffie yang dulu benar benar dua orang yang berbeda.


Entah ini sifat aslinya atau memang kehangatannya hanya sebuah kamuflase saja, namun terlepas dari itu Geffie seakan memiliki dua kepribadian ganda yang sering berubah ubah. Entah Geffie menyadari atau tidak sifat hangatnya perlahan lahan mulai terkikis dan ikut pergi tepat setelah ketukan palu hakim menggema di ruang sidang tadi. Ya inilah Geffie yang sekarang, suka tidak suka, mau tidak mau tidak akan ada yang bisa merubah segalanya kembali seperti sedia kala.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2