
Keesokan harinya
Kinara terbangun karena suara ponsel miliknya yang menggema membangunkan Kinara dari mimpi indahnya. Kinara mengerjapkan matanya berkali kali mencoba mengumpulkan nyawanya perlahan kemudian meraba ponsel miliknya yang berada di atas nakas dan langsung mengusap ikon berwarna hijau pada ponselnya ketika melihat nama Irene tertera pada layar ponselnya.
"Halo" ucap Kinara dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Apa saya membangunkan anda bu? maafkan saya jika mengganggu waktu istirahat anda." ucap Irene merasa bersalah ketika mendengar suara bangun tidur Kinara.
"Enggak kok santai saja, memangnya jam berapa sekarang? kenapa pagi sekali membuka butiknya?" tanya Kinara kemudian sambil masih mengerjapkan matanya.
"Sekarang sudah pukul 10 bu sebentar lagi bahkan makan siang." ucap Irene dengan nada yang bingung karena Kinara menganggap ini masih pagi.
Kinara hanya bangkit perlahan ketika mendengar ucapan Irene barusan sampai beberapa detik kemudian barulah Kinara sadar sekaligus terkejut ketika mendengar ucapan Irene barusan. Dengan mengambil langkah seribu Kinara lantas langsung bangkit dengan langkah yang terburu buru menuju ke kamar Delisha untuk melihat apakah Delisha juga kesiangan seperti dirinya.
Ketika sudah sampai di kamar Delisha, Kinara sedikit bernafas lega karena ternyata hanya dirinya yang kesiangan. Sepertinya karena semalaman ia maraton menonton drakor, jadilah Kinara bangun kesiangan.
"Bu... apakah anda baik baik saja?" tanya Irene kemudian karena dari seberang sana terdengar suara ribut ribut disertai dengan hembusan nafas yang kasar.
"Iya Ren aku baik baik saja, ngomong ngomong ada apa kamu menelpon ku?" tanya Kinara kemudian sambil melangkahkan kakinya menuju ke arah meja makan dan mendudukkan dirinya di sana.
"Begini bu, tadi pagi ada seseorang dari perusahaan W Food datang dan ingin memesan pakaian kantor pada butik kita secara besar besaran." ucap Irene menjelaskan.
"Bagus dong kalau gitu Ren." ucap Kinara sambil tersenyum.
"Hanya saja, beliau ingin berdiskusi secara langsung dengan ibu masalah motif dan juga bentuk stelan kantor yang akan mereka pilih, sekaligus melihat beberapa model setelan kantor hasil desain ibu." imbuh Irene lagi.
"Memangnya kamu tidak mengatakan bahwa saya sedang berada di luar kota?" tanya Kinara kemudian.
__ADS_1
"Sudah bu tapi beliau tetap saja menginginkan pembahasan secara langsung bersama ibu." ucap Irene.
"Baiklah kalau memang tidak bisa, kamu atur kan saja waktunya biar nanti saya sempatkan ke sana." ucap Kinara pada akhirnya membuat keputusan.
"Baiklah bu" ucap Irene kemudian terdengar sambungan di putus oleh Kinara.
Kinara tersenyum bahagia setelah telpon dengan Irene terputus baru saja. Kinara benar benar tidak menyangka ia mendapat job besar tanpa di duga duga olehnya sebelumnya.
"Sungguh rejeki di pagi hari benar benar berkah ya?" ucapnya pada diri sendiri dengan senyum yang tak henti hentinya terlihat terbit dari wajah cantiknya.
*****
Sementara itu di mansion utama
Terlihat Arsa melangkahkan kakinya menuju ke arah kolam renang dan menelpon seseorang di sana sambil menatap ke arah kanan dan kiri seakan memastikan tidak ada orang di sana selain dirinya.
"Apa kau sudah mendapatkan datanya?" tanya Arsa langsung to the point tanpa basa basi terlebih dahulu.
"Tentu saja nyonya, saya sudah mengirimkan segalanya secara lengkap ke email anda dan saya rasa anda pasti menyukai hasil kerja saya kali ini." ucapnya dengan tersenyum yang tentu saja tidak akan bisa terlihat oleh Arsa di sana.
