Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta

Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta
Apakah dia pelakunya?


__ADS_3

Nining yang bingung harus bagaimana lantas terpikir satu nama yang semoga saja bisa membantunya. Nining kemudian bangkit dan langsung mengambil ponsel miliknya, dengan perlahan Nining mendial nomor Kafeel di sana berharap Kafeel bisa memberikan solusi untuk masalahnya.


"Halo" ucap sebuah suara di seberang sana.


"Pak saya minta maaf sebelumnya jika mengganggu hanya saja ini penting pak." ucap Nining.


"Katakan ada apa Ning?" tanya Kafeel dengan penasaran ketika mendengar nada bicara Nining yang terdengar bingung.


"Delisha demam pak dan saya bingung harus bagaimana, sedari tadi Delisha terus saja mengigau memanggil bu Kinara berulang kali membuat saya takut." ucap Nining menjelaskan.


"Apakah demamnya sudah berlangsung lama?" tanya Kafeel.


"Belum pak karena tadi pagi saya masih mengantarnya ke sekolah." ucap Nining sambil mengingat ingat.


"Sementara ini kompres dulu Delisha dengan air dingin, aku akan menghubungi mama agar datang ke sana. Jika sampai nanti malam belum baikan juga segera bawa Delisha ke rumah sakit Ning." ucap Kafeel memerintahkan Nining.


"Baik pak" jawab Nining kemudian.


"Jangan sungkan menghubungi saya jika terjadi apa apa Ning." ucap Kafeel.


"Baik pak tentu." ucap Nining lagi setelah itu terdengar sambungan telpon di putus oleh Nining.


Setelah menelpon Kafeel barusan perasaan Nining sedikit lebih lega seakan telah menemukan solusi yang tepat. Sesuai anjuran Kafeel barusan di telpon Nining kembali mengompres Delisha dan memberi obat penurun panas kepada Delisha.


****


Butik Kinara


Kafeel yang tadinya sudah hampir masuk ke dalam butik dengan Rian, lantas harus menghentikan langkah kakinya ketika mendengar deringan nada ponsel miliknya di mana tertera nama Nining di sana.

__ADS_1


Terlihat Kafeel menghela nafasnya berulang kali ketika mendengar ucapan Nining bahwa Delisha tengah sakit saat ini. Hubungan antara anak dan ibu itu ternyata sangatlah kuat, Delisha bahkan seakan mengetahui bahwa Kinara sedang tidak baik baik saja saat ini. Ada perasaan khawatir yang menyelimuti diri Kafeel ketika mendengar Delisha tengah demam, ingin rasanya ia pergi dari sini dan langsung menuju ke sana untuk merawat Delisha secara langsung. Hanya saja masalah Kinara di sini saja belum selesai, jika Kafeel pergi begitu saja itu sama artinya akan semakin mengulur waktu yang ada untuk membebaskan Kinara sebelum persidangan di mulai.


Kafeel benar benar tidak mempunyai waktu banyak, jika kasus ini sudah sampai pada persidangan hilang sudah kesempatan Kinara untuk bebas tanpa bersyarat, hingga Kafeel memutuskan untuk meminta bantuan Ratih merawat Delisha di sana, setidaknya sekali dayung dua pulau terlampaui bukan?


Setelah menyelesaikan urusannya Kafeel yang hendak melangkah masuk, lantas langi lagi terhenti karena Kafeel melihat Rian sudah melangkah ke luar dari butik dan berjalan menghampirinya.


"Apa kau bertemu dengannya?" tanya Kafeel kemudian dengan penasaran yang lantas di balas Rian dengan gelengan kepala.


"Irene sudah lama tidak masuk kerja, terakhir kali ia terlihat tepat sebelum kejadian itu. Bukankah ini semakin terlihat mencurigakan?" ucap Rian kemudian menjelaskan.


"Tentu saja, apa kau sudah meminta alamat rumah Irene?" tanya Kafeel kemudian.


"Sudah, apa kita akan pergi ke sana sekarang?" tanya Rian kemudian sambil menatap ke arah Kafeel dengan tanda tanya yang besar.


