
"Wah wah wah bukankah sulit mencari sebuah pekerjaan papa? bagaimana rasanya? apa sekarang papa sudah tahu bagaimana jadi seorang sampah seperti anak mu ini?" sindir Geffie sambil menatap ke arah Ardi dengan tatapan yang mengejek.
"Kau anak kurang ajar beraninya kau mengejek orang tua ha!" ucap Ardi setengah berteriak sambil melangkah hendak mendekat ke arah Geffie namun berhasil di tahan oleh Sila.
"Jangan pa" ucap Sila lirih sambil memegang Ardi agar tidak meneruskan langkahnya.
"Kenapa papa terlihat marah? bukankah itu memang kenyataannya pa? atau mungkin ucapan papa yang kemarin adalah cerminan papa yang sekarang? hahaha dunia ini sangat lucu ya pa, semuanya mudah sekali berbalik." ucap Geffie tak mau kalah dengan disertai tawa pada ucapannya..
"Kemari kau anak sialan!" ucap Ardi dengan kasar namun masih di tahan oleh Sila agar Ardi tidak ke sana.
"Bisa gawat kalau mereka sampai bertengkar, yang ada bakal jadi gelandangan ini mah." ucap Sila dalam hati.
"Tinggal bersama kalian berdua bukannya tentram malah seperti neraka, benar benar membuat ku muak!" ucap Geffie dengan nada menyindir lalu melenggang pergi dari sana.
Bruk
Suara pintu yang di banting dengan keras, membuat darah Ardi semakin mendidih melihat kelakuan putranya yang kian menjadi jadi tanpa sopan santun sama sekali.
"Lihatlah kelakuan anak mu itu! kau selalu saja memanjakannya." ucap Ardi dengan kesal.
"Apa yang kau dapat sekarang adalah apa yang kau tanam, jadi jangan salahkan aku kalau anak mu sekarang bersikap seperti itu padamu!" ucap Sila dengan kesal sambil berlalu pergi meninggalkan Ardi sendiri di sana.
Mendengar ucapan Sila barusan membuat Ardi menatap tak percaya ke arah Sila. "Apa maksud ucapan ma barusan? ma... tunggu!" ucap Ardi kemudian sambil mengejar Sila yang pergi meninggalkannya.
**
Di dalam mobil yang di kendarai oleh Geffie.
Geffie melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, pikirannya benar benar kacau dan penuh, rasanya ia butuh tempat untuk mencurahkan hasratnya saat ini. Geffie kemudian lantas menepikan mobilnya kala mengingat seseorang dan langsung mendial nomer Nabila di ponselnya.
__ADS_1
"Halo" ucap sebuah suara di seberang sana.
"Apakah puasa mu sudah selesai? aku sedang suntuk saat ini." ucap Geffie secara to the point tanpa basa basi lagi.
"Ya, aku juga sedang suntuk sekarang datanglah ke mansion ku Gef." ucap Nabila yang lantas membuat seulas senyum terbit di wajah Geffie ketika mendengar ucapan Nabila barusan.
"Tentu, dengan senang hati." ucap Geffie tak sungkan kemudian memutus sambungan telponnya.
Setelah percakapan singkat itu, Geffie lantas melajukan mobilnya menuju mansion milik Kafeel yang kini sudah resmi menjadi milik Nabila tepat setelah perceraian Kafeel dengan Nabila beberapa waktu lalu.
******
Keesokan harinya
Kinara sudah di sibukkan dengan kegiatan rutin di pagi hari sebelum Delisha berangkat ke sekolah. Kinara mulai memasukkan kotak bekal makan siang untuk Delisha dan juga Nining ke dalam tote bag agar Nining lebih mudah membawanya. Nining dan Delisha lantas melangkah keluar dan bersiap untuk berangkat, sedangkan Kinara mengantar keduanya sampai di depan lift.
Jangan lupa nanti langsung mampir ke butik ya Ning setelah pulang sekolah." ucap Kinara ketika sudah berada di depan unit apartemennya sambil mengingatkan kembali Nining agar tidak lupa.
Delisha melambaikan tangannya kepada Kinara hingga pintu lift tertutup dan membawa keduanya turun.
