Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta

Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta
Dosa di masa lalu?


__ADS_3

Setelah dari arisan Sila lantas langsung pulang ke rumah, rencananya sih Sila ingin mengunjungi galeri seni milik teman sosialitanya hanya saja tidak jadi karena ia ingin pergi ke sana bersama dengan Ardi. Sesampainya di halaman rumah Sila agak terkejut kala mendapati mobil Kinara terparkir di halaman depan.


"Berani juga dia datang ke mari." batin Sila dalam hati sambil tersenyum sinis kala mengingat tentang menantunya itu.


Sila terus melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, namun ketika ia sampai di ruang tamu samar samar Sila seperti tengah mendengar suara ribut ribut disertai dengan suara minta tolong yang suaranya mirip dengan suara menantunya yaitu Kinara.


"Lepas...kan Kinara pa...!" ucap Kinara dengan nada yang tertahan karena ia mulai kehabisan tenaga karena meladeni keberingasan Ardi yang terus mencoba menjamah tubuhnya tanpa ampun.


"Sudah menyerahlah saja, papa akan memperlakukan mu dengan sangat lembut, papa janji." ucap Ardi sambil menelan salivanya dengan kasar karena semakin melihat Kinara melawan, semakin besar pula keinginannya untuk mencicipi tubuh menantunya itu.


Sila yang memang seperti mendengar suara gaduh tersebut namun secara samar samar, lantas langsung bergegas ke arah ruang keluarga untuk melihat apa yang tengah terjadi sebenarnya di sana.


Sila melangkahkan kakinya dengan tergesa menuju ke arah ruang keluarga, ketika sampai di sana betapa terkejutnya Sila kala melihat Ardi sang suaminya sudah berada di atas tubuh Kinara dan menjamahi tubuh menantunya itu(Benar benar ayah mertua yang biadab!).


"Papa!" ucap Sila dengan gigi yang bergemelatuk menahan amarahnya yang sudah di ubun ubun kala melihat suaminya malah melakukan hubungan terlarang dengan Kinara menantunya sendiri.


Melihat hal itu Sila lantas langsung bergegas ke arah keduanya kemudian langsung menarik baju bagian belakang Ardi agar menyingkirkannya dari atas tubuh Kinara. Kinara yang merasakan Ardi sudah tidak berada di atasnya lantas langsung segera bangkit hendak pergi dari sana. Namun tiba tiba tubuhnya terasa melayang kala dengan secara mendadak, Sila menampar pipi Kinara dengan cukup keras hingga tak segan mencakar pundak Kinara yang memang kala itu dengan posisi terbuka karena kancing bagian atasnya lepas.


"Perempuan hina! tidak tau diri kau..." ucap Sila dengan nada setengah berteriak sambil menyeret tubuh Kinara dan menamparnya kembali secara berulang kali.

__ADS_1


Sementara Kinara yang mendapat serangan secara tiba tiba, membuat telinga Kinara lantas berdengung karena tamparan dan juga pukulan yang terus dilayangkan padanya. Kinara nampak tidak bisa lagi berkutik ia seakan bingung harus melakukan apa? selain mencoba melindungi bagian kepalanya agar tidak terkena pukulan dari Sila yang begitu membabi buta itu dan bertubi tubi itu.


"Gawat! Kinara bisa mati jika terus seperti itu." batin Ardi dalam hatinya.


Ardi yang kemudian sadar isterinya itu bisa saja membunuh Kinara lantas langsung berusaha memisah keduanya, namun malah berakhir ia yang terjerembab ke belakang karena tenaga Sila yang cukup besar ketika marah.


Sedangkan Kinara yang dalam posisi sulit berusaha untuk mencoba melawan dan menangkis tangan Sila yang terus terusan menyakitinya tanpa henti, hingga kemudian dengan sisa sisa tenaga yang ada Kinara berhasil mendorong tubuh Sila dari atas tubuhnya dan membuatnya hingga tersungkur jatuh ke belakang.


