
Setelah kepergian Fara dari sana, Kinara lantas melepaskan pegangan tangannya dari Kafeel dan menatap kepergian Fara dengan tatapan yang jengkel.
"Apa ada yang tidak aku ketahui?" tanya Kafeel setelah kepergian Fara dari sana.
"Tidak ada" ucap Kinara dengan cepat karena memang ia tidak merasa menyembunyikan apapun dari Kafeel.
"Lalu barusan?" tanya Kafeel penuh selidik.
"Oh itu, jadi setelah sidang perceraian ku waktu itu aku, Nabila dan juga Fara tidak sengaja bertemu di sebuah kafe. Sama seperti Geffie, Nabila juga menuduh ku berselingkuh dengan mu, karena aku kesal jadinya aku bilang aja dari pada hanya dapat fitnahnya sekalian aja aku ambil orangnya." ucap Kinara dengan santainya yang lantas membuat Kafeel menatap ke arahnya dengan tatapan aneh.
"Oh seperti itu, jadi aku hanya bahan taruhan bagi mu?" ucap Kafeel kemudian membuat Kinara langsung menoleh ke arahnya.
"Bukan seperti itu, ucapan ku saat itu hanyalah main main. Mana ku tahu tiba tiba menjadi kenyataan dan malah aku akan menikah dengan mu. Bukankah itu sebuah takdir?" ucap Kinara membela diri.
Kafeel terdiam dan memasang muka manyun membuat Kinara lantas tersenyum kala menyadari sepertinya Kafeel tengah ngambek saat ini.
Kinara lantas tersenyum dan memeluk Kafeel dari samping kemudian mencium pipi kiri Kafeel dengan sekilas lalu tersenyum.
"Kamu sudah pintar merayu rupanya." ucap Kafeel dengan sedikit senyum di bibirnya.
"Tidak" jawab Kinara dengan cepat lalu mencium pipi Kafeel lagi membuat Kafeel lantas langsung menatap ke arah Kinara.
"Jangan coba coba memancing ku Ra..." ucap Kafeel kemudian menggelitiki Kinara pelan karena gemas akan tingkah Kinara barusan.
*****
Mansion milik Nabila
Terlihat Nabila sedang mengaduk secangkir cappucino yang baru saja ia seduh di dapur. Dari arah ruang tengah Geffie berjalan mendekat ke arah Nabila kemudian memeluk Nabila dari belakang.
"Apa yang sedang kamu buat?" tanya Geffie sambil mendaratkan kepalanya pada pundak Nabila.
__ADS_1
"Cappucino, kamu mau?" tanya Nabila sambil mengangkat gelas di tangannya.
"Tidak untuk mu saja" ucap Kafeel sambil mencium singkat pipi Nabila kemudian melepaskan pelukannya.
"Em Gef, bisa kamu transfer aku 20 juta?" tanya Nabila tiba tiba yang lantas membuat Geffie langsung mendongak kala mendengar ucapan Nabila barusan.
"Untuk apa uang sebanyak itu?" tanya Geffie dengan penasaran.
"Aku ingin ke salon dan melakukan treatment, boleh ya?" ucap Nabila dengan wajah memelas.
Mendengar bujukan Nabila barusan membuat Geffie lantas menghela nafasnya panjang. "Baiklah, tapi cobalah untuk berhemat dan jangan terlalu boros. Gaji ku tidak sebanyak Kafeel yang bisa memberi mu mansion seluas ini dengan percuma." ucap Geffie dengan nada yang menyindir Nabila secara halus.
"Kalau tidak mau ya sudah, gak usah bawa bawa Kafeel dan gaji, dasar laki laki modal sel*ngk*ngan doang!" ucap Nabila dengan ketus.
"Kau ya Bi..." ucap Geffie hendak memarahi Nabila karena perkataannya barusan, sayangnya ucapannya harus terhenti karena deringan ponsel milik Nabila memotong ucapannya. Nabila yang melihat nama Fara di layar ponselnya lantas langsung mengusap ikon berwarna hijau pada layar ponselnya.
"Halo" ucap Nabila begitu sambungan telponnya terhubung.
