Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta

Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta
Aku ingin melihatnya!


__ADS_3

Disebuah klub ternama di ibu kota, terlihat Geffie tengah duduk di mini bar sambil sesekali meneguk alkohol di hadapannya. Bayangan demi bayangan bagaimana penolakan Kinara dan juga ciuman itu membekas diingatan Geffie.


"Berikan satu lagi." ucap Geffie pada seorang bartender di depannya.


Dari arah pintu masuk tampak Nabila berjalan mendekat ke arah di mana Geffie berada lalu duduk di sebelahnya.


"Ada apa? tumben kamu mengajak ketemuan lebih dulu." ucap Nabila dengan nada yang datar, sebetulnya Nabila masih kesal dengan perbuatan Geffie tempo lalu. Karena perbuatannya itu, Nabila bahkan harus berpuasa tidak berhubungan badan selama beberapa hari untuk menyembuhkan miliknya yang sobek kala itu.


"Kenapa kau ketus sekali?" tanya Geffie kala menyadari perubahan nada bicara Nabila.


"Dasar laki laki sudah berbuat malah lupa tentang perbuatannya." sindir Nabila yang lantas membuat raut wajah Geffie berubah.


"Kau hamil?" tebak Geffie yang lantas mendapat tatapan tajam dari Nabila.


Nabila yang mendengar hal itu lantas dengan spontan memukul kepala Geffie dengan kesal. "Jangan gila, itu tidak akan terjadi! ogah banget aku jika harus merawat bayi." ucap Nabila dengan kesal.


"Lalu?" tanya Geffie dengan bingung karena tebakannya barusan salah.


"Sudahlah lupakan saja, dijelaskan pun kau tidak akan tahu." sindir Nabila.


"Terserah" ucap Geffie pada akhirnya.


"Jadi, kenapa kau memanggil ku?" tanya Nabila lagi karena Geffie belum menjawab pertanyaannya.


"Ayo kita bersenang senang aku sedang suntuk sekarang." ucap Geffie namun lantas membuat Nabila melongo di buatnya.

__ADS_1


"Ogah! aku sedang puasa sekarang." ucap Nabila singkat.


Geffie yang mendengar hal itu lantas langsung menatap tak percaya ketika mendengar ucapan Nabila barusan. Tak berapa lama tawa mulai terdengar dari Geffie, Geffie masih tidak percaya kalau Nabila benar benar mengatakan kata puasa barusan.


"Hahahaha kau puasa? benar benar menggelikan!" ucap Geffie dengan tak henti hentinya tertawa.


"Hentikan jangan menertawakan ku!" ucap Nabila dengan kesal.


"Bukankah barusan kau tengah melucu? lalu kenapa aku tidak boleh tertawa?" ucap Geffie dengan santainya.


"Terserah padamu lah!" ucap Nabila pada akhirnya yang sudah malas menghadapi ucapan Geffie.


**********


Kediaman Geffie


Geffie memasuki rumahnya perlahan, ketika pintu sudah terbuka sepenuhnya ia sedikit terkejut karena lampu rumahnya menyala padahal ia baru saja pulang. Samar samar Geffie lantas mendengar seperti tawa seseorang dari ruang keluarga, membuat Geffie lantas mempercepat langkah kakinya menuju ruang keluarga.


"Mama.. Papa... apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Geffie menatap bingung ke arah kedua orang tuanya.


"Geffie kamu sudah pulang?" tanya Sila ketika mendengar suara Geffie barusan. "Em sebenarnya mulai hari ini kami berdua akan tinggal di sini bersama mu." ucap Sila dengan tersenyum begitu pula dengan Ardi.


"Apa apaan kalian ini? tidak tidak! sebaiknya kalian pulang saja ke rumah kalian." ucap Geffie menolak keras ide orang tuanya itu.


"Tidak bisa Gef." ucap Ardi dengan lirih.

__ADS_1


"Apanya yang tidak bisa?" tanyanya tak mengerti.


"Perusahaan papa bangkrut dan semua aset berharga sudah papa jual untuk menutupi hutang kita." ucap Ardi dengan nada yang sedih.


"Bagaimana bisa sih perusahaan papa bangkrut? lagi pula jika perusahaan papa bangkrut itu tidak ada hubungannya dengan ku. Sudahlah lebih baik kalian pergi atau cari rumah kontrakan saja, yang jelas aku tidak suka kalian di sini." ucap Geffie dengan tegas.


"Jangan seperti itu Gef, kami berdua bahkan telah merawat mu sejak kecil, tapi sekarang ini balasan mu pada kami?" ucap Sila dengan nada meninggi.


Mendengar ucapan Sila barusan Geffie lantas tersenyum sinis seakan mengejek ucapan Sila barusan.


"Merawat ya? apa kalian lupa bagaimana perlakuan kalian pada ku ha? kalian bahkan selalu saja menganggap ku sebagai sampah, anak tidak berguna, anak yang tidak membanggakan. Lalu sekarang kalian ingin bergantung pada anak yang tidak berguna ini? apa kalian kini sedang menjilat kembali ludah kalian?" ucap Geffie dengan kesal.


Memang tidak bisa di pungkiri sifat Sila yang tegas selalu saja seakan mengekang Geffie sejak kecil, Geffie sejak kecil selalu di tuntut untuk sempurna baik dalam hal nilai pelajaran, peringkat kelas, maupun dalam segala hal. Jika Geffie melewatkan barang satu pun maka Sila akan memberikan hukuman pada Geffie.


Tidak sampai di situ saja Geffie yang bercita cita ingin memiliki galeri seninya sendiri, lantas harus menelan pil pahit karena baik Sila maupun Ardi menginginkan Geffie untuk masuk ke manajemen bisnis. Hidup dalam keluarga yang terlalu menuntut seperti ini, membuat Geffie benar benar muak dan juga tidak tahan lagi, sampai pada akhirnya ia menikah dengan Kinara dan memiliki rumah sendiri barulah Geffie bisa bernafas sedikit lega.


"Jaga ucapan mu itu! kami punya cara tersendiri untuk merawat anak kami, kamu sebagai seorang anak mana mengerti tentang hal begituan." ucap Sila dengan kesal karena Geffie yang terus saja menolak.


"Ya ya ya persetan dengan cara didik kalian, nyatanya Kinara lebih berhasil mendidik Delisha walau ia menggunakan cara yang lembut dan penuh kasih sayang, bukan seperti kalian!" ucap Geffie tak mau kalah.


"He lemah lembut ya? ya kau benar... saking berhasilnya Kinara bahkan kini ia telah membawa Delisha pergi jauh dari ayahnya. Apakah itu yang kau anggap berhasil?" sindir Sila yang lantas membuat raut wajah Geffie berubah.


"Sudahlah Ge terima saja, lagipula papa dan mama tidak akan lama tinggal di sini, setelah papa dapat pekerjaan papa akan pergi, sudahlah tak perlu bertengkar." ucap Ardi menengahi.


"Iya tentu, itu sudah seharusnya papa lakukan sebagai seorang suami. Bukankah papa dulu menghina pekerjaan Geffie karena Geffie tidak bisa memiliki perusahaan sendiri dan bekerja untuk orang lain? jadi, Geffie ingin lihat akankah papa kali ini bisa merintis kembali perusahaan papa atau malah bekerja untuk orang lain!" sindir Geffie kemudian melenggang pergi dari sana.

__ADS_1


Mendengar hinaan yang keluar dari mulut anaknya lantas membuat wajah Ardi merah padam menahan malu. Ingin sekali Ardi marah hanya saja ucapan Geffie barusan memang adalah sebuah kenyataan.


Bersambung


__ADS_2