Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta

Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta
Kasus yang rumit


__ADS_3

Pukul 3 dini hari


Setelah panggilan telpon dari Rian selesai, hingga kini Kafeel tidak pernah sedikit pun memejamkan matanya. Kafeel dan juga Rendy sibuk melihat beberapa rekaman pengawas maupun mencari bukti bukti yang bisa meloloskan Kinara dari kasus ini.


Kafeel benar benar tidak bisa diam begitu saja ketika melihat Kinara mendapatkan musibah yang besar karena dirinya.


"Bos istirahatlah sebentar, biar saya yang akan melanjutkan sisanya." ucap Rendy yang tidak tega melihat Kafeel bekerja terlalu keras hingga tidak tidur semalaman.


"Lanjutkan saja pekerjaan mu dan jangan hiraukan aku!" ucap Kafeel dengan tegas sambil terus fokus menatap ke arah Tab miliknya.


Mendengar jawaban ketus bosnya membuat Rendy tidak bisa lagi berkata apa apa dan menyuruh bosnya pergi beristirahat. Yang bisa Rendy lakukan saat ini adalah bekerja lebih keras membantu bosnya agar bisa cepat memecahkan kasus ini.


Keduanya nampak sangat sibuk mengumpulkan bukti bukti bahwa Kinara tidak bersalah, hanya saja semakin Kafeel dan Rendy mencari, yang ada malah semua barang bukti menunjuk ke arah Kinara yang tentu saja dengan kata lain bisa memberatkannya dan merujuknya sebagai tersangka utama dalam kematian Fathan.


Kafeel memijat pelipisnya perlahan, kepalanya benar benar pusing saat ini memikirkan begitu banyak alibi tentang kejadian yang sebenarnya. Kafeel benar benar tahu bahwa dalang di balik ini semua adalah Devan, hanya saja ia tidak bisa memberikan bukti bahwa Devan lah pelaku sebenarnya dalam kasus ini.


Deringan ponsel milik Kafeel mulai terdengar menggema memenuhi ruangan tersebut. Kafeel yang mendengar ponselnya berbunyi lantas melirik ke arah jam tangan miliknya yang saat ini sudah menunjukkan pukul 03.40 pagi.


"Dia juga tidak tidur rupanya?" ucapnya dalam hati sambil menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.


"Halo" ucap sebuah suara di seberang sana.


"Ada apa kamu menelpon ku di jam segini? apa kamu sudah menemukan sebuah petunjuk?" ucap Kafeel dengan nada yang meremehkan.


"Tentu saja, kau pikir hanya kau saja yang cerdas dan punya pengaruh." ucap Rian dengan nada menyindir seakan tidak terima karena Kafeel hanya menyepelekannya saja.

__ADS_1


"Kalau begitu katakan sekarang apa yang kau temukan?" perintah Kafeel kemudian dengan serius kali ini.


"Aku sudah mendapat hasil otopsi dari jenazah Fathan dan dari hasil otopsi tersebut menunjukkan adanya tindak kekerasan yang di terima Fathan tepat pada bagian kepala dan juga betisnya. Jika melihat dari letak luka dan posisi seberapa dalam lukanya, jelas saja tidak akan menyebabkan kematian secara langsung dan paling parah mungkin hanya pendarahan saja. Namun satu hal yang membuat kasus ini terlihat mencurigakan adalah penyebab Fathan meninggal adalah serangan jantung, bukankah itu aneh? mengingat Fathan sama sekali tidak memiliki riwayat penyakit jantung atau bahkan gejala yang mengarahkannya pada serangan jantung sebelumnya." ucap Rian menjelaskan informasi yang baru saja ia dapatkan melalui chanel atau orang kepercayaan miliknya.


"Ternyata kasus ini terlalu rumit, kita bisa menggunakan hal ini untuk meringankan hukuman Kinara namun tidak bisa membebaskannya, mengingat Kinara melakukan kekerasan kepada Fathan walau tidak fatal, kecuali jika kita bisa menempuh jalur damai dengan keluarga korban. Tapi itu tentu saja mustahil karena mengingat ini ada sangkut pautnya dengan Devan." ucap Kafeel mencoba berpendapat.


