Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta

Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta
Ternyata begitu mudah


__ADS_3

Kediaman Kinara


Kinara melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya menuju dapur untuk membuat secangkir teh. Malam ini ia kembali tidak bisa memejamkan matanya karena memikirkan beberapa hal, Kinara mulai menyeduh perlahan teh di gelasnya kemudian mengaduknya cukup lama sambil menatap kosong ke arah dinding yang bercat putih itu.


Terdengar helaan nafas berulang kali yang berasal dari Kinara. Hingga kemudian Kinara membawa secangkir tehnya dan mengambil duduk di meja makan.


"Apa dengan datang ke sini aku berhasil melupakan segalanya tentang dia?" tanya Kinara pada diri sendiri yang tentu saja hanya di jawab oleh keheningan malam itu.


Kinara kembali menghela nafasnya panjang ketika semakin di tanya semakin dirinya seakan tidak menemukan jawaban yang pas untuk menggambarkan isi hatinya. Hubungannya dengan Kafeel bahkan hanya terjalin beberapa bulan, namun entah mengapa rasanya terasa sangat membekas di hati Kinara.


"Bukankah keduanya sama sama membuat ku terluka? namun mengapa berpisah dengan Kafeel terasa sangat menyakitkan di banding berpisah dengan Geffie dulu." ucapnya lagi kemudian sambil meminum teh di gelasnya lalu menatap cangkir itu dengan perlahan dan seksama. Kinara bahkan tidak tahu apa yang sedang ia lakukan sekarang? Kinara sungguh bingung bagaimana untuk membuat hatinya lega dan melepas segalanya dengan ikhlas tanpa terus terusan seperti ini.


******


Keesokan harinya


Di sebuah hotel dengan kamar president suite Nabila nampak terbangun dari tidurnya dan langsung berlarian ke kamar mandi dengan tubuh yang polos tak memakai sehelai benang pun membaluti tubuhnya.


Nabila masuk ke kamar mandi dengan langkah yang tergesa, kemudian langsung memuntahkan seluruh isi perutnya yang tentu saja hanya berisi air karena memang ia baru bangun dan belum sarapan pagi ini.


Hoek hoek....


Diusapnya dengan kasar mulutnya yang basah kemudian mendudukkan dirinya di lantai kamar mandi. Bayangan demi bayangan adegan panas yang dilakukannya bersama om om semalam benar benar menjijikkan bagi Nabila. Nabila muntah bukan karena hamil atau sakit ia hanya merasa jijik dengan perbuatannya kemarin.

__ADS_1


"Benar benar menggelikan sekali adegan semalam, apa semua om om selalu saja kuat seperti itu? pinggangku bahkan terasa sakit sekarang, untung saja aku butuh kalau tidak ogah aku melakukannya." ucap Nabila pada diri sendiri kemudian bangkit dan mengambil handuk kimono yang di sediakan pihak hotel untuk tamu mereka.


Setelah puas mengeluarkan isi perutnya Nabila lantas melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi. Di atas nakas ia melihat sebuah kertas dan juga map di sana, membuat seulas senyum terukir jelas di wajah Nabila secara tiba tiba. Nabila melangkahkan kakinya menuju ke arah nakas untuk melihat isi map tersebut.


Di bukanya perlahan isi map itu, dan lagi lagi senyum mengembang terlihat jelas di wajah Nabila. "Dua ratus juta dan juga kontrak untuk model sebuah produk? benar benar sesuatu om itu. Kenapa sangat mudah sekali mendapatkannya? hanya cukup semalam bergoyang dan keesokan harinya aku dapatkan semuanya." ucap Nabila dengan tersenyum bahagia ketika mendapatkan apa yang dia minta.


Dengan hati yang bahagia Nabila kemudian mengambil satu persatu pakaiannya yang berserakan di bawah, lalu memakainya satu persatu dengan cepat sambil sesekali terdengar bersenandung kecil karena saking bahagianya.


"Tak apa jika om itu kuat dan melakukan hal hal aneh dalam bercinta. Aku bisa mengakalinya dengan meminum obat perangsang, jika sudah begitu aku pasti akan bisa mengikuti permainannya." ucap Nabila lagi sambil berkaca pada standing mirror yang ada di sudut kamar hotel.


