
Sementara itu Geffie saat ini tengah mengemudikan mobilnya menuju ke apartment golden place, senyum menyeringai nampak terbit di wajahnya kala ia berhasil mengelabui karyawan Kinara yang bodoh itu untuk memberitahu alamat Kinara pada Geffie. Bukan perkara susah mengelabui mereka karena memang karyawan Kinara tidak ada yang mengetahui tentang perceraian keduanya, jadilah Geffie memanfaatkan ketidaktahuan mereka untuk mencapai tujuannya.
Geffie berhenti tepat di parkiran dekat pintu masuk ke arah apartment. Ia sengaja berhenti di sana karena memang ia ingin Kinara sendirilah yang datang padanya. Setelah memarkirkan mobilnya Geffie mulai mendial nomer Kinara di ponselnya.
Butuh beberapa kali bagi Geffie untuk menghubungi nomer Kinara karena sepertinya Kinara enggan mengangkat telpon darinya. Namun, bukan Geffie namanya jika menyerah begitu saja dan terus menelpon Kinara tanpa henti hingga setelah kesekian kalinya barulah terdengar suara di seberang sana.
"Ada apa?" ucap sebuah suara di seberang sana dengan ketus.
"Turunlah ke bawah sekarang, aku ada di lobi!" ucap Geffie tanpa basa basi lagi.
"Darimana dia tahu aku ada di apartment ini?" batin Kinara dalam hati. "Aku tidak mau turun, hubungan kita sudah berakhir jadi jangan ganggu aku lagi." ucap Kinara dengan nada yang dingin.
"Baiklah jika memang kau tidak mau turun maka aku yang akan naik dan membuat keributan di sana, bukankah itu yang kau mau?" ancam Geffie.
Mendengar hal itu Kinara lantas terdiam, kali ini Geffie benar benar membuatnya stres.
"Aku akan menunggumu di sini, jika dalam 15 menit kau tak datang maka aku yang akan ke sana." ucap Geffie kemudian memutus sambungan telponnya tanpa menunggu jawaban dari Kinara terlebih dahulu.
"Aku yakin dia akan turun sebentar lagi." ucap Geffie dengan nada yakin.
**
15 menit kemudian dari arah lobi terlihat Kinara mulai melangkah mendekat ke arah mobil milik Geffie. Dengan ogah ogahan Kinara berhenti tepat di sebelah kaca mobil pengemudi.
__ADS_1
"Masuklah kita bicara di dalam." perintah Geffie.
"Tidak terima kasih, aku tidak akan tahu kalau kau tiba tiba membawaku tanpa ijin. Jadi sebaiknya aku berjaga jaga, katakan ada apa?" ucap Kinara santai.
"Ijinkan aku bertemu Delisha dan membawanya jalan jalan hari ini." ucap Geffie dengan nada yang memelas.
Mendengar hal itu Kinara sedikit tersentak pasalnya Geffie terlalu mudah berubah mood membuatnya sedikit kebingungan. Padahal jelas jelas tadi dia terdengar dingin dan mengancam, namun sekarang mendadak memasang muka memelas dengan nada yang jauh lebih lembut. Bukankah itu aneh?
"Jangan gila, sesuai kesepakatan kamu akan bersama Delisha saat weekend, lagipula saat ini Delisha sedang sekolah kamu tidak bisa seenaknya membawa Delisha seperti itu." ucap Kinara dengan tegas.
Raut wajah Geffie perlahan berubah tajam membuat Kinara yang menyadari hal itu malah menatap sinis, ternyata baik dulu maupun sekarang kata kata lembutnya hanyalah sebuah kamuflase untuk menutupi sifat asli dirinya, beruntung Kinara bisa keluar dari jerat lelaki gila di hadapannya ini.
"Kan bisa nanti setelah pulang sekolah, jangan menguji kesabaran ku Ra!" ucap Geffie dengan nada penuh penekanan.
