
Kinara melajukan mobilnya dengan tangis yang tak kunjung henti hentinya menuju rumah mertuanya. Pikirannya benar benar kalut saat ini, bisa bisanya Geffie menuduh dirinya telah bercinta dengan Kafeel. Apakah segala kenangan yang telah terukir indah selama enam tahun belakangan ini sama sekali tidak berarti baginya?
"Apakah aku yang terlalu naif berpikir bahwa mas Geffie akan berubah hiks hiks?" ucapnya pada diri sendiri.
**
Setelah beberapa menit mengemudi, mobil Kinara berhenti tepat di halaman rumah mertuanya. Kinara mengusap kasar air matanya yang terus turun meski ia tak menginginkannya. Kinara menarik nafasnya berulang kali, mencoba menenangkan dirinya yang tengah kacau.
"Tenang Kinara kamu bisa huft, kamu bisa!" ucapnya sambil kembali menghapus air matanya yang kembali turun.
Kinara menatap wajahnya pada cermin dan membenarkan riasannya yang sudah luntur tak beraturan, Delisha tidak boleh melihat sisi dirinya yang rapuh ini. Sebagai seorang ibu Kinara harus bisa tetap kuat dan memberikan contoh yang baik kepada anak anaknya.
Kinara kemudian lantas melangkahkan kakinya keluar dari mobilnya menuju ke arah pintu, lalu mengetuknya perlahan.
Tok tok tok
Tidak berapa lama pintu mulai terbuka menampilkan sosok ayah mertuanya di sana.
"Kinara? tumben kamu sendiri?" tanya Ardi kala melihat kedatangan Kinara.
"Iya Ara mau menjemput Delisha pa." ucap Kinara.
"Masuklah papa akan memanggil Delisha." ucap Ardi sambil membuka pintu dengan lebar.
Ardi melangkahkan kakinya menaiki anak tangga ingin memanggil Delisha, sedangkan Kinara menunggu di ruang tamu. Ada sedikit perasaan gelisah yang tiba tiba muncul kala Kinara memasuki rumah ini, bayangan ucapan Sila tempo hari masih membekas dipikirannya. Kinara takut jika kali ini ia bertemu lagi dengan Sila, entah apalagi yang akan ia dengar dari mulut ibu mertuanya itu.
Tak lama kemudian Nining nampak turun dengan menggendong Delisha yang sudah tertidur diikuti Ardi di belakangnya.
"Bu" sapa Nining.
"Kamu ke mobil dulu ya Ning, nanti saya akan menyusul." ucap Kinara yang di balas Nining dengan anggukan kepala.
Setelah kepergian Nining dari sana suasana mendadak menjadi hening, tak ingin membuang waktu lama lagi Kinara kemudian lantas berpamitan dengan Ardi.
__ADS_1
"Apa kamu ada masalah nak?" tanya Ardi tiba tiba yang membuat Kinara mengurungkan niatnya untuk berpamitan.
Bohong rasanya kalau Kinara mengatakan tidak, hanya saja Kinara tak sampai hati menceritakan masalah keluarganya, apalagi mengingat Ardi adalah ayah Geffie, mana mungkin Kinara menjelekkan anaknya sendiri pada ayahnya.
"Tidak kok pa." ucap Kinara dengan cepat.
Ardi nampak menepuk pundak Kinara pelan lalu mengelusnya seakan memberikan semangat pada menantunya itu.
"Kalau ada masalah cerita saja sama papa, jangan sungkan. Selagi papa bisa, papa akan membantu mu." ucap Ardi dengan nada yang lembut.
"Mama kemana pa?" tanya Kinara kemudian hendak mengalihkan pembicaraan.
"Mama belum pulang, ya kau tau lah mama mu itu suka sekali pergi arisan." ucap Ardi kemudian.
Ada sedikit perasaan lega dalam diri Kinara kala mendengar Sila sedang pergi, yang artinya ia tidak akan bertemu Sila hari ini.
"Kalau begitu Ara pamit dulu ya pa." ucap Kinara kemudian.
"Ya hati hati di jalan." ucap Ardi yang di balas anggukan oleh Kinara.
Setelah dari rumah mertuanya Kinara melajukan mobilnya ke arah butik. Hari ini Kinara ingin mengistirahatkan pikirannya sejenak, rasanya kepalanya seperti akan meledak menampung segala masalah pelik rumah tangganya.
