Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta

Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta
Menyesal namun sudah terlambat


__ADS_3

Penjara


Sementara itu di sudut ruangan jeruji besi Geffie tengah terduduk sambil menatap kesal sedari semalam, ia benar benar tidak menyangka bahwa Sam akan benar benar melaporkannya ke polisi.


"Sialan kau Sam..." ucap Geffie dengan lirih namun tidak bisa apa apa lagi selain hanya diam dan mengikuti prosedurnya.


"Hei kau! keluarlah sebentar ada tamu untuk mu." ucap seorang petugas yang lantas membuat Geffie mendongak menatap ke arah petugas tersebut.


Geffie kemudian lantas bangkit dan mengikuti langkah petugas tersebut menuju ruang jenguk untuk keluarga napi. Ketika Geffie sampai di sana terlihat Nabila tengah menunggunya dengan wajah yang datar menatap ke arah Geffie.


"Waktu kalian hanya 15 menit, gunakan sebaik baiknya." ucap petugas polisi tersebut kemudian melenggang pergi dari sana.


Setelah kepergian petugas polisi itu dari sana, Geffie dan Nabila saling pandang seakan bingung harus memulainya dari mana sampai kemudian Nabila mulai membuka pembicaraan.


"Sepertinya Kafeel sudah mengetahuinya." ucap Nabila kemudian.


"Apa maksud ucapan mu?" tanya Geffie tidak mengerti.


"Dasar bodoh, kau kira apa yang menimpamu ini adalah sebuah takdir? jawabannya tentu saja bukan karena ini adalah ulah Kafeel." ucap Nabila kemudian.


Geffie yang mendengar ucapan Nabila barusan lantas baru menyadari satu hal selama ini, setelah dipikirkan lagi memang apa yang menimpanya belakangan ini terlalu mendadak dan bertubi tubi seakan telah di atur oleh seseorang.


"Cih dasar sialan, lalu bagaimana sekarang?" tanya Geffie kemudian.


"Kau malah tanya bagaimana? ya selamatkan sendiri dirimu dan aku akan selamatkan diri ku juga sebelum Kafeel akan berbalik menghancurkan ku." ucap Nabila dengan nada yang tegas namun berhasil membuat Geffie melongo di buatnya.


"Apa yang kau katakan? kau harus membantu ku keluar dari sini!" ucap Geffie kemudian.


"Aku tidak bisa, selain itu aku juga harus segera menyelamatkan diri ku sendiri." ucap Nabila lagi.

__ADS_1


"Kau jangan main main dengan ku ya!" ucap Geffie kemudian dengan kesal karena Nabila malah hanya memikirkan dirinya sendiri.


"Aku tidak pernah main main, lagi pula aku datang ke sini untuk memberitahu mu hal ini bukan untuk yang lain." ucap Nabila acuh tak acuh.


Geffie yang mendengar hal itu tentu saja kesal ia kemudian lantas menggebrak meja dan memegang rahang Nabila dengan cukup kuat sambil menatapnya dengan tajam.


"Aku sudah melakukan segala hal untuk mu dan ini balasan mu padaku? dasar kau p*lacur, aku menyesal telah jatuh cinta padamu sejak dulu. Ternyata benar ucapan Kafeel aku membuang berlian hanya untuk batu kali seperti mu!" ucap Geffie dengan menatap tajam ke arah Nabila, sedangkan Nabila berusaha untuk melepaskan genggaman tangan Geffie karena itu sangat menyakitkan.


Dari arah pintu seorang petugas polisi nampak mendekat kearah keduanya dan langsung menarik Geffie agar melepaskan Nabila.


"Apa yang kau lakukan! ayo ikut" ucap polisi tersebut sambil mendorong tubuh Geffie agar berjalan pergi dari ruangan itu.


Geffie menoleh ke belakang melirik ke arah Nabila dengan tatapan yang tajam, Geffie benar benar kecewa dengan respon Nabila ketika dirinya terjatuh. Disaat dulu Kinara selalu berada di sampingnya ketika Geffie terpuruk hingga kembali bangkit, sedangkan yang di lakukan Nabila saat ini malah hendak lari dan menyelamatkan dirinya sendiri tanpa memikirkan Geffie sedikitpun.