"Yah mungkin ini akan menjadi kasus yang panjang jika kita belum bisa menemukan saksi kunci dari masalah ini." ucap Rian menanggapi perkataan Kafeel.


"Aku tidak yakin kita akan menemukannya karena tidak ada siapapun yang keluar dari ruangan Fathan setelah kepergian Kinara dari sana." ucap Kafeel lagi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena bingung mencari jalan keluar dari masalah ini.


"Kasus seperti ini sering sekali muncul dan selalu ada plot twist dari setiap masalah yang terkait dalam kasus itu. Seakan akan kita di buat terlalu fokus pada satu hal, namun kenyataannya hal yang kita fokuskan bukanlah jawaban kunci dari kasus ini." ucap Rian sambil mengingat beberapa kasus klien yang pernah ia tangani.


"Itulah yang aku takutkan, maka dari itu aku semalaman tidak tidur untuk memutar ulang kamera pengawas di kantor W Food dan juga ruangan Fathan." ucap Kafeel lagi.


" Itu bagus, coba perhatikan detail kecil yang mungkin tidak akan kau sangka sangka bisa menjadi kunci utamanya." ucap Rian mengingatkan Kafeel.


"Jangan mulai memancing karena aku sedang tidak ingin ribut dengan mu!" ucap Rian memperingati.


"Kau lah yang memulainya lebih dulu!" ucap kafeel tidak terima dengan tuduhan yang di berikan Rian padanya barusan.


"Kau selalu saja menyebalkan Kaf!" ucap Rian lagi.


"Sudah sudah aku malas ribut dengan mu, kita sudahi saja pembicaraan kita kali ini bye..." ucap Kafeel kemudian sambil langsung memutus sambungan telponnya tanpa bertanya terlebih dahulu pada Rian.


*****

__ADS_1


Keesokan harinya di unit apartment Kafeel.


Sampai pagi menjelang Kafeel tidak kunjung tidur dan masih berkutat dengan berkas berkas dan juga rekaman kamera pengawas yang tidak ada ujungnya sama sekali.


Ting tong ting tong


Suara bel apartment di tekan mulai terdengar menggema di ruangannya. Membuat Kafeel dan juga Rendy yang mendengarkan hal itu lantas saling pandang satu sama lainnya seakan bertanya tanya siapa tamu yang datang sepagi ini?


"Biar saya saja yang membukanya bos..." ucap Rendy yang langsung di tahan oleh Kafeel begitu tahu Rendy hendak berdiri untuk membuka pintu depan.


"Biar aku yang membukanya, kamu teruskan saja pekerjaan mu." ucap Kafeel kemudian sambil bangkit berdiri.


"Tapi bos..." ucap Rendy ingin menghentikan langkah Kafeel untuk ke depan namun Kafeel sudah berlalu begitu saja dari sana.


Dengan perlahan Kafeel mulai membuka pintu unit apartemennya untuk melihat siapa yang datang sepagi ini.


"Selamat pagi pak, kami dari pihak kepolisian hendak melakukan penangkapan kepada saudara Kinara. Dari informasi yang kami dapat saudara Kinara tengah berada di dalam saat ini." ucap salah seorang pria yang menggunakan seragam kepolisian.


"Apakah saya bisa melihat surat penangkapannya pak?" tanya Kafeel dengan nada yang mencoba untuk berbicara setenang mungkin.


Salah seorang polisi tersebut lantas memberikan selembar surat kepada Kafeel. Tanpa memakan waktu lama Kafeel lantas mulai membaca dari atas hingga bawah surat itu lalu memberikannya kembali kepada polisi tersebut.


"Bapak tunggulah di sini biar saya yang memanggilnya di dalam pak." ucap Kafeel dengan nada yang sopan.


"Apa yang akan menjamin anda tidak akan membawanya kabur dari sini setelah anda masuk?" ucap polisi tersebut yang seakan tidak percaya bahwa Kafeel akan benar benar mengantarkan Kinara pada kedua polisi tersebut.

__ADS_1


"Bapak bisa mempercayai saya, saya tidak akan kabur kemanapun." ucap Kafeel kemudian.


Bersambung


__ADS_2