Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta

Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta
Apa aku anak mama?


__ADS_3

Kediaman Geffie


Geffie sampai di rumahnya larut malam, kini seperti menjadi sebuah rutinitas barunya setiap hari, di mana Geffie akan mengunjungi butik Kinara sampai berjam jam setelah itu baru pulang ke rumah. Hanya saja, selama beberapa hari belakangan ini, Geffie sama sekali tak melihat Kinara maupun Delisha di butik, hanya beberapa kali saja namun selalu saja menghilang sore harinya ketika ia kembali ke butik setelah pulang dari kantor. Sepertinya Geffie selalu saja terlambat.


Geffie membuang tas kerjanya ke sembarang arah tanpa memperdulikannya lagi, rumahnya kini bahkan sudah seperti kapal pecah di mana beberapa barang nampak berserakan di sana sini, sedangkan Geffie sama sekali tidak memperdulikan hal itu dan terus melanjutkan hidupnya.


Ketika Geffie melewati ruang tengah bayang bayang seseorang tengah duduk, lantas mengagetkannya yang sedang berjalan melewatinya.


"Apa itu?" batin Geffie dalam hati sambil memperhatikan bayangan tersebut dengan seksama.


"Kamu baru pulang rupanya!" ucap Sila sambil bangkit berdiri dan melangkah mendekat ke arah Geffie.


"Ada apa lagi sih ma? lagi pula kenapa mama selalu bisa masuk? padahal jelas jelas aku sudah menggantinya dengan key password dan selalu ku ganti berulang kali, namun mama selalu saja bisa masuk ke dalam!" ucap Geffie dengan kesal kala mendapati kembali mamanya sudah berada di dalam rumah menunggunya.


"Tidak penting mengapa mama bisa masuk ke dalam rumah mu Gef, yang jadi masalah sekarang ada apa dengan rumah mu ini ha? apa kau tidak melihatnya? ini bahkan hampir mirip kandang sapi dari pada sebuah rumah!" ucap Sila sambil menatap sekitaran lantai yang berserakan banyak barang maupun pakaian Geffie.


"Sudahlah ma aku lelah, lebih baik mama pulang atau menginap di kamar tamu." ucap Geffie dengan acuh sambil melangkah hendak pergi.


Sila yang melihat anaknya acuh, tentu saja sangat kesal. Sila bahkan sudah menunggu kedatangan Geffie selama berjam jam, tapi balasan Geffie malah mengacuhkannya.


"Kenapa kau tidak katakan pada mama, Kinara menggugat cerai dirimu?" tanya Sila yang langsung membuat langkah kaki Geffie terhenti.

__ADS_1


Geffie memang sengaja tidak memberitahu Sila tentang gugatan itu. Bukan karena apa? sifat Sila yang keras membuat Geffie enggan untuk berbagi ataupun bercerita semua masalahnya kepada Sila.


"Ini masalah rumah tangga ku ma, mama gak perlu ikut campur." ucap Geffie dengan nada yang rendah.


Mendengar hal itu, Sila lantas bersendekap dada di dalam kegelapan karena memang Geffie tidak menghidupkan lampu rumahnya sama sekali.


"Bagus deh, lagi pula mama gak suka dengan dia. Dari dulu mama kan sudah bilang jangan menikah dengannya tapi kamu masih ngotot saja, sekarang kalau sudah begini baru mengerti bukan? kalau prasangka orang tua selalu benar." ucap Sila dengan santainya.


Geffie yang mendengar ucapan Sila tentu saja kesal, bagaimana bisa Sila mengatakan hal itu pada Geffie padahal jelas jelas Sila lah yang ikut andil atas kepergian Kinara. Geffie kembali melangkahkan kakinya menuju ke arah Sila, berbicara dengan Sila selalu saja berakhir dengan pertengkaran. Dalam benak Geffie bahkan selalu berta tanya, apakah Geffie benar benar anaknya? bukan tanpa alasan, hanya saja perlakuan Sila yang kasar dan juga kaku seakan akan membuat prasangka itu kian membumbung di hati Geffie.


