
Setelah Kinara mengambil laptopnya ia memutuskan untuk mengajak Nining dan juga Delisha langsung pindah ke apartment. Kali ini Kinara tidak ingin menunda nunda waktu lagi, takutnya jika sampai nanti sore Kinara tidak pindah Geffie yang selalu menunggu di depan butik akan tahu dengan mudah tempat tinggalnya.
Tidak ada barang bawaan yang banyak dibawa oleh ketiganya, hanya beberapa pakaian dan peralatan sekolah Delisha saja yang Kinara bawa ke apartment, selebihnya ia nanti akan mulai menyicilnya perlahan.
"Bagaimana rumahnya, apa Delisha suka?" tanya Kinara kala memasuki ruang tengah unit apartment yang masuk dalam kategori penthouse itu.
"Suka bun, lebih luas dan indah." ucap Delisha sambil menunjuk ke jendela kaca yang dimana dari sana si penghuni unit apartment tersebut dapat melihat gedung gedung pencakar langit dari sana.
"Syukurlah kalau Delisha suka, Delisha sama mbak Nining main dulu ya... bunda mau beres beres sedikit." ucap Kinara yang di balas anggukan oleh Delisha.
Delisha kemudian lantas menarik Nining untuk ikut bermain bersamanya, sedangkan Kinara membereskan beberapa perlengkapan yang ia beli di supermarket tadi sebelum pindah ke sini. Tidak ada persiapan khusus ketika Kinara pindah karena memang semuanya di lakukan serba mendadak jadilah seadanya saja.
Kinara mengeluarkan satu kotak cake dengan rasa tiramisu ke sebuah piring. Ini merupakan salah satu tradisi jika pindahan rumah yaitu memberikan buah tangan kepada para tetangga, berhubung di lantai ini hanya ada dua unit dengan miliknya jadilah Kinara tidak perlu menyiapkan buah tangan terlalu banyak.
"Delisha mau ikut bunda gak nganterin cake ke tetangga sebelah?" tanya Kinara.
"Mau ikut!" ucapnya dengan riang kemudian bangkit dan berlarian menuju ke arah Kinara.
"Saya tinggal sebentar Ning, kamu bisa memotong bahan bahan untuk makan malam nanti, setelah saya pulang kita masak sama sama." ucap Kinara yang di balas anggukan oleh Nining.
Kinara dan Delisha melangkah kaki mereka ke unit sebelah, sambil membawa sepiring cake yang di sediakan oleh Kinara tadi.
Ting tong ting tong
Beberapa menit kemudian seseorang nampak membuka pintu apartment tersebut, hanya saja Kinara cukup di buat terkejut karena ternyata yang muncul di sana adalah seseorang yang sangat di kenalnya, mungkin lebih tepatnya yang selalu saja mengganggunya belakangan ini.
"Kafeel!" ucap Kinara dengan nada yang terkejut.
"Siapa bunda?" ucap Delisha dengan bingung.
__ADS_1
Kafeel yang mengetahui ada Delisha juga di sana, lantas langsung memposisikan dirinya sedikit berjongkok seakan hendak menyamai tinggi badan gadis itu.
"Halo, ini pasti Delisha ya? kenalin om Kafeel." ucap Kafeel sambil tersenyum ke arah Delisha.
"Om temannya bunda?" tanya Delisha lagi kala melihat wajah terkejut di muka Kinara.
"Iyap, apa kamu mau mampir ke rumah om? om baru saja membeli mesin capit boneka tadi." ucap Kafeel membujuk Delisha agar mau mampir sekalian modus sih maksudnya, (siapa tahu kan dekati dulu anaknya baru ibunya wkwkwk).
Delisha yang mendapat tawaran itu tentu saja tergiur, namun tak langsung mengiyakannya malah memilih menarik pelan rok Kinara berulang seakan meminta ijin kepada Kinara untuk masuk.
"Baiklah tapi jangan lama lama." ucap Kinara kemudian.
"Hore..." teriak Delisha dengan gembira sambil menarik tangan Kafeel untuk segera masuk ke dalam.
Sedangkan Kinara hanya bisa menatap Delisha yang tengah girang bermain dengan Kafeel di sudut ruangan tengah unit apartment Kafeel.
