
Setelah Rian menyelesaikan keperluannya dengan Kinara di dalam, Rian kemudian lantas melangkahkan kakinya keluar dari kantor polisi menuju ke arah sebuah mobil yang terparkir di sebelah utara kantor polisi.
"Tidak bisakah dia parkir sedikit lebih dekat? benar benar mengesalkan. Kenapa rasanya ia lebih cocok jadi seorang adik kecil yang kerjaannya sering merajuk daripada seorang anak sulung, dan lebih tidak cocok lagi karena aku dan dia ternyata bersaudara. Cih benar benar menggelikan." gerutu Rian dalam hati sambil terus melangkah menuju ke arah mobil milik Kafeel.
"Lama banget sih? udah jamuran nih aku nungguin!" ucap Kafeel dengan kesal ketika melihat Rian baru masuk ke dalam mobilnya.
"Berisik tahu gak!" ucap Rian yang tak kalah kesalnya dengan Kafeel, baru saja Rian menggerutu tentang sikap Kafeel yang sering merajuk, tak sampai beberapa menit Kafeel kembali lagi lagi membuatnya kesal. "Kita lanjut atau aku turun nih?" imbuhnya kemudian dengan nada sedikit mengancam Kafeel.
"Dasar ngambekan kayak cewek aja." ucap Kafeel dnegan sinis.
"Kaf..." panggil Rian sengaja dengan nada yang memanjang.
"Dasar tidak sopan aku ini kakak mu, panggil aku dengan benar!" ucap Kafeel tidak terima.
"Terserah apa katamu, yang jelas bisakah kita lewatkan saja dulu pertikaian kita yang tidak ada ujungnya ini?" ucap Rian pada akhirnya.
"Kau ada benar juga, sekarang katakan info apa yang kau dapatkan?" tanya Kafeel kali ini dengan nada yang sedikit lebih serius daripada tadi.
"Bukan info yang penting sih tapi bagiku ini penting karena..." ucap Rian namun terpotong karena Kafeel yang tiba tiba berbicara.
"Jadi penting atau tidak nih?" tanya Kafeel memotong ucapan Rian secara mendadak.
Rian yang mendengar Kafeel terus saja menyela ucapannya lantas di buat semakin kesal. Sikap Kafeel yang satu ini memang benar benar harus dimusnahkan agar tidak meresahkan dan membuat kesal orang orang di sekitarnya.
"Bisakah kau tidak menjeda ucapan ku?" ucap Rian sengaja dengan nada yang penuh penekanan di setiap kalimatnya.
__ADS_1
"Baiklah silahkan" ucap Kafeel kemudian dengan senyum yang menyebalkan, membuat Rian lantas menghela nafasnya panjang ketika melihat ke arah Kafeel.
"Baiklah sekarang dengarkan baik baik! kematian Fathan memang terlihat sangat janggal, ada satu hal yang membuatku sedari kemarin penasaran. Ketika aku mengantar Kinara ke perusahaan W Food waktu itu jelas jelas Kinara mengatakan Irene asistennya tengah menunggunya di lobi perusahaan, namun anehnya hingga kejadian itu berlangsung asistennya tak pernah terlihat kembali." ucap Rian menyatakan opininya.
"Lalu apa yang Kinara katakan tentang asistennya tadi?" tanya Kafeel dengan penasaran.
"Kinara mengatakan bahwa ketika dirinya menelpon Irene, jawabannya adalah ia kembali ke butik untuk mengambil sampel kain namun tidak pernah muncul lagi hingga hari ini." ucap Rian lagi.
"Bagaimana perawakannya? apa kau tahu? karena ada satu orang yang aku curigai ketika aku melihat rekaman kamera pengawas kemarin bersama Rendy." tanya Kafeel kemudian.
Mendapat pertanyaan dari Kafeel, Rian yang memang sudah pernah berkunjung ke butik dan bertemu dengan kedua karyawan kepercayaannya, membuat Rian dengan mudahnya menjelaskan kepada Kafeel bagaimana perawakan Irene dengan gambaran kasar.
Kafeel yang mendengar hal itu tentu saja terkejut, kemudian setelah itu Kafeel mengeluarkan ponsel miliknya untuk menunjukkan kepada Rian rekaman kamera pengawas sebelum kedatangan Kinara.