Mobil milik Kinara sampai di depan butik miliknya beberapa menit kemudian. Nining yang tidak mengetahui rencana Kinara, lantas di buat bingung karena Kinara malah membawa mereka ke sini.
"Apakah ibu hari ini lembur?" tanya Nining.
"Ya, hari ini kita menginap di sini dulu." ucap Kinara singkat.
Nining tidak berkomentar apa apa lagi dan memilih mengikuti kemana keinginan Kinara. Keduanya kemudian turun dari mobil dengan Nining yang menggendong Delisha yang sedang tidur. Nining tahu ada yang terjadi pada rumah tangga bosnya ini, tanpa Kinara menjelaskannya pun, Nining sudah tahu Geffie dan Kinara pasti kembali bertengkar ketika Nining dan Delisha di rumah orang tua Geffie tadi.
"Kamu bawa Delisha ke ruang istirahat, biar saya siapkan makanan, kamu pasti belum makan bukan?" ucap Kinara.
"Terima kasih banyak bu." ucap Nining kemudian melenggang pergi untuk menidurkan Delisha.
__ADS_1
Kinara pergi menuju mini dapur yang terletak di belakang, untuk membuat mie instan karena memang hanya itu yang tersedia di butiknya.
Kinara menatap kosong ke arah tembok dapur sambil menunggu air mendidih. Pikirannya benar benar melayang entah kemana, rasanya seperti penuh dan sangat sesak, tapi Kinara tidak tahu harus bagaimana untuk meringankannya.
Nining yang sudah menidurkan Delisha lantas langsung bergegas ke arah Kinara kala mendengar bunyi air yang sudah mendidih. Cepat cepat Nining mencabut kabel dari stop kontak dan mematikan teko listrik yang di gunakan Kinara untuk memasak air.
"Bu airnya sudah mendidih.." ucap Nining namun Kinara sama sekali tidak bereaksi walau Nining sudah mondar mandir di depannya sedari tadi.
Nining yang melihat Kinara diam saja, lantas mulai memegang lengan Kinara hingga menyadarkan Kinara dari lamunannya.
"Eh iya Ning." ucap Kinara kaget.
"Airnya sudah mendidih bu." ucapnya kemudian.
Kinara yang mendengar hal itu lantas langsung menatap ke arah teko listrik tersebut, lalu menuangnya ke dalam satu kap mie instan dan memberikannya kepada Nining.
"Ini, maaf ya Ning kamu malam ini jadi makan mie instan. Saya mau pesan tapi aplikasinya sedang eror dan.." ucap Kinara namun terpotong oleh Nining yang tiba tiba menggenggam tangannya dengan erat.
"Ibu bisa cerita pada saya, jika ibu berkenan." ucap Nining kemudian.
Mendengar hal itu Kinara menghela nafasnya panjang, bahkan semua orang seakan mengerti tentang permasalahan yang di alami Kinara, namun kenapa Geffie yang bahkan berstatus suaminya seakan sama sekali tidak mengerti dengan kegundahan yang kini Kinara rasakan.
**
Ruangan Kinara.
"Bagaimana pendapat mu tentang perceraian Ning?" ucap Kinara tiba tiba.
"Saya tidak bisa berkomentar apa apa tentang itu bu, hanya saja andai ibu tahu saya juga korban dari suami saya, sebelum bekerja dengan ibu, posisi saya saat itu juga sebagai seorang isteri hanya saja kami belum di berikan kepercayaan untuk mempunyai momongan. Rumah tangga kami awalnya juga berjalan dengan baik layaknya rumah tangga pada umumnya, namun tepat di pernikahan kami yang ketiga tahun, malam itu suami saya pulang bersama seorang wanita yang tengah mengandung besar." ucap Nining dengan mata yang berkaca kaca kala menceritakannya kepada Kinara. "Saya mengira bahwa wanita itu hanyalah teman suami saya, tapi nyatanya dia adalah madu saya, suami saya dan wanita itu sudah menikah siri satu tahun yang lalu tanpa memberitahu saya. Hati saya benar benar hancur kala itu, rasanya bagai ditusuk berpuluh puluh duri yang langsung menghujam saya dengan tiba tiba." ucapnya lagi kini dengan air mata yang sudah berlinang.
"Lalu apa yang terjadi selanjutnya Ning?" tanya Kinara lagi sambil mengusap pelan pundak Nining mencoba menenangkannya.
"Saya..."
__ADS_1
Bersambung