"Sudah lama sekali aku tidak melihat Delisha sebahagia itu, sepertinya Delisha merindukan sosok seorang ayah, namun Geffie tidak bisa mewujudkannya seperti dulu." ucap Kinara dalam hati melihat interaksi keduanya.
"Loh kamu juga ada di sini?" tanya Kinara kemudian kala baru menyadari kehadiran Rendy di sana. "Maaf saya tidak melihat mu, kalau begitu ini tolong taruh di lemari pendingin ya." imbuhnya sambil menyerahkan piring berisi cake tadi.
"Pantas saja si bos minta buru buru pulang, ternyata ini alasannya." batin Rendy sambil melenggang pergi dari sana menuju ke arah dapur.
**
Waktu terus berjalan dengan cepat, tanpa terasa Delisha dan juga Kafeel bermain hampir seharian lamanya, hingga tanpa sadar sebentar lagi akan makan malam.
"Delisha pulang yuk, kasihan mbak Nining nya masak sendiri." ucap Kinara yang lantas menghentikan gerakan Delisha yang tengah asyik bermain bersama Kafeel.
"Harus sekarang ya bun?" tanya Delisha kemudian yang di balas anggukan oleh Kinara. "Om Lisha pamit dulu ya... nanti kapan kapan Delisha ke sini lagi." ucap Delisa kemudian kepada Kafeel.
__ADS_1
Setelah mengucapkan salam perpisahan Kinara dan Delisha melangkah kembali ke unit apartemennya.
"Satu langkah terpenuhi, aku yakin aku bisa mendapatkannya." batin Kafeel kala melihat kepergian Delisha dan juga Kinara dari apartemennya.
***********
Keesokan harinya Pengadilan Agama Jakarta Pusat.
Kinara dan juga Rian melangkahkan kakinya memasuki area pengadilan. Hari ini adalah sidang pertama dilakukan dan Kinara sudah mantap untuk bercerai dengan Geffie.
"Apakah semua berkas berkasnya sudah terpenuhi pak?" tanya Kinara pada Rian yang nampak fokus memeriksa berkas berkas di ruang tunggu.
"Ya, anda tidak perlu khawatir soal itu." ucap Rian sambil tersenyum manis ke arah Kinara.
"Apa anda yakin aku dapat memenangkan hak asuh anak nantinya?" tanya Kinara tiba tiba yang mendadak takut kalau Geffie akan mengambil Delisha dari tangannya.
"Secara garis besar bisa karena umur anak anda masih di bawah 12 tahun yang artinya hak asuh anak akan jatuh di tangan ibu. Hanya saja, hak asuh anak dapat jatuh ke suami jika suami anda dapat menunjukkan beberapa bukti yang memberatkan anda. Itulah mengapa kemarin saya meminta berkas berkas pendapatan, kesehatan mental dan juga yang lainnya agar meminimalisir kemungkinan yang ada." jelas Rian panjang kali lebar. "Anda tentu tidak ada yang di sembunyikan dari saya bukan? jika ada sebaiknya anda katakan sekarang." imbuhnya kemudian.
"Saya rasa tidak ada, semua berkasnya juga sudah saya serahkan kepada anda seluruhnya." ucap Kinara dengan yakin.
"Satu lagi pertanyaan saya maaf kalau ini mungkin akan sedikit menyinggung anda, anda tidak membalas suami anda dengan ikut berselingkuh juga kan?" tanya Rian dengan wajah yang serius.
"Jika berselingkuh tentu saja tidak, hanya saja suami saya menuduh saya berselingkuh dengan mantan suami selingkuhannya." ucap Kinara mengingat ingat.
"Agak sulit ya, mungkin itu nanti akan sedikit memberatkan, jika suami anda membawa perkara itu." ucap Rian lagi.
"Lalu kita harus bagaimana?" tanya Kinara.
"Kita lihat persidangannya nanti, jika suami ibu membawa perkara ini, kita harus memanggil mantan suami selingkuhan ibu dan juga beberapa orang untuk menjadi saksi dan membuktikan bahwa ibu tidak bersalah." ucap Rian pada akhirnya.
__ADS_1
Bersambung