
Kinara dan Kafeel sampai di sebuah toko pakaian yang berada tidak jauh dari kompleks rumah kontrakannya. Bukan sebuah butik ataupun outlet brand ternama melainkan hanya toko pakaian biasa. Kafeel dan Kinara mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam dan langsung mencari dan memilah baju yang pas untuk Kafeel.
Sebenarnya sedari awal masuk ke sini Kinara agak sedikit risih dengan pandangan para pegawai toko yang sibuk memandangi tubuh sixpack milik Kafeel di balik kaos pink yang melekat erat di tubuhnya, membuat postur tubuh Kafeel terlihat dengan jelas di sana.
Kinara yang sadar Kafeel mulai jadi bahan tontonan, lantas langsung melepas jaket yang saat ini ia kenakan kemudian memberikannya kepada Kafeel yang saat ini tengah sibuk memilih baju.
"Pakai ini sekarang!" perintah Kinara yang lantas membuat Kafeel kebingungan akan tingkah Kinara yang tiba tiba memberinya sebuah jaket.
"Tidak perlu, lagi pula sebentar lagi aku akan langsung ganti ketika menemukan baju dengan ukuran yang pas." tolak Kafeel yang lantas langsung mendapat tatapan tajam dari Kinara.
"Ku bilang pakai ya pakai! susah amat sih..." ucap Kinara dengan kesal sambil memberikan jaket itu sembarangan kepada Kafeel, membuatnya lantas langsung menerimanya dengan kaget karena jaket tersebut hampir jatuh barusan.
Kafeel melihat kepergian Kinara yang menuju ke arah kursi tunggu panjang tak jauh darinya, ada perasaan bingung dalam diri Kafeel ketika melihat tingkah Kinara yang seperti itu barusan.
"Sepertinya ia tengah kesal saat ini, sebaiknya aku segera memilih saja dan langsung pulang sebelum moodnya kembali berubah." ucap Kafeel dalam hati sambil masih menatap ke arah Kinara yang saat ini sedang duduk di kursi tunggu.
Kafeel yang tidak ingin melihat Kinara kembali mengomel lantas mulai mempercepat gerakannya dalam memilih pakaian, kemudian berjalan ke ruang ganti dan langsung memakainya dengan kilat. Tak butuh waktu lama Kafeel sudah berganti dengan pakaian kemeja putih kasual yang sangat pas dan cocok ketika ia gunakan.
Kafeel melangkahkan kakinya menuju ke arah Kinara dan hendak langsung mengajaknya pulang.
__ADS_1
"Ayo kita bayar Ra..." ucap Kafeel kemudian yang menghentikan aktifitas Kinara dalam memainkan ponsel miliknya.
Kinara yang mendengar ucapan Kafeel barusan lantas mendongak, ada sedikit perasaan kagum yang tiba tiba menyapa hatinya ketika melihat Kafeel dengan pakaian kasual yang sangat cocok di gunakan olehnya, membuat aura Kafeel terpancar dan tentu saja terlihat sangat gagah dan tampan.
"Bukankah ini hanya pakaian biasa? kenapa ketika di gunakan oleh Kafeel nampak sangat berkelas dan mahal?" ucap Kinara dalam hati sambil masih menatap ke arah Kafeel dengan tatapan takjub, membuat Kafeel mengerutkan keningnya dengan bingung ketika melihat ekspresi yang di berikan oleh Kinara.
"Ra... hello... apa kamu mendengar ku?" ucap Kafeel kemudian ketika melihat Kinara hanya diam termenung memandanginya.
"Oh iya... ayo kita bayar sekarang!" ucap Kinara kemudian yang langsung tersadar dari lamunannya ketika mendengar suara Kafeel barusan.
**
Suasana hening mendadak terjadi di antara keduanya, sehingga mulai membuat Kafeel bosan namun ia bingung harus memulai membuka percakapan dari mana.
Kinara menatap ke arah samping kiri melihat jalanan kota Malang yang indah di balik kaca mobil yang menutupi jarak pandangnya.
"Ra..." panggil Kafeel tiba tiba membuat Kinara lantas langsung menoleh ke arah Kafeel sekilas lalu kembali menatap lurus ke depan.