"Ku mohon jangan seperti ini mas, kembalilah nanti pas weekend. Aku rasa Delisha juga tidak akan mau jika dipaksa seperti itu." ucap Kinara dengan nada lebih lembut. Setidaknya Geffie saat ini tidak bisa jika di balas dengan kasar, harus ada salah satu yang mengalah dan menengahi.
"Aku tidak terima Kinara memperlakukan ku seperti ini!" batin geffie dalam hati.
Geffie kemudian lantas keluar dari mobil dan menarik tangan Kinara dengan kasar yang langsung menghentikan langkah kaki Kinara.
"Aw sakit lepaskan mas!" ucap Kinara sambil meringis kesakitan.
"Aku tidak menyukai penolakan seperti ini Ra, kau tidak bisa menolak ku." ucap Geffie tepat di telinga Kinara.
__ADS_1
Tanpa keduanya sadari, Kafeel yang baru saja keluar dari arah lobi melihat Kinara yang sedang tersudut oleh Geffie, lantas langsung mendekat dan mendorong tubuh Geffie hingga cengkraman tangannya pada Kinara terlepas.
"Bukankah kau terlalu pengecut jika memperlakukan perempuan seperti itu!" ucap Kafeel dengan menatap tajam ke arah Geffie.
Sedangkan Geffie yang melihat Kafeel lantas malah tersenyum sinis.
"Wah wah wah, dari selingkuhan kini kalian menjadi tinggal serumah rupanya. Pantas saja kau melarang ku bertemu dengan Delisha ternyata ini alasannya. Kinara Kinara dasar wanita murahan kau..." ucap Geffie dengan nada meninggi membuat Kafeel yang mendengar hal itu lantas geram dan hendak memukulnya.
Plak
Suara tamparan yang keras mendarat di pipi Geffie bukan berasal dari Kafeel melainkan dari Kinara yang sudah geram akan tingkah laku Geffie.
"Jaga mulut mu kalau berbicara mas, aku bahkan masih berusaha sopan dengan tetap memanggil mu mas, apa kau sudah tidak punya malu atau apa? seseorang yang pernah mempunyai hubungan dekat harusnya bisa menjaga keburukan masing masing apalagi suami isteri. Tapi kamu... jangankan menjaga keburukan ku, yang kamu lakukan malah terus memfitnah ku berselingkuh dengan Kafeel." ucap Kinara setengah berteriak dengan kesal. "Jika memang kata berselingkuh yang terus saja kau ulang walau kita sudah resmi bercerai, baik aku akan menerimanya dengan senang hati." imbuh Kinara kemudian.
Dengan langkah yang tegas namun setengah emosi Kinara lantas melangkah mendekat ke arah Kafeel kemudian mencium pipi Kafeel tanpa aba aba lalu pergi melenggang dari sana tanpa kata, membuat Geffie yang melihat itu semua lantas menjadi kesal menatap ke arah Kafeel. Bukan hanya Geffie yang dibuat terkejut oleh aksi Kinara barusan, bahkan Kafeel yang menerima serangan secara mendadak itu pun ikut terkejut berkali kali lipat.
Setelah kepergian Kinara dari sana, Kafeel lantas tersenyum sambil berjalan mendekat ke arah Geffie yang masih terdiam.
"Harus ku ucapkan terima kasih yang sebanyak banyaknya padamu atau jika perlu aku akan memberikan mu reward, karena apa? berkat dirimu yang merebut batu kali milik ku kau melepaskan berlian yang berharga yang ingin sekali ku gapai dan ku jaga sepenuh hati." ucap Kafeel sambil menepuk bahu Geffie pelan.
Geffie yang mendapat perlakuan tersebut lantas langsung menepis tangan Kafeel dari pundaknya lalu menatap tajam ke arah Kafeel.
"Sebaiknya kau diam sebelum aku berbuat kasar!" ancam Geffie kemudian.
__ADS_1
"Yang harusnya diam di sini itu adalah kau! kau lebih baik cari lawan yang sepadan dengan mu. Jangan mengganggu ku atau mendekati Kinara karena jika kau melanggarnya maka tidak akan ada ampun untuk mu." ancam Kafeel dengan nada yang dingin.
Bersambung