Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta

Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta
Awas saja kau!


__ADS_3

Sementara itu di kediaman Kinara


Terlihat Kafeel mulai melangkahkan kakinya menuruni mobil miliknya, kemudian berjalan mendekat menuju ke arah rumah kontrakan Kinara. Kafeel lantas mulai mengetuk perlahan pintu rumah Kinara, berharap Kinara akan membuka pintu dan menemuinya karena perasaan Kafeel benar benar tidak tenang sejak dari semalam.


Tok tok tok


"Ra...." panggilnya sambil terus mengetuk pintu rumah Kinara berulang kali namun sama sekali tidak ada jawaban di sana membuat Kafeel semakin di buat frustasi olehnya.


Tok tok tok


Kafeel yang tak patah harapan lantas terus mengetuk pintu rumah Kinara berkali kali, sampai kemudian sebuah suara mengagetkan Kafeel yang sedang berusaha terus mengetuk pintu rumah Kinara berulang kali sejak tadi.


"Kinara sedang tidak ada di rumah Kaf..." ucap sebuah suara yang lantas membuat Kafeel langsung berbalik badan menatap ke arah sumber suara.


"Mama" ucap Kafeel yang melihat Ratih sedang berjalan mendekat ke arahnya.


Ratih yang mendengar panggilan itu lantas tersenyum, ia kemudian melangkahkan kakinya semakin dekat dan duduk di kursi yang berada di teras rumah Kinara.


"Kemana Kinara ma?" tanya Kafeel kemudian sambil melangkah mendekat ke arah Ratih dan ikut duduk di sana.


"Dia pergi ke Jakarta semalam, katanya ada urusan penting yang mengharuskannya ke sana, sepertinya Kinara sedang mendapatkan pesanan besar besaran di butiknya." jelas Ratih yang langsung membuat raut wajah Kafeel berubah secara drastis.


"Tidak mungkin ini ulah Devan bukan?" ucap Kafeel dalam hati bertanya tanya ketika mendengar ucapan Ratih barusan.


Ratih yang tidak mendengar tanggapan maupun sanggahan apapun dari Kafeel lantas menoleh ke arahnya lalu menggenggam tangan anaknya itu dengan erat.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu khawatir Kaf, Kinara pergi bersama Rian ke Jakarta dia pasti aman." ucap Ratih lagi, sedangkan Kafeel yang mendengar hal itu bukannya tenang malah semakin di buat gelisah oleh ucapan ibunya barusan. "Apa kamu sangat mencintainya nak?" tanya Ratih tiba tiba yang lantas membuat Kafeel langsung menoleh ke arah Ratih.


Kafeel yang mendapat pertanyaan tersebut lantas tersenyum, bagi Kafeel menjawab pertanyaan ibunya itu sangatlah gampang bahkan Kafeel tidak perlu berpikir dua kali untuk menjawabnya.


"Iya ma, Kafeel sangat mencintainya. Kami berdua bahkan hampir menikah waktu itu, hanya saja karena kebodohan Kafeel yang tidak percaya kepada Kinara kami berdua gagal melangsungkan pernikahan dan Kafeel benar benar menyesal akan hal itu." ucap Kafeel dengan nada yang sendu di setiap ucapannya, membuat Ratih menjadi merasa bersalah setelah menanyakan hal itu pada Kafeel barusan.


"Astaga mama benar benar tidak tahu akan hal itu, maafkan mama ya Kaf... mama tidak bisa ada di saat saat kamu membutuhkan mama. Mama benar benar tidak pantas di sebut seorang ibu jika mama bahkan tidak mengetahui apapun yang terjadi dengan anaknya." ucap Ratih dengan nada yang sedih seakan merasa bersalah akan apa yang tengah terjadi pada Kafeel saat ini.


"Mama tidak perlu menyalahkan diri mama akan segala hal yang menimpa diriku. Ini sepenuhnya adalah kesalahan ku ma, jadi mama jangan menyalakan diri mama seperti ini. Lagi pula Kafeel sedang berusaha untuk menggapai kata maaf dari Kinara, mama tidak perlu khawatir lagi." ucap Kafeel menenangkan ibunya itu.