"Tentang apa?" ucapnya kemudian.
"Kafeel dan Kinara akan menikah!" ucap Fara dengan singkat namun mampu membuat Nabila terkejut ketika mendengarnya.
"Jangan main main kamu Fa, ini gak lucu!" ucap Nabila dengan nada yang tidak suka.
"Aku sungguh sungguh, aku bahkan melihat Kinara dan juga Kafeel keluar dari toko gaun dan membeli wedding dress, jika kau masih meragukannya juga aku bahkan sampai menghampiri Kinara dan menanyakan langsung padanya, kau tahu apa katanya? tunggu saja undangannya pasti sebentar lagi akan datang padamu. Kurang akurat apa coba berita ku?" ucap Fara dengan bangga.
"Sialan mereka!" ucap Nabila dengan kesal kemudian langsung memutus sambungan telponnya dan melemparnya begitu saja, hingga membuat Geffie menatap ke arahnya dengan tatapan bingung akan sikap Nabila barusan.
"Ada apa lagi kali ini? aku bahkan baru saja mentransfernya, kenapa kamu masih marah?" tanya Geffie kemudian yang sebenarnya sedikit jengkel kepada Nabila karena beberapa waktu lalu Nabila sudah meminta uang dengan nominal yang fantastis dan kini ia malah meminta kembali dengan entengnya.
"Bukan masalah itu, hanya saja ada masalah lain yang membuat ku kesal." ucap Nabila dengan raut wajah merah padam menahan amarahnya.
__ADS_1
"Masalah apa?" tanya Geffie kemudian dengan penasaran.
"Kafeel dan Kinara akan menikah, bagaimana aku tidak kesal coba?" ucap Nabila dengan nada yang kesal dan mampu membuat raut wajah Geffie berubah drastis, antara terkejut dan juga tidak percaya dengan berita yang baru saja ia dengar.
"Benar benar sialan!" ucap Geffie kemudian dengan kesal.
"Kita tidak bisa membiarkan hal ini terjadi." ucap Nabila dengan tatapan yang tidak terima menatap ke arah Geffie.
"Tentu saja tidak, Kinara hanya milik ku sedangkan untuk Kafeel terserah mau kau apakan." ucap Geffie dengan tegas tanpa ingin di bantah.
"Yang ada di isi kepala mu hanya Kinara saja, katanya kau cinta pada ku, tapi mengapa otak mu hanya Kinara saja?" ucap Nabila dengan jengkel menanggapi ucapan Geffie barusan.
"Otak dan hati ku hanya di isi oleh Kinara sedangkan untuk mu adalah hasrat ku. Jangan berharap lebih karena kau pun sama bukan? Jangan membohongi ku dan berkata tidak, karena aku tahu di belakang ku kau masih berusaha bertemu dengan Kafeel. Jadi bukankah kita seri?" ucap Geffie dengan santainya.
"Terserah padamu" ucap Nabila pada akhirnya. "Yang jelas aku punya rencana yang bagus agar kita bisa menggagalkan pernikahan mereka." imbuh Nabila dengan antusiasnya.
"Apa kau yakin berhasil?" tanya Geffie tidak percaya begitu saja.
"Tentu saja, kau hanya perlu mengikuti semua instruksi ku saja." ucap Nabila dengan tersenyum licik menatap ke arah Geffie.
****
Sementara itu di apartment milik Kinara.
Kinara tengah duduk di sofa ruang tamu sambil memandangi segunung belanjaannya bersama Kafeel hari ini. Baru kali ini Kinara benar benar merasakan yang namanya belanja. Bukan berati Kinara tidak pernah belanja, hanya saja jika sebanyak ini sepertinya Kinara tidak akan mungkin melakukannya karena sayang dengan uangnya yang lebih baik di tabung untuk keperluan Delisha di masa mendatang.
"Barang sebanyak ini mau kita apakan bu?" tanya Nining kala melihat puluhan paper bag maupun bungkusan kotak berjajar memenuhi lantai ruang tamu Kinara.
"Saya juga gak tahu Ning." ucap Kinara sambil menggelengkan kepalanya berulang kali karena bingung.
Bersambung
__ADS_1