****


Kediaman Ratih


Pagi ini Rian sudah bersiap dengan pakaian yang rapi karena rencananya Rian akan kembali ke Ibu kota pagi ini, ada kasus yang harus ia tangani di sana sehingga mengharuskan Rian kembali lagi ke Ibu kota walau ia tidak menginginkannya.


"Eh iya ada apa Yan?" ucap Ratih kemudian yang langsung tersadar dari lamunannya setelah mendengar panggilan Rian barusan.


Melihat hal tersebut Rian hanya bisa menghela nafasnya panjang kemudian melangkah mendekat dan mengambil duduk di sebelah Ratih. "Mama jangan lupa untuk mengantar Kinara mencari sekolahan di dekat sini untuk Delisha." ucap Rian mengulangi kata katanya karena Ratih tadi tidak mendengarnya.


"Iya habis sarapan mama akan ke rumah Kinara, kamu tidak perlu khawatir dan berkendaralah dengan aman." ucap Ratih kemudian dengan tersenyum dan mengingatkan anaknya itu.


Rian meminum secangkir kopi di gelasnya dengan perlahan kemudian baru menatap Ratih dengan tatapan yang menelisik membuat Ratih salah tingkah di buatnya.

__ADS_1


"Katakan ada apa ma? jangan coba coba menipuku karena mama sungguh tidak pandai dalam berbohong." ucap Rian seakan tahu Ratih tengah menutupi sesuatu dari dirinya.


Ratih yang mendapat pertanyaan itu hanya terdiam seakan enggan untuk menjawab pertanyaan dari Rian barusan.


"Apa ini karena seseorang yang mengganggu mama ketika aku dan Kinara pergi kemarin?" tebak Rian kemudian yang lantas membuat mimik wajah Ratih berubah ketika mendengarnya. Rian yang tahu tebakannya benar lantas lagi lagi menghela nafasnya panjang ketika melihat perubahan raut wajah Ratih barusan.


"Bagaimana kamu tahu?" tanya Ratih penasaran.


"Bagaimana aku tidak tahu, seluruh kompleks ini bahakan sudah mengetahui keributan yang terjadi kemarin ma." ucap Rian menjelaskan. "Jadi sekarang katakan ma siapa dia?" imbuhnya kemudian.


"Ternyata sudah menyebar ya?" ucap Ratih dengan nada yang sendu pada ucapannya.


"Apakah dia Adhitama?" tebak Rian kemudian yang sepertinya tepat pada sasaran.


"Jangan seperti itu Yan, dia adalah ayah mu." ucap Ratih kemudian kembali mengingatkan karena ketika keduanya membicarakan tentang Adhitama pasti akan berakhir dengan pertengkaran mengingat Rian yang begitu membenci Adhitama.


"Cih ayah? lagi pula dia juga tidak tahu kalau aku ada, jadi untuk apa aku mengakuinya?" ucap Rian dengan sinis.


"Kamu tidak boleh seperti itu Yan, dia tidak tahu karena mama tidak ingin memberitahunya bukan karena dia tidak menginginkan mu sama sekali." ucap Ratih lagi berusaha untuk sedikit menghapus perasaan benci yang sudah tertanam di dalam diri Rian sejak kecil.


Rian yang lagi lagi mendengar pembelaan keluar dari mulut Ratih lantas bangkit dan menyudahi sarapannya, membuat Ratih yang melihat hal itu lantas bingung akan reaksi yang di berikan Rian.


"Sudahlah ma, kenapa kita berdua selalu saja bertengkar ketika membahas hal ini. Jika mama masih menyimpan rasa untuknya aku tidak akan melarang mama karena bahtera rumah tangga yang mama bangun mungkin masih berbekas di hati mama. Hanya saja aku mohon satu hal pada mama, jangan coba coba untuk melarang ku membencinya karena aku pun mempunyai alasan akan hal itu." ucap Rian kemudian melenggang pergi dari sana.

__ADS_1


"Tapi..."


Bersambung


__ADS_2