Tidak ingin menyianyiakan kesempatan yang ada, Kinara lantas segera pergi dengan cara sedikit merayap berusaha untuk menghindar sambil bangkit dan mencoba pergi dari sana.


"Aku tidak boleh mati di sini! Delisha masih membutuhkan ku." ucap Kinara dalam hati.


"Aku tidak akan membiarkan mu pergi begitu saja, kemari kau menantu sialan. Biar ku bunuh sekalian kau." teriak Sila dengan nada kasar ke arah Kinara yang berusaha untuk melarikan diri darinya.


"Berhenti ma! mama bisa membunuh Kinara!" ucap Ardi kala melihat Sila hendak mengejar Kinara dan menghajarnya lagi.


Mendengar teriakan Ardi barusan, Sila yang baru sadar dengan kehadiran Ardi di sana lantas langsung menghentikan langkah kakinya yang mengejar Kinara kemudian langsung berbalik melangkah ke arah Ardi.


"Kau benar benar lelaki buaya! dasar binatang, tidak tahu diri!" teriak Sila dengan kesetanan sambil memukul mukul tubuh Ardi berulang kali secara sembarangan.

__ADS_1


"Tenang ma... tenang, ini semua hanya salah paham papa bisa jelasin semuanya, kita selesaikan semuanya baik baik ya." ucap Ardi sambil terus mencoba menghindar dari serangan yang di lakukan isterinya secara bertubi tubi.


"Lelaki keparat kau! kemari biar ku potong burung mu itu!" ucap Sila dengan nada yang berteriak, sedangkan Ardi lantas langsung berlarian dan menuju kamarnya untuk bersembunyi hendak menghindari amukan Sila yang sekarang lebih mirip dengan banteng yang sedang mengamuk.


**


Sementara Ardi dan juga Sila yang tengah terlibat saling kejar kejaran, Kinara yang sudah sampai tepat di ambang pintu dengan langkah yang terseyot seyot, lantas berusaha untuk bangkit dengan memegang daun pintu. Kinara bergegas pergi dari sana walau tubuhnya terasa sangat sakit seluruhnya, beruntung ia masih bisa keluar dari sana dan tidak mati di tangan mertuanya itu. Kinara langsung masuk ke dalam mobil, ia menangis tersedu di sana sambil mulai melajukan mobilnya entah kemana.


Kinara menangis dengan sejadi jadinya, bukan karena apa? hanya saja Kinara kini sedang menangisi nasib buruk yang terus menimpa dirinya. Tidak hanya satu kali, bahkan cobaan terus datang menghampirinya satu persatu dengan silih berganti. Di mulai dari perselingkuhan suaminya, psikologis anaknya yang terganggu, tekanan dari mertua, proses perceraian, hingga hampir diperkosa ayah mertuanya sendiri. Bukankah lengkap sudah penderitaannya?


"Dosa apa yang ku lakukan di masa lalu hingga nasib ku selalu saja berakhir tragis seperti ini hiks hiks..." ucap Kinara dengan sesenggukan sambil terus melajukan mobilnya menuju ke arah butik.


Ckit


Kinara menghentikan laju mobilnya kala baru teringat bahwa Delisha dan juga Nining sedang menunggunya di butik.


"Delisha tidak boleh melihat ku seperti ini. Sebaiknya aku kembali ke apartment saja sebelum ke sana." ucap Kinara pada dirinya sendiri sambil mengusap air matanya yang masih mengalir bagai anak sungai itu. "Setidaknya aku harus tampil dengan segar bukan? agar Delisha tidak khawatir terhadap ku, gadis kecil itu perasaannya sangatlah peka. Sekecil apapun kesedihan yang ku sembunyikan Delisha selalu saja tahu." imbuhnya kemudian.


Baru setelah itu Kinara lantas langsung memutar balik mobilnya lalu melajukannya menuju ke arah apartmentnya sebelum pergi ke butik menemui Delisha.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2