"Jika kau tanya aku, aku pasti akan berangkat. Aku tidak akan memaksa mu untuk mengikuti ku karena itu terserah padamu." ucap Kafeel kemudian dengan melangkahkan kakinya hendak meninggalkan Rian yang masih menatapnya dengan bingung.


"Tentu saja aku ikut! tunggu aku Kaf..." teriak Rian kemudian sambil melangkahkan kakinya mengejar langkah Kafeel yang sudah memimpin jauh di depannya.


*****


Kantor polisi


Sementara itu di sudut ruangan di mana jeruji besi mengelilingi ruangan tersebut, Kinara terlihat tengah meringkuk di sana. Kinara tidak tahu harus bagaimana lagi saat ini, bayangan kejadian waktu itu satu persatu kembali terlintas di benaknya. Membuat Kinara lantas menjambak rambutnya dengan kasar saking frustasinya.


Kinara benar benar tidak mengira proyek besar yang di katakan Irene waktu itu benar benar membawa dampak yang besar bagi Kinara. Kematian Fathan waktu itu saja sudah membuat keterkejutan Kinara, di tambah lagi kini dirinya yang mendekam di penjara sebagai tersangka, membuat Kinara lantas frustasi akan segala hal yang menimpanya secara bertubi tubi.


"Aku tidak melakukannya... aku bahkan hanya memukulnya secara lirih, bagaimana bisa tiba tiba Fathan meninggal begitu saja?" ucap Kinara lagi. "Apa kepalanya mengalami pendarahan yang parah?" imbuhnya lagi bertanya tanya.


Di saat ia sedang berpikir keras bagian mana yang salah sebuah nama tiba tiba terlintas di kepalanya, membuat Kinara lantas mendongak ke arah depan ketika mengingat hal itu.

__ADS_1


"Tidak mungkin kan?" ucap Kinara kemudian.


Kinara lantas bangkit dan mendekat ke arah besi besi yang berjajar mengurung dirinya sambil berteriak ke arah polisi yang sedang berjaga di sana agar membiarkannya menelpon sebentar.


"Kau yang di sana diam lah jangan berisik!" teriak salah seorang polisi.


"Aku mohon pak ijinkan aku menelpon sebentar saja, ini tidak akan lama." ucap Kinara dengan nada yang memelas namun dengan suara yang memekik membuat suara miliknya lantas menggema di ruangan tersebut.


Kedua polisi yang di sana lantas saling pandang satu sama lain ketika mendengar teriakan Kinara. Setelah berunding cukup lama salah satu polisi nampak berjalan mendekat ke arahnya dan membuka gembok, kemudian mengeluarkan Kinara dari sana.


"Ingat jangan lama lama." ucap polisi tersebut memperingati.


Mendengar hal itu Kinara lantas mengangguk dan langsung menekan sebuah nomor di sana. Cukup lama Kinara menunggu di sana karena panggilan telponnya tidak kunjung di angkat juga. Sampai kemudian sebuah suara lantas terdengar membuat Kinara langsung bersemangat ketika mendengarnya.


"Halo" ucap sebuah suara di seberang sana.


"Halo Ren ini aku Kinara." ucap Kinara kemudian dengan suara yang bersemangat.


"Bu.... bu.. Ki..nara?" ucap Irene cukup terkejut ketika mengetahui yang menelponnya adalah Kinara, sedangkan Kinara yang mendengar nada terkejut Irene lantas menjadi bingung.


"Ada apa dengan suara mu itu? apa kau terkejut aku menelpon mu?" tanya Kinara.


"Ti...dak bu.." ucapnya lagi dengan gelagapan.


"Ren aku akan bertanya sesuatu padamu, kemana kamu waktu kejadian itu berlangsung? kenapa kamu tidak kembali juga? apa kamu sempat bertemu dengannya sebelum aku sampai di sana?" tanya Kinara dengan to the point karena waktu yang ia miliki tidaklah banyak.


Mendengar pertanyaan demi pertanyaan dari Kinara membuat Irene lantas gugup seketika. Irene bingung harus menjawab apa pertanyaan dari Kinara barusan.


"Saya...."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2