Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta

Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta
Tetap saja rasanya sakit


__ADS_3

"Aku... aku kemarin bertemu dengan Kafeel ketika berkunjung ke ibu kota." ucap Rian kemudian langsung menghentikan gerakan tangan Kinara yang sedang menata beberapa buah potong di piring kecil untuk di berikan kepada Rian.


"Kafeel?" ucapnya dalam hati dengan perasaan yang tidak menentu, entah mengapa jantungnya terasa sedikit berdenyut ketika nama itu kembali terdengar di telinganya.


"Maaf Ra aku tidak bermaksud." ucap Rian kemudian yang sadar sudah mengatakan sesuatu hal yang mungkin tidak ingin Kinara dengar untuk saat ini.


Mendengar hal itu Kinara lantas tersenyum sambil menghela nafasnya panjang, kemudian menaruh piring yang berisi buah buahan yang sudah di potong di depan Rian untuk ia makan.


"Tak apa lagi pula itu hanya masa lalu, sudah saatnya untukku belajar melupakan Kafeel. Bukankah aku datang ke sini untuk melupakan segalanya? akan sangat sia sia jika aku masih memikirkannya." ucap Kinara namun dengan tatapan mata yang tidak berani menatap ke arah Rian karena saat ini antara ucapan dan isi hatinya benar benar bertolak belakang. Perlahan matanya mulai panas dan berkaca kaca, mengapa rasanya tetap saja sakit? walau ia sudah pergi sejauh ini untuk melupakan Kafeel, namun mengapa ketika mendengar nama itu kembali terucap hatinya lagi lagi bergetar tanpa pernah ia minta sedikitpun.


Rian yang tahu Kinara sedang menipu dirinya sendiri lantas langsung menggenggam tangan Kinara yang terlihat sedikit bergetar itu, membuat Kinara yang tengah merapikan makanan lantas menghentikan gerakannya ketika tangan Rian menggenggam erat tangannya.


Tes...


Air mata Kinara mendadak jatuh dan menetes tepat di tangan Rian membuat Kinara semakin menunduk agar Rian tidak melihat dirinya ketika sedang menangis.


"Aku kira rasanya tidak sakit... namun ternyata tetap saja terasa sakit. Aku pernah gagal karena di duakan dan itu membuat hati ku hancur. Hanya saja untuk kali keduanya ketika aku berusaha untuk membangun kembali sebuah kepercayaan, aku lagi lagi kembali gagal dan di patahkan akan kepercayaan itu sendiri yang berbalik ke arah ku." ucap Kinara dengan sedikit tersendat sambil menahan tangisnya. "Kau tahu rasanya? rasanya berkali kali lipat sakitnya yan... hiks hiks" ucap Kinara kemudian tak bisa lagi menahan tangisnya.


Kinara menutup wajahnya dengan kedua tangannya menumpahkan segala air matanya di sana. Rian terdiam bingung harus bereaksi bagaimana di saat seperti ini, ingin sekali rasanya Rian memeluk Kinara saat ini sambil menenangkan Kinara, hanya saja Rian merasa ia tidak pantas melakukannya untuk saat ini karena Rian masih menghargai sosok Kinara sehingga ia segan hanya untuk sekedar memeluknya.

__ADS_1


"Bolehkah aku memeluk dan menenangkan mu di saat seperti ini Ra?" ucapnya dalam hati bertanya tanya yang tentu saja tidak akan mungkin di dengar oleh Kinara saat ini.


Rian yang bingung harus bagaimana? lantas dengan spontan menepuk pundak Kinara perlahan berusaha untuk menenangkan Kinara.


"Menangis lah Ra jangan di tahan, aku tahu rasanya di khianati memang sakit namun ketika pasangan kita tidak percaya kepada kita rasanya itu lebih menyakitkan Ra. Tidak ada yang bisa di pilih dari keduanya karena memang keduanya sama sama menyakitkan." ucap Rian sambil terus mengusap punggung Kinara berusaha untuk menenangkannya walau Rian tahu rasa sakit Kinara tidak akan berkurang hanya dengan mendengar kata kata darinya.


