Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta

Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta
Redam berita itu


__ADS_3

Di sebuah ruangan


Terlihat Devan tengah menghisap sebatang rokok kemudian menghembuskan asapnya begitu saja hingga mengepul memenuhi ruangan tersebut. Seulas senyum lagi lagi terlihat dari wajahnya ketika mengingat kembali rencananya yang mulai membuahkan hasil, benar benar penantian yang tidak sia sia.


Dari arah pintu Rafi nampak melangkahkan kakinya mendekat ke arah Devan yang tengah menghisap rokok di tangannya.


"Tuan..." panggil Rafi dengan lirih namun masih bisa di dengar oleh Devan.


Devan yang mendengar panggilan itu lantas langsung berbalik dan menatap ke arah Rafi dengan tatapan yang penasaran akan berita yang di bawa Rafi kali.


"Katakan ada apa?" tanya Devan kemudian dengan nada yang datar.


"Pihak kepolisian sudah mulai bertindak tuan, pagi ini mereka melakukan penangkapan pada Kinara yang kebetulan sedang berada di apartment milik Kafeel." ucap Rafi memberikan laporan kepada Devan.


Devan yang mendengar ucapan Rafi lantas tersenyum kemudian mematikan puntung rokok yang ia pegang sedari tadi. "Bagus, aku sudah tidak sabar menantikannya, bukankah tangkapan kita kali ini besar Raf?" ucap Devan yang lantas membuat Rafi langsung tersenyum begitu mendengarnya.


"Saya senang jika tuan senang." ucap Rafi menanggapi.


"Sebarkan berita itu pagi ini, aku ingin lihat bagaimana Kafeel mengatasi kekacauan ini!" perintah Devan kepada Rafi.


"Tentu tuan sesuai keinginan anda." ucap Rafi. "Saya permisi" imbuhnya kemudian melenggang pergi dari sana meninggalkan Devan seorang diri yang masih tersenyum senang menikmati penderitaan Kafeel tanpa merasa bersalah sama sekali atas perbuatannya.


"Kita lihat apa kamu bisa mengatasi kekacauan ini Kaf?" ucap Devan dengan senyum menyeringai setelah kepergian Rafi dari sana.


*****


Apartment Kafeel


"Bapak tunggulah di sini biar saya yang memanggil Kinara di dalam pak." ucap Kafeel dengan nada yang sopan kepada dua orang polisi tersebut.

__ADS_1


"Apa yang akan menjamin anda tidak akan membawanya kabur dari sini setelah anda masuk?" ucap polisi tersebut yang seakan tidak percaya bahwa Kafeel akan benar benar mengantarkan Kinara pada kedua polisi tersebut.


"Bapak tidak perlu khawatir karena bapak bisa mempercayai saya sepenuhnya, saya tidak akan kabur kemanapun." ucap Kafeel kemudian.


"Baiklah saya akan membiarkan mu melakukan ini, mengingat status saudara Kinara masih belum di tetapkan sebagai tersangka." ucap polisi tersebut.


Setelah sedikit berunding dengan dua orang polisi itu, Kafeel lantas kembali masuk dan langsung menuju ke arah kamarnya, hanya saja belum sempat ke arah kamar Kinara sudah terlihat berjalan keluar dari pintu kamar, membuat Kafeel dan juga Rendy lantas menatap dengan bingung ke arah Kinara.


"Pasti polisi kan Kaf?" tanyanya dengan lirih namun sambil menunduk karena jujur saja hatinya tidaklah setegar itu yang bisa melewati dengan mudah cobaan sebesar ini. Kinara tetaplah manusia biasa yang mempunyai rasa takut dan juga gelisah sama seperti yang lainnya.


Mendengar hal itu Kafeel tidak langsung menanggapinya dan malah melangkah mendekat ke arah Kinara. Di usapnya perlahan lengan Kinara dengan lembut untuk menenangkan Kinara yang tentu saja tengah gelisah saat ini.


"Pergilah dengan mereka Ra, kamu percaya padaku bukan? aku akan mengeluarkan mu secepatnya dari sana." ucap Kafeel dengan nada yang lembut.


"Lalu... bagaimana dengan Delisha Kaf?" ucap Kinara sambil mendongak menatap manik mata Kafeel dalam dalam mencari kebenaran pada manik mata itu di setiap ucapannya.


Mendengar pertanyaan Kinara barusan Kafeel lantas tersenyum. "Kamu tidak usah khawatir, aku sudah menelpon Nining kemarin dan mengatakan bahwa kamu sedang ada pagelaran busana di sini. Untuk beberapa waktu aku yakin Delisha tidak akan fokus mencari keberadaan mu." ucap Kafeel lagi.


