
Keesokan harinya
Rian yang berjanji untuk membawa Delisha pergi melihat kebun bunga lantas menepati janjinya, pagi ini Rian mengajak Delisha, Nining dan tentu juga Kinara berangkat menuju tempat wisata tersebut.
Sepanjang perjalanan Delisha nampak sangat bahagia, Kinara bersyukur ternyata masih banyak yang sayang kepada Delisha walau kini tidak ada lagi sosok seorang ayah yang menemani hari harinya.
Perjalanan mereka memakan waktu sekitar 20 sampai 30 menitan dari rumah Rian. Setelah sampai di sana Rian mulai memarkirkan mobilnya dan mengajak Kinara dan juga yang lainnya masuk ke dalam tempat wisata tersebut.
Dengan langkah perlahan Rian menuntun tangan Delisha sebelah kiri sedangkan Kinara menuntun tangan Delisha sebelah kanan, benar benar tampak seperti keluarga cemara yang bahagia.
Nining menatap kebahagian yang tengah di rasakan Delisha saat ini. Nining sangat bersyukur meski Kinara dan Delisha pergi kemanapun, mereka selalu di kelilingi orang orang yang menyayangi keduanya.
"Syukurlah, semoga saja pak Rian benar benar tulus dan tidak hanya memanfaatkan bu Kinara saja." ucap Nining sambil terus berjalan di belakang ketiganya dengan tersenyum menatap ke arah ketiganya.
****
Kediaman Ratih
Terlihat Ratih tengah sibuk mengatur satu persatu tanamannya mulai dari memotong hingga membersihkan beberapa tanaman liar yang tumbuh di sekitarnya.
"Kenapa rasanya aku bahagia sekali hari ini? lagi pula aku sangat menyukai Kinara, siapa tahu Rian bisa mengambil hatinya secara perlahan." ucap Ratih pada diri sendiri sambil terus merapikan bunga bunga di taman kecil yang terletak di halaman rumahnya.
Ketika Ratih tengah sibuk menyusun dan merapikan bunga bunganya, sebuah suara lantas menghentikan gerakan tangannya.
"Aku menemukan mu" ucap sebuah suara yang lantas menghentikan gerakan tangannya.
__ADS_1
Detak jantung Ratih mendadak berdetak dengan kencang ketika mendengar sebuah suara yang tak asing di pendengarannya, benar benar suara yang sangat ia rindukan selama ini. Ratih diam mematung tak berbalik maupun bersuara menanggapi suara tersebut karena berpikir bahwa ini hanyalah sebuah halusinasinya saja.
"Aku datang Bubu..." ucapnya lagi karena Ratih hanya diam saja sedari tadi.
Ratih yang kembali mendengar suara itu lantas langsung berbalik karena ia yakin ini bukanlah sebuah halusinasinya lagi.
"Baba?" batinnya dalam hati ketika melihat sosok mantan suaminya yang sudah lama tidak ia temui. "Ada apa kau kemari?" tanya Ratih dengan nada yang ketus sambil melangkah pergi dan melepas sarung tangan yang ia gunakan untuk berkebun sedari tadi.
"Aku mencari mu selama ini Bu, aku yakin ada sesuatu yang membuat mu pergi bukan? aku tahu itu... kita bisa memperbaikinya kamu hanya tinggal mengatakannya padaku alasannya..." ucap Adhitama dengan lembut.
"Jangan mengada ngada kita sudah berpisah secara baik baik dan dengan alasan yang baik. Jadi tidak ada lagi yang perlu kita bahas di sini, lebih baik kamu pulang dan jangan kembali lagi." ucap Ratih dengan tegas seakan menolak dengan mentah opsi dari Adhitama barusan.
"Aku tahu kamu berbohong! aku lebih tahu apa isi hati mu bu, jangan anggap aku bodoh dan terus merasa bersalah. Aku yakin Kafeel juga merindukan mu, kembalilah" ucap Adhitama lagi.
"Jangan bawa bawa Kafeel di sini karena Kafeel sama sekali tidak ada hubungannya dengan kita yang berpisah dulu. Pergilah, suami ku akan pulang sebentar lagi ia pasti akan sangat marah jika melihat mu di sini." ucap Ratih beralasan, padahal jangankan suami menikah saja dirinya tidak pernah selain bersama Adhitama, ya hanya dia satu satunya.
Adhitama yang mendengar ucapan Ratih barusan lantas terkejut ketika panggilan "suami" keluar dari mulut Ratih barusan.
"Suami? kau pasti hanya beralasan bukan? jangan coba coba berakting dengan ku!" ucap Adhitama yang tidak percaya dengan kata kata Ratih barusan.
"Apa aku nampak seperti tengah berakting sekarang? jangan keterlaluan deh" ucap Ratih lagi dengan nada yang datar.
"Aku tahu kamu bu, hanya aku satu satunya begitupun sebaliknya." ucap Adhitama lagi.
Ratih yang mulai tidak enak akan gejolak yang memenuhi dadanya lantas langsung mendorong Adhitama sedikit menjauh kemudian masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya dengan rapat, membuat Adhitama kebingungan dengan sikap yang ditunjukkan oleh Ratih barusan.
__ADS_1
"Buka pintunya bu! buka sekarang...." ucap Adhitama sambil terus mendobrak pintu rumah Ratih berulang kali.
"Pergi dari sini sekarang aku tidak ingin melihat mu!" ucap Ratih dari balik pintu dengan menahan isak tangisnya.
Ratih benar benar bingung harus bersikap bagaimana? di satu sisi ia benar benar merindukan Adhitama, sangat merindukannya. Hanya saja kejadian masa lalu begitu membekas di ingatannya membuat Ratih enggan untuk kembali bertemu dengan Adhitama walau kerinduan memenuhi seluruh jiwa dan raganya.
"Aku mohon buka pintunya bu... kita bicarakan hal ini secara baik baik. Butuh waktu bertahun tahun lamanya bagi ku untuk mencari keberadaan mu dan itu bukanlah waktu yang singkat. Ayolah bu... apa kau sungguh tidak merindukan Kafeel? ia kini sudah menjadi lelaki tampan yang sukses. Aku mohon..." ucap Adhitama lagi dengan nada yang memelas berharap Ratih mau membuka pintu untuknya.
Air mata Ratih perlahan menetes membasahi pipinya tanpa di minta, tidak ada seorang ibu yang tidak merindukan anaknya sendiri begitu pula yang saat ini tengah di rasakan oleh Ratih. Digigitnya bibir bagian bawahnya dengan cukup keras untuk menahan isak tangisnya agar tidak di dengar oleh Adhitama yang sedang berada di luar.
"Pergilah sekarang!" ucap Ratih lagi sambil berusaha menahan isakannya agar tidak terdengar Adhitama.
"Aku tidak akan pergi kemanapun." ucap Adhitama dengan kekeh.
Mendengar Adhitama yang sama sekali tidak ingin pergi dari depan pintu rumahnya lantas langsung mendial nomer pak Ridwan ketua RT pada ponselnya.
"Halo" ucap Ridwan
"Tolong saya pak, ada orang mencurigakan berada di depan pintu rumah saya sedari tadi." ucap Ratih mencoba beralasan.
"Baiklah bu Ratih tenang saja, pastikan untuk mengunci pintu dan tetap berada di dalam. Saya akan segera ke sana dengan beberapa warga untuk memastikan siapa orang itu." ucap Ridwan mencoba menenangkan Ratih yang terdengar panik.
"Terima kasih banyak pak" ucap Ratih kemudian sambil menutup sambungan telponnya.
Bersambung
__ADS_1