
Tok tok tok
"Ra buka pintunya! jangan membuat ku takut Ra..." ucapnya kemudian sambil menggedor gedor pintu kamarnya dan berusaha membukanya karena pintu kamarnya di kunci dari dalam. "Buka Ra... jangan seperti ini!" teriak Kafeel lagi sambil terus berusaha membuka pintu kamarnya namun tidak kunjung terbuka juga.
Kafeel yang panik lantas mulai melangkahkan kakinya menuju almari kecil tempatnya menaruh kunci cadangan apartemennya. Di carinya dengan tergesa kunci cadangan kamarnya, setelah ketemu Kafeel lantas langsung melangkah kembali ke arah pintu kamarnya lalu membuka pintu kamar dengan cukup keras.
"Ra!" pekiknya sambil menyusuri setiap sudut kamarnya mencari keberadaan Kinara, dan pandangannya terhenti di sebuah sudut kamarnya, tepatnya di samping nakas terlihat Kinara tengah meringkuk sambil menangis tersedu namun tanpa suara, membuat Kafeel yang melihat hal itu lantas langsung mendekat ke arahnya. "Astaga Ra..." ucap Kafeel dalam hati sambil melangkah mendekat ke arah Kinara.
Kafeel yang melihat Kinara begitu rapuh, lantas langsung mengusap air mata Kinara perlahan lalu memeluknya dengan erat, jujur saja Kafeel sangat terluka ketika melihat Kinara seperti ini. Jika bisa memilih Kafeel pasti akan lebih memilih Kinara yang selalu mengomel atau bahkan membencinya, dibandingkan dengan Kinara yang kini terlihat penuh rasa keterpurukan dan terus menangis tanpa henti, membuat hati Kafeel benar benar terluka seperti ikut merasakan apa yang Kinara rasakan saat ini.
Kafeel membenarkan rambut Kinara yang berantakan dengan lembut kemudian mengusap air mata yang jatuh membasahi pipi Kinara perlahan.
"Jangan seperti ini Ra... kau membuatku sakit ketika melihat mu seperti ini." ucap Kafeel dengan nada yang lirih menatap ke manik mata milik Kinara yang tampak kosong.
"Bukan aku Kaf... bukan aku..." ucap Kinara kemudian dengan nada menahan isak tangisnya sambil menggelengkan kepalanya dengan keras.
"Aku tahu dan aku percaya padamu, kita cari buktinya sama sama hem? aku yakin kamu tidak bersalah." ucap Kafeel dengan lembut meyakinkan Kinara bahwa semua akan baik baik saja.
Kinara yang mendengar ucapan Kafeel lantas menatap manik mata Kafeel secara menelisik, haruskah ia bersyukur di saat saat seperti ini? Kinara tidak tahu lagi harus bagaimana, namun Kafeel lantas datang dan meyakinkannya bahwa Kafeel menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Kinara.
Di saat dahulu hubungannya dan Kafeel merenggang karena sebuah kepercayaan yang hilang, namun kini seorang Kafeel benar benar mengatakan bahwa ia sepenuhnya percaya kepada Kinara.
"Kamu sungguh percaya?" tanya Kinara dengan nada yang lirih seakan akan ragu untuk menanyakannya karena Kinara takut ia hanya berekspektasi terlalu tinggi.
__ADS_1
Kafeel mengangguk perlahan tanda mengiyakan pertanyaan Kinara barusan, membuat Kinara lantas sedikit bahagia dan langsung memeluk Kafeel dengan erat atau bahkan sangat sangat erat. Kafeel mencium puncak kepala Kinara sambil mengelus pundak Kinara pelan dengan gerakan naik turun agar membuatnya merasa lebih nyaman dan tentunya lebih tenang di bandingkan dengan sebelumnya.
"Tenanglah Ra... aku akan membantu mu mencari solusi dalam masalah ini. Jadi aku harap kamu jangan menyerah dan teruslah tegar, jika bukan untuk ku lakukan untuk Delisha, jangan menyerah teruslah bangkit dan berusaha buktikan bahwa kamu bukanlah pelakunya Ra." ucap Kafeel menyemangati Kinara karena ia tahu Kinara sedang tidak baik baik saja saat ini.