"Jangan terlalu senang, jika memang kerja mu bagus aku akan memberikan mu bonus yang tinggi untuk ini." ucap Arsa dengan nada yang datar namun tetap terdengar elegan.
Pria yang di telpon oleh Arsa lantas tertawa dengan lantang ketika mendengar ucapan Arsa barusan.
"Saya sangat senang bekerja dengan anda nyonya, sungguh benar benar luar biasa." ucap pria tersebut kemudian terdengar panggilan telepon di akhiri oleh Arsa.
Setelah telponnya ia putus, Arsa lantas mulai membuka ponselnya dan mengecek data data yang di maksud pria tadi. Berkali kali Arsa nampak tersenyum sambil terus menggeser layar ponselnya dengan tatapan yang intens.
__ADS_1
"Wanita ini benar benar sesuatu pantas saja Kafeel begitu menggilainya." ucap Arsa dengan senyum yang tipis di bibirnya, hanya saja karena ulah Kinara yang tidak datang pada acara pernikahannya sendiri, membuat sebaik dan sepandainya Kinara tetap saja kalah akan satu kesalahannya yang tentu saja sudah membuat catatan hitam pada list menantu terbaik bagi Arsa.
Arsa kemudian lantas mendudukkan dirinya menuju ayunan yang terletak di sebelah kolam renang sambil terus menatap ke arah ponsel miliknya. Arsa seakan akan terhanyut pada background serta bibit, bebet, dan bobotnya Kinara, bagi Arsa sendiri Kinara merupakan sosok wanita yang mandiri, pekerja keras, penyayang namun juga lembut membuatnya selalu saja menjadi incaran banyaknya laki laki di luaran sana termasuk dengan Kafeel cucunya sendiri.
"Baiklah selebihnya bagus hanya saja kurangnya terletak pada Kinara yang tidak bisa menepati janjinya dan kabur begitu saja di hari pernikahannya waktu itu. Andaikan saja dia memang menikah dengan Kafeel waktu itu aku pasti akan menjadi grandma paling beruntung saat itu." ucap Arsa lagi.
*****
Sementara itu siang harinya
Dari arah dalam rumah kontrakannya Kinara seperti mendengar suara Delisha melangkah mendekat ke arahnya dengan sesekali tertawa dan juga bersenda gurau dengan seseorang.
"Delisha sedang bicara dengan siapa? bahagia banget." tanya Kinara dalam hati sambil menerka menerka siapa yang tengah berbicara dengan Delisha di luar.
Kinara yang penasaran kemudian lantas melangkahkan kakinya keluar, ketika Kinara sudah berada di luar yang terlihat di sana adalah Rian. Ternyata sedari tadi Delisha tengah bersenda gurau bersama Rian namun dengan baju yang sudah kotor, membuat Kinara lantas geleng geleng kepala ketika melihat seragam sekolah Delisha penuh dengan noda es krim.
"Dasar Rian selalu saja membawa Delisha pergi beli es krim." ucap Kinara dalam hati.
Setiap kali Delisha pergi bersama dengan Rian selalu saja es krim tak pernah absen dari keduanya ketika pergi bersama, sehingga membuat pakaian Delisha selalu saja jadi korban. Meski usia Delisha sudah memasuki 6 tahun tapi tetap saja ia selalu belepotan ketika memakan es krim. Itulah mengapa Kinara tak pernah mengijinkan Delisha mampir membeli es krim setelah pulang sekolah karena ia yakin baju Delisha nanti akan di penuhi noda es krim seperti saat ini.
"Delisha...." panggil Kinara sengaja memanjang agar Delisha tahu bahwa kini bundanya tengah marah dan tidak suka akan kelakuannya.
Delisha yang mendengar panggilan keramat tersebut, lantas langsung menghentikan langkah kakinya dan menatap ke arah Kinara dengan wajah yang memelas. Delisha tahu Kinara tengah marah kali ini, itulah mengapa Delisha langsung memasang wajah memelas berharap bundanya tidak akan marah setelah melihatnya.
"Maaf bunda, Delisha tadi hanya makan sedikit kok, sedikit sekali kalau tidak percaya tanya saja pada om Rian." ucap Delisha sambil berlari menuju ke belakang tubuh Rian untuk bersembunyi, membuat Kinara menatap tajam ke arah Delisha.
Bersambung
__ADS_1