"Mama minta maaf Kaf... benar benar minta maaf." ucap Ratih lagi, sedangkan Kafeel yang melihat Ratih terus menyalahkan dirinya lantas langsung bangkit kemudian bersimpuh di depan Ratih dan mencium puncak tangan Ratih cukup lama. Setetes air mata jatuh secara perlahan pada pipi Ratih ketika Kafeel melakukan hal itu padanya.


Diusapnya pelan kepala Kafeel yang tengah menunduk mencium punggung tangannya itu. Ratih sangat bersyukur Kafeel tidak membencinya setelah apa yang di lakukan Ratih padanya. Ratih tidak menyangka Adhitama benar benar berhasil mendidik Kafeel hingga seperti ini.


"Mama jangan menangis lagi hem." ucap Kafeel kemudian setelah mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Ratih dalam dalam.


"Kafeel bahagia jika mama bahagia, aku tahu perjuangan mama seperti apa ketika masih bersama papa waktu itu, Kafeel juga tahu mama selalu menangis setiap malamnya di taman seorang diri dan hanya bertemankan angin malam yang dingin menerpa kulit mama. Hanya saja Kafeel masih kecil waktu itu jadi tidak bisa membantu mama untuk keluar dari sana ataupun melakukan hal berguna lainnya untuk mama." ucap Kafeel dengan nada yang penuh penyesalan di setiap kata katanya.


Mendengar hal itu Ratih lantas memeluk putranya itu dengan erat, ia benar benar tidak tahu Kafeel kecil mengetahui penderitaannya kala itu. Baik Ratih maupun Kafeel keduanya lantas sama sama hanyut pada pelukan masing masing seakan melepas semua perasaan bersalah dalam hati keduanya.


Setelah cukup puas mencurahkan segala perasaannya Kafeel melepaskan pelukannya perlahan kemudian menatap ke arah Ratih dengan seksama.


"Sekarang ijinkan Kafeel untuk menyusul Kinara ke Jakarta ma karena perasaan Kafeel sama sekali tidak tenang sejak semalam, Kafeel takut terjadi apa apa dengan Kinara." ucap Kafeel kemudian.


"Apa kamu tidak menunggu kedatangannya saja di sini, mungkin besok ia akan kembali." ucap Ratih memberikan saran.

__ADS_1


"Tidak bisa ma itu akan terlalu lama jika Kafeel menunggu sampai besok." ucap Kafeel menolak.


Ratih yang mendengar hal itu lantas tersenyum dan mengusap pelan bahu anaknya itu. "Pergilah nak jika itu bisa membuat mu tenang." ucap Ratih dengan pelan.


"Kafeel pamit ma" ucapnya kemudian sambil menyalami tangan ibunya kemudian melenggang pergi dari sana dengan langkah kaki yang cepat.


**


Di dalam mobil milik Kafeel


Kafeel terlihat mengeluarkan ponselnya dari saku celananya kemudian mendial nomor Rendy di sana.


"Halo" ucap sebuah suara dari seberang sana.


"Pesankan aku tiket pesawat ke Jakarta saat ini juga Ren setelah itu cari di mana lokasi Kinara saat ini." ucap Kafeel dengan nada yang datar.


"Baik bos akan segera saya pesankan." ucap Rendy dengan cekatan, setelah itu terdengar panggilan telpon di matikan secara sepihak oleh Kafeel.


Kafeel terdiam sejenak mencoba menenangkan hatinya yang sejak semalam sudah gelisah memikirkan Kinara.


"Awas saja kalau kau sampai menyentuh Kinara Dev!" ucapnya dengan nada yang penuh penekanan.


Tak berapa lama sebuah notifikasi dari ponselnya mulai terdengar membuat Kafeel lantas langsung fokus melihat layar ponselnya.


"Sialan kau Dev!" teriak Kafeel ketika melihat ke arah layar ponsel yang menunjukkan posisi Kinara sedang berada di perusahaan W Food saat ini.

__ADS_1


Dengan kasar Kafeel lantas melempar ponselnya ke sembarang arah kemudian melajukan mobilnya menuju hotel untuk mengambil beberapa barangnya yang masih ada di sana.


Bersambung


__ADS_2