"Aku sungguh tidak membunuhnya Kaf, aku... aku hanya memukulnya sebanyak dua kali di bagian kepala dan yang kedua ke sembarang arah namun laki laki itu mendadak meninggal dunia tanpa aku tahu mengapa, selain dua pukulan tersebut, aku benar benar tidak tahu dan tidak melakukan apapun lagi... bukankah rasanya aneh jika ia akan langsung mati hanya dengan dua kali pukulan saja? hiks hiks." ucap Kinara lagi mulai menjelaskan detailnya dengan air mata yang berlinang.
"Iya iya aku percaya padamu." ucap Kafeel kemudian langsung mengangguk setelah mendengar penjelasan dari Kinara barusan. "Kamu tenang ya kita cari jalan keluarnya sama sama." ucap Kafeel lagi.
"Terima kasih banyak karena sudah mau percaya padaku Kaf..." ucap Kinara kemudian dengan lirih.
***
Malam harinya
"Halo" ucap sebuah suara di seberang sana.
"Ning kau jagalah Delisha dulu di sana ada sedikit masalah di sini, pastikan Delisha tidak menonton siaran berita atau sejenisnya." ucap Kafeel dengan tiba tiba membuat Nining lantas kebingungan ketika mendengar hal tersebut dari Kafeel.
"Ada apa ini pak?" tanya Kafeel kemudian.
"Lakukan saja perintah ku, jika Delisha bertanya katakan saja Kinara sedang sibuk melakukan pergelaran busana di Jakarta dan akan menjemput Delisha ketika urusan pekerjaannya sudah selesai. Kamu bisa melakukannya bukan?" ucap Kafeel lagi tanpa menjelaskan detailnya kepada Nining.
"Baiklah pak, saya titip bu Kinara di sana ya? semoga masalah yang kalian hadapi cepat terselesaikan dan menemukan jalan keluarnya." ucap Nining mendoakan meski ia sendiri tidak tahu dengan pasti masalah apa yang tengah di hadapi oleh Kinara.
__ADS_1
"Terima kasih banyak Ning." ucap Kafeel kemudian memutus sambungan telponnya.
Setelah panggilan telponnya berakhir Kafeel lantas menghela nafasnya panjang berulang kali, Kafeel yang sedikit lelah lantas hendak melangkahkan kakinya kembali ke kamar, namun sebuah deringan yang berasal dari ponsel miliknya lantas menghentikan langkah kaki Kafeel di sana.
"Halo" ucap Kafeel setelah menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponselnya.
"Apa kau sedang bersama dengan Kinara saat ini?" tanya Rian langsung to the point tanpa ingin basa basi lagi.
"Ada atau tidaknya Kinara di sini itu bukanlah urusan mu sama sekali." ucap Kafeel dengan nada yang ketus.
Mendengar hal itu Rian lantas menghela nafasnya panjang. "Bisakah kita untuk akur sejenak? Kinara sedang tidak dalam posisi menguntungkan saat ini, kita harus segera mencari solusinya sebelum pihak kepolisian menjadikan Kinara sebagai tersangka utama dan menangkapnya." ucap Rian kemudian dengan nada yang membujuk karena ia tahu sifat Kafeel adalah keras, jika keras di balas dengan keras maka tidak akan ada ujungnya dan pada akhirnya Rian memilih untuk menjadi air di sini agar bisa mengimbangi sifat Kafeel.
"Cih ada angin apa kau meminta kita akur? lagi pula kita tidak terlalu dekat bukan?" ucap Kafeel.
"Ayolah Kaf, jangan bercanda waktu kita tidak banyak saat ini." ucap Rian lagi.
Kafeel nampak terdiam sejenak menimbang perkataan demi perkataan Rian, jika di pikirkan lagi ucapan Rian ada benarnya juga, Kafeel tidak boleh egois di saat saat seperti ini karena itu akan memperburuk suasana dan kondisi Kinara.
"Baiklah aku setuju padamu, jangan gunakan ini sebagai kesempatan karena aku benci orang yang mengambil kesempatan dalam kesempitan." ucap Kafeel pada akhirnya.
"Baiklah aku setuju." ucap Rian.
Bersambung
__ADS_1