"Hentikan ma! kepergian Kinara juga karena mama. Tekanan yang mama berikan kepada Kinara dari awal pernikahan kami selalu menjadi momok tersendiri bagi Kinara, apa mama tidak menyadarinya?" tanya Geffie dengan nada penuh penekanan.


Mendengar hal itu Sila nampak melengos, "Halah hanya begitu saja baper, niat mama kan bagus mendidik menantu mama. Kalau terus menye menye seperti itu, bakal jadi apa rumah tangga kalian?" ucap Sila dengan santainya.


"Cerai ya cerai, bukankah kau masih punya Nabila? ia bahkan lebih segala galanya dari Kinara, jangan bodoh deh. Kamu berselingkuh dengannya karena itu bukan? kurang baik apa coba mama?" ucap Sila dengan nada yang penuh percaya diri, namun malah membuat Geffie tak habis pikir dengan Sila. Bahkan baru kali ini Geffie mendapati seorang ibu yang mendukung perselingkuhan anaknya sendiri, ibu macam apa dia?


"Mama itu gak tahu apa apa, jadi jangan sok tahu! aku dan Nabila hanya main main tidak lebih. Istri ku hanya Kinara sampai kapan pun!" ucap Geffie tak mau kalah sambil menatap tajam ke arah Sila.


Plak


Suara tamparan yang cukup keras mendarat di pipi kanan Geffie, hanya saja Geffie tetap diam dan tak bereaksi apa apa tehadap yang di lakukan Sila barusan.

__ADS_1


"Dia bahkan merubah mu jadi pembangkang seperti ini! tapi kamu masih ingin mempertahankannya. Pelet apa yang dimilikinya hingga membuat mu seperti ini? mama benar benar tak habis pikir dengan jalan pikiran mu itu." ucap Sila dengan nada yang keras setelah ia menampar Geffie barusan.


"Jika mama bertanya tentang pelet, aku juga akan menanyakan hal yang sama pada mama. Pelet apa yang mama punya hingga papa selalu saja diam dan berada di bawah ketek mama?" ucap Geffie kemudian dengan menahan amarahnya yang sudah mencapai batasnya.


"Kau benar benar kurang ajar terhadap orang tua!" ucap Sila hendak menampar Geffie lagi namun keburu di tahan oleh Geffie dengan tangannya.


"Aku bahkan juga terus bertanya tanya selama ini ma, apa aku benar benar anak mama?" ucap Geffie kemudian sambil menghempaskan tangan Sila kemudian melenggang pergi dari sana meninggalkan Sila sendirian.


Sila terdiam menatap kepergian Geffie dari sana hingga menghilang dari pandangannya.


"Apa aku terlalu keras padanya?" tanya Sila pada diri sendiri.


******


Sementara itu di unit apartment Kinara.


Malam ini Kinara sama sekali tidak bisa tidur, Kinara lantas melangkahkan kakinya ke arah dapur dan mengambil satu kaleng minuman soda di sana untuk ia minum sambil menunggu kantuknya datang.


Seulas senyuman terukir dibibir Kinara kala mengingat wajah Kafeel yang dirias oleh Delisha tadi, benar benar lucu dan mengocok perut. Kafeel benar benar bisa mengambil hati Delisha, Delisha sendiri sebenarnya bukan anak yang sulit untuk bergaul, hanya saja Delisha jarang bisa akrab dengan seorang pria kecuali ayahnya sendiri yaitu Geffie. Jadi Kinara agak terkejut kala mengetahui kedekatan keduanya seperti itu, benar benar terlihat seperti ayah dan anak sungguhan.


"Bukankah Kafeel terlalu terlihat dalam mendekati ku?" ucapnya kemudian. "Ah apa yang aku pikirkan? mana mungkin pengusaha sukses seperti Kafeel menyukai wanita seperti ku, yang bahkan sebentar lagi menjadi janda. Tentu jawabannya adalah tidak bukan?" ucap Kinara sambil meneguk minuman soda ditangannya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2