*****


Unit apartment Kafeel


Seperti yang di laporkan oleh Rendy tadi pagi, malam harinya Adhitama benar benar datang ke kediamannya tanpa pemberitahuan sebelumnya.


Di dalam ruang tengah terlihat Kafeel yang sedang meneguk alkohol entah yang ke berapa kalinya, namun tetap saja sama sekali tak mengurangi perasaan mengganjal di hatinya.


"Hentikan Kaf! mau sampai kapan kau terus terusan seperti ini?" ucap Adhitama sambil merebut gelas Kafeel yang berisi alkohol di tangannya.


"Pa...pa... apa papa sudah lama datang?" tanya Kafeel dengan nada yang sedikit melayang. Kafeel tak sepenuhnya mabuk, ia masih sadar akan kehadiran Adhitama di sana, hanya saja pandangannya saat ini sedang bergoyang dan seakan melayang namun masih sadar sepenuhnya.


"Harusnya kamu itu berusaha bukan malah terpuruk seperti ini!" ucap Adhitama kemudian sambil menaruh gelas yang hendak di minum oleh Kafeel tadi sedikit menjauh.

__ADS_1


Kafeel yang mendengar hal itu lantas hanya tersenyum kemudian menaruh kepalanya di meja karena kepalanya tiba tiba berdenyut dan terasa pusing.


"Papa hanya bisa menasehati, nyatanya apa yang papa lakukan ketika dulu bercerai dari mama lebih parah di banding yang di lakukan oleh Kafeel saat ini..." ucap Kafeel dengan sedikit tersenyum, membuat Adhitama yang mendengarnya lantas terkejut bahwa Kafeel mengetahui hal itu.


"Situasi papa dan dirimu itu berbeda, kau bisa memperbaikinya namun papa sama sekali tidak bisa karena mama mu benar benar telah pergi dari sisi papa." ucap Adhitama dengan nada yang sendu di setiap kata katanya.


Kafeel yang mendengar hal itu lantas langsung mengangkat kepalanya dan menatap penuh tanda tanya ke arah Adhitama.


"Bukankah papa tadi sudah bertemu dengan mama? lalu kenapa papa malah sedih?" tanya Kafeel dengan penasaran sambil memijat pelipisnya yang berdenyut karena terlalu banyak minum tadi.


Mendapat pertanyaan tersebut Adhitama lantas menghela nafasnya panjang kemudian tersenyum. "Papa memang bertemu dengan mamamu, kau tahu? meski usianya tidak lagi muda namun ia tetap saja cantik dan tidak pernah berubah sama seperti dulu ketika papa pertama kali bertemu dengannya." ucap Adhitama kemudian sambil membayangkan paras cantik milik Ratih di bayangannya.


"Papa menasehati ku untuk berusaha tapi papa sekarang malah putus asa. Bukankah itu namanya adalah sebuah kebohongan?" ucap Kafeel dengan nada yang menyindir di tujukan kepada Adhitama.


"Tentu saja bukan kebohongan Kaf, papa hanya tidak ingin kamu jatuh di dalam lubang yang sama seperti papa. Cukup papa saja seorang diri yang jatuh dan kamu jangan." ucap Adhitama lagi memberikan nasihat.


"Jika untuk hal itu papa tidak perlu khawatir karena Kafeel tengah mengupayakan segala cara untuk membuat Kinara kembali di sisi Kafeel." ucap Kafeel kemudian percaya diri.


Adhitama yang mendengar kepercayaan diri anaknya itu lantas langsung tersenyum sambil menepuk bahu Kafeel pelan seakan memberikan kepercayaan penuh kepada Kafeel untuk melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


"Bagus nak, jadikan kegagalan mu dalam membina rumah tangga kemarin sebagai sebuah pelajaran dan memulai hidup yang baru. Kamu sudah dewasa sekarang, papa yakin kamu lebih tahu apa yang terbaik untuk mu saat ini maupun di masa yang akan datang." ucap Adhitama lagi sambil masih menepuk bahu putranya dengan pelan namun secara berulang kali.


Bersambung


__ADS_2