"Kau lihat bukan kedatangan wanita ini tepat satu jam sebelum kedatangan Kinara ke ruangan Fathan. Wanita ini nampak keluar dari ruangan Fathan dengan wajah yang mencurigakan. Awalnya qku mengira itu hanyalah hal biasa, namun setelah melihat selang waktu antara kedatangannya dan juga kedatangan Kinara dengan kematian Fathan memiliki satu kecocokan." ucap Kafeel menjelaskan asumsinya.
"Jadi begini, di era modern dan canggih ini membunuh orang itu perkara gampang, kita bisa saja membuat seseorang meninggal layaknya sebuah penyakit atau membuatnya seperti kecelakaan. Jika di lihat dari cara meninggalnya Fathan, kita bisa saja mengaturnya dengan pil perangsang jantung. Cara kerjanya seperti memberikan tekanan langsung kepada jantung dan menghambat peredaran darah sehingga membuat serangan jantung dengan tiba tiba." jelas Kafeel secara panjang kali lebar.
"Jadi maksud mu... kau curiga asisten Kinara yang melakukannya?" tebak Rian setelah mendengar penjelasan Kafeel barusan.
"Iyap betul, sebaiknya kita segera ke butik Kinara dan bertemu dengannya." ucap Kafeel lagi.
"Iya kau benar ayo kita berangkat sekarang." ucap Rian kemudian seakan mengiyakan saran dari Kafeel barusan.
Setelah sepakat Kafeel lantas mulai melajukan mobilnya menuju ke butik Kinara untuk menemui Irene di sana. Baik Kafeel dan juga Rian berharap bahwa apa yang mereka temukan kali ini bukanlah hanya sebuah asumsi belakang saja. Memang terdengar jahat karena menuduh Irene dengan asumsi, hanya saja yang ada di pikiran keduanya saat ini adalah bagaimana caranya Kinara bisa terbebas dari tuduhan tersebut.
__ADS_1
****
Kediaman Kinara
Setelah telpon dari Kafeel waktu itu Nining sebisa mungkin membatasi Delisha untuk tidak menonton televisi kecuali melihat tayangan film kartun atau sejenisnya.
Nining terlihat melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar Delisha, sejak pulang dari sekolah tadi Delisha tidak terlihat lagi keluar dari kamar, membuat Nining yang tengah beres beres lantas penasaran dengan apa yang tengah di lakukan gadis kecil itu di kamarnya hingga tidak keluar keluar sedari tadi.
Tok tok tok
"Mbak masuk ya..." ucap Nining dengan pelan kemudian membuka pintu kamar Delisha perlahan dan masuk ke dalamnya.
Ketika masuk ke dalam sebenarnya Nining sedikit terkejut karena melihat Delisha tengah tertidur di sana, Nining yang penasaran lantas mendekat ke arah ranjang untuk melihat Delisha.
"Bunda..." panggil Delisha lirih membuat Nining yang sedang mendekat ke arah sana lantas khawatir.
Di sentuhnya dahi Delisha, suhu badannya begitu panas membuat Nining lantas di buat khawatir dengan hal itu.
"Bagaimana ini? Delisha sakit dan bu Kinara tidak ada di sini." ucap Nining dengan bingung.
Nining yang mengetahui Delisha demam, lantas langsung berlari ke arah dapur dan mengambil air di baskom untuk mengompres Delisha, lalu kembali lagi ke dalam kamar Delisha. Dikompresnya kening Delisha perlahan berharap dapat mengurangi suhu panas di tubuh Delisha.
"Bunda... bunda..." ucap Delisha mengigau dengan mata yang terpejam membuat Nining semakin khawatir dan bingung harus berbuat bagaimana di saat saat seperti ini.
"Siapa yang harus ku hubungi di saat seperti ini?" ucapnya pada diri sendiri bertanya tanya yang tentu saja hanya di balas dengan keheningan. "Apakah permasalahan bu Kinara sudah selesai? jika aku menelponnya sekarang, bagaimana kalau aku semakin membuatnya susah jika memberikan kabar Delisha sedang sakit?"imbuhnya lagi.
__ADS_1
Bersambung