"Benar benar perempuan j*l*ng sialan, bodoh sekali kau selama ini Gef!" ucap Geffie dalam hati merutuki kesalahan terbesarnya.


"Dasar laki laki kampret, seenak jidatnya aja main cekik cekik rahang gue..." ucap Nabila dengan kesal menatap ke arah kepergian Geffie dengan petugas polisi itu sambil mengusap rahangnya yang sakit akibat ulah Geffie tadi.


****


Sementara itu di salah satu kota di jawa timur terlihat Kinara, Delisha dan juga Nining tidur dalam satu ranjang dengan damainya. Suara ketukan pintu dari arah luar membangunkan Kinara yang sedang tertidur. Kinara kemudian lantas bangkit dan menguap sebentar, lalu melangkah keluar sambil membenarkan rambutnya yang berantakan karena baru bangun dari tidur.


Di bukanya pintu secara perlahan untuk mengecek siapa yang datang.


"Eh ibu, maaf Ara baru bangun." ucapnya sambil membuka pintu rumah kontrakan tersebut dengan lebar.


Ya Rian membawa Kinara ke salah satu kota yang ada di jawa timur tepatnya di kampung halamannya. Kinara sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu selagi tempatnya nyaman dan bisa memulihkan hatinya kembali Kinara menyetujuinya.


Kinara sampai di kota tersebut sekitar pukul 3 dini hari, itulah mengapa Kinara masih tertidur walau matahari sudah mulai naik.

__ADS_1


"Pasti capek ya nak? ini ibu bawa sarapan untuk kalian bertiga." ucap seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dengan pakaian yang sederhana walau sudah termakan usia.


"Masuk bu" ucap Kinara dengan sopan mempersilahkan ibu itu untuk masuk.


Ibu itu lantas tersenyum kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah kontrakan yang tidak terlalu besar namun masih nyaman untuk di tempati.


"Maaf ya nak rumahnya tidak besar seperti yang ada di jakarta maklum ini di kampung." ucap Ratih sambil menaruh nampan berisi makanan di meja makan.


"Tidak apa bu, ini saja sudah cukup nyaman bagi Ara." ucapnya dengan lembut.


"Panggil saja saya bu Ratih, jika ada apa apa kamu bisa ke sebelah dan memberitahu ibu." ucap Ratih sambil tersenyum dan mengelus lengan Kinara kemudian hendak melenggang pergi dari sana.


"Terima kasih banyak ya bu..." ucap Kinara kemudian yang di balas Ratih dengan senyuman.


Kinara menatap beberapa lauk lengkap dengan nasinya tertata rapi di nampan yang di bawa Ratih barusan. Seulas senyum terbit dari bibirnya ketika mengingat kembali ibunya yang telah meninggal di saat melihat Ratih dan perlakuan lembutnya barusan membuat hati Kinara menghangat.


"Kenapa aku jadi mellow begini sih?" ucap Kinara sambil tersenyum.


Dari arah kamar suara perut yang keroncongan mulai terdengar membuat Kinara lantas menoleh dan melihat Delisha tengah berdiri di ambang kamar sambil mengucek matanya.


"Bunda lapar..." ucapnya kemudian membuat Kinara tersenyum akan kelakuan putrinya itu.


Kinara lantas mendekat ke arah Delisha dan mencium puncak kepalanya dengan lembut kemudian mengacak acak rambutnya.


"Baiklah tuan putri, tapi sebelum itu kita harus cuci muka dulu oke... ayo" ucap Kinara kemudian sambil menggendong Delisha di gendongannya. "Waduh putri bunda sudah besar rupanya, kalau setiap hari seperti ini bunda bisa encok nanti." ucap Kinara sambil memperagakan gaya encok membuat Delisha lantas cemberut ketika mendengar hal itu.


"Bunda nyebelin...." ucap Delisha sambil melingkarkan tangannya dan bersembunyi di balik pundak Kinara membuat Kinara lantas tersenyum melihat tingkah Delisha.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2