"Ada apa?" tanya Kinara dengan nada yang datar.
__ADS_1
Kafeel yang melihat ini adalah waktu yang tepat untuk meminta maaf, lantas mulai menepikan mobilnya membuat Kinara lantas kebingungan dengan apa yang akan Kafeel perbuat kali ini.
"Maafkan aku Ra, aku tahu kesalahan ku sangatlah besar karena tidak percaya padamu waktu itu. Aku... aku terlalu diliput rasa amarah waktu itu hingga membuat ku sama sekali tidak bisa berpikir jernih tentang segala kemungkinan yang akan terjadi akan kebodohan ku, aku sungguh sungguh menyesal." ucap Kafeel dengan nada yang lirih.
Mendengar permintaan maaf dari Kafeel lantas membuatnya menghela nafas panjangnya. "Bukankah aku selalu memperingatkan mu waktu itu? sebelum kita memulai kejenjang yang lebih serius aku meminta kita untuk saling introspeksi diri dan saling menumbuhkan rasa kepercayaan dalam diri kita masing masing, hubungan tanpa sebuah kepercayaan itu sangatlah sulit Kaf! aku sudah pernah gagal sekali dan aku tidak ingin mengulangi kegagalan itu lagi dan lagi." ucap Kinara kemudian sambil menatap lurus ke arah depan seakan enggan untuk menatap manik mata Kinara.
"Aku tahu Ra, aku tahu... kesalahan ku sangatlah besar karena mengabaikan janji ku saat itu ketika di rooftop gedung. Jujur saja kegagalan ku bersama Nabila akibat perselingkuhannya membuat ku jadi sensitif tentang hal itu. Aku bahkan sampai tidak bisa membedakan mana yang kenyataan dan mana yang tipuan semata." ucap Kafeel dengan nada yang sendu sambil menatap ke arah Kinara.
"Sudahlah Kaf lagi pula itu juga sudah berlalu, aku tidak ingin terus membicarakan masa lalu yang tidak akan pernah ada habisnya." ucap Kinara kemudian seakan enggan kembali mengungkit masa lalu karena jujur saja itu masih terasa menyakitkan bagi Kinara hingga saat ini.
"Tidak bisakah kita memulai kembali seperti dulu Ra? aku janji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama." pinta Kafeel kemudian yang lantas membuat Kinara langsung menoleh ke arahnya dengan tatapan yang menelisik.
Kinara terdiam sejenak seakan memikirkan dengan seksama permintaan Kafeel barusan. "Memulai kembali itu sangatlah mudah Kaf, hanya saja... setelah hilangnya kepercayaan mu waktu itu membuat ku tidak bisa lagi percaya seutuhnya. Hubungan yang nantinya kita jalani tidak akan kembali sama seperti yang dulu Kaf, aku yakin baik kamu dan aku akan terus di hantui oleh rasa curiga yang tanpa ujung dan aku tidak menginginkan hal itu." ucap Kinara dengan nada yang lembut.
"Kita bahkan belum mencobanya Ra, aku yakin jika kita bisa berkaca dari kesalahan di masa lalu, hubungan kita kali ini mungkin akan berjalan dengan lebih baik daripada hubungan kita di masa lalu." ucap Kafeel lagi mencoba meyakinkan Kinara agar kembali percaya padanya.
Kinara yang mendengar ucapan Kafeel barusan lantas langsung tersenyum dan menatap ke arah Kafeel. "Berbicara memanglah mudah Kaf, apa kamu tidak ingat bahwa dulu kamu juga menjanjikan hal yang sama waktu itu? aku tidak pernah marah padamu Kaf, hanya saja jika untuk memulai kembali aku minta maaf aku tidak bisa. Aku tidak ingin jatuh kembali kedalam lubang keterpurukan untuk yang ketiga kalinya." ucap Kinara lagi dengan nada yang lembut karena ia tahu Kafeel juga sangat terluka karena keegoisannya waktu itu.
Mendengar hal itu Kafeel lantas terdiam karena memang apa yang di ucapkan Kinara adalah sebuah kebenaran dan Kafeel tidak bisa lagi menyangkalnya atau memohon kembali kepada Kinara.
__ADS_1
Bersambung