Ketika Kinara hendak berbalik badan, sebuah tangan kokoh melingkar di perutnya dan memeluknya dengan erat. Kinara yang semula terkejut lantas hanya menghela nafasnya ketika mengetahui tangan kokoh itu adalah milik Kafeel.
"Lepaskan Kaf, di sini banyak kamera pengawas akan sangat memalukan kalau kita tertangkap kamera pengawas." ucap Kinara sambil memukul tangan yang melingkar di perutnya dengan pelan.
"Entah mengapa rasanya aku sangat merindukan mu, padahal kita baru berpisah satu malam saja bukan?" ucap Kafeel dengan manja sambil mendaratkan kepalanya pada pundak Kinara.
"Jangan seperti ini Kaf, aku belum terbiasa." ucap Kinara namun sambil mengelus kepala Kafeel perlahan agar Kafeel tidak tersinggung.
Mendengar ucapan Kinara barusan membuat Kafeel lantas tersenyum dan melepas pelukannya perlahan.
__ADS_1
"Jangan lakukan itu di depan umum atau aku akan marah." ancam Kinara dengan nada yang menggoda Kafeel.
"Baiklah tuan putri, berarti kalau bukan di tempat umum boleh kan?" ucap Kafeel kemudian yang langsung mendapat tatapan tajam dari Kinara.
"Kafeeel..." panggil Kinara memanjang.
Kafeel yang mendengar panggilan tersebut lantas tertawa seakan menyukai panggilan dari Kinara barusan.
Untuk saat ini Kinara memutuskan untuk mencoba menerima Kafeel, bukankah Kafeel pria yang baik? setidaknya itu bagi Kinara. Kinara berusaha menekan egonya kali ini karena Delisha masih membutuhkan sosok seorang ayah. Bukankah perasaan cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu?
Kinara mencoba untuk bertaruh dengan takdir kali ini, nyatanya bersama orang yang Kinara cintai tidak menjamin kebahagian dan malah berujung perceraian. Sehingga Kinara memutuskan untuk mengikuti kata hatinya dan memilih Kafeel, biarkan waktu yang akan menjawab pilihan Kinara.
*****
Mansion milik Nabila
Nabila nampak menggeliat perlahan di bawah selimut tebal yang menutupi tubuh polosnya dan juga Geffie. Semalam adalah adegan panas yang benar benar membuat hasrat Nabila memuncak. Kemampuan Geffie semakin hari kian meningkat, membuat jiwa Nabila yang memang dasarnya hiperseksual seakan terpenuhi dengan kemampuan Geffie.
Nabila tersenyum melihat Geffie yang terlelap dengan damainya. Diciumnya bibir Geffie yang sedikit terbuka ketika tidur, membuat Geffie yang tengah terlelap lantas terbangun karena merasakan sesuatu yang kenyal menyentuh bibirnya.
Setelah puas mencium bibir Geffie, Nabila mengangkat kepalanya namun di tahan oleh Geffie yang perlahan mulai membuka matanya.
"Kenapa tidak meneruskannya? bukankah sudah terlanjur basah?" ucap Geffie dengan suara serak khas bangun tidur.
Nabila yang mendengar ucapan Geffie barusan lantas tersenyum. "Ku kira kamu belum bangun." ucap Nabila dengan senyum mengembang di bibirnya.
Geffie mengecup bibir milik Nabila sekali dengan cepat lalu tersenyum, Nabila yang seakan seperti tengah dipancing tanpa aba aba langsung membalas kecupan singkat Geffie dengan l*mat*n yang cukup dalam, membuat keduanya kembali hanyut dalam permainan masing masing.
Pada akhirnya kedua insan yang sama sama membutuhkan belaian itu kembali saling mematut bibir satu sama lain. Seakan mengulangi kembali adegan panas semalam, keduanya mulai hanyut dalam permainan masing masing tanpa memperdulikan sinar mentari yang sudah menyinari bumi dengan terangnya.
__ADS_1
Ternyata Geffie tidak pernah bisa benar benar menepati ucapannya, bukankah baru kemarin ia meminta maaf kepada Kinara dan mengatakan akan memperbaiki segalanya? Nyatanya kelakuan Geffie tidak pernah bisa dirubah.
Bersambung