"Sekarang pergilah, jika kamu takut kamu boleh tetap diam karena akan ada Rian nanti yang datang ke sana sebagai kuasa hukum mu, ingat satu hal Ra jangan mengatakan sesuatu apapun yang akan memberatkan hukuman mu." ucap Kafeel kemudian mengingatkan.


"Apa kamu yakin aku bisa melakukannya Kaf?" tanya Kinara kemudian dengan perasaan ragu ragu yang menyelimuti hatinya.


"Tentu saja" ucap Kafeel sambil tersenyum ke arah Kinara.


Setelah pembicaraan singkat itu Kafeel dan juga Kinara berjalan keluar untuk menemui dua orang polisi tersebut. Dua orang polisi yang melihat kedatangan Kinara dan juga Kafeel lantas langsung menatap ke arah keduanya.


"Saudara Kinara anda di tangkap atas tuduhan pembunuhan kepada saudara Fathan." ucap salah seorang polisi tersebut sambil mengeluarkan borgol hendak memasangkannya kepada Kinara.


"Tunggu pak, bisakah anda untuk tidak memborgolnya? status Kinara bahkan belum jadi tersangka, ini terlalu tidak adil jika anda memborgol dan menyeretnya hingga ke bawah." ucap Kafeel yang menghentikan gerakan polisi tersebut, Kafeel benar benar tidak tega bila harus melihat Kinara di borgol dan di seret oleh kedua orang polisi ini hingga keluar dari apartment.

__ADS_1


Mendengar hal itu polisi tersebut lantas menghela nafas panjangnya kemudian mengurungkan niatnya untuk memborgol tangan Kinara.


"Baiklah silahkan ikuti saya." ucap polisi tersebut menuntun Kinara agar mengikutinya.


Pada akhirnya kedua polisi tersebut menuntun Kinara untuk mengikuti arah langkah keduanya, sesekali Kinara nampak berjalan sambil menoleh ke arah belakang melihat Kafeel untuk yang terakhir kalinya.


"Akankah aku bisa melewatinya?" ucap Kinara dalam hati sambil menatap ke arah Kafeel yang lantas langsung di balas Kafeel dengan anggukan kepala kemudian tersenyum, seakan akan Kafeel mendengar isi hati Kinara barusan.


***


"Kenapa anda membiarkan Kinara di bawa polisi begitu saja bos?" tanya Rendy begitu melihat Kafeel berjalan masuk ke dalam unit apartemennya.


"Jika aku membawa Kinara pergi kabur, itu akan semakin membuat pihak kepolisian curiga dan membuat masalah ini semakin rumit, tentunya aku tidak menginginkan hal itu." jawab Kafeel dengan nada yang sendu membuat Rendy lantas terdiam ketika mendengarnya.


Sebuah deringan ponsel miliknya terdengar memecahkan keheningan yang terjadi pada keduanya. Membuat Kafeel langsung menatap ke arah layar ponselnya untuk melihat siapa yang menghubunginya.


"Halo ma" ucap Kafeel setelah menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.


"Apa kamu sudah melihat berita nak? bagaimana bisa Kinara tiba tiba menjadi tersangka utama pembunuhan?" ucap Ratih tiba tiba yang lantas membuat Kafeel terkejut ketika mendengarnya.


Dengan langkah tergesa Kafeel lantas langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah ruang tengah dan langsung menyalakan televisi.


"Mama tidak perlu khawatir, Kinara tidaklah bersalah ia hanya sedang di fitnah. Doakan Kafeel agar segera bisa menyelesaikan masalah ini ya ma?" ucap Kafeel kemudian sambil fokus menatap ke arah layar televisinya yang menampilkan berita tentang penangkapan Kinara.


"Mama pasti mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua." ucap Ratih kemudian.


"Terima kasih banyak ma" ucap Kafeel dengan nada yang sendu kemudian mengakhiri panggilan telpon Ratih.


"Kau benar benar kurang ajar Dev!" teriak Kafeel dengan kesal sambil membanting remote televisi yang ada di tangannya begitu saja. "Redam berita ini dengan kebobrokan perusahaan W Food dan pemimpinnya, kalau perlu naikan berita buruk tentang Fathan agar seluruh dunia tahu bahwa Kinara tidak bersalah dalam hal ini!" perintah Kafeel kemudian dengan nada yang penuh penekanan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2